THE FORTUNATE

THE FORTUNATE
MEMUTUSKAN PERTEMANAN


__ADS_3

Terlihat dari kejauhan Rigel tengah menyeruput minumannya pandangan matanya kosong. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa Beatrice akan berhenti dari perusahaan tempat mereka bekerja.


“ Woh! “  Beatrice mengagetkan nya, Rigel pun tersentak.


“ Sudah pesan makan? “ tanya Beatrice lagi kemudian duduk didepan Rigel.


“ Sudah, aku pesankan kamu ayam crispy dan kentang kesukaanmu “ ucap pria manis itu seraya mengaduk minumannya dengan sedotan.


“ Thank you my bro! “ gumam Beatrice padanya. Tidak berapa lama petugas memanggil nama Rigel dan ia pun segera mengambil makanannya dari counter.


“ Sebenarnya apa yang membuatmu resign Be? “ tanyanya sambil mengulurkan makanan ke arah Beatrice, tatapannya terlihat sedih.


“ Banyak hal ingin ku kejar Gel “ Jawab Beatrice pada Rigel


“ Kita sudah sedekat ini, apakah aku bukan seorang pria bagimu Be? “ sambungnya.

__ADS_1


“ Jika kau bukan pria memangnya kau perempuan? “ goda Beatrice pada Rigel, namun pria itu tidak tertawa.


“ Kenapa Be? “ ia masih kekeh bertanya


Beatrice masih terdiam, ia tidak tahu harus beralasan seperti apa untuk meyakinkan Rigel dan untuk menutupi pernikahan nya nanti. Meski Rigel adalah pria yang sangat baik bagi Beatrice, namun sedikitpun Beatrice tidak pernah merasakan hatinya bergetar saat bersama Rigel. Bahkan Beatrice tidak pernah merasa kelu saat tahu Rigel didekati orang lain, tidak seperti saat ia melihat Kendrick dan Regina.


“ Gel, kita sudah  sama – sama mengenal sejak SMA dan aku sangat nyaman dengan pertemanan kita. Kita bisa leluasa berbagi banyak hal satu sama lain tanpa harus melanggar komitmen – komitmen membosankan Gel “ jawab Beatrice membuyarkan lamunan laki – laki didepannya.


“ Hanya teman Be? “ ia bertanya


“ Gel, bukankah sejak masuk SMA kamu memang menganggapku sebagai adik mu? Mengapa kita tidak kembali kesana? “ sambung Beatrice ringan.


“ Aku sudah tidak berada disana lagi Be, aku disini, didepan mu sebagai seorang pria. Bukan sebagai kakak laki – lakimu, kita tidak sedang bermain rumah – rumah an bukan? “  Rigel seolah menolak ajakan Beatrice untuk tetap berteman. Beatrice menatap mata Rigel, ada kekecewan berkumpul disana.


“ Gel, maafkan aku. “ hanya itu yang bisa terucap dari mulut Beatrice.

__ADS_1


“ Sedetikpun kamu tidak pernah merasakan apapun Be? “ Rigel masih mengulangi pertanyaan yang sama.


“ Impian mana yang ingin kau kejar Be? “ sambungnya lagi. Beatrice masih diam.


“ Aku akan pindah dari kota ini Gel, aku sudah mendapatkan tempat baru “ Beatrice berbohong.


“ Kemana? “ ia mengejar lagi


“ Di Ibu Kota “ jawab Beatrice singkat.


“ Jadi, aku memang tidak pernah lebih dari seorang kakak bagimu Be? “ ia mengulanginya lagi dan Beatrice hanya mengangguk, Rigel menghela nafasnya panjang.


“ Baiklah Beatrice, anggap saja kita tidak pernah sedekat itu, anggap saja kita tidak pernah berteman, anggap saja kita tidak pernah mengenal satu sama lain. Aku harap, apapun yang menjadi impianmu bisa kau dapatkan “ Rigel pun bangkit berdiri tanpa menyentuh makanannya sedikitpun. Tanpa mendengar apa – apa dari Beatrice, ia memutuskan untuk tidak saling mengenal lagi.


Sesaat ingatan Beatrice melesat ke masa – masa  ia dengan Rigel masih SMA, Rigel yang begitu baik dan selalu melindungi Beatrice. Setiap ada Beatrice selalu ada Rigel disana, namu kala itu mereka sepakat bahwa kedekatan mereka hanya murni sebatas persahabatan. Bahkan Rigel juga sudah sangat dekat dengan keluarga Beatrice, sehingga tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benak Beatrice untuk menjalin hubungan lebih jauh dengan Rigel.

__ADS_1


Namun saat Rigel memutuskan untuk tidak mengenal lagi satu sama lain, perlahan penyesalan sedikit demi sedikit menyeruak ke dalam hati Beatrice, seseorang yang tadinya amat dekat dengannya, juga dengan Kath memutuskan untuk tidak saling mengenal  lagi.  Air mata jatuh dari pelupuk mata Beatrice, mengiringi rasa sesal dan bersalah pernah membuat Rigel berharap.


__ADS_2