
Sebuah kesengajaan atau bukan, Anisa tidak pernah tau. Saat melintasi depan rumah Radit, sudah bisa dipastikan, akan berpapasan dengan Radit. Pria itu sedang berdiri di samping sedan mewahnya, juga dengan sejuta pesonanya hanya akan menatap dengan tatapan datar dan tidak lagi hangat seperti dulu.
Terkadang timbul pertanyaan di benak hati Anisa. Mengapa harus setiap hari jadwal keberangkatan mereka selalu bersamaan. Anisa memiliki jam pelajaran yang tidak selalu pagi, ada kalanya, dia berangkat kerja saat sudah menjelang siang. Tapi begitu melintas, Radit pasti sudah di depan gerbang, siang itu. Apakah itu suatu kebetulan yang terjadi.
Selalu seperti itu selama beberapa minggu, hingga Anisa tidak lagi merasa terganggu. Ada yang lebih membuat Anisa gusar, akhir akhir kini. Ibu dan Alea sering sekali berkunjung ke rumah sebelah. Jika Anisa bertanya pada Ibu, wanita paruh baya itu hanya akan menjawab ala kardarnya saja. Ibu juga menjadi lebih rajin membuat makanan kecil yang akan dibawa ke rumah Radit.
Seperti pagi ini, saat hari libur tiba, ibu sudah bersiap pergi ke rumah sebelah bersama Alea. Kemarin sore, ibu sibuk membuat kue sus kering keju. Anisa kira kue sus kering itu untuk di rumah. Teryata ibu membuat kue itu kusus untuk tuan tetangga sebelah.
Anisa mulai merasa cemburu, perhatian ibu yang biasanya hanya tercurah padanya kini terbagi. Sus kering keju sudah di tata dalam toples bening. Warnanya kuning keemasan terlihat sangat menggoda. Apa lagi itu buatan ibu yang rasanya dijamin membuat lidah menagih.
"Sus keringnya ada lagi, Bu?" Tanya Anisa saat ibu sudah memasukan toples itu di paperbag yang akan ia bawa.
"Ibu hanya sempat buat satu toples saja, Nis"
"Buat Nisa betulan tidak ada, Bu?" Anisa mulai cemberut. Ibu hanya terkekeh gemas.
"Ibu ke rumah sebelah dulu ya, Nis. Kalau mau, nanti sore ibu buatkan. Atau kamu mau ikut sekalian ke rumah sebelah. Ibu di undang makan siang sama Lea"
"Gak mau, Bu. Nisa mau beres beres rumah. Mumpung libur"
"Nis, maaf ya ibu tidak masak. kamu nanti bikin lauk sendiri, ya"
"Bu, yang anak ibu Nisa apa tetangga sebelah sih? Kayanya ibu lebih perhatian sama tetangga sebelah"
Ibu hanya tersungging. Sambil menggandeng Alea. Sebelum pergi, ia menatap Anisa sambil berkata.
" Tentu saja kamu anak ibu, tapi tidak menolak juga kalo tambah anak satu lagi yang kaya nak Radit"
" Ibu tega banget sih, Bu" Anisa cemberut. Masa iya harus bersaing dengan Radit untuk mendapat kasih sayang ibu. Radit sudah pasti menang, sekarang saja ibu seperti betah berkunjung di rumah sebelah.
"Ibu tunggu, kalo kamu mau ikut"
" Gak Bu, seperti anak kecil saja" Anisa bergegas masuk ke dapur. Di depannya sudah menumpuk pekerjaan yang memang ia tunda. Rencananya hari ini akan ia bersihkan semua.
'' Lea ayo sayang ,nanti Ara nunggunya terlalu lama "
" Ayo nek, kita ke rumah Ara. Om Radit janji mau beliin Ara sama Lea mainan baru''
Anisa yang mendengar celoteh Alea langsung kembali mendekati keduanya.
"Tunggu" ibu dan Alea langsung menghentikan langkah mereka.
"Apalagi sih, Nis"
"Alea tidak boleh meminta di belikan mainan pada orang lain!" Ucap Anisa sambil mengusap putrinya. Lea hanya menatap Anisa dengan tatapan bingung. Mata gadis kecil itu mengerjap. " Kalau Lea mau mainan minta ke bunda atau Ayah"
"Lea tidak memintanya, Nis. Radit yang menjajikan" ibu membela cucunya
"Tetap tidak boleh. Nanti bunda belikan mainan yang Lea mau?" Ucap Anisa lagi tanpa menghiraukan ibu. Kemudian Lea mengangguk tanda paham.
"Lea boleh main kan, dengan Ara?" Sepertinya Alea sudah tidak sabar untuk bertemu dengan temannya.
