Tetanggaku Duren (Duda Keren)

Tetanggaku Duren (Duda Keren)
14. ingin bertanya aku di hatimu sebagai apa ?


__ADS_3

Dengan Hati yang dongkol, Fatah meninggalkan rumah sakit. Sebenarnya ia sudah membayangkan suasana pertemuan di rumah sakit ini penuh keharuan. Ia berniat bersimpuh di kaki Anisa untuk meminta maaf. Fatah fikir, Anisa akan tersentuh. Alea akan menjadi senjata pamungkas untuk meloloskan rencananya kembali rujuk.


Sepeninggal Fatah, Kelegaan menyelimuti hati Anisa. Ia menatap Radit yang masih duduk di sofa. Tiba tiba ia kembali merasa canggung setelah apa yang terjadi antara dirinya, Radit dan juga Fatah.


Radit menjadi sosok pelindung. Anisa sendiri merasa heran, ia bisa begitu saja mempercayakan dirinya pada Radit. Entahlah, yang penting ia bisa terlepas dari Fatah. Kembali bersama Fatah hanya akan menyiksa dirinya sendiri. Rasa itu sudah hilang. Jangankan cinta, sekedar untuk menghargai, menghormati Fatah pun sudah lenyap begitu memergoki penghianatan mereka yang keji.


Perasaan Anisa pada Radit ? Anisa merasa pria itu bisa dipercaya. Masih dalam batas Radit adalah pria baik yang tidak akan berbuat jahat padanya.


"Nisa, sepertinya aku terlalu jauh masuk dalam urusan pribadimu" ucap Radit pada Anisa yang berdiri di samping brankar tempat Lea tidur. Anisa terlihat menyibukkan dirinya, meski hanya menatap tetesan air infus.


Kemudian Anisa menatap Radit, pria itu terlihat gusar. Anisa mendekat dan kembali duduk di ujung sofa sebelah Radit. Anisa pun merasakan hal yang sama. Ia tidak enak hati melibatkan pria itu dalam masalahnya.


"Nis, kamu tau kan, Aku pria lajang. Tiba tiba mengakui kamu sebagai calon istri. Ini bukan acting, Nis. Aku memang memiliki perasaan untukmu. Dan kamu pasti bisa merasakannya. Kamu memintaku untuk menjauh. Tapi kali ini, kamu ingin aku melindungi kamu. Apa kamu akan terus membuat aku bingung?"


"Pak Radit" Anisa mendesah frustasi. Radit begitu terus terang. Anisa tau dia telah memanfaatkan perasaan Radit. "Maaf, saya meminta pak Radit melakukan ini karena pak Radit bisa dipercaya"


"Lalu perasaanku, Nis? Apa kamu menganggapnya main main? Aku mau bertanya, aku di hatimu sebagai apa?"


"Maaf..."


"Bukan itu yang ingin aku dengar, Nis. Jangan katakan kamu belum siap membuka hati. Perpisahan mu sudah cukup lama. Kamu yang memulai, Nis. Tiba tiba kamu hadir di kehidupanku yang hampa. Perlakuanmu pada Ara, Sikap ketusmu, Keras kepalamu, keegoisanmu juga kerapuhanmu, membuat aku semakin jauh memasuki kehidupanmu. Bukan hanya secara fisik, tapi juga hatiku"


Anisa tertunduk mendengar ucapan Radit yang secara gamblang menggambarkan isi hatinya.


"Saya masih bingung pak Radit, Pak Radit .."


" Jika kamu bingung kita bisa memulai dengan menyambung hubungan kita di masa lalu. Bukankan kita sangat dekat? Kamu memanggilku mas Disa" tiba tiba saja keluar ide gila Radit. Pria itu tersenyum jahil ke arah Anisa. "Bisa kan, panggil aku mas Disa?"


"Itu sulit. Pak Radit tidak mirip dengan mas Disaku dulu" Anisa tiba tiba saja gugup. Mengucapkan panggilan sayang masa kecilnya.


