
Saat pagi menjelang, Hans sudah bersiap untuk membawa Lea check up. Hans sudah menyalakan mesin mobilnya di halaman. Kemudian pria itu masuk ke dalam untuk menjemput Lea yang sedang bersiap.
"Lea.." Hans mengetuk pintu kamar Lea, namun tidak ada sahutan dari dalam.
Hans tetap berdiri di depan pintu kamar Lea dan kembali mengetuk. Sudah beberapa kali Hans mengetuk namun Lea tak juga menyahut. Hans memutuskan untuk membuka pintu. Dia kawatir terjadi hal buruk pada Lea.
Saat membuka pintu kamar, Hans tidak mendapati Lea di sana. Dari arah kamar mandi terdengar gemericik Air yang terus mengalir. Hans semakin cemas, pria itu kembali mengetuk pintu kamar mandi.
"Lea, kamu di dalam?"
"Hans...tolong" terdengar lirih suara Lea dari kamar mandi.
Hans pun segera membuka pintu kamar mandi. Ia mendapati Lea dengan baju yang basah terduduk di lantai. Hans segera membopong tubuh lemah Lea.
"Lea, kenapa, apa yang sakit?"
"Aku muntah Hans, aku..aku pusing"
"Kamu harus ganti baju dulu, ya? Aku panggilkan Bu Amini" Hans mendudukkan Lea di atas sofa yang ada di ruangan itu.
Bu Amini tergopoh masuk ke dalam kamar Lea, setelah mendengar teriakan Hans. Wanita paruh baya itu segera membuka lemari pakaian milik Lea. Bu Amini hanya mematung di depan lemari pakaian. Dia kebingungan harus memakaikan baju yang mana untuk Lea.
"Pakai yang ini saja, Bu. Lea sangat cantik saat menggunakan baju warna pastel"
"Baik.."
Hans keluar dari kamar Lea sebelum Lea memintanya. Tidak lama Lea sudah keluar di papah oleh Bu Amini.
"Kita berangkat, ya?"
Hans terlihat sumringah saat Lea sudah bersiap. Meski wajahnya terlihat pucat, namun tidak mengurangi aura kecantikan Lea. Lea mengangguk pasrah.
***
"Hans, kita perlu bicara" seorang dokter meminta Hans untuk bicara empat mata.
"Tentang Lea?"
"Ya, aku tunggu di ruanganku"
Hans mengikuti dokter yang baru saja memeriksa Alea. Mereka duduk di sebuah ruangan yang cukup luas.
"Ini hasil general check up Lea" beberapa lembar berkas yang tersusun rapi dalam sebuah map di berikan pada Hans.
"Jadi..., Lea hamil?" Hans begitu terkejut.
"Ya, Hans usia kandungannya sudah memasuki .."
"Dia hamil sebelum kecelakaan itu" Hans memotong ucapan dokter yang memeriksa Alea.
"Cari keluarganya Hans! Saat ini sangat mudah untuk mencari identitas orang hanya dengan sidik jari"
Hans menarik nafas dalam, ia tau itu mudah untuk jaman sekarang. Tapi justru hatinya yang belum siap berpisah dengan Lea.
"Aku akan segera mencarinya" ucap Hans mantap.
"Semuanya baik baik saja, Hans. Jangan kawatir. Hanya perlu memantau perkembangan ingatan Lea saja. Dia sangat beruntung"
"Terima kasih. Kalau begitu aku permisi"
**
Hans memapah Alea masuk kedalam mobil. Setelah selesai dengan urusannya, Dia memutuskan untuk segera kembali pulang ke rumah peristirahatannya.
"Pakai jaketnya, udara cukup dingin!" Hans memberikan jaket yang ada di mobilnya. Tanpa banyak protes Alea pun menerima dan memakainya.
"Hans aku...."
"Kita bicara di rumah. Sekarang tidur saja. Kamu harus istirahat" Hans tidak mau membicarakan keadaan Lea saat ini.
