
Dua bocah perempuan berlari memeluk Anisa. Mereka saling berebut untuk mendapatkan perhatian. Anisa hampir kewalahan menghadapi dua gadis kecilnya. Anisa mengecup pipi mereka sambil memeluk keduanya. Sedang Radit hanya bersedekap sambil menatap interaksi istri dan anak anaknya. Seulas senyum tercetak di wajahnya. Rasanya sangat menyenangkan, rumah yang selama ini begitu hampa berubah hangat dan ceria
Anisa sudah duduk di sofa diapit oleh Lea dan Ara. Keduanya merajuk, mempertanyakan kepergian Anisa dan Radit beberapa hari ini.
"Bunda, kenapa perginya lama? Lea kangen. Ya kan, Ara?" Bibir Alea tampak mengerucut. Sedang Ara hanya mengangguk.
Radit yang sedari tadi hanya diam kini meraih Lea dalam pangkuannya. Ia membisikan sesuatu yang membuat Lea terkikik geli sambil menatap Radit. Namun saat bibir kecilnya akan bersuara, Radit segera memberi isyarat agar Lea tutup mulut.
Ara yang merasa mendapat peluang untuk bermanja manja dengan Anisa, langsung naik ke pangkuan Anisa. Ia memeluk sambil merebahkan kepalanya di dada Anisa. Anisa mengusap kepala Ara penuh kasih.
"Bunda, kenapa tidak ajak Lea dan Ara?"
"Maaf ya, Bunda harus menemani papi. Di sana tidak boleh membawa anak kecil, karena itu kalian tidak bunda bawa"
"Apa tempatnya jauh?" Ara yang masih penasaran terus bertanya.
"Jauh dan urusannya sangat penting" ucap Anisa berbohong. Ia tidak ingin melukai perasaan anak anaknya.
Mendengar jawaban Anisa, Radit hanya tersenyum penuh arti. Muncul ide untuk menggoda istrinya.
"Kalian mau tau, urusan apa?" Radit bertanya pada dua putrinya. Karuan saja Ara dan Lea kompak mengangguk.
Anisa Langsung melotot mendengar ucapan Radit yang sembarangan. Namun Radit tidak memperdulikan peringatan Anisa. Dia justru tertawa lepas.
" Apa Pi?" tanya Ara yang sudah sangat penasaran.
"Kalian senang tidak, kalau punya Adik?"
"Mas..."
" Adik...?" Ucap Ara dan Lea bersamaan.
"Iya"
"Mau Pi, Ara mau punya adik laki laki" Ara tampak tersenyum bahagia. Sedang Lea seperti sedang berpikir.
"Aku masih bisa digendong bunda, kan?" Lea sedikit pencemburu. Dia terlihat bingung.
"Tentu saja, Lea. Lagi pula papi hanya bercanda" Anisa menenangkan Alea.
"Tapi Ara mau bunda, Adek yang lucu "
Anisa semakin pusing dengan permintaan Ara soal Adik. Dia baru menikah beberapa hari, masih terlalu dini untuk merencanakan seorang bayi. Dia belum bisa lepas dari rasa takut, dia belum terlalu yakin untuk melangkah sejauh itu.
Radit yang melihat kebingungan Anisa langsung tanggap ia mengalihkan fokus dua putrinya. Radit menuntun Ara dan Lea masuk ke kamar mereka.
"Papi mau lihat kamar kalian"
"Bagus Pi, Tempat tidur Lea warna pink"
"Punya Ara warna ungu"
Radit memasuki kamar kedua putrinya. Ia membiarkan mereka bercerita tentang kesukaan mereka masing masing. Meski lelah Radit bersikap antusias dengan celoteh anak anaknya.
Radit duduk diapit oleh ke dua putrinya. Sepertinya dia harus memberi pengertian pada Lea terutama. Lea sedikit pencemburu dan halus perasaannya. Sedang Ara tidak bermasalah dengan hadirnya seorang adik.
"Lea punya adik itu menyenangkan. Lea bisa berbagi, Lea juga akan jadi kakak yang pintar. Apalagi kalau adik kalian laki laki. Nanti kalau sudah besar kalian akan di jaga oleh adik kalian. Papi dan bunda akan semakin tua seperti nenek, juga Oma dan opa"
"Papi dan bunda sangat menyayangi kalian. Karena itu papi berencana membuat adik untuk kalian. Papi ingin kalian selalu ada yang menjaga". Radit menatap Lea yang sedari tadi mendengarkannya dengan seksama.
"Bagaimana, Lea mau kan, punya adik?"
"Mau papi, Lea mau punya adik. Nanti Lea bisa suapin adik. Lea mau jadi kakak. Iya, mau" Lea terlihat semangat begitu juga Ara.