"Kamu memang tidak ingin kan, Nis? Tidak akan sulit. Aku masih orang yang sama, aku mas Disa mu. Tapi sepertinya Kamu memang ingin menjaga jarak, memanggilku dengan pak Radit"


"Tidak seperti itu, Setelah sekian lama tidak bertemu tentu ada perasaan canggung. Bahkan saya tidak mengenali pak Radit. Semua nya sudah berubah "


" Ya berubah, Nis, aku jadi tampan, kan? Jangan bilang aku oprasi plastik, Nis. Aku kesal mendengar cerita ibu" Radit pura pura cemberut. Pria itu mempermainkan perasaan Anisa. "Kamu juga berubah, Nis. Sudah jadi wanita dewasa. Tambah cantik..."


Kali ini, Anisa hanya bisa diam. Tidak ada kata kata yang bisa dia ucapkan. Pujian Radit barusan membuat Anisa merinding apalagi senyum jail Radit. Pria itu mengaduk aduk perasaan Anisa.


"Kita ulang dari awal. Panggil aku mas Disa!"


" Sepertinya sekarang sudah tidak bisa'' tolak Anisa.


"Aku merasa sangat tua, Anisa, dengan panggilan pak! Ayolah, Nis. Anggap panggilan ini sebagai apresiasi kamu untuk bantuanku tadi. Aku sudah berhasil mengusir Fatah. Sampai harus mengaku jadi calon suamimu. Kurang apa lagi, Apa aku harus mengingatkan kamu tentang arti nama Disa juga?" Radit menuntut


"Iya...iya, saya coba untuk memanggil mas Disa" Lebih baik Anisa menuruti permintaan Radit. Sebelum pria itu kembali menguliti aibnya di masa lalu.

__ADS_1


Radit langsung terkekeh, wanita di sampingnya mau memanggilnya dengan panggilan lama mereka.


"Coba ulang, Nis" Radit memancing kekesalan Anisa


" Mas Disa " Ucap Anisa kesal


"Kamu sangat ingat, kan? Disa itu singkatan dari apa ?" Radit senyum menggoda.


"Tolong mas Disa, hentikan! jangan membuka aibku lagi. Aku sudah menurut, memanggilmu mas Disa "


"Baiklah, hari ini cukup. Sudah hampir jam sepuluh, mas Disamu ini mau ke kantor dulu" Radit tergelak sambil mengusap pucuk kepala Anisa yang terhalang kerudung


Sosok Radit menghilang di balik pintu. Anisa bernafas lega. Tidak lama Ibu kembali ke ruangan Alea di rawat.


"Dari mana Bu?" Ucap Anisa sambil menutup pintu. Tapi ibu hanya diam tidak menjawab. Ibu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Kemudian duduk di sofa. "Bu...., apa ibu yang memberi tahu pak Radit kalau Alea dirawat?" kembali Anisa bertanya.


"Iya, ibu yang memberi tahu dia. ibu tidak suka Fatah datang ke sini. Setidaknya dia bisa mengusir Fatah, kan?"


"Mas Fatah ayah Lea, Bu. Mau gimana lagi"


***


Sepulang dari rumah sakit, Fatah menuju kantornya. Ia sudah dihadapkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Fatah masuk ke dalam ruangan kantornya dan memeriksa detil gambar yang akan dia presentasikan. Pikiran dan jiwanya larut di hadapan perangkat gambar.


Gina menemui Fatah, wanita itu merasa resah setiap kali tahu Fatah akan menemui mantan istrinya. Terlihat gurat rasa cemburu yang berlebihan. Melihat Fatah sedang berada di depan meja kebesarannya, Gina merasa sedikit lega. Fatah sedang sibuk sendiri. Di letakkan nya secangkir kopi hitam yang ia bawa.


"Bagaimana keadaan Alea?"


"Dia sudah membaik"


Gina hafal sekali dengan gestur Fatah yang seperti ini. Pasti ada sesuatu yang membuat pria itu kesal. Cara Fatah menghembuskan nafas yang kasar, juga raut muka yang tidak bersahabat.