Hans membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Beruntung jalanan cukup lenggang. Ia dengan mudah mengendari mobilnya tanpa banyak halangan. Sampai di rumah hari sudah mulai senja. Hans ingin membangunkan Alea yang terlelap, namun ia mengurungkan niatnya.
Hans menatap wajah pucat di sampingnya. Sungguh, ia sudah sangat menyayangi perempuan ini. Bersama Alea, Hans merasa sangat berarti. Dia merasa utuh sebagai seorang pria.
__ADS_1
Hari mulai gelap, Hans akhirnya menyudahi lamunannya dan membangunkan Alea.
"Lea, kita sudah sampai" Hans sedikit mengguncangkan baju Lea. Tidak menunggu lama mata Alea terbuka. Dia tampak bingung. Hans hanya tersenyum.
"Kita sudah sampai?" Tanya Alea . Hans terlihat gemas dengan tingkah Lea yang kebingungan.
"Iya, kita masuk ke rumah sekarang. Sudah mulai gelap" Ujar Hans yang melangkah lebih dulu masuk ke rumah.
Lea mengikuti langkan Hans yang panjang.Beberapa kali Alea harus setengah berlari untuk mensejajarkan diri dengan Hans. Hans memperhatikan tingkah Alea yang seperti anak kecil.
Hans mendadak menghentikan langkahnya. Alea limbung menabrak punggung lebar milik Hans.
"Eh, kenapa? " Hans pura pura bertanya
"Kenapa mendadak berhenti? " Ucap Alea gugup.
"Kemari lah" Hans menggandeng lengan Alea agar mengikutinya.
Hans mengajak Lea ke sebuah ruangan yang selalu tertutup. Selama Lea tinggal di rumah ini, ruangan itu terlarang bagi siapapun kecuali Hans. Langkah mereka berhenti di depan pintu. Hans merogoh kantung celana mengambil sebuah kunci, kemudian ia membuka pintunya.
Pintu terbuka, Hans dan Alea pun masuk. Sebuah ruangan yang di penuhi dengan lukisan lukisan cantik. Alea terlihat sangat takjub. Hans tersenyum menatap Alea yang begitu menikmati suasana ruangan yang sedang mereka kunjungi. Kembali Hans menggandeng lengan Alea untuk masuk lebih dalam.
"Bagaimana menurut mu?
"Indah, Hans. Tanganmu sungguh ajaib" ucap Lea takjub.
"Hemm. Ini ruangan rahasiaku. Aku sangat menyukai seni lukis, tapi papi selalu memintaku jadi seorang dokter. Aku mengabulkan keinginan papi, asal aku masih boleh melukis"
"Semuanya sangat indah. Aku seperti melihat tempat dengan suasana yang berbeda Hans" ucap Alea ketika pengamati lukisan lukisan alam di hadapannya.
"Aku ada kejutan untukmu, kemarilah!"
Hans menunjukan sebuah lukisan yang belum selesai dan tertutup kain putih. Lea memperhatikan lulisan tersebut. Lukisan seorang wanita yang sedang termenung. Wajahnya sangat mirip dengan dirinya.
"Wanita dalam lukisan ini ...?" Alea ragu meneruskan pertanyaannya.
"Iya ...itu kamu Lea. Maaf aku tidak meminta ijin padamu"
Lea tersenyum pada Hans. Dia merasa tersanjung menjadi obyek lukisan oleh Hans. Gadis termenung itu sangat menggambarkan keadaan bayinya yang sedang gundah. Merenungi ingatan yang menghilang. Hans hanya bisa menatap Lea tanpa berkedip. Hatinya cukup lega, Lea tidak mempermasalahkan kelancangannya melukis dirinya.
Keduanya berpisah di kamar masing masing. Setelah menunaikan kewajibannya, Hans merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Kembali teringat dengan ucapan dokter yang memeriksa Alea. Wanita itu kini sedang hamil.
