
Proses evakuasi mengalami banyak kendala, dari Medan yang curam juga tanah yang terlalu gembur. Sungai juga sedang deras mengalir akibat hujan di hulu. Setelah perjuangan yang tidak mudah, akhirnya mobil yang ada di tepi jurang bisa terangkat ke atas. Di dalam mobil hanya ada Alea dengan tubuh penuh luka. Gadis kecil itu masih mengenakan sabuk pengaman. Sedangkan Anisa tidak di temukan di sana.
Radit meminta tim evakuasi menyisir area sekitar jurang.
Tim medis yang sudah bersiap langsung memberikan pertolongan pada Alea. Mereka memeriksa keadaan Alea dari tanda tanda vitalnya dan juga luka luka yang ada di tubuh gadis kecil itu. Tim medis segera membawa Alea untuk segera di rawat di rumah sakit terdekat Radit mencoba tegar berada di sisi Alea, meskipun hatinya sangat hancur.
"Lea, kamu harus kuat. Jangan tinggalkan papi dan Ara" bisik Radit di telinga Ara.
Sampai di rumah sakit Alea mendapat perawatan intensif. Seluruh kemampuan para dokter di kerahkan untuk menyelamatkan Alea. Radit bahkan meminta dokter spesialis terbaik di kota ini untuk menangani putrinya yang malang. Namun Tuhan berkehendak lain. Alea menyerah, Tuhan lebih menyayangi gadis kecil tanpa dosa itu. Alea menghembuskan nafas terakhirnya di temani lantunan kalimat tauhid dengan bimbingan Radit.
Radit menunduk, sedangkan tangannya masih menggenggam telapak tangan mungil Alea. Dia masih belum percaya, perjuangan Alea sudah usai.
" Alea ...." tiba tiba saja dada Radit sesak. Ia terpaku. Terselip rasa menyesal, mengapa ia menuruti permintaan Anisa untuk menghentikan pengawalan.
Masih terbayang wajah Anisa yang selalu memohon untuk menghentikan para bodyguard yang menjaganya. Anisa selalu mengeluh tidak enak hati dengan teman teman sesama pendidik di SMA Garuda.
Radit menatap wajah Alea untuk yang terakhir sebelum kain putih itu akan menutup selamanya. Akhirnya bulir bening itu mengalir di pipi Radit. Sekuat apapun ia menahan dari tadi, tetap saja kesedihan itu meledak. Beberapa waktu terakhir ini, hidup Radit sudah begitu sempurna dengan kehadiran Alea dan juga Anisa.
Masih dengan kebekuan, Radit menyegarkan hati untuk membawa jenazah Alea pulang. Bu Ratna berkali kali pingsan setelah mengetahui cucu tercintanya meninggal. Belum lagi keberadaan Anisa yang tidak di temukan.
Suasana duka menyelimuti rumah Radit. Ara, Bu Ratna, mama Arini dan tuan Wijaya begitu terpukul atas kepergian Alea yang mengenaskan.
Prosesi pemakaman berlangsung hikmat. Ketika semua beranjak untuk pulang, Bu Ratna masih enggan untuk beranjak dari pusara Alea.
"Bu, kita pulang, ya?" Radit membujuk
"Ibu pulang kemana, nak Radit ? Anak ibu entah dimana, Alea sudah tiada. Ibu sendirian"
"Jangan berkata seperti itu, bu. Ibu tidak boleh putus asa, masih ada saya dan Ara. Kita akan mencari Anisa bersama"
"Tolong temukan manusia biadab yang membuat cucu ibu begini ''
"Tentu saja Bu. Bukan hanya ibu yang kehilangan tapi saya dan Ara juga sangat sangat kehilangan. Saya pastikan orang itu mendapat ganjaran yang setimpal''
Membutuhkan ektra kesabaran untuk membujuk Bu Ratna. Radit memaklumi, bu Ratna merasa sendirian sekarang. Radit memapah Bu Ratna untuk segera masuk ke dalam mobil.
**
Pusara Alea kembali sepi. Senja sudah mulai datang, Fatah tertatih mendekati gundukan tanah merah pusara Alea. Ia luruh dan memeluk nisan dengan tangisan yang menyayat. Bagi Fatah, kejadian ini benar benar membukakan hatinya. Ini hukuman yang begitu kejam. Dalam sesaat ia kehilan orang orang yang sangat ia cintai. Semua berawal dari kebodohannya sendiri.
"Alea, ayah datang. Maafkan ayah, nak. Ayahmu yang hina ini mungkin tidak pantas mendapatkan maaf. Ayah sangat menyesal..."
