Tetanggaku Duren (Duda Keren)

Tetanggaku Duren (Duda Keren)
7. Tanggung jawab


__ADS_3

Ibu sedang duduk di depan televisi. Anisa yang baru saja selesai membuat laporan menutup laptopnya. Ia mendekati sang ibu, lalu duduk di sampingnya.


"Kamu belum ngantuk, Nis?"


"Belum, ibu" kemudian hening, keduanya larut dengan acara televisi.


"Bu, apa tetangga sebelah itu pernah tinggal dengan kita?" Tiba tiba saja Anisa teringat dengan ucapan pak tetangga. Ibu menoleh sekilas.


"Kamu tidak ingat siapa dia?" Tanya ibu. Anisa hanya menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak Ingat dengan pria itu.


"Dia mas Raditmu, kamu memanggilnya mas Disa. Aneh ya, Nis? Jangankan kamu, Ibu juga tidak mengenalinya lagi"


"Mas Disa? Dia, mas Disa?" Anisa masih belum percaya.


"Tapi Bu, mas Disa dulu kerempeng. Kulitnya juga sedikit hitam dan pakai kaca mata minus. Apa dia oprasi plastik, Bu?"


"Husss sembarangan kamu. Tentu saja berubah, Nis. Dulu Radit baru saja lulus SMA waktu tinggal sama kita. Tubuhnya masih kerempeng belum terbentuk. Tidak sangka sekarang jadi sangat tampan. Dia perpaduan Arini dan Wijaya"


"Tapi rasanya Nisa tidak percaya, Bu"


"Kenapa?"


"Beda sekali, Mas Disa dulu sangat baik. Dia ramah dan suka mengalah"


"Memangnya sekarang, bagaimana?"


"Menyebalkan, Bu"


"Hati hati bilang sebal, nanti suka" ibu melirik ke arah Anisa. Beliau hanya ingin sekedar menggoda saja.


"Tidak Bu, jangan sampai" Anisa mengangkat bahu sambil melambai lambaikan tangannya tanda menyerah.


Ibu tertawa menatap Nisa yang ketakutan kalau sampai jatuh cinta dengan pria yang menurut Anisa sangat menyebalkan itu.


"Jodoh tidak ada yang tahu, Nis. Ibu hanya berdoa, siapapun yang berjodoh dengan kamu, dia adalah pria setia yang bisa menjaga dan membahagiakan kamu"


"Entahlah Bu, Aku belum berfikir tentang jodoh. Aku hanya ingin bertiga saja dengan Alea dan ibu. Mas Fatah yang dulu sangat baik dan mencintai Nisa pun bisa berubah. Dia tega mengkhianati dan menghancurkan perasaanku"


"Ibu tau, Nis. Kamu masih terluka. Tapi tidak semua pria seperti Fatah. Di luar sana masih banyak pria yang baik"


" Nisa masih takut, bu "


"Ibu tau. Mungkin bukan sekarang, tapi suatu saat, di waktu yang tepat"


"Doakan, Bu. Sekarang ini, Nisa ingin hidup tenang"


Nisa memeluk tubuh ibu yang hangat. Di pangkuan wanita inilah, tempat teraman dan nyaman. Dialah sosok yang selalu ada dalam setiap babak kehidupannya. Cinta ibu tak bersyarat, tulus dan penuh kasih.


Anisa masuk kedalam kamarnya. Di sana di atas ranjang ada Lea yang tertidur lelap. di ciumnya kening gadis kecil itu. Lea yang sedang terlelap merasa terusik. Dia menggeliat sambil mengigau menyebut ayah, Anisa kembali meluruhkan air matanya.


***


Pagi hari Anisa sudah menyiapkan sarapan dan bekal untuk Alea pergi ke sekolah. Saat ini, Anisa memiliki waktu sedikit luang. Dia bisa mengantar ibu dan Lea ke sekolah. Jam mengajarnya kebetulan memang siang


Alea sudah rapi dan cantik seperti biasanya. Dia memakai seragam olahraga warna pink. Rambutnya panjangnya di kepang menjadi dua bagian.


"Bunda, sepatu Lea yang putih mana?" Alea sudah berdiri di samping Anisa yang sedang menata meja makan. Dia menoleh sekilas pada putrinya


"Di tempat sepatu, Lea"


"Tidak ada, bunda" Lea menggeleng, dia memang sudah mencari sepatu itu di sana.


"Sebentar, ya. Bunda bereskan ini, dulu"


Anisa merapikan meja makan. Kemudian berjalan menuju rak sepatu yang berada dekat pintu dapur. Alea mengikuti Anisa di belakang. Anisa meneliti barisan rak sepatu dari yang paling atas hingga bawah. Tetap saja sepatu putih Alea tidak tampak. Pantas saja Alea mengadu. Dengan teliti Anisa kembali memeriksa, tapi tetap nihil.


