
Setelah menurunkan Anisa di depan SMA Garuda. Radit berputar balik menuju ke tempatnya bekerja. Kawasan gedung perkantoran yang terlihat sangat mewah.
Radit menghentikan mobilnya di area khusus parkir petinggi perusahaan. Dengan hati yang berbunga bunga ia berjalan. Dalam otak Radit terbayang bayang Anisa yang menampilkan wajah kesalnya.
Tidak terasa langkah Radit sudah sampai di dalam ruangannya. Arman sang Asisten sekaligus tangan kanan Radit. Pria itu sedari tadi terus memperhatikan Radit yang terlihat seperti orang gila.
Radit sampai lupa menyapa para karyawan yang berpapasan dengannya. Dia seolah sedang kehilangan kendali diri dan tidak perduli sedang berada di mana.
Arman mengikuti Radit masuk kedalam ruangannya. Radit duduk di kursi kebesarannya kemudian membuka laptopnya. Bahkan Radit tidak menyadari keberadaan Arman di depan mejanya.
Arman masih berdiri dan menatap Radit takjub. Radit mulai menyadari ada orang lain di ruangannya pun menoleh.
"Arman, kamu di situ sejak kapan?" Tanya Radit santai. Arman diam saja sambil terus menatap Radit tanpa menjawab pertanyaan Radit. Dan itu sukses membuat Radit kesal.
"Katakan apa yang ingin kamu katakan, Arman. Kenapa kamu menatapku begitu, Apa aku aneh?" Bentak Raditya.
"Bos, kamu seperti orang gila. Senyum senyum sendiri sejak keluar dari lift. Kalau bos mau tau, bukan cuma aku yang melihatmu seperti itu. Hampir seluruh karyawan yang ada di lantai lima ini, menatapmu aneh. Bisa jadi, dari area parkir sampai loby , semua orang yang melihatmu, juga berpikiran yang sama denganku" ucap Arman sinis.
"Brengsek kamu, Arman. Tidak mungkin aku begitu" Radit masih menyangkal. Tidak mungkin separah itu. Ini hanya bualan Arman saja.
"Apa kamu tidak bisa menjaga tingkahmu, bos. Ini demi kewibawaan mu sendiri" Arman mengangkat bahu Acuh.
"Apa aku seaneh itu?" Radit mencengkram kerah baju Arman karena sudah sangat jengkel. Dari tadi, Arman terus mengoloknya. "Sekali lagi kamu menghinaku, tamat riwayatmu, Arman " akhirnya Radit mengeluarkan ancaman.
Ha ha ha ha ...Arman tergelak sampai perutnya terasa sakit. Baru kali ini Arman bisa melihat bos, sekaligus teman akrabnya salah tingkah.
Tawa Arman berhenti ketika Siska mengetuk pintu ruangan Raditya. Wanita cantik itu menyodorkan berkas yang perlu diperiksa oleh Radit hari ini.
Radit menerima berkas yang disodorkan oleh Siska. Wajah Radit kembali ke mode Serius lagi. Terlihat berwibawa sebagai pemimpin tertinggi di perusahaannya.
Arman keluar dari ruangan Radit. Pria itu sudah puas menggoda atasan sekaligus sahabatnya. Radit sudah menunjukan mode seriusnya, karena itu, Arman tidak berani lagi menggoda Radit. Bisa bisa Arman didepak dari jabatannya. Namun rasa penasaran Arman sebenarnya belum juga mendapatkan jawabannya.
Pesawat telepon di ruangan Arman berbunyi. Pria itu segera mengangkat.
"Kamu masih ingin bekerja, Arman? Bawa laporan yang aku minta kemarin!"
"Sadis amat, bos. Sedikit sedikit mengancam" Keluh Arman kesal. Sebenarnya laporan itu sudah akan ia berikan tadi. Tapi gara gara melihat keanehan Radit, Arman jadi melupakannya. "Aku akan mengantarnya ke ruangan mu dalam lima menit "
" Hmm"
Arman menarik nafas panjang, kemudian menyambar berkas yang sudah ia siapkan dari kemarin. Dengan tergesa, ia pergi ke ruangan Radit yang hanya berjarak sekat tembok saja.
Arman meletakan berkas di atas meja Radit. Ia mengamati wajah Radit yang sudah kembali normal. Tampak berwibawa dan terkesan angkuh .
"Kamu masih di sini, Arman?"
"Bos, aku penasaran. Apa yang membuatmu gila hari ini? Apa kamu sedang jatuh cinta ?" Arman tidak bisa menahan diri untuk bertanya pada Radit tentang alasan perubahan sikap Radit yang luar biasa.