"Anak pinter, sekarang Lea bilang sama bunda. Alea sudah besar pingin punya adik" Radit menghasut Alea
" Iya " Alea pun mengikuti perintah Radit. Gadis itu dengan riang berlari menuju ruang tengah dimana Anisa sedang duduk di sofa untuk melepas lelah.
Dari depan pintu kamar putrinya, Radit memperhatikan ekspresi Anisa yang sedang berbicara dengan Lea. Ia hanya tertawa senang berhasil membuat istrinya kesal.
**
Radit membawa Anisa ke dalam kamarnya yang terletak di lantai dua. Kamar utama dengan dekorasi minimalis terlihat bersih dan rapih untuk ukuran seorang pria.
" Kamu bisa susun barang barang mu di lemari ini " Radit menunjuk sebuah lemari warna putih yang sangat besar.
"Besar sekali mas" decak Anisa. Namun Radit tidak menanggapinya.
"Istirahat saja dulu kalau kamu lelah. Aku akan ke ruangan sebelah, ke ruang kerjaku. Arman sudah memberitahu aku ada sedikit pekerjaan yang harus aku periksa"
Anisa mengangguk tanda mengerti. Suaminya pasti akan mulai sibuk. Setelah Radit pergi, Anisa memasukan barang barangnya ke dalam lemari. Di sana juga sudah ada beberapa gaun yang menggantung untuk dirinya. Hadiah dari ibu mertua dan juga Sinta adik ipar.
Anisa merebahkan tubuhnya sejenak di atas ranjang yang begitu luas. Ia sejenak menikmati kenyamanan yang Radit berikan. Hingga tidak terasa ia terlelap untuk beberapa saat.
Anisa turun ke bawah setelah ia membersihkan diri. Tubuhnya terasa ringan dan segar. Sampai bawah, Anisa melihat Lea dan Ara sedang bermain menyusun Lego di temani bik Siti. Sedang ibu berada di dapur, area yang paling ibu sukai.
__ADS_1
Ibu tersenyum melihat kedatangan Anisa, wajahnya sumringah.
"Ibu sedang buat apa ?"
"Sus kering keju buat nak Radit, mana nak Radit?"
"Mas Disa lagi di ruang kerjanya Bu. Ada yang harus dia periksa, katanya"
"Kamu harus lebih perhatian Nisa, dia orang yang sibuk. Makan minumnya jangan sampai terlewat. Kamu harus mulai tau kebiasaannya, kesukaannya dan hal hal yang membuat dia tidak suka. Jangan lupa juga, sekarang putrimu ada dua. Kamu harus merawat mereka"
"Iya Bu, Anisa akan berusaha" jawab Anisa. kemudian hening, ibu memasukan kue yang sudah dingin ke dalam toples.
"Ibu suka tinggal di sini ?" Tanya Anisa tiba tiba.
"Siapa yang tidak suka tinggal di sini, Nis. Apa lagi dapur nak Radit sangat memanjakan ibu. Tapi bagaimanapun juga lebih nyaman tinggal di rumah sendiri. Tapi itu mustahil, nak Radit tidak akan mengijinkan ibu tinggal sendiri. Dia juga ingin merawat ibu" ucap Bu Ratna panjang lebar.
"Semua orang yang ada di rumah ini baik kan, pada ibu?" Tanya Anisa ingin meyakinkan hati.
"Baik sekali, Nis. Mereka semua memperlakukan ibu sangat baik. Ibu sampai tidak enak sendiri. Mereka bilang agar menuruti semua keinginan ibu. Nak Radit yang memerintahkan seperti itu" Anisa menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Nisa mau buat teh dulu untuk mas Disa, Bu. Mungkin secangkir teh hangat bisa membuat pikirannya lebih jernih"
"Sekalian bawa kuenya, Nis ''
"Iya Bu "
Anisa menyiapkan secangkir teh hangat untuk dibawa keruangan Radit. Juga satu toples sus kering buatan ibu.
***
Di gedung Alea persada, Fatah sedang kedatangan teman lamanya. Mereka sedang mengerjakan projek bersama. Mendiskusikan ide ide yang dapat di aplikasikan ke dalam projek mereka.
"Bro, lu emang jago mendesain. Ide ide lu bener bener out of the box" puji Juna saat melihat hasil rancangan Fatah di layar komputer.
"Biasa aja, jangan muji muji kek gitu, kaya baru kemarin tau kualitas gue" jawab Fatah kalem sedang Juna hanya mencebik tak berkutik. Temannya ini memang sudah jago dari jaman kuliah.
Tiba tiba Sekretaris Fatah masuk. Wanita dengan blazer hitam itu memberitahukan bahwa Gina ingin bertemu dengan Fatah. Namun Fatah menolaknya dan justru meminta sekuriti untuk mengusir Gina.
