
Hari libur telah tiba, Anisa sudah menjanjikan Alea untuk pergi jalan jalan. Seminggu penuh waktunya tersita untuk bekerja, Alea hanya memiliki sedikit waktu Anisa yang tersisa. Itu pun hanya saat malam hari. Terkadang rasa bersalah menyelimuti hati Anisa. Saat menatap buah hatinya yang sudah tertidur dengan damai. Di hari libur inilah, Anisa ingin membalaskan rasa rindu dan juga mengabulkan semua keinginan Alea. Membuat gadis kecilnya yang begitu pengertian tersenyum bahagia.
"Ibu benar benar tidak ingin ikut dengan kami?" Tanya Anisa pada Bu Ratna yang belum juga bersiap. Wanita paruh baya itu malah sedang asik mengadoni tepung untuk membuat camilan.
"Ibu lebih suka di rumah, Nis. Setelah kue ibu matang, ibu ingin istirahat sambil lihat televisi saja" Bu Ratna menuangkan adonan kuenya ke dalam loyang. Kemudian memasukan ke dalam oven.
Anisa masih mematung menunggu ibunya. Rasanya tidak tega meninggalkan ibu sendirian di rumah. Sedang dirinya dan Alea pergi bersenang senang. Ibu menoleh lagi pada Anisa
"Sudah, sana berangkat. Ibu baik baik saja di rumah. Kalau tidak keberatan tolong belikan keju dan tepung protein tinggi untuk kue, ya"
"Nanti Nisa belikan, Bu"
"Nis kalau ada cetakan kue model baru ibu belikan, ya"
"Iya, Bu" Anisa terkekeh. Kebahagiaan ibu adalah membuat makanan. Hanya itu.
"Kapan kapan ibu ingin memberi Arini, kue buatan ibu. Dengan bentuk yang unik"
"Iya, iya"
"Bunda ayok" Rupanya, Lea sudah tidak sabar untuk pergi jalan jalan.
"Iya, Lea pamit dulu sama nenek" Alea langsung mengambil tangan neneknya kemudian mencium punggung tangan sang nenek sambil berpamitan.
"Bu, kami berangkat dulu" Anisa menggenggam telapak tangan putrinya sambil berjalan meninggalkan ibu. Keduanya tampak gembira.
Lea mengenakan dres selutut dengan rambut yang diikat jadi satu, sedang poni tipisnya tersisir rapi menutupi dahi. Terlihat imut dan cantik dengan pipi cuby yang putih serta hidung kecil yang lancip. Mulut mungilnya terus berceloteh karena hatinya gembira.
Anisa memasang sabuk pengaman kemudian melajukan mobilnya berlahan. Jalanan cukup ramai meskipun tidak sampai macet. Cuaca hari ini juga cukup mendukung. Terlihat cerah tanpa terik matahari yang menyengat.
Keduanya pergi kesebuah mall yang cukup besar. Tujuan pertama mereka ke tempat arena bermain anak anak. Di sana mereka akan menjajal semua mesin permainan. Bagian yang paling Alea suka adalah mengumpulkan kupon yang banyak.
Alea menuju mesin capit boneka. Ia ingin menjajal permainan itu. Setelah menempelkan kartu yang berisi saldo. Alea di bantu Anisa mulai mengerakkan mesin berlahan. Berulang kali Capitan itu gagal mengangkat boneka. Membuat Alea kesal.
Alea kembali menunjuk mesin permainan yang lain. Hingga keduanya merasa kelelahan. Mereka benar benar menikmati liburan hari ini. Anisa tampak manis dengan celana kulot hitam dan blouse warna nude dan hijab senada. Keduanya bergandengan menuju food court.
"Bun, Lea haus"
"Jus stroberi, mau?"
"Iya mau"
"Alea mau makan apa lagi?
"Minum saja, Bun. Maemnya nanti" Ujar Lea
Anisa meminta putrinya duduk, ia akan pergi memesan minuman yang di minta. Lea pun tidak protes, dia duduk dengan manis menunggu Anisa.
" Aleaaaaa..."
Suara yang tidak asing memanggil Alea dari arah belakang. Alea menoleh dan langsung berteriak gembira, melihat ada Ara di tempat itu. Anisa yang baru sampai dengan membawa dua cup jus stroberi pun melihat kedatangan Ara. Ara sedang berlari menuju ke arah mereka. Di belakang Ara, ada pak tetangga dengan gaya yang cool mengikutinya.
Anisa menarik nafas dalam, jika mereka ikut bergabung, suasananya pasti akan berubah menjadi tidak nyaman untuk dirinya. Sedang Alea dan Ara, mereka tidak masalah. Justru mereka akan sangat senang.
"Ara sama siapa?" Anisa bertanya meski itu hanya basa basi. Siapa tau Omanya juga ikut.
