Tetanggaku Duren (Duda Keren)

Tetanggaku Duren (Duda Keren)
27.Malam bersejarah


__ADS_3

Dalam pesta ada mata jahat yang selalu menatap Anisa dari kejauhan. Sosok yang terus mengikuti kemana arah Anisa bergerak. Memperhatikan dari jauh tanpa mengedipkan matanya. Terkadang rahangnya mengeras setiap kali melihat Radit memeluk dan menatap mesra Anisa. Fatah ikut hadir di pesta itu.


Fatah mencoba untuk menahan diri dari rasa cemburu yang menggangu perasaannya. Anisa terlihat jauh lebih menarik, jauh lebih cantik. Fatah meneguk minuman yang di pegang. Seribu kali benar jika penyesalan memang selalu datang di belakang. Mata Fatah sudah sangat merah. Tubuhnya bergerak ingin menghampiri Anisa dan Radit. Juna teman lama Fatah yang sedari tadi memperhatikan, merasa ada yang aneh pada temannya.


Juna mengikuti arah pandangan Fatah menuju. Ketemu, teryata wanita berwajah mirip istri Fatah yang menjadi penyebabnya. Atau jangan jangan itu memang istri Fatah.


Mengapa Juna begitu bodoh sedari kemarin. Bertanya langsung pada orang yang sedang sakit hati tidak akan menjawab pertanyaannya. Fatah justru akan menonjok perutnya. Apalagi saat ini, pria di depannya sudah setengah mabuk.


Juna mengeluarkan ponsel dari sakunya, kemudian menghubungi Rudi asisten Fatah. Jawaban Rudy sangat mengejutkan. Fatah sudah bercerai hampir setahun yang lalu karena ulahnya sendiri.


"Bro, sebaiknya kita pulang " Juna menarik tangan Fatah agar tidak mempermalukan dirinya sendiri.


"Gue harus menjemput dia"


" Bro, dia sudah jadi mantan istri lu. Biarkan Anisa bahagia. Lu sudah membuangnya"


"Tidak bisa, dia tetap milikku"


"Mabok, lu " Juna terlihat kesal. Pria itu memanggil sekuriti untuk membantunya membawa Fatah sebelum mengacau acara ini. Jika hal ini sampai terjadi, bisa rusak seluruh reputasinya. Bahkan apesnya, dia akan di blacklist dari para pengusaha yang ada.


Di ruang pesta, Radit merasa sempurna dengan hadirnya Anisa. Sudah sangat lama ia tidak menikmati pesta seperti ini. Malam semakin romantis dengan suara saksopon yang melantunkan lagu i wanna grow old with you. Radit selalu menggenggam jemari penuh cinta. Mereka terhanyut dengan suasana yang tercipta.


"Nis, mendengar lagu ini membuatku ingin pulang" bisik Radit ke telinga Anisa.


"Mas tidak suka? romantis banget, mas, suasananya" Rupanya Anisa tidak paham arah ucapan Radit yang sebenarnya. Anisa terlalu lurus tidak peka. Sedang Radit hanya menghembuskan nafas dalam. Dia semagin gemas dengan ekspresi wajah tanpa dosa milik Anisa.


" Nis, rasakan debar jantungku!" Radit menarik tangan Anisa, kemudian meletakan telapak tangan Anisa di dada kirinya.


Anisa tergagap, dia merasakan debaran jantung Radit begitu nyata. Berdetak penuh irama. Anisa kemudian menatap bola mata Radit tanpa kedip. Jendela hati itu sedang menatapnya teduh, penuh romansa cinta yang mengalirkan getaran yang sama pada degup jantung juga. Sesaat keduanya terbius rasa yang begitu dalam meski tanpa kata.


" Apa kau masih meragukan perasaanku, Nis?" Mata Radit menuntut, mencari tau di kedalaman telaga bola mata milik Anisa. Anisa menunduk dia akui, getaran itu sudah mulai mengusik hatinya. Semburat merah merona begitu saja di pipi.


Radit mengangkat dagu Anisa. Tidak ingin Anisa menyembunyikan rasa yang ingin ia ketahui. Anisa membalas dengan bibir yang bergetar ia berucap lirih.


"Terima kasih sudah menunjukan betapa dalam perasaan yang kamu miliki untuk ku, mas" tidak bisa dipungkiri hatinya begitu bahagia, tersentuh dengan ketulusan cinta Radit. Anisa tenggelam dalam pelukan Radit.


"Nis, aku bukan pria sempurna. Aku juga bisa sangat rapuh, jika itu berhubungan dengan orang yang sangat aku cintai" Radit mengusap pucuk kepala Anisa. Mengeratkan pelukannya.