Radit menatap sahabatnya lekat. "Kamu mau, semua file yang menumpuk ini, melayang di wajahmu ?"
"Behh .... tunggu pembalasanku"ucap Arman sambil keluar dari ruangan kantor Radit. Sedang Radit hanya menggelengkan kepala saja.
Saat jam makan siang, Radit masih sibuk dengan pekerjaannya. Arman tidak lagi muncul. Dia juga sibuk mengerjakan pekerjaannya sendiri.
Radit menoleh saat sekretarisnya mengetuk pintu ruangannya. Radit mempersilahkan wanita itu masuk. Siska tidak masuk sendirian, dia diikuti oleh seorang wanita cantik.
"Maaf pak, non Dila ingin bertemu" ucap Siska sopan.
"Kamu boleh keluar, Sis" Radit tampak kecewa saat melihat siapa yang datang. Harusnya, Siska tidak membawanya masuk ke dalam ruangan. Radit sedang banyak pekerjaan dan tidak punya waktu untuk meladeni adik iparnya.
" Apa kabar, mas "
"Baik, ada apa repot repot datang ke kantor?" Ucap Radit sambil masih terus
memeriksa berkas.
"Mas tidak suka, Aku datang ke kantor ?"
"Kalau hanya urusan pribadi, sebaiknya kita bicarakan di rumah saja"
"Mama meminta ku untuk menemui mas Radit. Mama ingin bertemu Ara juga mas Radit"
"Aku sedang sibuk, Dila. Kalau memang mama ingin bertemu Ara, silahkan datang ke rumah, aku tidak melarang "
"Kok ketus gitu, mas. Aku tersinggung, lho"
"Sorry, tidak nyaman saja, membahas urusan keluarga di kantor. Ya, ini tempat untuk bekerja, Dila. Urusan keluarga di rumah"
Tiba tiba Arman masuk ke dalam ruangan. Arman menatap dalam wanita cantik yang ada di depan Radit. Jantung Arman berdetak kencang. Sudah lama Arman menaruh hati pada gadis itu. Dan saat ini, gadis pujaannya, ada di depan mata
Radit memperhatikan Arman yang tak henti memandangi Dila. Terbersit pemikiran yang akan membuat Arman senang. Tapi semuanya tidaklah gratis, Arman harus membayar kebaikannya ini.
"Masuk Arman!, aku bisa minta tolong ?"
"Ya pak" Arman memanggil Radit dengan sebutan formal
" Duduk lah dulu, di sini "
Radit menunjuk sofa di samping Dila .Tanpa komando dua kali Arman langsung duduk di samping Dila .
__ADS_1
"Dila, kamu mau makan siang bersama ?'' tanya Radit.
" Boleh mas "
" Arman, tolong antar Dila makan siang lebih dulu. Nanti aku menyusul "
Arman seperti mendapatkan durian runtuh. Matanya berbinar binar. Mendapat perintah sekaligus hadiah.
" Siap pak, mari non Dila "
Dila merasa kecewa dengan perintah Radit. Dila hanya ingin pergi berdua saja dengan kakak iparnya itu. Dila setengah terpaksa mengikuti Arman.
Setelah kepergian Bela, Mama mertua Radit ingin menjodohkan Radit dengan Dila. Tapi Radit menolaknya dengan halus. Radit sudah menganggap Dila seperti adiknya sendiri. Dia tidak punya perasaan apapun.
"Kalau mas Radit sibuk, sebaiknya tidak usah saja" Dila yang merasa kesal masih berusaha menolak.
"Pergi saja, Arman akan menemanimu "
"Arman, bawa Dila ke restoran paling bagus. Turuti saja keinginannya. jangan mengecewakan , Dila. Aku ada pertemuan penting hari ini "
Radit meninggalkan Dila dan Arman begitu saja. Ia melangkah keluar dan masuki lift dengan buru buru. Di dalam lift
Radit mengetik pesan untuk Arman .
"Pakai uangmu sendiri untuk kencan. Aku hanya memberimu bonus waktu dua jam untuk kencan di jam kantor ''
Radit tersenyum tipis membayangkan reaksi Arman yang kegirangan dan kesal. Sebenarnya Radit tidak punya jadwal pertemuan siang ini tapi nanti sore dia ada rapat.
Radit melajukan mobilnya tanpa tujuan yang pasti. Ia hanya ingin menghindar dari adik iparnya saja. Entah disengaja atau tidak, ia berhenti tepat di depan pintu gerbang SMA Garuda. Radit sendiri heran dengan kelakuannya sendiri. Seperti orang bodoh ia tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Radit keluar dari dalam mobil mewahnya. Ia menatap ke arah gedung sekolahan tempat Anisa mengajar. Di sana ada wanita yang sudah bisa membuatnya seperti orang gila.