"Boleh" Anisa melepas ibu dan Alea pergi meninggalkan dirinya di rumah. Anisa menutup pintu rumah. Membereskan isi dapur, dan setiap sudut rumah yang jarang tersentuh.
Menjelang tengah hari. Anisa sudah mulai kelelahan. Perutnya menagih ingin segera di suplai dengan makanan. Anisa lupa, hari ini ibu absen untuk memasak. Dengan langkah gontai, Anisa membuka pintu kabinet tempat penyimpanan bahan makanan. Ia menemukan beberapa bungkus mi instan kemudian meraihnya satu.
Satu mangkuk mie kuah rasa ayam bawang sudah matang, dua buah telur, irisan daun bawang dan cabe rawit merah. Tidak lupa saus tomat memberi sentuhan rasa yang terakhir. Anisa menikmati makan siangnya dengan menu seadanya. Makanan terlezat yang tidak boleh terlalu sering ia konsumsi.
Tidak terasa dua gelas air putih sudah dia teguk. Rasa pedas membuat itu semua tidak terasa. Keringat mengalir tipis tipis di dahinya karena efek rasa pedas dan panasnya mie kuah yang begitu lezat.
Setelah selesai makan, Anisa kembali merasa sepi. Seluruh tugasnya sudah ia selesaikan. Anisa bergegas membersihkan diri. Menikmati waktu kosongnya dengan memanjakan tubuhnya. Aroma lulur yang lembut memberinya efek rasa tenang. Jadwalnya setelah mandi adalah menonton tv dengan santai.
**
Di rumah Radit
Radit menyambut kedatangan Bu Ratna. Jauh dalam hatinya berharap sosok yang sudah lama tak ia sapa akan ikut serta. Namun sayang, harapannya pupus saat melihat Bu Ratna hanya berdua dengan Alea.
"Ini kue kesukaan nak Radit" ibu memberikan toples kue sus kering.
"Terima kasih, Bu. Anisa mana? Tidak ikut?" Radit pura pura kecewa. Padahal ia sudah tau ini akan terjadi. Mereka memiliki perjanjian untuk saling menjauh.
" Mau beres beres katanya "
sementara itu Lea dan Ara sudah bergandengan menuju ke dalam rumah.
" Lea, yuk kita main. Papi udah beliin aku mainan baru "
" Mainan baru?"
__ADS_1
"Ini buat aku, yang ini buat kamu " Ara menyodorkan satu kantung mainan anak perempuan pada Alea. Ia membagi rata mainan dari Radit.
"Lea juga di beliin? Tapi kata bunda gak boleh minta beli mainan sama om Radit" tiba tiba Alea teringat dengan ucapan sang bunda.
Radit berdecak tidak suka, ia kemudian mendekati Alea. Radit ikut duduk di bawah bersama Lea.
"Lea tidak minta, tapi ini hadiah dari om Radit, ALea bisa main bareng Ara, tanpa rebutan"
Alea menatap dengan ragu . Dia belum yakin untuk menerima hadiah pemberian dari Radit .
"Dengar Lea, Ara sudang menganggap Lea seperti saudara ,iya kan?" Alea mengangguk. "Ara juga memanggil tante Anisa dengan bunda. Lea juga sama, boleh panggil om Radit dengan Papi, sama seperti Ara "
" Panggil papi, boleh om?"
"Iya ...." Radit tersenyum. Jika Anisa ingin memberi batasan Radit bisa lebih mengeratkan. 'Kita lihat Anisa, siapa yang menang'
Radit lebih cerdik. Dia sudah bisa mendekati ibu dan Alea. Keduanya sudah masuk dalam target bidikan. Hanya tinggal menaklukan sang Ratu saja. Hatinya bersorak ketika Alea dan Ara memanggilnya Papi bersamaan.
Bu Ratna sudah masuk ke dapur Radit yang begitu luas. Radit memanjakan wanita paruh baya itu dengan alat alat memasak yang canggih juga dua orang asisten yang akan menemani Bu Ratna di dapur. Radit pun menyiapkan bahan bahan untuk diolah. Selain mendapatkan masakan yang lezat, Radit dengan mudah mengambil hati Bu Ratna.
Radit, mengawasi dua anak perempuan yang sama sekali tidak merepotkan nya. Ia hanya perlu pasrah di jadikan badut percobaan oleh dua gadis kecil. Kadang mereka meminta Radit berbaring jadi pasien atau rambutnya di beri penjepit. Radit tidak memperdulikannya selama keduanya tertawa bahagia.
Saat jam makan siang, Bu Ratna dan dua orang asisten sibuk menata meja makan. Radit yang sudah kelaparan pun segera meminta Ara dan Alea untuk makan siang bersama.
Meja makan yang biasanya sepi kini terasa hangat. Ada Bu Ratna dan juga Lea. Lebih indah lagi jika di sampingnya ada Anisa, itu impian Radit yang belum terwujud.