Di dada bidang Radit, Anisa bersandar. Mengukur sedalam apa rasa yang sudah dia miliki. Bukan hanya tentang raga yang sudah dimiliki, tapi ikatan rasa yang semakin tertaut erat. Menitipkan hatinya berlahan, mulai mempercayakan dirinya untuk Radit jaga. Membuang jauh rasa takut yang pernah melukai hatinya.


Sebelum acara usai, Radit sudah memutuskan untuk pulang. Dia ingin menyambung keintiman yang baru saja terikat. Sepanjang perjalanan pulang Radit melajukan mobilnya dengan wajah yang sangat bahagia. Sesekali tangannya meraih jemari Anisa dan mengecupnya.


Sudah hampir sampai di depan rumah Radit, namun mobil Radit terhalang oleh sebuah kendaraan yang melintang di depan gerbang. Seolah mobil itu sengaja menghadang. Radit membunyikan klakson mobilnya beberapa kali. Namun mobil yang menghalangi masih tidak bergerak menyingkir. Akhirnya Radit keluar dari dalam mobil.


"Mas.." Anisa tampak cemas. Ia mencegah Radit untuk turun dari mobil.


Malam ini memang terlihat sangat sepi di area dekat rumah Radit. Malam memang sudah beranjak larut. Sebagian orang mungkin sedang menjemput mimpi.


"Tenang saja, mungkin orang yang punya mobil tertidur" Radit menenangkan Anisa.


"Hati hati, mas" ucap Anisa sedang Radit hanya mengangguk.


Radit mengetuk kaca jendela mobil sedikit kencang. Tidak menunggu lama di sipemilik mobil keluar. Alangkah terkejutnya Radit melihat sosok yang baru keluar dari mobil.


" Kamu ...?"


"Kembalikan Anisa" Fatah berkata dengan suara keras dan mata yang memerah akibat mabuk. Tubuhnya sedikit terhuyung karena hilang kendali.


Radit melepas jasnya, kemudian melempar ke tanah. Menghadapi orang mabuk membuat Radit extra waspada.


"Anisa istriku. Silahkan pergi sebelum orang orang mengusir mu dari komplek sini. jangan buat keributan, ini sudah larut malam"


"Dia istriku, kamu yang merebutnya" Meski tubuhnya sempoyongan, Fatah melayangkan sebuah pukulan ke arah rahang Radit.


"Dasar tidak waras, kau sendiri yang menyia nyiakan Anisa" Umpat radit sambil menghindari pukulan Fatah yang tidak ada tenaganya.


Anisa masih di dalam mobil menunggu Radit. Melihat Fatah dalam keadaan mabuk seperti itu, Semakin membuat Anisa terluka, marah dan juga benci. Bahkan sedikit rasa simpati pun sudah lenyap. Kini pikiran Anisa hanya pada Radit, dia kawatir terjadi hal yang buruk pada pria itu.


Anisa segera meraih ponselnya menelepon ke dalam rumah agar para penjaga dapat membantu Radit mengusir Fatah. Anisa hanya ingin hidup tenang. Merajut lagi masa depannya tanpa gangguan Fatah. Di saat seperti inilah, Anisa semakin menghargai keberadaan Radit dalam hidupnya. Dia adalah pria yang akan melindunginya, menjaganya. Dan memberikan seluruh hatinya untuk Anisa


Dua orang penjaga rumah Radit berdatangan dan menyeret Fatah ke dalam mobil. Mereka dengan mudah meringkus fatah yang sedang dalam mabuk.

__ADS_1


Radit meminta para penjaga untuk membawa Fatah keluar dari Area tempat tinggalnya. Radit tidak ingin memperpanjang urusannya dengan fatah. Selain lelah, bagaimanapun juga pria itu adalah ayah kandung Alea. Putri kecil yang begitu manis dan tidak berdosa. Radit segera masuk ke dalam mobil, Ia melihat mendung di mata Anisa. Ada kemarahan di matanya yang tertuju pada sosok Fatah.


"Nis..." Sapa Radit sebelum menyalakan mesin mobilnya. Namun Anisa hanya diam dengan bulir bening yang mulai berjatuhan.


Radit memutuskan untuk menyalakan mobil dan membiarkan Anisa menangis. Wanita di sampingnya perlu untuk menumpahkan rasa kecewa juga sedihnya. Radit paham itu.


Memasuki rumah, Anisa masih dalam mood yang buruk. Anisa segera melempar diri di atas ranjang. Sepertinya wanita itu begitu lelah dan rapuh saat ini. Radit melakukan hal yang sama. Keduanya menatap langit langit kamar sambil berbaring tanpa kata.