" Ayah tau kamu sangat marah. Harusnya ayah membiarkan bundamu dan kamu bahagia, meski itu dengan orang lain. Ayah orang yang sangat menjijikan. Tapi percayalah Lea, Ayah sangat menyayangi mu. Ayah berjanji akan menyerahkan diri pada polisi. Ayah akan membawa orang orang yang sudah mencelakai kamu dan juga bunda. Setelah ayah menebus kesalahan, Ayah akan menemanimu, Lea. Maafkan ayah.
Fatah tak memiliki tenaga lagi ia tertidur di pusara Alea sambil memeluk gundukan tanah merah .
Pagi harinya Fattah terbangun dan segera berdiri. Tekadnya sudah bulat untuk menyerahkan dirinya pada polisi. Ia juga ingin segera menghukum Gina juga Bigo yang telah berani membuat Alea menghadap sang pencipta.
Di sebuah kantor polisi Fatah mengakui kesalahannya. Menyuruh orang yang bernama Bigo untuk menculik Anisa dan Lea tapi tidak untuk menyakitinya .Bukti kiriman pesan dan Vidio dari Gina juga di serahkan. Polisi mulai bergerak menangkap Bigo dan Gina serta anak buahnya.
Polisi bisa dengan mudah menangkap semua orang yang terkait dalam peristiwa Alea dan Anisa. Termasuk Gina dan Bigo.
Gina pikir, Fatah akan melarikan diri seperti pengecut. Teryata Fatah justru menyerahkan diri. Mereka menghadapi proses peradilan yang panjang dan melelahkan. Pengacara handal Radit sewa untuk memberi pelajaran.
Meski sudah berhasil menjebloskan Fatah dan juga antek anteknya, hati Radit masih saja belum tenang karena Anisa masih belum juga di temukan. Radit menjadi pemurung setelah kepergian Anisa dan Lea. Hampir satu bulan Radit bertingkah seperti itu.
Radit memang datang ke kantor seperti biasa setiap paginya. Namun pria itu tidak dapat melakukan apapun. Papa Wijaya yang sudah beberapa saat memperhatikan tingkah Radit hanya bisa menggelengkan kepala.
"Radit" panggil papa Wijaya pada putranya yang sedang duduk
Namun Radit tidak menoleh sedikitpun. Seolah pria itu sedang hanyut dalam dunianya sendiri.
"Radit, papa mau bicara!" Suara papa Wijaya terdengar nyaring
"Bicaralah pa, Radit mendengarkan" Radit hanya menyahut dengan suara lemah. Ia tampak acuh.
"Kamu tidak bisa terus begini. harus iklas, semua sudah terjadi. Papa tau kamu sedang merasa kehilangan. Tapi kehidupan harus terus berlangsung. Dunia terus berputar"
__ADS_1
" Hatiku sakit pa, kenapa harus begini. Apakah Radit dilahirkan sesial ini pa? Bela pergi dalam kecelakaan, Radit iklash. Sekarang Anisa..., bahkan Anisa hilang dan belum di temukan sampai sekarang. Radit sangat mencintai Anisa, pa. Rasanya tidak sanggup"
"Jangan berkata seperti itu. Berprasangka baiklah pada Penciptamu. Tidak ada yang tidak mungkin. Bangkitlah, di pundakmu ada tanggung jawab besar. Kamu adalah tulang punggung untuk banyak karyawan mu, jadi kuatlah. Kita akan tetap melakukan pencarian untuk Anisa"
Radit mengerjapkan matanya. Setelah kemalangan yang menimpa, dia seperti mayat hidup. Padahal ia memiliki tanggung jawab yang begitu besar. Radit begitu tertekan dengan kejadian yang menghantam kehidupanya. Tiba tiba tangisnya pun pecah di depan Papa Wijaya. Pria tua itu memaklumi keadaan Radit. Dia menepuk bahu putranya. Mungkin sentuhan seorang ayah bisa menguatkan putranya .
" Pa..., Aku merasa Anisa masih ada, dia pasti kembali. Radit akan mencarinya terus"
"Semoga itu benar, Radit. Papa ikut bahagia dan mendoakan agar Anisa cepat pulang. Tapi ..." Papa Wijaya tidak meneruskan ucapannya. Pria itu menatap sendu. Jika berbikir dengan logika Anisa tidak mungkin selamat. Tapi segalanya bisa terjadi atas kehendak yang kuasa.