"Lea, bagaimana kalau pakai sepatu yang ini saja dulu" Anisa menawarkan sepatu warna pink yang ada di rak sepatu Lea.


"Lea mau yang putih bunda" Alea masih ngotot ingin memakai sepatu putih.


"Iya, tunggu sebentar, bunda cari di tempat lain, ya" Anisa menyusuri tiap sudut rumah yang mungkin ada sepatu di sana. Depan pintu masuk sampai pintu belakang. Namun nihil. Anisa sudah menyerah.


"Lea, sepatunya tidak ada" Anisa menatap putrinya. Gadis kecil itu sudah tampak kehilangan mood. Matanya berkaca kaca


"Lea mau telepon Ayah" bibir kecil itu kembali merengek. Apa Alea merindukan ayahnya? batin Anisa.


" Iya sebentar, bunda ambil ponsel bunda dulu di kamar"

__ADS_1


Terpaksa, Anisa menelepon mantan suaminya pagi pagi. Tidak berapa lama, telepon Fatah di Angkat. Bukan suara Fatah yang menyambut panggilan Anisa. Tapi suara wanita.


" Haloo"


" Ya halo. Saya Anisa. Bisa bicara dengan mas Fatah?"


" Mas Fatahnya sedang mandi "


"Sampaikan saja, saya menghubunginya. Alea putri mas fatah ingin bicara dengan Ayahnya "


"Oke" sambungan pun terputus,


Anisa menatap Alea yang sangat antusias untuk berbicara dengan ayahnya. Rasanya tidak tega menyampaikan hal yang sebenarnya.


"Lea, ayah sedang mandi. Tunggu sebentar lagi, ya. Sambil menunggu telepon Ayah, Lea pakai sepatu yang ini" Anisa membujuk putrinya dengan wajah yang dibuat seceria mungkin. Beruntungnya Alea pun mengangguk setuju.


***


Di tempat kediaman Fatah, di sebuah apartemen. Fatah baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu masih mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Dan melihat gina meletakan ponsel di atas meja.


"Siapa yang telepon, sayang ?"


"Mantan istrimu" ucap Gina sedikit ketus


" Mungkin Alea ingin telepon"


" Kok mas tau ?"


" Anisa tak akan pernah mau meneleponku, Gina, jika tidak berurusan dengan Alea "


" Mas yakin sekali, siapa tau dia ingin kembali atau berubah pikiran untuk meminta harta Gono gini"


"Dia wanita yang sangat tau batasan, meski dia meminta harta Gono gini, itu memang haknya. Aku akan memberikan untuknya. Semuanya sudah aku alihkan atas nama Alea"


"Mas masih cinta dia?" Gina terbakar api cemburu, dia tidak suka dengan apa yang Fatah ucapkan barusan. Bagi Gina, itu terdengar seperti pujian untuk Anisa.


"Kenapa kamu bertanya begitu? bukan nya aku sudah hidup denganmu dan menceraikan nya. Apa kamu


cemburu?"


"Mas masih suka memujinya, mengingat kebaikannya"


Fatah segera memakai bajunya dan menelepon kembali.


"Assalamualaikum Ayah" Suara manja Alea memberikan salam pada sang Ayah.


"Wangalaikumsalam, Lea. Apa kabar anak Ayah?"


" Ayah, sepatu Lea yang putih dari ayah hilang. Lea mau pake sepatu itu" Alea langsung mengadu pada Ayahnya.


"Ayah belikan lagi, ya "


"Ayah kapan pulang ? Alea kangen, Ayah. Apa ayah sibuk sekali?"


"Ayah sibuk, nak. Nanti sore ayah jemput, Lea. Kita beli sepatu yang Lea mau. Tapi ayah tidak bisa pulang untuk menginap. Ayah harus pergi kerja lagi. Bagaimana, Lea mau?


"Mau Ayah, lea mau"


" Ya sudah, tunggu Ayah nanti sore, ya"


" Ayah, Lea sayang Ayah. Assalamualaikum"


"Ayah juga sayang Lea ,wangalaikumsalam"


Fatah menutup ponselnya. Di sampingnya Gina semakin cemberut saja. Perempuan itu semakin terbakar cemburu. Dengan Alea saja sangat lembut dan perhatian. Tapi dengan bayi yang sedang tumbuh di dalam perutnya Fatah sepertinya biasa saja.