Ketika mereka sedang asik makan siang bersama. Dila tiba tiba saja datang menginterupsi ke damaian mereka. Rupanya Dila belum menyerah untuk mendekati Radit.
"Selamat siang semua" sapa Dila pada seluruh penghuni ruang makan
"Tante Dila" Ara langsung berdiri dan memeluk Dila yang baru datang.
Radit meletakkan sendoknya di piring dan meminta Dila untuk ikut bergabung.
" Ara sedang makan ? " tanya Dila sambil mencubit hidung Ara gemas. Kemudian menoleh pada Radit yang memintanya bergabung untuk makan siang.
"Ayo makan Tante, nenek masak sup ayam yang enak"
" Nenek ...?" Dila terlihat heran. Kemudian menatap Bu Ratna dan Lea yang terlihat asing di matanya
kemudian Radit memperkenalkan Lea dan Bu Ratna pada Dila.
Radit ingin melindungi Bu Ratna dari tatapan tidak bersahabat Dila.
"Bu Ratna , ini adik almarhum istri saya, Dila''
Dila ikut bergabung makan siang bersama. Ia duduk di sebelah Radit persis. Seolah ingin memberitahukan posisinya di rumah ini. Sesekali, Dila juga mencuri pandang ke arah Radit.
" Mas Radit sedang libur?" Dila membuka obrolan setelah mereka makan siang.
" Seperti kamu lihat" jawab Radit acuh.
"Kenapa tidak membawa Ara ke rumah, ibu. Ibu kangen loh, mas, sama Ara"
"Kenapa tidak ikut datang kesini sama kamu?"
Dila terdiam dengan jawaban Radit. Sepertinya kedatangan Dila tidak di harapkan oleh Radit. Radit terlihat sangat acuh. Radit meninggalkan Dila dan mengajak Ara dan Lea ke taman belakang rumah yang luas dan sejuk.
Mereka duduk di sebuah gazebo taman yang di sampingnya ada kolam renang. Alea dengan mata berbinar melihat kolam yang begitu bening. Dulu di rumah lamanya dia sering berenang bersama sang Ayah.
" Om papi boleh berenang?" Tanya Alea pada Radit. Radit hanya terkekeh mendengar panggilan Alea
"Manggilnya yang betul, dong" Radit merasa gemas dengan Alea yang masih canggung memanggilnya papi
" Papi boleh berenang ?"Ulang Alea dengan tatapan memohon.
" Boleh, tapi tidak sekarang. nanti, ya kalau sudah tidak terlalu panas"
" Alea mau ambil baju renang dulu Papi "
" Pakai punya Ara, saja "
" Boleh ?"
"Tentu"
Setelah mendapat ijin Alea langsung merasa senang
" Lea, kita pilih baju renangnya " ujar Ara semangat. Bagi kedua bocah itu bermain air adalah seperti surga.
__ADS_1
Kemudian Ara dan Lea berlari lagi ke dalam rumah di ikuti Radit. Keduanya masuk ke kamar Ara dan mencari baju renang untuk mereka pakai nanti.
Radit berpapasan dengan Bu Ratna .Yang akan berpamitan pulang.
"Nak Radit, ibu pulang dulu, ya" Pamit Bu Ratna pada Radit. Biasanya Bu Ratna akan betah berada di rumahnya. Setidaknya wanita paruh baya itu bisa mengobrol dengan para asisten di rumahnya sambil membuatkannya camilan.
"Tapi Alea masih mau berenang, Bu. Jangan di paksa pulang. Biar nanti saya yang mengantarnya pulang"
Bu Ratna diam sejenak, ia masih berpikir untuk mengijinkan Alea tetap di sini atau tidak. Saat masih diam Ara dan Alea keluar dari kamar sambil menenteng baju renang. Rasanya tidak tega membuat Alea kecewa.
"Ya sudah, ibu pulang dulu, biar nanti Anisa yang jemput" Radit mengangguk dengan keputusan Bu Ratna.
"Tadi itu siapa, mas?" Dila sudah berdiri di samping Radit sambil menatap Bu Ratna yang pergi meninggalkan rumah.
"Bu Ratna"
"Aku tau, tadi mas sudah bilang namanya. tapi..."
" Dia ibu kostku waktu di jogya dia juga sahabat mama kecil mama"
"Anak kecil yang tadi cucunya , kenapa panggil mas Radit papi ?" Dila seperti sedang menginterogasi Radit.
"Suka suka dia saja, Dila. Namanya juga anak kecil " ujar Radit mengelak
" Mas Radit tidak keberatan? "
" Tidak, Ara juga memanggil ibunya Alea bunda" ujar Radit sambil meninggalkan Dila. Lama lama Dila bersikap semaunya dan ingin tau urusannya saja.