Tangan halus Gina memberi pijatan di punggung Fatah. Sambil sesekali mengusap lembut ke arah dada Fatah. Gina paling tau yang Fatah butuhkan. Pria itu harus melepaskan hormon yang membuatnya stres. Dia sangat lihai untuk urusan yang satu ini.


Gina mulai menstimulasi titik titik sensitif di bagian tubuh Fatah. Dengan usapan juga hembusan nafas. Fatah mulai mengalihkan perhatiannya dari perangkat kerjanya. Fatah mulai mengeram resah. Gina duduk di pangkuan Fatah sambil melemparkan blazer hitamnya. Matanya sayu menggoda.


Seketika tatapan Fatah fokus ke arah Gina. Fatah mengulas senyum yang menakutkan. Pria itu kemudian berdiri sambil mencengkram bahu Gina. Fatah segera menyeret Gina ke ruangan pribadi miliknya. Menuntaskan hasrat dan kegundahan di hatinya. Gina bersorak gembira. Pesonanya tidak pernah bisa di tolak oleh Fatah. Fatah akan selalu jatuh di lubang yang sama. Kelemahannya sebagai pria.


Ditengah pergumulannya, Gina merasakan hal yang berbeda. Fatah seperti hilang kendali. Dia melakukannya dengan cara yang kasar bahkan menyakitinya. Seperti meluapkan seluruh amarah yang membuncah. Bulir bulir bening menetes di pipi Gina. Ia merasa di perlakukan seperti pelacur hina yang di campakkan.


Fatah keluar dari ruang pribadinya setelah selesai membersihkan diri. Dia tidak menghiraukan Gina yang tergeletak tak berdaya dengan linangan air mata. Bahkan kesakitan.


Fatah segera keluar dari kantor bersama Rudi bawahannya. Mereka menuju sebuah lokasi gedung untuk mendapatkan Tender besar. Fatah sudah kembali pada perasaan yang lega setelah memberikan pelajaran yang pantas untuk Gina.


Di sebuah ruang rapat telah hadir beberapa perwakilan dari perusahaan yang akan mengikuti lelang tender bangunan Mall yang di desain ramah untuk kaum disabilitas dan lansia tapi juga trendy untuk kaum muda. Perpaduan belanja dan kehangatan keluarga. Perusahaan Radit akan membangun Mall tersebut. Setelah proses seleksi berkas terpilih beberapa perwakilan perusahaan pengembang.

__ADS_1


Radit dan sang Ayah, tuan Wijaya sudah melangkah menuju ruangan yang akan di gunakan untuk presentasi. Seluruh peserta dan staf ahli memberi mereka hormat dengan berdiri dan sedikit membungkuk.


"Terima kasih untuk semua yang datang hari ini. Saya sebagai pimpinan tertinggi di Wijaya group mempercayakan sepenuhnya penilaian presentasi yang akan saudara saudara sampaikan pada staf Ahli kami yang akan dipimpin langsung oleh putra saya sendiri, Raditya Wijaya. Selamat bergabung dan bekerja sama dengan kami bagi perusahaan pengembang yang terpilih nanti" selesai sambutan terdengar tepuk tangan meriah.


Tuan Wijaya langsung keluar dari ruangan. Menyerahkan seluruh proses pada tim Ahli yang di pimpin langsung oleh Radit. Ada mata yang tak berhenti berkedip di barisan ujung. Giginya gemertak menahan emosi. Dirinya merasa di permalukan jika terus mengikuti tender ini.


Bagaimana bisa dia melakukan presentasi di depan Radit yang tadi pagi baru saja dia hina tidak mampu menyewa hotel untuk berkencan. Rasanya percumah dia datang. Radit pasti akan dengan mudah menjegal proposal tendernya. Untuk itu Fatah memutuskan untuk walk out dari ruang rapat.


Fatah langsung berdiri diikuti oleh bawahannya Rudi yang merasa heran dengan kelakuan bosnya. Namun sebelum pergi, sepertinya Fatah harus melakukan sesuatu.