Setiap kali menerima telepon dari putrinya, Fatah selalu merasa bersalah. "Kamu akan menjadi anak yang luar biasa, Lea. Kamu memiliki ibu yang sangat baik. Maafkan ayah, Ayah yang tidak lagi pantas kamu banggakan.


"Mas, kapan Mas akan menikahiku secara resmi, Aku tidak mau terus terusan digantung begini, tanpa status yang jelas" desak Gina


Fatah menatap Gina dengan tajam, Tidak suka dengan pertanyaan yang Gina ajukan. Bagi Fatah hidup bersama Gina sudah cukup meski tanpa ikatan. Dirinya masih limbung ketika benar benar bercerai dari Anisa.


Entahlah Kenapa, ia seperti enggan untuk menikahi Gina. Padahal sebelum bercerai, ia selalu ingin memiliki Gina. Wanita belia yang selalu membangkitkan gairah prianya.


Anisa di mata Fatah sangat sempurna. Dia sangat cantik dan lembut juga selalu sederhana. Meskipun Dirinya sudah sukses. Anisa tetap seperti biasanya. Anisa selalu mendukung, merelakan banyak kebersamaan mereka tersita oleh pekerjaan Fatah. Dan wanita yang mencintainya dengan tulus itu telah ia khianati bahkan ia sudah membuangnya.


Jika perpisahan akan seberat ini bagi dirinya dan Alea terutama. Ia akan menahan diri untuk tidak bermain api. Fatah memang lemah dan jadi takabur setelah menggenggam dunia.

__ADS_1


Fatah menarik nafas dalam dan membuangnya kasar .


"Mas Fatah" kembali Gina menuntut


"Aku masih sibuk Gina, kamu sabarlah"


"Orang tuaku slalu mendesakku, mas. Apa yang harus aku katakan pada mereka. Aku tidak mau membuat mereka kecewa"


"Terserah kamu Gina, mau menjawab apa pada orang tuamu "


Fatah meninggalkan Gina masuk ke dalam kamar. Bersiap untuk pergi ke kantornya. Gina hanya bisa mengekor di belakang Fatah.


Gina pikir, saat Fatah dan Anisa benar benar bercerai, kesempatan baginya akan terbentang luas. Tapi perkiraannya justru meleset. Fatah tidak semenggebu dulu. Fatah seperti abai dengan janji janjinya.


Gina ingat betul waktu pertama kali ia di terima bekerja di kantor Fatah. Pertama melihat Fatah, Gina langsung terpesona. Gina sudah mengetahui jika Fatah telah mempunyai anak dan istri.


Gina baru saja lulus kuliah, usianya baru dua puluh dua tahun. Gina memang suka sekali berpenampilan sexy. Setiap hari Fatah selalu mendapat pemandangan gadis yang ranum nan menggoda. Timbul rasa tertarik dan penasaran. Dia bukan lagi Fatah yang miskin pasti akan mudah menjerat wanita muda seperti Gina.


Suatu sore ketika semua staf telah pulang. Gina menuju ruangan Fatah, Dia membawa berkas yang akan di serahkan pada petinggi kantor ini. Gina memang sengaja mencari waktu yang memungkinkan mereka berinteraksi lebih dekat.


Fatah yang sudah terbakar rasa, setiap melihat Gina tidak menyia nyiakan kesempatan. IDengan Segala kelembutan dan bujuk rayu, Fatah melancarkan aksinya. Gina yang berpura pura menolak Fatah pun merasa menang. Saat itulah pergumulan pertama mereka. Di ruang kantor Fatah, Gina menyerahkan hal yang paling berharga.


Dalam pergumulan itu, terkesan Fatah lah yang memaksa. Padahal Gina yang memberi umpan untuk tangkapan kakapnya. Hubungan itu terus berulang. Fatah semakin menggebu gebu untuk memiliki Gina, di lubuk hatinya yang terdalam Fatah merasa bersalah telah merusak seorang gadis belia. Saat Anisa mengetahui semua, Fatah pasrah. Dia melindungi Gina dan menuruti keinginan Anisa untuk berpisah.


Gina mengerjapkan kedua matanya. menghempas jauh rasa risau atas perubahan sikap Fatah. Gina memang berhasil meruntuhkan rumah tangga Fatah dengan mudah. Tapi nasibnya kini pun belum pasti. Gina semakin terganggu ketika Fatah tanpa segaja menceritakan segala kebaikan Anisa.


***


Alea kembali terlihat ceria setelah bertelepon dengan sang ayah. Ia meminta Anisa untuk segera mengantarnya pergi ke sekolah. Gadis kecil itu tampak lebih bersemangat.