***
Selesai mengajar, Anisa segera bergegas keluar dari ruang kelasnya yang terakhir. Ia berjalan santai di antara lorong lorong kelas yang sepi. Anisa berpapasan dengan Nania yang kebetulan juga sudah menenteng tasnya.
"Nis, sudah selesai ngajarnya?"
" Sudah, kamu juga, Na?"
"Nis, keluar, yuk. Traktir aku makan atau sekedar nongkrong di mall."
"Makan saja, ya. Nanti aku harus les anak anak di rumah"
"Boleh" ucap Nisa santai
"sekalian kamu punya hutang penjelasan padaku. Siapa pria tampan yang kemarin makan bersama kalian. Kamu beneran sudah move on?"
" Nis, jangan kamu dekati pria seumuran dia. Dia pasti sudah beristri "
" Iya, dia sudah beristri dan juga punya anak. Anaknya juga kemarin ikut "
" Nis..., no, jangan jadi pelakor "
" Hei Nania , sembarangan saja. Aku tidak serendah itu, kali. Dia punya anak satu dan istrinya sudah meninggal"
" Woww, Tetanggaku duren ?" Nania menjerit histeris.
" Apa itu duren"
Ha ha ha, Nania tergelak, "Makan tuh rumus matematika. Duren saja tidak tau. Duda keren, Nisa. Mau dong aku jadi tetangganya juga "
" Gak Nania, Dia tak seindah yang kamu lihat "
"Yah, yang masih terluka , sulit move on. Kita jadi, kan. Makan siang bareng ? "
" Boleh, naik taksi, ya. aku tidak bawa mobil" ucap Anisa
Keduanya berjalan keluar dari area sekolah. Ketika sampai di depan gerbang, Anisa melihat sosok Radit sedang berdiri, lengkap dengan setelan Formalnya.
Radit tersenyum melihat kemunculan Anisa. Dengan gaya yang cool ia bersandar di mobilnya menunggu Anisa mendekat. Radit yakin, Anisa pasti penasaran mengapa ia ada di sini
"Anisa" panggil Radit saat Anisa begitu saja melewatinya dengan gaya seolah olah tidak mengenalinya.
Anisa menghentikan langkahnya. Kemudian menoleh. Wajahnya terlihat kesal. Radit mendekat Anisa.
" Aku nunggu kamu " ucap Radit tidak tahu malu.
" Kurang kerjaan ?"
" Mungkin, ayo naik, aku antar "
"Kami bukan mau pulang, kami mau hang out"
" Saya Antar "
" Terima kasih, kami bisa sendiri. Di sini banyak taksi"
"Aku mau ngomong soal mobil kamu, dan..."
__ADS_1
" Ehem ehem.." Nania protes merasa di abaikan
"Oh iya, kenalkan Nania , ini Tetangga sebelah rumahku "
" Nania pak "
" Radit. kami bukan hanya sekedar tetangga sebelah, tapi kami juga pernah "
" Stop ...." Anisa menghentikan ocehan Radit, bisa berbahaya.
Anisa mulai gerah dengan mulut Radit yang akan mempermalukan dia dihadapan Nania.
"Anisa, masuk kedalam mobilku! sebelum mulutku bercerita yang lebih membuatmu malu. Aku akan mengantar kemana kalian akan pergi " Radit mengatakan ancaman lirih di telinga meski terhalang kerudung Anisa .
Anisa menyeret Nania masuk ke dalam mobil Radit. Nania hanya bisa mengikuti tanpa banyak bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya . Layaknya seorang putri, Anisa memilih duduk di bangku belakang dengan Nania dan menjadikan Radit supir pribadinya. Radit melirik Anisa dari balik kaca spion.
"Where we go ladies ?"
"Restoran , kita lapar "Ucap Nania mewakili Anisa yang sengaja memejamkan matanya dan pura pura tidur.
" As you wish "
Radit membawa Dua wanita ke sebuah restoran yang cukup besar dan mewah. Ketiganya turun dan masuk ke dalam restoran bersama. Radit menepati janji tidak akan membuat Anisa malu .
Jam makan siang memang lebih ramai, Radit menyewa ruang khusus agar tidak terganggu oleh pengunjung restoran lainya. Dia memesan sendiri menu untuk Anisa dan temannya. Anisa tidak di beri kesempatan untuk memilih.