Keduanya sibuk dengan pemikirannya masing masing. Saling diam, memberikan jeda dan memahami perasaan. Anisa memiringkan tubuhnya menghadap Radit. Begitu merasakan pergerakan di sampingnya, Radit


pun melakukan hal yang sama, ia memiringkan tubuhnya menghadap Anisa.


Anisa menatap dalam bola mata Radit. Jemari membelai wajah Radit lembut. Radit hanya bisa mengulas senyum tipis sembari menikmati sentuhan Anisa. Berlahan wajah Anisa mendekati wajah Radit hingga tak berjarak. Hembusan nafas hangat Anisa menerpa wajah Radit. Dan...Cup ....Anisa mengecup bibir Radit.


Kemudian kecupan itu semakin menuntut. Radit membalas kelembutan yang diberikan Anisa. Radit mengambil alih kendali, ia memimpin permainan. Yang di mulai oleh sang istri. Anisa menyerahkan diri dengan suka rela.


"Kamu pria sempurnaku, mas. Mulai malam ini, aku menyerahkan seluruh hatiku. Tolong jaga, aku tidak mau hancur untuk kedua kalinya" ucap Anisa sembari memeluk Radit erat. Ia memutuskan untuk berani mencintai seorang Radit.


"Sayang, aku sangat bahagia malam ini" ungkap Radit sembari mengeratkan rengkuhannya.


Radit bisa melihat binar cinta di bening mata Anisa. Tatapan yang sudah ia nanti semenjak menikahi wanita itu. Anisa telah menyerahkan seluruh hatinya untuk Radit jaga. Keduanya berpelukan mengikat rasa yang begitu dalam hingga terlelap berselimut malam dengan keindahan rasa bahagia yang seutuhnya.


Pagi menjelang, setelah menunaikan subuh, Radit meminta Anisa tetap berada di atas tempat tidurnya.


"Sayang, tidurlah kembali! kamu pasti lelah setelah melalui malam yang begitu indah bersamaku semalam" Seperti biasa, Radit begitu senang menggoda sang istri. "Aku suka, Semalam kamu begitu ekspresif. Desahanmu masih terngiang ngiang di telingaku" Radit mengedipkan matanya sebelah.b


Blush....wajah Anisa merona. Ia menutup wajahnya dengan selimut dan bersembunyi dari tatapan Radit. Radit hanya terkekeh melihat kelakuan Anisa yang malu malu seperti itu.


" Mas Disa, kalau kamu terus menggodaku, aku ngambek " Anisa mengancam Radit dari balik selimut.


"Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi. Sekarang tidurlah lagi, jangan bangun kalau aku tidak menyuruhmu. Ini perintah. Aku akan melihat anak anak di bawah"


Radit meninggalkan Anisa yang masih bersembunyi di bawah selimut. Setelah terdengar bunyi pintu tertutup, Anisa segera keluar dari balik selimut. Wajahnya masih terlihat memerah. Awalnya ia ingin segera turun kebawah juga, tapi mengingat ucapan Radit, Anisa mengurungkan niatnya. Radit tidak suka saat ia membantah.


Di bawah, Radit meminta asisten rumah untuk menjaga dua putrinya agar tidak mengganggu Anisa yang masih ia perintahkan untuk tetap tidur. Radit membawa sarapan pagi mereka ke dalam kamar.


"Sayang, kamu boleh bangun!" Radit menepuk nepuk Anisa yang bergulung dalam selimut. Betul tebakan Radit, setelah di tinggal beberapa saat Anisa yang memang kelelahan tertidur kembali.


"Sayang, bangun. Sarapan dulu!" Radit menepuk nepuk kembali. Matahari sudah merambat tinggi, Radit tidak mau Anisa melewatkan sarapan pagi.


Anisa pun menggeliat dan membuka matanya. Pria sempurnanya sudah dengan senyum manis duduk di sisinya.


"Aku cuci muka dulu, mas " Ujar Anisa sambil berjalan menuju kamar mandi


" Alea dan Ara ,sudah bangun ?" Tanya Anisa sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Sudah, mereka sedang bermain di taman belakang. Aku sengaja membuat anak anak sibuk bermain agar tidak mengganggu tidur mu "


Anisa keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah. Bulir bulir bening itu ia usap dengan handuk kecil. Kemudian Anisa berjalan mendekati Radit.


"Terima kasih ya, mas" Anisa mengecup pipi Radit sekilas.


"Habiskan sarapan mu, Nis. Jangan menggoda ku seperti ini" Radit pura pura cemberut. Padahal ia begitu suka dengan keintiman mereka saat ini.


"Mas Disa tidak sarapan?"


"Mas nunggu dapat suapan dari


istri, mas. Aaa" Radit bertingkah seperti anak kecil. Anisa terkekeh dengan kelakuan Radit yang seperti ini.