Setelah mengantar Alea ke sekolah. Anisa kembali pulang ke rumah. Ia membereskan rumah sebelum pergi mengajar. Ia tidak mau membuat ibu terlalu kelelahan setelah pulang menunggu Alea. Jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Anisa bergegas mempersiapkan diri untuk pergi mengajar.


Mengenakan seragam batik biru muda dan rok span hitam, menampakkan sisi anggun Anisa. Aura wibawa yang elegan dan klasik. Anisa memasang sabuk pengamannya kemudian menyalakan mesin mobil.


Mobil merahnya sudah keluar dari gerbang rumah dan siap melaju ke jalan. Tapi mobilnya harus berhenti karena mendadak sedan hitam di depannya juga mengerem mendadak. Sayang Anisa yang terkejut kurang cepat untuk menginjak rem mobilnya. Mau tidak mau mobilnya menubruk sedan hitam didepannya.


Anisa turun dari mobil dan memeriksa bagian depan mobil. Begitu juga pemilik sedan hitam. Anisa melihat bagian depan mobilnya penyok tidak jauh beda dengan mobil depannya. Ia menggerutu resah.


"Bisa nyetir tidak?" Suara dingin mengagetkan Anisa. Anisa menoleh, pak tetangga sedang berkacak pinggang dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. "Kalau nyetir itu pakai mata. Lihat ada mobil berhenti jangan di tabrak, pasti kamu tidak punya SIM"


"Eh... pak tetangga, anda yang salah. Kenapa berhenti mendadak. Enak saja bilang saya gak punya SIM''


"Seharusnya kamu jaga jarak, biar bisa antisipasi keadaan seperti ini"


"Bagaimana saya jaga jarak, saya kan baru keluar dari gerbang. Pak tetangga harus tanggung jawab" jawab Anisa penuh emosi


"Memangnya kamu hamil?, saya mesti tanggung jawab, Oh iya, kita kan dulu sering tidur bareng. Kapan kamu mau saya nikahin" Radit tersenyum mengejek


"Mulutnya suruh sekolah pak, biar ngomongnya tuh berfaedah, tidak asal bunyi, merugikan orang lain saja, Saya bisa terlambat kalau seperti ini" Anisa terus menggerutu. Sedang Radit tampang senang sekali. Dia berhasil membuat Anisa kesal untuk kesekian kali.


Anisa merasa tidak ada gunanya berdebat dengan pak tetangga. Sebaiknya ia segera pergi ke sekolah. Anisa kembali masuk kedalam mobilnya, Namun kesialan kembali terjadi. Mobilnya sama sekali tidak mau menyala. Mungkin karena benturan tadi ada mesin yang rusak.


Radit dengan senyum licik menghampiri Anisa yang sedang emosi.


"Jadi tidak, saya tanggung jawab?" Radit bertanya dengan mimik yang serius. Membuat Anisa makin dongkol.


Anisa keluar dari mobilnya dan berjalan meninggalkan Radit tanpa kata kata. Radit terkekeh dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil File yang tertinggal.


Entah kenapa, Radit sangat senang menggoda gadis cengengnya. Kemudian meminta pegawainya untuk membawa mobil Anisa ke bengkel.


Radit melajukan sedan mewahnya menuju kantor. Di tengah perjalannya Radit melihat Anisa masih menunggu angkutan. Kemudian Radit menepikan mobilnya dan membuka jendela mobil.


"Masuk! aku antar, kebetulan kita


satu arah " tawar Radit. Radit terlihat begitu santai duduk di belakang kemudinya. Pria itu bahkan menyandarkan punggung sambil memainkan ponselnya.


Anisa menoleh, tentu saja ada rasa gengsi, tapi saat melirik ke arah jam tangannya yang terus bergerak mendekati waktu mengajarnya, Anisa jadi bimbang sendiri. Dia memiliki tanggung jawab untuk mengajar di waktu yang tepat. Perasaannya bercampur aduk.


"Kamu tidak akan menemui taksi di sini sampai kapan pun. Saya tidak punya banyak waktu. Saya hitung sampai lima. Kalau kamu tidak masuk, aku jalan. Satu, dua, tiga, em..."


Brugh ...suara pintu mobil setengah di banting Anisa sudah duduk manis di dalam mobil Radit. Anisa mengalah karena tanggung jawabnya. Radit pun tersenyum penuh kemenangan.


"Mau kemana Bu? "


"SMA Garuda" jawab Anisa ketus


"Let's go ..."

__ADS_1


"Orang gila, padahal dulu, dia sangat kalem dan sopan. Dia juga sangat menyayangiku. Apa karena frustasi ditinggal mati istri nya, hingga berubah jadi gesrek begini ".dalam hati Anisa mengumpat.


__ADS_2