Fatah langsung menghampiri Radit yang akan mempersiapkan diri untuk penilaian presentasi. Beberapa bawahan Radit mencegah Fatah yang mendekati Radit dengan tiba tiba.


Tapi Radit memberi kode untuk membiarkan Fatah mendekatinya. Radit juga ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh Fatah. Sejujurnya, Radit tidak mengetahui jika perusahaan Fatah mengikuti tender ini


"Kita perlu bicara" ujar Fatah dengan kilatan amarah. Radit pun mengangguk.


Keduanya menepi dari keramaian. Tiga orang pegawai Radit tetap mengikuti. Mereka harus waspada dengan gelagat Fatah yang mencurigakan. Sebelum pergi, Fatah ingin menegaskan sesuatu .


"Kita jumpa lagi setelah bertemu tadi pagi" ujar Radit ramah


"Jangan sombong, kamu memang lebih segalanya. Tapi ingat, Anisa milikku. Dia bukan wanita yang gila harta. Aku memiliki ikatan yang lebih kuat. Diantara kami ada Alea yang akan membuat Anisa tak bisa berpaling dariku" jelas tercetak senyum kemenangan. Fatah sepertinya semakin jumawa.


"Kamu juga harus ingat, wanita sebaik Anisa akan berjodoh dengan orang yang tulus mencintainya. Bukan dengan pria yang suka selingkuh'' Radit santai menanggapi Fatah.


Tiba tiba amarah Fatah tersulut, ia melayangkan sebuah pukulan ke arah Radit. Radit hanya menghindar dan menangkis pukulan Fatah dengan kedua tangannya. Kemudian Radit balas menghetakkan satu tinju yang membuat Fatah terhuyung karena keseimbangan yang buruk.


"Pergilah Fatah. Aku tidak punya waktu untuk meladeni orang seperti mu!"


Radit meninggalkan Fatah yang tersungkur di lantai. Rudi mengangkat tubuh Fatah sebelum tiga orang pegawai Radit mendekat. Keduanya pergi dari gedung tersebut.


Fatah meminta Rudi untuk mengantarnya ke sebuah tempat di mana ia biasa menenangkan diri. Rumah mungil di pinggiran kota. Letaknya terpencil dari pemukiman warga. Di kelilingi tembok yang tinggi, dengan halaman yang sangat luas.


Rumah yang selalu ada di hayallan Anisa. rumah mungil dengan pemandangan indah, udara yang sejuk dan halamannya penuh dengan bunga. Saat memasuki rumah itu, di sambut oleh foto besar yang terpasang cantik di dinding ruang tamu, foto keluarga kecil Fatah yang pernah sangat bahagia. Dirinya, Anisa juga putri semata wayang mereka Alea. Fatah menghempaskan tubuhnya sambil terus menatap foto itu. Ada rasa sesak yang bergemuruh. Kebodohan yang harus ia sesali.


**


Anisa membuka layar ponselnya. Terdapat pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Sejenak ia mengamati tulisan yang ada di ruang pesan


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur. Tidak usah kamu fikirkan apa yang tadi pagi aku ucapkan"


Mungkin orang salah mengirim pesan. Dia tidak sedang memikirkan ucapan orang lain. Anisa hanya ingin putrinya segera sembuh. Dia bisa menjalani aktifitasnya seperti biasa. Namun setelah beberapa saat ponselnya kembali berbunyi. Satu lagi pesan masuk.


"Hanya dibaca saja? Padahal aku sedang memikirkan mu, Anisa. Selamat malam"


"Mas Disa?" Anisa bergumam lirih.

__ADS_1


Anisa mencoba untuk memejamkan matanya. Tiba tiba bayangan Radit berkelebat. Pria masa lalunya yang sudah sangat berubah. Setelah sekian lama baru kembali bertemu. Dia pria pertama yang membuat gadis cilik seperti dirinya patah hati dan kehilangan untuk yang pertama kali. Anisa tidak berani membayangkan memiliki hubungan yang lebih dari sekedar tetangga dengan Radit. Masih terngiang ucapan Radit tentang posisi pria itu di hatinya.


__ADS_2