THE FORTUNATE

THE FORTUNATE
WRAP UP PARTY


__ADS_3

    Malam itu setelah menyelesaikan jadwal kerjanya, Kendrick segera meluncur menuju KINGDOM Hotels. Acara penutupan pembuatan filmnya dilakukan di VIP Club yang ada pada hotel bintang lima tersebut.


    Pada acara non formal itu Kendrick terlihat mengenakan pakaian kasual namun tetap terlihat sangat tampan dan


elegan. Kaus oversize polos berwarna cokelat dengan lengan yang menutupi hingga ujung siku nya, dipadukan dengan celana bahan berwarna cream. Tidak luput jam tangan berwarna hitam terpasang dengan elegan pada tangan kirinya.


    Malam itu seluruh artis dan tim – tim yang terlibat dalam pembuatan film dipersilahkan membaur satu dengan yang lain sebelum akhrinya berpisah. Sebelum acara perayaan dimulai, sutradara memberikan beberapa patah kata sambutan juga ucapan perpisahan. Tidak luput Kendrick sebagai aktor utama diminta menyampaikan pidato perpisahan.


    “ Selamat malam sutradara yang terhormat, rekan – rekan artis serta tim yang ikut mengambil andil dalam proses pembuatan film ini. Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas bantuan dan kerjasama dari rekan – rekan semua. Saya berharap kita dapat dipertemukan dalam proyek – proyek film yang lain. Terima kasih. “ Lelaki tampan itu kemudian kembali ke tempat duduknya diiringi suara sorakan dari seluruh orang yang menghadiri acara tersebut.


    Acara pesta pun dimulai, musik terdengar mengentak didalam Club tersebut. Para pelayan hilir mudik membawa gelas – gelas serta botol – botol yang dipenuhi dengan wine, tequila dan minuman – minuman lainnya.


    Kendrick tampak sedang berbicara santai  bersama Betrand, sesekali ia terlihat menyeruput anggurnya. Laura terlihat duduk disamping Kendrick, sementara Clovis sudah menghambur entah kemana. Sesuai kesepakatan, malam ini Laura harus standby menjaga Kendrick kalau – kalau ia mabuk.


    “ Permisi, apakah aku boleh duduk disini? “ Sapa Regina pada Laura yang terlihat hanya memainkan ponselnya.


    “ Oh silahkan Nona. “ Laura memberikan tempatnya dan ia memilih kursi yang berada diseberang Kendrick. Wajah Kendrick yang semula biasa saja berubah menjadi sedikit kesal, rahangnya terlihat mengertak menahan kekesalan.


    “ Baiklah Ken, aku menemui sutradara dahulu. “ Pamit Betrand pada Kendrick, kemudian beranjak meninggalkan mereka berdua.


    Banyak artis dan tim – tim yang mengikuti produksi film memuji keahlian juga chemistry yang dibangun oleh Kendrick dan Regina. Mereka mengagumi keprofesionalan keduanya, bahkan mereka berdua tampak baik – baik saja selama proses pembuatan film.


    Kendrick mengangkat gelasnya yang sudah kosong, ia meletakkan kembali ke atas meja dan terlihat semakin kesal. Laura memandang lelaki itu sekilas, lalu mendongakkan kepalanya mendekati arah Kendrick.


    “  Mau ku ambilkan minum Ken? “ Ucap Laura setengah berteriak menghalau keramaian tempat itu. Kendrick mengangguk, wanita itu segera melenggang dari kursinya.


    “ Aku juga mau! “ Teriak Regina dari tempat duduknya.

__ADS_1


    Perempuan itu semakin mendekatkan tubuh seksi nya kearah Kendrick, membuat Kendrick gusar dan tidak nyaman. Kendrick sedikit memundurkan tubuhnya namun Regina seperti enggan berjauhan dengan Kendrick.


    “ Ada apa? Banyak mata disini, apa yang kamu lakukan? “ Ucap Kendrick dengan kasar.


    “ Kenapa tidak mengangkat telpon ku tadi pagi?  “ tanya Regina seraya menyilangkan tangannya pada dadanya.


    “ Memang nya siapa kamu? Sehingga aku harus mengangkat telpon mu? “ Dengan sinis Kendrick menimpali Regina.


    “ Ken apakah benar sudah tidak ada diriku dihati mu? “ Sergah Regina dengan kesal.


    “ Ya! Hanya ada Beatrice dalam hidupku, jadi jangan pernah menggangu ku kali Gina! “ Dengan kasar Kendrick memberikan peringatan pada perempuan itu, sehingga membuat Regina terlihat begitu kesal.