"Bro, gue baru ingat. Kemarin gue mewakili bokap ke pesta pernikahan putra dari Wijaya group. Loe tau yang jadi istrinya? mirip sekali dengan istri loe, sampai namanya saja sama"
" Maksud loe, Raditya Wijaya menikah? Loe ada fotonya?" Fatah tiba tiba gelisah. Dia harus menyakinkan dirinya jika Anisa belum menikahi pangeran Wijaya.
"Gak ada, kenapa loe panik ?" Ucap Juna bingung. Dia tidak tau jika Fatah sudah bercerai dari Anisa.
Fatah meninggalkan Juna yang masih belum tau kebenaran tentang Fatah dan Anisa yang sudah berpisah. Fatah bergegas memacu mobilnya. Hati Fatah sudah di penuhi dengan gejolak perasaan yang tidak dapat di ungkapkan.
"Anisa, berani beraninya kamu menghianati aku" gumam Fatah tidak tau diri.
Fatah semakin melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah Anisa. Meski itu sangat membahayakan dirinya dan pengguna jalan lain. Tekadnya sudah begitu bulat, Ia harus melihat sendiri kebenaran berita yang dia dapati barusan.
Sampai depan rumah Anisa, Fatah segera turun dan menggedor gedor pintu. Rumah Anisa tampak sepi. Kembali Fatah berteriak teriak memanggil Anisa.
Dua sekuriti penjaga di rumah Radit segera menghampiri Fatah.
"Maaf pak, rumah Bu Anisa kosong"
"Kemana mereka pergi?"
"Pindah pak, ke rumah suaminya"
"Siapa suaminya ?"
"Tuan Raditya Wijaya "
Dada Fatah seperti terhimpit oleh dua buah batu besar. Nafasnya terasa sesak, Ia tidak menyangka secepat itu Anisa melupakannya.
Fatah terlalu percaya diri. Dia sangat yakin Anisa masih mencintainya. Anisa tidak mungkin menghianatinya. Anisa tidak mungkin menikahi pria lain. Ia sudah berencana untuk kembali bahkan Fatah sudah mengusir Gina dari hidupnya.
Fatah terus menyangkal kenyataan yang baru saja ia temui.
" Silahkan bapak pergi ,karena bapak sudah membuat gaduh dan mengganggu ketentraman komplek ini ''
Dengan lemah Fatah masuk ke dalam mobilnya kembali. Segera meninggalkan rumah Anisa.
**
Dari atas balkon rumah. Radit memperhatikan Fatah yang menggedor gedor rumah Anisa. Ia meminta sekuriti penjaga rumah untuk mengusir Fatah. Dan merahasiakan tempat tinggal Anisa.
"Mas Disa di luar? aku bawakan teh dan camilan di meja kerja" suara Anisa mengagetkan Radit. "Mas lagi apa ?kaget gitu aku panggil"
"Terima kasih, Nis. Aku sedang mencari udara segar, rasanya lelah dari tadi di dalam ruangan kerjaku terus" Ujar Radit Kemudian menghampiri Anisa.
"Mas mau makan sekarang? Anak anak sudah nunggu di bawah ?"
"Nanti saja, mas masih ada yang harus di kerjakan "
__ADS_1
" Ya sudah, aku mau menemani mereka makan dulu" pamit Anisa pada Radit. Anisa sudah mau melangkah tapi Radit kembali memanggilnya.
" Nisa ..., " Panggil Radit Dan Anisa kembali membalikkan tubuhnya menghadap Radit, Anisa heran saat Radit menatapnya dalam. Tiba tiba Radit merengkuh pinggangnya, kemudian memeluk erat Anisa
"Jangan pernah pergi dari sisiku, Nis. Aku tidak bisa kehilangan kamu" bisik Radit di tengah pelukannya. Anisa hanya mengangguk. Dibiarkan Radit bersandar di bahunya untuk sesaat.
Nisa merasakan seperti ada beban yang begitu berat di balik tatapan Radit tadi. Anisa bisa merasakan itu. Kemudian Radit mengurai pelukannya. Anisa menatap manik mata Radit, mencari tau kerapuhan yang dirasakannya dari sang suami. Tanpa sadar, Anisa merangkum rahang kokoh Radit. Mengusap lembut pipi Radit dengan dua ibu jarinya. Anisa tersenyum kemudian membalas pelukan Radit. Cukup lama keduanya seperti itu.
Radit mulai kewalahan mengendalikan diri. Hawa panas mulai menjalar ke bagian pusat sarafnya. Bersentuhan seintim ini dengan Anisa selalu membangkitkan hasrat. Radit merutuki diri dengan pikiran mesumnya yang tidak tau waktu.
"Pergilah ke bawah, Nis. Temani anak anak. Aku takut tidak bisa menahan diri. Aku..." ucap Radit sambil melepaskan pelukannya. Anisa mulai hafal arah pembicaraan Radit.