"Mas bisa manja juga ? aku kira mas cuma bisa marah sama nyuruh nyuruh"Anisa pun balas menggoda Radit. Ia tergelak melihat ekspresi Radit yang menahan kesal.


"Aaaa, bunda suapin, ya" Anisa masih terus tergoda Radit.


"Nisa, aku nggak mau bercanda "


"Kan, marah ..."


Mereka sarapan pagi sebelum turun ke lantai bawah.


Hari pun terus bergulir, sejak kejadian penghadangan Fatah, Radit semakin memperketat keamanan Anisa juga anak anaknya. Radit tidak mau lengah barang sekejap.

__ADS_1


Sebulan sudah berlalu dari kejadian malam itu. Kehidupan Anisa dan Radit semakin bahagia.


**


Malam itu, Anisa dan Radit sedang berbaring di atas ranjang mereka sambil saling memeluk setelah menuntaskan hasrat.


" Sayang, aku sangat bahagia. Tetaplah seperti ini bersamaku" Radit mengecup pucuk kepala Anisa. Anisa hanya menyembunyikan wajahnya di dada Radit, ia lebih suka mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh sang suami.


"Nis.." Kembali Radit memanggil


"Hmm?"


"Mas ingin punya bayi"


" Aku juga mau, mas. Kita tunggu saja" Anisa mendongak sambil mengulas senyum. Dia tau apa yang sangat Radit inginkan


"Bagaimana kalau kita konsultasi ke dokter? Kita buat program untuk kehamilanmu. Sudah tiga bulan kita menikah tapi belum juga ada tanda tanda kamu hamil"


"Mas ..."


"Ya.."


"Aku mau mengakui sesuatu'' Anisa sedikit ragu dengan apa yang akan dia ucapkan.


Radit langsung dalam mode waspada, terlihat dari sorot matanya yang menajam. Meski begitu, ia tetap menunggu Anisa kembali berbicara.


"Sebenarnya aku sangat subur, hanya saja dari awal pernikahan, aku belum begitu yakin dengan hatiku. Aku sengaja meminum pil pencegah kehamilan. Aku...aku, minta maaf mas "


"Jadi selama tiga bulan ini, kamu membuang hasil kerja kerasku, Nis? " Radit tampak gusar, Ia kecewa dengan keputusan sepihak dari Anisa.


"Dua bulan mas, aku sudah membuang pil pencegah sejak malam bersejarah kita. Kita tunggu hasilnya beberapa hari lagi. Semoga ada kabar baik untuk kita, mas''


"Benarkah? Semoga kabar baik itu segera datang. Aku tidak sabar, ingin melihat perpaduan Radit dan Anisa yang sesungguhnya" Radit terlihat begitu bahagia.


"Dia pasti tampan. Dia akan memiliki kulit putih sepertiku dan akan mewarisi tubuh tegapmu"


"Apa dia laki laki?" Radit semakin sumringah." Dia akan jadi anak yang sangat kuat dan hebat nantinya"


"Aku rasa, iya. Akhir akhir ini, aku suka sekali makan steik, ikan bakar, juga rendang" Anisa masih bersandar di dada Radit dengan manja.


"Apakah kamu sudah ada di sini?" Radit mengusap perut rata Anisa.


"Aku akan datang, papi" Anisa menirukan suara anak kecil untuk menggoda Radit. Keduanya tertawa. Kemudian suasana hening.


"Mas.."


"Ya .


"Aku bahagia" Anisa mengungkapkan perasaannya.


Radit mengeratkan pelukannya, mencium kening Anisa penuh penghayatan. Luapan rasa bahagia begitu membuncah di dadanya.


"Berlindung di dadaku, Nis. aku akan jadi orang yang bisa kamu andalkan. Kalau saja kamu tau, sebesar apa perasaanku untukmu, kamu pasti akan takjub "


"Aku pasti akan selalu merindukan mu" Ucap Anisa sembari terus menyusupkan wajahnya kembali di dada bidang Radit. Akhir akhir ini, Anisa sangat menyukai aroma tubuh Radit.


"Nis..."


"Ya"


"I love you"


"Too"


Di luar sana, bulan sudah tertutup awan. Bukan hujan deras yang turun ke bumi, tapi gerimis kecil yang menghembuskan hawa dingin juga sepi. Namun di sudut kamar itu, dua insan yang saling mendekap berbalut asmara tetap hangat terlelap.


***


Selamat hari raya untuk yang merayakannya .Semoga segala kebaikan terlimpah untuk kita semua .


Author coba up setelah cuti yang di percepat ....happy reading

__ADS_1


__ADS_2