    Regina langsung berajak dari tempat duduknya, sementara Laura terlihat mengulurkan satu gelas anggur pada Kendrick. Lelaki itu dengan cepat meneguk habis minumannya, sesaat rasa kesalnya terhadap Regina menembus hingga ulu hatinya. Ia marah, karena dengan tidak tahu malunya Regina mendekati dirinya tanpa rasa bersalah maupun penyesalan.


***


    Brrtt.. Brrrtt


    Ponselnya bergetar, dilihatnya Kendrick mengirim pesan padanya. Dengan cepat Beatrice meraih HP nya itu dan membuka pesan dari orang yang paling ia nantikan kehadirannya didalam rumah itu.


>>> My Kendrick wrote message <<<


“ Aku tidak pulang  malam ini. “


    Hati Beatrice tiba - tiba  terasa pilu saat membaca pesan dari pria yang amat ia cintai, pikirannya semakin


berkecamuk memikirkan dimana Kendrick akan bermalam. Segera ia menelpon suaminya itu, hingga beberapa kali namun nihil. Akhirnya ia menelpon Clovis namun sama saja tidak berhasil, bahkan Laura juga mengabaikan panggilannya.

__ADS_1


    “ Ada apa dengan mereka? “ Beatrice bermonolog dengan dirinya sendiri. Ia merasa ada sesuatu yang janggal dengan Kendric, karena sampai siang tadi hubungan mereka baik - baik saja.


     Wanita itu mencoba menghubungi kembali nomor Kendrick, namun kali ini ponsel Kendrick berada diluar jangkauan. Tidak pulangnya Kendrick malam itu membuat Beatrice cukup frustasi, ia ingin sekali menghubungi Travis namun ia tidak sampai hati. Sudah lewat tengah malam, ia takut akan mengganggu waktu istirahat Kakak Iparnya itu.


    Sekuat tenaga Beatrice berusaha berfikir positif, namun wajah Regina ketika ia bertemu dengannya beberapa hari yang lalu tiba – tiba saja terlintas. Ia takut Kendrick sedang bersama wanita itu. Beatrice hanya berjalan kesana kemari didalam kamar, sesekali ia duduk keatas sofa, berpindah keatas ranjang, beranjak mengintip jendela kaca. Hingga akhirnya ia terlelap diatas sofa panjang didalam kamarnya dengan Kendrick.


***


     Pagi itu Kendrick mengerjapkan matanya perlahan seraya ia menarik selimut lembut yang menggulung tubuh polosnya. Tangannya menggapai – gapai sisi ranjangnya namun terasa kosong, aroma cherry blossom yang biasanya membekas pada sarung bantal tidak tercium oleh batang hidungnya.


    Kendrick membuka matanya lebar – lebar, sesaat ia mengedarkan pandangan menelisik setiap sudut ruangan yang sangat asing baginya itu. Ia menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya, setengah mati ia terkaget melihat tubuh polosnya. Pakaiannya berserakan diatas lantai dengan karpet berwarna cokelat tua, bahkan beberapa barang tampak terjatuh ke sembarang tempat.


     “ Bagaimana aku bisa disini? “ Pria itu dengan bingung menggaruk kepalanya dengan bingung.


    Banyak pertanyaan yang ada didalam benak Kendrick, segera ia memungut seluruh pakaiannya yang ada dilantai memakainya kembali dan mencari – cari ponselnya. Ia melihat benda yang ia cari tergeletak diatas meja rias bersama dengan dompetnya kemudian ia memungut dengan kasar kedua benda tersebut dan meninggalkan kamar itu.


    “ Tolong dicekkan, kamar ini dipesan atas nama siapa? “ Ujar Kendrick seraya mengulurkan carlock pada resepsionis.


     “ Oh baik Tuan. “ Segera petugas resepsionis mengecek kearah komputernya.


     “ Atas nama Tuan Kendrick Leandro. “ Sambung perempuan itu lagi setelah menemukan nama pemesan.


    “ Oke saya mau check out. “ Dengan kesal Kendrick mengulurkan satu buah kartu pada petugas dan perempuan itu segera memproses permintaan Kendrick. Wajah Kendrick bertambah semakin kesal saat mendapati ponselnya kehabisan daya, dengan sebal ia menghentakkan kakinya pada lantai.


    “ Sekaligus panggilan layanan taksi. “ Ucap Kendrick dengan kasar pada petugas resepsionis.


    Sesudah beres dengan proses check out, Kendrick segera berlari menuju  halaman depan hotel dan mendapati taksi pesanannya sudah menunggunya disana. Ia menjatuhkan tubuhnya keatas kursi penumpang dan meminta supir bergegas menjalankan kendaraannya.

__ADS_1


__ADS_2