" Sama papi, bunda "
" Terus Oma?"
"Oma tidak ikut, katanya cape "
"Ara mau jus stroberi?" Anisa menawari jus pada Ara
" Mau bunda "
__ADS_1
" Ara bilang dulu sama Papi, boleh gak minum jus stroberi"
Radit sudah ada di depan Anisa dan Alea
"Halo, om " Alea menyapa
"Hai, Lea"
Anisa tidak menyangka, pak tetangga seperti sudah kenal akrab dengan putrinya. Anisa juga tidak menyangka wajah sinis pak tetangga bisa begitu manis saat berbicara dengan anak kecil. Wajah kakunya berubah sumringah menjawab salam dari Alea .
"Pi, Ara boleh minum jus stroberi ?"
"Boleh, sebentar papi pesan dulu "
Radit akan melangkah setelah menjawab pertanyaan Ara.
"Ini Ara , jusnya" Anisa memberikan satu cup jus pada Ara.
Radit menatap Anisa dengan tatapan Aneh.
"Biar saya pesan sendiri " ujar Radit singkat
"Saya sudah menawari Ara tadi, hanya perlu menyakinkan, apa boleh minum jus stroberi" Ujar Anisa sembari membawa Ara dan Lea untuk duduk kembali.
"Ara hanya alergi udang, saja " ucap Radit datar.
Radit mengikuti Anisa dengan santai. Kemudian mereka duduk dalam satu meja. Radit masih asik dengan ponselnya sambil menunggu Ara minum jus.
" Anisa" Radit memanggil Anisa yang sedang asik ikut mengobrol dengan dua bocah kecill di depannya.
Anisa hanya menoleh kearah Radit. Saat Radit ingin mengucapkan kata, Ara dan Alea sudah merengek ingin segera bermain mandi bola. Radit pun Urung berkata kata. Pria itu berdiri dari tempat duduknya kemudian menuntun Alea dan Ara menuju arena mandi bola. Anisa tidak mau kalah. Ia mengekor di belakang Radit.
Ara dan Lea sudah masuk ke dalam arena bermain. Tinggal lah Anisa dan Radit di luar. Anisa mencoba membuat jarak agar tidak terlalu dekat dengan pria yang menurutnya sombong.
"Bisa kita bicara sebentar?" Radit menatap Anisa. Ia berharap Anisa mau menerima ajakannya. Ada yang harus ia luruskan.
"Mau bicara apa? Soal ganti rugi biaya rumah sakit? Aku hanya punya 5 juta" ucap Anisa ketus.
"Nisa..."Radit menahan diri agar tidak membuat masalah baru. Anisa menatap Radit tidak percaya. Intonasi pria itu tampak seperti pria penyabar.
"Kemarin saat di rumah sakit, aku mungkin keterlaluan. Ucapanku pasti menyinggung perasaanmu. Aku minta maaf, Nisa. Aku hanya sedang panik"
Anisa menoleh sebentar. Rasanya tidak percaya, pria sombong itu meminta maaf padanya.
"Tapi yang anda bilang kemarin itu memang benar, kok. Saya memang seperti tuduhan Anda"
"Nisa..., Aku sedang kacau saat itu. Coba kalau kamu ada di posisiku. Pasti kamu akan panik dan tidak sengaja berkata yang kurang pantas"
"Jadi ada toleransi, ya. Kalau orang yang pikirannya sedang kacau. Bisa seenaknya menghina orang"
" Nisa.." Suara Radit meninggi.
"Aku kira kamu sudah dewasa, Nisa. Tapi ternyata masih sama, bocah cengeng dan sekarang bertambah, jadi pendendam juga?"
"Enak saja, bilang saya cengeng "
"Kamu kira, aku tidak tau siapa kamu ? Kamu sering pulang sekolah sambil menangis hanya gara gara dapat nilai delapan. Kamu selalu ingin dapat nilai sepuluh. kamu juga akan menangis dengan kencang kalau ditinggal Ayah pergi ke luar kota dan kamu akan menangis kalau mendengar suara petir. mau aku bongkar lagi, kebiasaan burukmu?"
Anisa tercengang dengan kata kata Radit. Semua yang dikatakan Radit memang benar. Tapi itu dulu waktu dia masih kecil. Sekarang tentu sudah berubah. Wajah Anisa memerah, ia sangat malu.
"Kamu bingung, dari mana aku tau semua kebiasaan buruk mu?" Radit merasa di atas angin melihat Anisa langsung diam saja. Wanita itu terlihat bingung. Dan Radit semakin ingin menggodanya.
" Aku juga tau, Nis. Setiap pagi kamu harus mandi dengan air hangat. jika ibu tidak sempat menyediakan nya, kamu akan pergi ke sekolah hanya dengan cuci muka" Radit menarik turunkan kedua Alisnya.