Ada rasa bimbang di hati Hans, jika semuanya terkuak, banyak hal yang bisa terjadi. Salah satunya ia akan kehilangan Lea. Hans menghembuskan nafasnya kasar. Ia meremas rambutnya sendiri.
Mengapa keadaan begitu sulit untuknya. Kali ini dia benar benar telah jatuh hati. Hans rela menyembunyikan Lea dari keluarganya. Demi untuk kenyamanan Lea.
Awalnya Hans adalah pria bebas yang tidak mau terikat. Dia lebih suka naik gunung dengan teman temannya juga melukis sepanjang hari. Mahluk yang bernama wanita bagi seorang Hans sangatlah merepotkan.
Tapi setelah menolong dan selalu mendampingi Alea. Hans merasa dirinya nyaman bersama seorang wanita. Alea yang manis, cantik, juga santun. Membuat sosok wanita itu begitu menarik dan menguras seluruh perhatian Hans. Hans sering di buat kawatir dan bahagia.
Makan malam tiba, Alea membantu bu Amini menata meja. Hans sudah duduk menanti semuanya siap. Bu Amini tidak mau 8kut bergabung di meja makan. Ia lebih suka makan di dapur bersama sang suami. Lebih bebas dan tidak canggung berada satu meja dengan tuannya.
"Duduklah Lea, kita makan bersama" Hans menarik kursi di sampingnya untuk Lea
" Terima kasih, Hans" Lea menyendokkan nasi ke dalam piring Hans.
"Cukup, Lea, nanti aku bisa gemuk" Hans berkelakar. Dia meminta Lea berhenti menyendokkan nasi ke dalam piringnya lagi.
"Mau lauk yang mana? Ayam kecap atau ikan goreng?"
"Aku mau sup dan ikan goreng. Kamu juga makan yang banyak. Kamu harus jaga diri" tiba tiba Hans mengusap perut Lea. Layaknya seorang suami pada sang istri.
"Hans..." Lea terkejut dan menjatuhkan sendok yang sedang ia pegang. Tiba tiba di kepalanya berkelebat bayangan bayangan yang tidak bisa ia kenali. Kepala Lea berdeyut denyut tidak karuan.
"Maaf, Lea aku tidak bermaksud..., Lea, kepalamu sakit"
"Aku pusing..." Hans langsung cemas melihat Lea yang terus memegangi kepalanya.
Lea selalu menolak sentuhan Hans, ini tidak benar menurutnya. Hanya saja Lea tidak mengerti alasan dibalik penolakannya. Dia menjadi bingung dan berusaha mengingat siapa dirinya.
"Hans, aku tidak nyaman jika kamu seperti ini" ujar Lea sembari menatap Hans bingung, sedangkan Hans terdiam dengan ucapan Lea.
"Hans, bisakah kamu membantuku lagi. Tolong cari tau siapa aku? Aku ini siapa?"
__ADS_1
"Lea, tenanglah. Aku Pasti membantumu. Hanya saja kita perlu hati hati. Aku tidak ingin orang yang sudah mencelakai mu mengetahui kalau kamu masih hidup. Akan berbahaya untuk keselamatanmu. Kamu paham, kan.?"
"Sebenarnya aku tidak ingin terus menerus membuatmu repot, Hans"
"Aku tidak merasa repot. Aku tulus, Lea. Aku menyayangimu"
"Aku tidak bisa membalas kebaikanmu, Hans"
"Kita makan dulu, ya?" Hans mengalihkan pembicaraan mereka. Hans tidak suka saat Lea ingin mencari tau siapa dirinya.
Untuk sementara, mereka menikmati makan malam tanpa selera. Baik Hans atau pun Alea memiliki beban pikiran Masing masing. Banyak pertanyaan yang terus menghantui pikiran Lea. Begitu pula dengan Hans, ego Hans terlalu besar untuk mengalah. Saat ini cinta sudah membutakan logika Hans.
**
Alea berbaring di ranjangnya ia menatap langit langit sebelum menjemput mimpi. Tiba tiba pintu kamarnya di ketuk. Lea mempersilahkan untuk masuk .