Melihat gestur Radit yang seolah sangat melindungi wanita paruh baya tadi dan juga cucunya, Dila memiliki kesimpulan. Ada yang istimewa yang telah terjadi. Dan dia harus memastikan apa itu.
"Aku mau menginap di sini ya, mas. Aku mau menghabiskan waktu dengan Ara" teriak Dila karena Rafit sudah menjauh
" Terserah kamu saja "
**
" Papi ayok kita renang" Alea dan Ara menyeret Radit untuk segera ke kolam
"Sebentar papi ganti baju dulu, tunggu di sini" Rafit menuju kamar bilas yang ada di dekat kolam renang
Radit menemani anak anak berenang. Tidak disangka, Dila mengikutinya, gadis itu mengenakan baju renang two pieces yang begitu terbuka. Sampai sampai Rafit merasa begitu risih.
Radit mencoba untuk mengabaikan keberadaan Dila di kolam itu. Ia mengajak ara dan Lea bercanda di air. Dengan lincah ia mendorong pelampung yang dinaiki putrinya juga Lea. Namun Dila sepertinya sengaja terus mendekati Radit di dalam kolam.
Dengan terpaksa untuk pertama kalinya Anisa datang ke rumah Radit. Ia diantar oleh asisten Radit menuju kolam renang yang berada di taman belakang rumah. Anisa hanya mengenakan baju rumahan berbahan katun rayon dan kerudung instan.
Sampai di area kolam, Anisa tertegun. Ia bersitatap dengan Radit yang bertelanjang dada dan basah. Anisa langsung memalingkan muka. Pemandangan itu tidak pantas ia lihat.
"Bunda sini " Alea dan Ara memanggil memanggil manggil Anisa.
"Lea udahan, ya, arenangnya. Lea belum bobo" Anisa berusaha membujuk putrinya.
"Sebentar lagi bunda"
Kedatangan Anisa membuat Radit salah tingkah. Apalagi di sampingnya ada Dila yang memakai baju renang yang seksi .
Anisa juga tidak nyaman melihat Radit yang bertelanjang dada. Anisa menunggu putrinya sambil duduk di bangku taman. Posisinya terhalang oleh beberapa pohon yang cukup rindang.
Radit, Alea dan Ara segera naik . Menyudahi acara berenang mereka. Dalam kolam, Dila menggerutu, kesempatan untuk menggoda Radit hilang begitu saja gara gara kedatangan Anisa. Dila pun merasa ditinggalkan begitu saja oleh Radit
Dila memperhatikan sosok yang baru saja datang. Bagi Dila, Anisa hanyalah wanita biasa. Bukan lawan sepadan. Apalagi Anisa hanya mengenakan baju rumahan dan tertutup.
"Nis, biar Alea dan Ara mandi dulu, setelah itu baru pulang" Radit sudah berada di belakang tubuh Anisa. Suara berat itu begitu dekat seperti sedang berbisik di telinganya. Anisa sedikit meremang.
"Iya" ujar Anisa buru buru menjauh dari Radit. Anisa tidak berani bersitatap dengan Radit yang hanya memakai baju handuk yang masih memperlihatkan dada bidangnya.
Anisa mengekor di belakang Ara dan Alea. Membawa keduanya ke kamar mandi. Terdengar suara celotehan Ara dan Lea. Mereka mengaku sangat senang hari ini dan berjanji untuk kembali berenang bersama saat libur Minggu depan nanti. Anisa hanya mengiyakan permintaan Dua gadis kecil di depannya.
Anisa memakaikan baju pada keduanya. Terkadang Ara yang lebih dominan dan juga Lea yang pencemburu ingin di dahulukan. Untuk mengurangi ke gaduhan, Anisa menggunakan triknya agar keduanya beradu cepat memakai baju sendiri sendiri. Dengan cara seperti ini Anisa lebih mudah mengatur keduanya.
Setelah selesai, Anisa meminta Alea untuk berpamitan pada Radit yang sudah duduk menunggunya.
" Papi, Alea pulang dulu , terimakasih sudah mengajak Lea berenang dan terima kasih juga untuk hadiahnya"
Papi .... ? Alea memanggil pak Radit Papi. Mata Anisa membola mendengar panggilan baru Lea pada Radit. Di ujung sofa Radit tersenyum tipis melihat reaksi terkejut Anisa
"Sama sama anak papi yang pinter, Besok main lagi ya"
" Assalamualaikum papi, Ara " ujar Alea sambil melambai lambaikan tangan mungilnya
__ADS_1
Anisa berusaha tidak perduli. Tapi hatinya merasa risih dengan panggilan Alea untuk Radit. Anisa terus berjalan sambil menarik tangan Alea tanpa menoleh lagi. Wajah Anisa sudah memerah .....Lea yang memanggil Radit papi, tapi kok dia yang malu ya....?