
Heli berhenti di sebuah landasan atap gedung yang tinggi. Radit dan Anisa segera turun. Sudah ada pegawai yang kembali menyambut kedatangan mereka.
Radit membawa Anisa ke sebuah kamar yang ada di hotel tersebut. Wajah Anisa terlihat pucat. Anisa tidak mempersiapkan diri untuk atraksi seperti ini.
Pegawai hotel membawakan dua buah koper milik Radit dan Anisa ke dalam kamar. Melihat istrinya yang kelelahan, Radit pun meminta Anisa untuk segera beristirahat. Anisa melepaskan aksesoris yang menempel di tubuhnya. Setelah selesai, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang meski masih dengan hijabnya.
Radit mengikuti sang istri, berbaring di sebelah Anisa. Tangan kokohnya segera membelit pinggang ramping milik Anisa. Anisa memiringkan tubuhnya dalam posisi membelakangi Radit. Radit merasakan ada sesuatu yang mengganggu Anisa.
"Sayang, kamu baik baik saja?"
"Aku sedikit pusing" Anisa berucap lirih dan hampir tak terdengar.
"Sebaiknya kamu ganti baju dulu! tidak nyaman tidur dengan baju seperti ini'' Radit membujuk sang istri.
Anisa tak bergeming. Wanita itu tetap pada posisinya membelakangi Radit tanpa mengeluarkan suaranya.
"Anisa, sayang, ayo ganti baju mu, atau aku yang akan menggantinya" Ucap Radit sembari menggoda Anisa.
Radit menarik tubuh Anisa agar berhadapan dengannya. Kini wajah mereka saling berhadapan begitu dekat. Tapi dari sudut mata Anisa mengalir bulir bening. Tentu saja Radit terkejut.
"Sayang, kamu menangis? apa kamu sakit atau aku menyakitimu?" Radit kebingungan melihat Anisa seperti ini.
Anisa menatap tajam pada Radit. Tatapan yang menusuk dari Anisa, membuat Radit semakin bingung. Sepertinya ada amarah yang akan meledak.
"Ada apa, kamu marah padaku, Apa aku berbuat salah? katakan, Nis. Apa salahku. Aku minta maaf. Tolong bicara, dimana salahku?"
" Sebenarnya siapa kamu?" Anisa berucap dengan kilatan amarah.
"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu?Aku suami mu, Raditya Wijaya, mas Disa mu. Sayang, jangan bercanda, ini tidak lucu" ucap Radit sambil mengencangkan pelukannya pada Anisa. Radit mengira Anisa sedang berakting.
"Lepas!" Sentak Anisa pada Radit. "Aku sama sekali tidak mengenali mu, yang aku tau, mas Disa pria sederhana. Bukan seperti kamu"
" Nisa, bercandanya jangan kelewatan, sayang" Radit masih berusaha menenangkan Anisa
"Jelaskan semua, mas. Siapa sebenarnya kamu? teganya kamu membodohi aku"
" Nisa, aku tidak pernah membodohi kamu?"
"Kamu tidak seperti yang aku kira, mas. Kamu sangat jauh untuk aku gapai"
"Tolong Nisa, katakan dengan jelas !"
" Kenapa kamu berpura pura jadi orang biasa? kenapa kamu tidak menceritakan semua tentang keadaan kamu, dan yang menyebalkan lagi, kenapa ibu memaksaku menerima pria sepertimu"
" Cukup, Anisa. Jika kamu merasa tertipu dengan gaya hidupku dan kenyataan keluargaku adalah seorang konglomerat. Aku tidak menipu mu. Aku terbiasa hidup seperti itu dari dulu, bahkan papa dan mama melakukan hal yang sama denganku"
"Harusnya aku sudah tau dari sikap arogan mu waktu pertama bertemu. Aku merasa menjadi boneka bodoh yang tersenyum bahagia ketika orang lain mengejek asal usul ku di acara resepsi tadi. Aku berjalan dengan percaya diri mendampingi pangeran, padahal aku hanya Upik abu, Harusnya, aku juga mengerti mengapa Dila mengatakan aku hanya ingin Hartamu"
"Nisa, aku mencintai kamu. Semua yang kami punya adalah titipan. Tidak ada kewajiban bagiku untuk memamerkannya. aku akan menjawab jujur jika ada yang bertanya. Kamu tidak pernah bertanya, jadi untuk apa aku mengumbarnya"
"Kamu memang benar, mas. .aku yang tidak pandai menilai orang''
__ADS_1
"Sayang, semua ini hanya salah faham. Yang perlu kamu yakin, aku sangat mencintai mu"
Anisa memalingkan muka dan melepaskan diri dari pelukan Raditya. Dalam dadanya masih banyak hal yang membuat harga dirinya terluka. Apalagi jika mengingat betapa bahagianya dia di acara resepsi pernikahan tadi. Tidak sepenuhnya salah Radit, dia yang tidak bisa menilai orang.