"Maaf pa. Mungkin papa berfikir aku tidak waras. Tapi hatiku yang berkata seperti itu"
Papa Wijaya mengangguk. Kemudian memberikan senyum teduhnya. Dia berusaha untuk bijak dalam menghadapi Radit. Putranya mungkin memiliki keyakinan yang lebih. Dia hanya bisa berdoa semoga segala yang terbaik untuk putra dan menantunya.
***
Bu Amini sedang membersihkan halaman rumah tuan Hans, majikannya. Tiba tiba saja, ia mendengar suara jeritan perempuan yang sangat keras. Wanita paruh baya itu sontak melemparkan sapu yang sedari tadi dia pegang. Ia berlari menuju kamar besar yang terletak di ruang utama rumah itu.
Seorang wanita muda sedang menangis. Sesekali bibirnya menyebutkan sebuah nama. Sepertinya dia begitu kesakitan. Isakan tangisnya sungguh menyayat hati. seolah merasakan kesedihan yang begitu dalam sedang matanya yang kuyu menerawang jauh.
Bu Amini memberinya segelas air putih. Perempuan setengah baya itu mengusap usap punggung wanita muda yang bernama Alea.
"Non Lea, minum yah. Non Lea mimpi apa, kok nangis gitu?"
"Aku ...aku rasanya sedih sekali mbok"
"Sudah non, jangan terlalu di pikir mungkin hanya mimpi. Jangan sedih, Sebentar lagi tuan Hans datang"
Senja pun merapat, pria yang bernama tuan Hans datang. Pria itu berperawakan tinggi dengan badan yang kokoh serta tatapan yang teduh. Dia datang membawa banyak belanjaan dan memberikan pada Bu Amini pengurus rumahnya.
" Selama aku pergi, apa Lea menanyakan aku ?'' tanya Hans penuh harap. Sedang Bu Amini tersenyum samar. Lea memang menanyakan Hans. Tapi wanita itu hanya ingin meminta ijin untuk pergi.
Mata tua Bu Amini bisa melihat dengan jelas, tatapan Hans untuk Alea sangatlah berbeda. Hans sepertinya memiliki perasaan khusus pada wanita yang di temukan nya.
Hans langsung menuju kamar utama tempat Alea berbaring. Wajah Hans terlihat begitu bahagia. Begitu membuka pintu Hans langsung mendapati Lea yang sedang duduk termenung.
"Tuan Hans?"
"Tuan Hans, saya ingin memakai kerudung, Rasanya tidak nyaman seperti ini"
"Aku sudah membelikan mu banyak kerudung pakailah" Tuan Hans mengulas senyum. Sembari menyodorkan satu paperbag yang dia bawa tadi.
Hans mengambilkan satu kerudung warna hitam dan memakaikannya pada Alea. Alea hanya menatap Hans kebingungan. Ia tidak berkutik dengan perlakuan lembut Hans. Meski hati kecilnya berkata ini tidaklah benar.
"Lihatlah.., Kamu benar. Kamu terlihat lebih cantik sekarang" Hans menatap dalam wajah yang sudah membuatnya mengalihkan seluruh dunianya.
"Terima Kasih Tuan Hans"
"Panggil aku Hans. Jangan dengan embel embel tuan. Aku tidak nyaman dengan panggilan mu itu"
"Hans..." Ucap Lea canggung. Sedang Hans langsung terkekeh dan mengusap pucuk kepala Anisa pelan.
"Kau mau jalan jalan sore ? di luar sangat cerah"
"Saya takut"
"Hanya di teras depan. Kamu suka bunga?"
"Mawar, saya suka mawar" ucap Lea polos.
"Di sana ada beberapa mawar yang sedang mekar"
Anisa masih menggeleng, wanita itu bahkan takut keluar dari rumah.
"Tidak ada yang akan berani menyakitimu, ada aku yang akan menjagamu, mengerti? "
Alea mengangguk setuju. Di tatapnya Hans pria pertama yang ada dalam ingatannya. Orang pertama yang akan ia percaya .
__ADS_1
Hans orang yang menyelamatkan Alea dari derasnya Arus sungai Ketika dirinya sedang dalam perjalanan pulang dari mendaki gunung bersama para sahabat sahabatnya.
Hans membawa alea yang tidak mempunyai ingatan. Namanya sendiri pun ia tidak tau. Tapi dia selalu menyebutkan nama Alea. Karena itu Hans memberikan nama Alea.
Hans merawat Alea di rumah sakit miliknya. Selama sebulan Alea mendapat perawatan. Setelah sembuh, Alea di bawa ke rumah peristirahatan milik Hans di pinggiran kota yang masih sejuk.