Radit memesan menu paling istimewa di restoran, ini. Anisa tampak diam sambil terus menatap Radit. Ia tidak tau harus berterima kasih ataupun marah. Namun saat melihat reaksi Nania, yang terkagum kagum dengan hidangan dan pelayanan di restoran itu, Anisa hanya bisa diam.
Tanpa banyak obrolan, mereka menikmati makan siang bersama. Sesekali Radit mencuri pandang ke arah Anisa yang tampak kesal dengan reaksi temannya yang berlebihan.
Di sadari atau tidak, Radit merasa senang saat bisa berdekatan dengan Anisa, Radit seolah menemukan kembali harta Karunnya yang hilang. Membuat Anisa tidak berdaya, marah, juga kesal. Menjadi hal yang membangkitkan kesenangan dengan sensasi yang menagih, ingin terus dan terus.
Radit membuka ponselnya yang bergetar berkali kali. Sebuah pesan dari Arman.
"Bos, pertemuannya dengan dua pejabat wanita, ya? Dari dinas mana, bos? Saya ada di restoran yang sama, kita hanya terhalang sekat"
Radit menggerutu setelah membaca pesan dari Arman. Teryata Arman membawa Dila ke restoran yang sama. Radit menoleh, ke arah meja di samping yang hanya terhalang sekat yang tidak terlalu tinggi. Tampak Arman tersenyum jahil dan tatapan kesal dari Dila, adik iparnya.
Dila akan berdiri untuk menghampiri meja Radit. Namun tangan Arman dengan sigap mencekal Dila dan menahannya.
"Mau kemana?"
"Lepas, jangan kurang ajar, ya"
"Kamu akan menghampiri Radit, kan?"
"Tentu saja" jawab Dila ketus.
"Jangan diganggu, mereka orang orang dari dinas, Ini pertemuan penting" ujar Arman memberi Alibi
" Apa?"
"Jangan mengacaukan pekerjaan kakak iparmu "
"Mereka kencan, Arman. Lihat mata mas Radit ketika melihat wanita di depannya"
" Kalo kencan itu, seperti kita. Cuma berdua, mereka bertiga Dila, meskipun berkencan, itu wajar. Kakak iparmu pria lajang, istrinya sudah meninggal. Kenapa, kamu cemburu ?"
" Ih berisik ''
"Dila please..., Lihat aku! Aku sudang menunggu kamu dari dulu" Arman menggenggam jemari Dila erat.
Wajah Dila, memerah. Ia tidak menyangka mendapat pengakuan mengejutkan dari Arman. Gadis itu mengibaskan genggaman tangan Arman. Teryata pria yang selama ini selalu menghalanginya bertemu Radit, memiliki perasaan lebih padanya.
"Aku suka mas Radit, bukan kamu" ucap Dila lirih.
"Radit kakak iparmu sendiri, Dila. Dia tidak memiliki perasaan apapun padamu"
Di meja Radit
"Nisa, aku tidak bisa mengantar kalian pulang. Aku harus segera pergi" Ujar Radit setelah selesai membayar tagihan makan siang mereka
"Tidak masalah, terima kasih sudah mentraktir kami" Jawab Anisa gembira. Lepas dari Radit adalah suatu kelegaan tersendiri. Anisa mengajak Nania yang masih duduk santai.
Saat Anisa hendak beranjak meninggalkan meja, Radit menghentikan langkahnya.
"Tunggu, Nisa. Berikan ponselmu padaku!" Ucap Radit sambil menyodorkan tangannya.
" Untuk apa?" Anisa mengernyitkan dahi bingung.
" Berikan saja, atau ,...." Radit sudah tersenyum jahil lagi. Ini tidak baik untuk Anisa.
Anisa segera memberikan ponselnya pada Radit, sebelum pria itu berkata yang bukan bukan.
Radit langsung menyimpan nomornya ke dalam kontak telepon Anisa. Tidak hanya sampai di situ, Radit melakukan panggilan ke ponsel miliknya. Setelah selesai, Radit mengembalikan pada Anisa.
"Aku pergi dulu" ucap Radit sambil meninggalkan Anisa dengan Nania yang masih terpaku.
"Kita pulang, Nis" Nania menggoyangkan bahu Anisa.
__ADS_1
"Iya, iya .." Anisa gugup, kemudian mengikuti Nania yang berjalan lebih dulu.
"Nis, kayanya dia beneran naksir kamu, deh" ucap Nania "Terima saja, Nis. Tidak kalah keren dari mas Fatah. Bahkan dia lebih ganteng. Senyumnya itu, Nis"