Anisa tahu jika Radit orang kaya, mungkin sama atau lebih diatas sedikit dari Fatah mantan suaminya. Tapi tidak pernah menyangka jika Radit adalah putra dari seorang konglomerat di negara ini. Hampir semua hotel dan mall adalah milik Wijaya group.
Anisa sering mendengar Wijaya group. Tapi tidak mengira itu milik papa Wijaya yang dia kenal. Hatinya sakit, merasa sangat frustasi. Anisa ingin pergi keluar dari kamar hotel.
Radit segera memeluk nya erat dari belakang. Mencegah kepergian Anisa yang sedang dalam keadaan marah dan kecewa. Namun Anisa melawan, Ia mencoba menepis tangan Radit. Tenaga Radit bukan lah tandingannya. hingga Anisa nekat menggigit tangan Radit.
Radit yang kesakitan, reflek melepaskan pelukannya. Anisa segera berlari sekencang kencangnya. Hingga sampai depan pintu, Radit kembali bersuara. Radit sudah habis kesabarannya mengatasi Anisa.
"Anisa Hapsari binti Arif rahman! Aku Raditya Wijaya suamimu tidak mengijinkan kamu keluar dari kamar ini. Kamu wanita yang taat agama, kamu tau apa hukumnya"
Seketika tubuh Anisa lunglai, ia luruh terduduk di lantai. Radit dengan tegas sudah melarangnya.
Radit mendekati Anisa. Ia mengangkat Anisa kemudian membaringkan di atas ranjang. Sekuat tenaga Radit pun bersabar menghadapi kekecewaan Anisa. Tapi disaat yang di perlukan ia pun harus berbuat tegas. Radit akan membuka hijab yang melilit di kepala Anisa.
"Jangan dilepas!" Anisa masih memberontak
"Aku suamimu, berhak atas dirimu, Nisa. Dari ujung rambut hingga kakimu. Aku hanya membuka hijab mu agar nyaman" jawab Radit dengan nada tinggi.
Kemudian Radit melanjutkan membuka hijab Anisa yang tadi tertunda karena Anisa memberontak. Mata Radit tidak berhenti menatap wajah sang istri. Sebenarnya dia sudah sangat menginginkan istrinya. Tapi Radit memilih menahannya. Masih ada sisa air mata di pipi Anisa. Radit tidak tega untuk memaksakan diri.
Radit mengecup kening istrinya lembut kemudian turun hingga di kedua kelopak mata Anisa yang terpejam. Menyusuri wajah cantik sang istri dan berakhir pada kecupan sekilas di bibir kecil yang penuh. Radit segera melepaskan Anisa. Dia melakukan semua dengan perasaan yang dalam. Radit ingin Anisa merasakan betapa besar perasaannya untuk Anisa.
Anisa dibiarkan tertidur di ranjang pengantin mereka bahkan Radit memasangkan selimut. Setelah itu, Radit bergegas keluar dari kamar. Rasa sesak di dada Radit perlu ditenangkan. Radit pun berharap Anisa bisa berpikir jernih saat ia tidak ada di dalam sana.
Menjelang magrib, Anisa terbangun
Di samping nya ada Radit yang juga tertidur pulas dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek. Dengan gerakan yang pelan, ia meninggalkan tempat tidurnya.
Anisa segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia hanya mengenakan bathrobe saat kembali ke kamar. Anisa membuka kopernya berlahan. Di dalam kopernya tidak ada satupun baju miliknya. Kemudian ia pun membuka koper yang satu lagi, yang ada justru baju baju Radit. Anisa tampak panik. Kebingungan harus mengenakan apa.
Radit terbangun, melihat istrinya hanya mengenakan bathrobe. Pria itu mendekat
" Sudah mandi, sayang?" Radit memeluk Anisa tanpa permisi.
"Baju aku tidak ada" ujar Anisa masih ketus.
"Di koper yang warna pink" Radit melepaskan pelukannya. Kemudian menyeret koper warna pink
"Itu bukan bajuku''
Radit membuka koper kemudian tersenyum jenaka. Melihat pakaian yang ada di dalam koper.
" Pakai saja, tidak ada lagi baju perempuan. itu hadiah dari Sinta. Dia yang menyiapkan semua"
Setelah berkata seperti itu, Radit segera pergi ke kamar mandi. Anisa memilah baju yang ada, yang sekiranya bisa dia pakai. Di dalam koper pink ini hanya ada lingerie dan baju terusan selutut tanpa lengan dengan berbagai model, juga baju dalaman wanita yang memang pas ukurannya untuk Anisa
Anisa mendengus kesal, ia memilih satu baju terusan motif bunga yang paling tertutup, namun tetap saja ketika dipakai, panjangnya satu jengkal di atas lutut. Dan sudah bisa dipastikan, ia tidak bisa keluar dari kamar. Kecuali Radit berbaik hati membelikan baju gamis untuknya.