Bu Amini datang dengan membawa dua gelas air di nampan. Satu gelas air putih dan satu lagi segelas susu hangat untuk Alea.
"Non Lea, di minum dulu susunya!"
"Masih kenyang bik, nanti saja"
"Harus di minum non, kalau tidak, ibu yang akan di marahi oleh tuan Hans"
Lea tampak cemberut, dia tidak tega jika Bu Amini yang begitu baik padanya di marahi gara gara ia yang tidak mau minum susu.
"Baiklah" terpaksa Alea menyeruput susu yang ada di gelas berlahan lahan. Bu Amini hanya tersenyum.
"Nah gitu, non. Kan sehat. Ibu juga tidak jadi di marahi oleh tuan hans"
"Terima kasih, buk" Lea menyodorkan gelas susu yang sudah kosong.
"Apa kaki non Lea, terasa pegal? Ibu pijit, ya?"
"Tidak usah, Bu. Saya baik baik saja"
"Kata tuan Hans...."
"Ibu akan di marahi oleh tuan Hans kalau saya tidak mau di pijit?"
Bu Amini terkekeh, ia mulai memijat kaki Lea dengan lembut.
"Saya ingin pulang, Bu" cicit Lea lirih. matanya menerawang jauh. Sudut hatinya seperti terpanggil oleh satu sosok yang sangat ia rindukan.
"Non Lea tidak kerasan tinggal di sini?"
"Bukan begitu, saya seperti merindukan seseorang tapi saya sendiri tidak tau siapa"
"Berdoa saja, non semoga ingatan non Lea cepat kembali" ucap Bu Amini ikut prihatin. Kemudian suasana kembali hening.
"Ibu sudah lama ikut, Hans?"
"Sudah"
"Apa ibu mengenal orang tua Hans?"
"Tentu saja, non. Mereka orang yang baik. Hanya saja tuan Hans orang nya tidak mau diatur. Tuan besar dan nyonya besar ingin Tuan Hans menikah dengan Nona Rinda mereka sama sama dokter .''
"Dokter Rinda kekasih Hans? Saya bertemu saat berada di rumah sakit. Dia sangat cantik dan juga baik"
" Iya non. Tapi maaf ya, non. Sepertinya tuan Hans sangat perhatian dengan non Lea. Apa lagi kalau sedang menatap non Lea"
"Tidak bu, saya tidak pantas. Lagi pula saya ini siapa? nama saya sendiri pun saya tidak tau ''
"Pantas atau tidak, ibu melihatnya seperti itu. Perlakuan tuan Hans sangat berbeda pada non Lea. Saat bersama non Rinda, dia terlihat dingin. Mungkin tuan Hans sudah jatuh hati dengan non Lea"
Lea menggeleng lemah. Hans memang sangat baik dan juga orang yang bisa ia percaya. Namun perasaan Lea tidak lebih dari itu. Hati Lea seperti sudah terisi oleh sosok yang selalu ia rindukan. Entah siapa mungkin saja seseorang itu kekasih atau suami.
"Hans akan bertemu dengan wanita yang lebih baik dan itu bukan saya, Bu"
"Ibu harap, non Lea bisa menjaga perasaan tuan Hans. Ibu sudah menganggap tuan Hans seperti anak sendiri" Bu Amini terlihat kecewa saat Alea berucap seperti itu. Dia sangat yakin Tuannya begitu mencintai Lea.
"Bu, saya tidak ingat apapun. saya takut kalau saya sudah bersuami atau bahkan memiliki anak. Saya sering bermimpi bertemu gadis kecil. Saya tidak ingin menyakiti Hans. Hans layak bahagia dengan gadis yang lebih sempurna"
__ADS_1
"Non, maaf ibu terlalu jauh mencampuri urusan non Lea dan tuan Hans. Ibu Harap non Lea segera mengingat masa lalu non Lea"
"Amin, Bu"