"Stop ! itu saya waktu kecil, sekarang tidak lagi"
__ADS_1
Radit tersenyum puas dengan reaksi Anisa yang merasa sangat malu. Hingga pipinya semakin merona dan berwarna merah.
"Aku tau semua, karena kita pernah tinggal satu atap, bahkan kita sering tidur bersama"
Senyum Radit terlihat menjijikan di mata Anisa.
"Saya bilang berhenti! lama lama anda tidak hanya suka menghina tapi juga suka membuka aib orang"
" Sudah ingat siapa Aku? Kamu masih mau mendendam? Tanyakan pada ibu, bagaimana dulu kamu selalu ingin ikut denganku dan kamu punya panggilan spesial untukku"
" Aku tidak ingat bahkan aku nggak mau mengingat siapa Anda" tegas Anisa
Radit terkekeh melihat Anisa semakin tertekan olehnya. Anisa merasakan hawa di sekitarnya semakin panas. Ia ingin segera pergi dari tempat itu tapi Alea masih asik bermain di sana dengan Ara. Rasanya menyebalkan sekali berdekatan dengan pria sombong.
Ketegangan Anisa dan Radit terjeda dengan ponsel Radit yang berbunyi. Wajah Radit kembali ke mode Serius. Tidak semenyebalkan tadi, saat membuka semua aib masa lalu Anisa. Dari topik pembicaraan yang Anisa dengar, Mereka hanya berbicara seputar pekerjaan saja.
Ara dan Lea sudah keluar dari arena bermain, mereka sudah merasa bosan dan kelaparan . Ara dan Lea tidak mau berpisah mau tidak mau Anisa dan Radit harus bersama mengawasi mereka.
"Pi, kita makan, ya. Ara dan Lea sudah lapar"
"Boleh, ayok ikutin papi. Kita akan makan di restoran kesukaan kamu "
Radit berjalan di depan. Diikuti oleh Anisa dan anak anak .
Mereka masuk ke salah satu restoran Sunda. Radit memesan menu nasi liwet kumplit. Mereka duduk melingkar di satu meja. Siapa pun orang yang baru saja melihat mereka , pasti mengira mereka adalah sebuah keluarga.
Nasi liwet dan lauk pauknya yang di pesan Radit datang juga. Ada ayam bakar, lalapan, sambal sayur asem juga tumis kangkung. Sudah tertata di meja. Anisa mengambilkan nasi dan lauknya untuk Ara dan Alea. Tiba tiba saja Radit pun dengan tidak tau malu menyodorkan piring kosong, ingin di perlakukan seperti dua bocah itu. Meski kesal Anisa mengalah dan mengisi piring Radit.
Seseorang memanggil Anisa yang tengah asik menyuapkan nasi liwet.
Anisa menoleh ke a--''rah suara, teryata di seberang meja tempatnya makan, ada Nania sahabatnya
" Hai." Sapa Nania saat menangkap basahl sahabatnya jalan bersama seorang pria.
Anisa hanya menggeleng gelengkan kepalanya, kemudian kembali makan. Radit memperhatikan gerak gerik Anisa.
" Siapa... mantan suamimu ?"
Anisa menghentikan suapan nya. Menatap Radit penuh emosi. Sepertinya pria di depannya hampir menguliti seluruh rahasia hidupnya. Bahkan dia tau jika dia sudah bercerai.
" Lea maemnya sudah belum ?"
" Belum bunda "
" Bunda suapin, ya, biar cepat. Rasanya bunda pusing ada di restoran ini "
" Maaf Nis, Aku hanya bercanda"
Sebenarnya Radit hanya ingin menggoda gadis kecilnya. Tanpa berpikir akibat. Dia rindu kebersamaan yang dulu, dengan Anisa kecil. Meski Anisa mungkin masih mengingatnya atau tidak.
Tapi sayangnya Anisa bukan gadis kecilnya lagi. Anisa sudah tumbuh jadi wanita dewasa. Yang penuh perasaan dan perhitungan. Apalagi di depan mereka ada Anak anak.
Kali ini, Anisa benar benar marah. Setelah menyuapi Alea, Anisa berpamitan dengan Ara.
"Ara, Tante pulang dulu, ya. Tante harus segera menemui teman, Tante. Jagain papi, jangan sering sering makan sambel, pedeeees " ujar Anisa sambil melirik pria menyebalkan itu.
" Iya bunda "
"Lea, hati hati di jalan, ya. Jangan suka marah marah sama bunda. Kasian, nanti
cepet tua "
" Iya om "
Api permusuhan di mulai dari saling sindir . Anisa menuntun Lea segera menjauh dari Radit .
__ADS_1