__ADS_1
Anisa berkaca sambil membolak balikan tubuhnya, Ia merasa seperti sangat janggal. Sudah lama sekali, ia tidak memakai baju dengan ukuran mini seperti ini. Setelah perceraiannya dengan Fatah, Anisa berusaha memperbaiki diri.
Radit baru saja keluar dari kamar mandi. Tertawa lepas melihat Anisa memakai mini dress. Anisa hanya menekuk wajahnya sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Cepat pergi wudlu, jangan hanya menggoda suami mu. Kita sholat berjamaah!"
Anisa menuruti perintah Radit. Keduanya kemudian berjamaah. Setelah selesai, Radit mengisi waktu untuk mengaji. Anisa terpana, tidak menyangka suaminya sesoleh itu. Jika seperti ini, Radit memang benar benar pria yang amat sangat sempurna di mata kaum hawa. Anisa hanya memperhatikan Radit dengan sembunyi sembunyi. Tidak lama, waktu isya pun datang.
" Kita solat lagi, Nisa " Ajak Radit. Radit meletakkan kitabnya di atas meja. Kemudian bersiap untuk kembali solat.
Anisa berlalu mengambil wudlu lagi. Mengenakan mukena warna abu dengan bordir bunga di bagian list bawah. Ia berdiri di belakang Radit. Mengikuti gerakan yang di pimpin radit. Usai solat, Anisa akan membuka mukena, namun Radit melarangnya.
"Jangan di buka, sebentar lagi ada yang akan mengantar makan malam"
Anisa mengangguk, ia menuruti perkataan Radit. Kemudian Radit memberikan tangan pada Anisa. Meskipun masih merasa kesal, Anisa menerima tangan suaminya dan mencium punggung tangan Radit. Radit membalas dengan mengusap pucuk kepala Anisa.
Ada ketukan di pintu kamar. Radit berdiri dan membukakan pintu. Petugas hotel datang membawa makan malam mereka. Tanpa di minta mereka pun menatanya di atas meja. . Setelah selesai dengan tugasnya. Mereka pun berpamitan. Radit mengikuti langkah mereka kemudian mengunci pintu.
"Sayang, makan malam dulu, mas sudah sangat lapar" ajak Radit pada sang istri
"Mas duluan, aku belum lapar" Anisa kembali berbaring masih mengenakan mukena.
"Anisa, suamimu mau makan ,kamu dengar?"
Meski terpaksa, Anisa menghampiri Radit. Kemudian menyendok nasi juga lauk kedalam piring dan memberikan pada Radit.
"Anisa, kenapa mukenanya tidak dilepas? nanti kotor. Kesini!" Anisa masih ngotot tidak mau melepas mukenanya.
Radit berdiri, membuka mukena yang membungkus tubuh Anisa dan meletakkannya di atas sofa. Anisa merasa kikuk dengan dress mininya. Radit pura pura tak melihat Anisa yang merasa tidak nyaman mengenakan dress mini. Anisa masih berdiri.
" Duduk! temani mas makan "
Anisa duduk di depan Radit, mereka berhadapan. Tapi bukan itu yang Radit mau. Radit menatap kesal.
"Duduknya di samping, mas! Kenapa kamu menjaga jarak? Takut sama suami sendiri?"
Akhirnya Anisa berpindah, mengikuti keinginan Radit. Ia duduk di samping Radit. Anisa melakukan itu karena sedang tidak ingin berdebat. Dress mini sialan ini, saat dibawa duduk akan semakin tinggi saja. Anisa beringsut dan menarik narik bajunya agar menutupi paha putihnya.
"Kamu kenapa tidak bisa diam? bajunya tidak usah di tarik tarik, mau nunjukin paha kamu yang mulus?" Radit makin menggoda Anisa
"Mas Radit" Anisa berteriak kesal kembali terpancing.
"Sudah diam, cepat dimakan! Kalau tidak makan, kamu yang aku makan'' ancam Radit sambil menyuapi Anisa.
Anisa tidak mau menerima suapan dari Radit, bagaimana bisa dia makan dari tangan Radit. Suasana hatinya belum mereda.
"Makan, ini perintah suami !" Tegas Radit
"Makan sendiri" ucap Anisa lirih, akhirnya Radit mengalah membiarkan Anisa makan sendiri.
Radit menatap Anisa yang sedang makan karena terpaksa. Tapi Radit menegaskan hati harus tegas pada Anisa saat ini. Ia tidak akan pernah mudah mengalah untuk urusan tertentu. Dia adalah pemimpin tau kapan saat harus melunak dan juga tegas.
__ADS_1
Mungkin memang saat ini Anisa belum bisa menerima dirinya. Tapi Radit sudah sangat bahagia membuat Anisa menjadi istri tercintanya.........