Ia segera berlari meninggalkan Radit yang terkekeh. Sepertinya Radit senang sekali membuat Anisa kesal.
"Beruntung aku cepat menikahi mu, Nis. Aku lebih mudah untuk melindungimu dari mantan suamimu yang tidak punya otak itu.
Aku pastikan kamu aman, Anisa" Radit bergumam setelah Anisa pergi.
**
Sampai di Apartement, Fatah segera membuka laptopnya. Mencari tau tentang pernikahan putra dari Wijaya group. Hati Fatah semakin remuk menemukan puluhan foto foto pernikahan Anisa dengan Raditya Wijaya di sana. Situs situs berita online mengabarkan tentang pernikahan konglomerat itu.
Sakit sekali membayangkan mantan istri cantiknya di jamah pria lain. Tidak terasa Fatah membanting laptop yang sedang ia gunakan.
Ruang kerja Fatah menjadi saksi bisu Amarah yang membuncah. Suasana ruangan itu sudah tak berbentuk. Ingatan Fatah kembali di lima tahun silam. Dialah pria pertama yang menyentuh Anisa. Wanita pintar yang cantik. Anisa wanita yang sangat baik dan mandiri.
Fatah berhasil memenangkan hati Anisa meskipun dia hanya pria biasa. Anisa bukan wanita yang memuja materi. Fatah membalasnya dengan kerja keras. Anisa selalu mendukung setiap usaha Fatah.
Hingga di posisinya sekarang. Anisa tidak pernah menuntut. Dia mengerti kesibukan Fatah. Bahkan Anisa tidak pernah berubah meski Fatah memberinya banyak materi. Ia tetap menjadi wanita sederhana.
"Aku akan memperjuangkan kamu, Anisa. Aku akan merebutmu kembali. Setelah itu kita akan hidup bahagia di vila impianmu bersama Lea putri kita "
Ponsel Fatah berdering ada telepon dari Gina .
"Apa lagi yang kamu inginkan, Gina?"
"Waktumu tinggal satu Minggu lagi, setelah itu aku tidak akan memaafkanmu"
"Gugurkan saja bayimu, Gina. Aku tidak menginginkannya"
"Mas Fatah, kamu benar benar keji. Dia anakmu juga, darah daging mu " Sahut Gina sembari terisak.
"Anakku hanya Alea " Fatah menutup ponselnya.
Fatah segera menghubungi orang kepercayaannya yang bisa mencari keberadaan Anisa dan Lea. Dia bertekad akan merebut kembali keluarganya.
***
Di sebuah kafe, dua orang pria sedang duduk berhadapan. Satu diantaranya berperawakan tinggi besar, di wajahnya terdapat bekas luka sayatan yang cukup panjang. Dari pelipis hingga pipi.
"Bigo, misi ini tidak mudah, kamu harus berhati hati, Aku ingin kamu mengintai orang yang ada didalam foto ini. Dari tempat tinggal sampai kegiatannya apa saja. Kamu catat baik baik. Setelah itu lapor semua pada saya "
"Beres bos, saya pasti bisa "
" Bagus yang harus kamu ingat kamu jangan pernah melukai mereka . Tugasmu hanya memata matai " Fatah menjelaskan tugasnya pada Bigo " Ini uang muka untuk pekerjaan mu ''
"Terima kasih bos, Saya jamin bos akan senang"
" Bagus "
Keduanya berpisah, Fattah kembali kedalam mobilnya. Sedang Bigo melanjutkan meminum kopi yang sudah ia pesan. Tiba tiba seorang wanita cantik menghampiri Bigo. Ia pura pura menumpahkan jus di jaket Bigo.
Bigo yang sangar langsung tersinggung. Ketika menoleh seorang wanita cantik yang ketakutan meminta maaf berulang. Bigo menatap wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki . Matanya berkilat terpesona dengan kecantikan wanita di depannya.
"Maaf ya, saya benar benar tidak sengaja "
" Hemm " ujar Bigo dingin sambil berlalu
"Mas.." wanita cantik itu mengejar Bigo tapi langkah Bigo sangat panjang
Hingga Akhirnya wanita cantik itu berhasil berdiri di depan Bigo dengan senyum yang sangat manis.
"Untuk gantinya aku akan mencuci jaket mu" Wanita muda itu Gina, dia berusaha mencari simpati Bigo.
"Tidak usah" Bigo menolak tegas.
"Aku bisa membayarnya dengan cara yang kamu suka "
Bigo berhenti menatap wanita cantik di depannya .
"Jangan bermain main denganku
pergilah "
Bigo menatap tajam perempuan yang ada di depannya. Pria itu menggertak, untuk melihat apa yang ingin di tawarkan oleh perempuan itu. Bigo biasa menghadapi wanita murahan dia tidak mudah tergiur.
__ADS_1