Hans membawa Lea ke taman depan rumah menikmati senja. Mereka duduk di sebuah bangku taman. Mbok Amini membawakan dua cangkir teh hangat dan camilan.
Lea menatap taman yang di tata begitu cantik. Betul kata Hans, di depan ada beberapa mawar yang sedang mekar. Harumnya begitu kas
Alea tampak menarik nafas dalam. Ia begitu menikmati udara segar yang dia hirup. Wajah pucatnya berangsur pudar. Wajahnya berseri. Hans menatapnya lekat, "Cantik" pujinya dalam hati.
"Kamu menyukainya, Lea" ucap Hans tanpa melepas tatapannya pada wajah Alea yang semakin terlihat cantik.
"Iya, taman ini indah. Aku suka"
Setelah beberapa saat Hans dan Lea menikmati senja. Mereka kembali masuk ke dalam rumah kembali.
**
Usai makan malam, Lea terlihat murung kembali. Perasaannya tidak nyaman. Lea sendiri tidak tau mengapa dia bisa begini.
Hans baru saja merampungkan lukisannya di ruang pribadinya keluar. Malam sudah kembali larut. Ia mendapati Alea sedang melamun sendirian di ruang tengah.
"Kamu belum tidur?" Tanya Hans heran. Alea hanya menggeleng. Sejenak ia menatap Hans. Seperti ada sesuatu yang ingin dia ucapkan tapi Alea masih belum memiliki keberanian
Hans mendekat kemudian duduk di samping Alea persis. Hans meraih tangan Lea dan menggenggamnya erat.
"Ada yang masih terasa sakit, Lea?" Hans terlihat kawatir. Tapi Lea menggeleng
"Hans..."
"Ya..?"
"Ceitakan tentang aku?" Alea menatap manik mata Hans penuh permohonan.
"Siapapun kamu, aku tetap akan melindungi mu, Lea" Tegas Hans pada Lea.
"Ceritakan Hans, aku bingung. Terkadang aku begitu sedih tanpa tau alasannya"
"Lea, aku juga tidak tau. Bisa jadi kamu korban kejahatan orang dan membuang mu ke sungai"
"Hans..., Mungkin itu yang membuatku begitu sedih?"
"Mungkin saja, Lea. Mereka tidak akan bisa menyakitimu lagi. Aku akan terus menjagamu. Tenanglah" Hans kembali mengusap pucuk kepala Anisa. Tatapannya begitu teduh dan membuat Lea mengangguk.
"Tidur! aku antar kamu sampai kamar"
Hans menuntun Alea sampai kamar bahkan pria itu tanpa canggung meminta Alea berbaring dan menyelimutinya.
"Malam, Lea. Mimpikan hari yang indah bersamaku. Aku menyayangimu" Hans terbawa suasana. Ia hampir mengecup kening Alea, namun dengan sigap Alea mendorong dada Hans. Hans mundur beberapa langkah. Pria itu tidak menduga Alea akan menolaknya.
"Maaf.." cicit Alea dia merasa sangat bersalah telah mendorong Hans. Tapi Hans sudah terlalu berlebihan dalam menyentuhnya. Bagi Lea ini bukan sentuhan yang wajar.
Hans membeku, ada tatapan kecewa di bening matanya. Ia menarik nafas dan membuangnya berlahan, berusaha menetralkan perasaannya. Hans memaklumi apa yang Alea lakukan. Mungkin saja wanita ini memiliki trauma yang dia tidak tau.
"It's ok, Lea. Have nice dream"
Alea mengangguk, ia merasa sedikit lega saat Hans kembali bersikap manis.
"Baiklah, besok jadwal cek up mu. Kita pergi pagi pagi sekali, agar tidak terkena macet"
"Hans..." Alea memanggil Hans kembali saat pria itu sudah menggapai handle pintu. Hans membalikkan badannya
"Ya..."
"Terima kasih"
__ADS_1
Hans mengangguk kemudian tersenyum manis pada Lea. Hans menutup pintu kamar Lea rapat. Dia masih merasakan debaran jantungnya melonjak. Ucapan itu begitu tulus dan membuatnya melayang untuk yang kesekian kalinya. Padahal Alea hanya wanita yang hilang ingatan. Asal usulnya pun dia tidak tau.
Apakah dahulunya dia wanita baik baik atau sebaliknya. Hans terpesona pada sikap wanita itu juga tak memungkiri pada pesona ragawi Alea yang begitu indah.