THE FORTUNATE

THE FORTUNATE
KEKECEWAAN BEATRICE


__ADS_3

    Taksi melaju dengan kecepatan cukup tinggi, banyak hal menggangu pikiran Kendrick sejak ia membuka mata. Mulai dari Beatrice yang pasti sedang menunggunya, kenihilan Clovis dan Laura dikamar itu hingga dompet yang bisa berada ditangannya. Ia tidak pernah memegang dompetnya sendiri saat menghadiri acara – acara khusus dan dalam kegiatan shooting terlebih jika ia sedang bersama dengan Clovis ataupun Laura, mereka selalu menjadi orang yang dipercaya Kendrick untuk menyimpan benda – benda berharganya.


    Sesaat taksi sudah berhenti didepan rumah Kendrick, segera ia masuk kedalam rumah dan mendapati Bibi Rasi sedang membersihkan halaman. Wajah Bibi Rasi terlihat sedikit kaget saat melihat Kendrick masuk kedalam rumah, aroma alkohol sekelebat tercium saat Kendrick berlalu dari depannya.


    “ Apakah Beatrice sudah bangun? Clovis dan Laura apakah sudah tiba? “ Dengan gusar Kendrick mencecar banyak pertanyaan pada Bibi Rasi.


    “ Nyonya belum terlihat turun Tuan, juga Tuan Clovis serta Laura belum ada yang datang. “ Jawab Bibi Rasi setengah terbata.


    Setengah berlari Kendrick masuk kedalam rumah, ia langsung naik ke lantai dua menuju ke kamarnya. Perlahan ia meraih handle pintu, ia menurunkannya pelan – pelan dan ternyata memang Beatrice tidak mengunci kamar tidurnya. Dengan hati – hati ia menapaki lantai kamar itu, sekilas ia melirik tempat tidurnya dan terlihat sudah rapi.


    “ Sayang? “ Ucap Kendrick sedikit terkaget melihat Beatrice duduk diatas sofa seraya memegangi ponselnya.


    “ Ken? Kamu dari mana? “ Tersirat kelegaan dari wajah Beatrice, perempuan itu langsung menghambur kedalam pelukan Kendrick.


    “ Apakah kamu menunggu ku sayang? “ Kendrick mendekap dengan erat tubuh mungil istrinya.


    “ Ken? Apakah kamu mabuk? Aku sangat khawatir saat kamu mengirimi ku pesan bahwa tidak akan pulang. Aku mencoba menghubungi Clovis dan juga Laura tetapi tidak diangkat oleh mereka hingga pagi ini, apa yang terjadi? “ Beatrice mengendurkan tubuhnya sesaat aroma alkohol menguar dari tubuh Kendrick. Ia menelisik wajah tampan suaminya yang terlihat sayu dan kelelahan, sekelebat Beatrice tergelitik melihat leher putih  Kendrick yang memerah.


    “ Maafkan aku sayang. “ Suara Kendrick bergetar.


     “ Ken? Ini apa? “ Beatrice menjijitkan kakinya dan melihat lebih dekat sesuatu yang tercetak jelas pada leher Kendrick. Beberapa bekas kemerahan tertinggal pada kedua sisi lehernya.


    “ Apa sayang? “ Kendrick dengan bingung memegangi sisi leher yang masih ditatap Beatrice. Tanpa aba – aba Beatrice menarik ujung kaos Kendrick dan memaksa Kendrick melepaskanya.


    Deg!

__ADS_1


     Dunia Beatrice serasa runtuh, kaki nya mendadak menjadi lemas, tenaganya terasa luruh saat mendapati tanda yang sama tertinggal pada kedua sisi dada bidang Kendrick. Dengan tangan yang gemetar Beatrice menyentuh hickeymark yang membekas pada tubuh suaminya itu, sementara Kendrick mengarahkan pandangannya mengikuti gerakan tangan istrinya. Beatrice menelan salivanya sentengah mati, ia tidak tahu harus melakukan apa, yang ia bisa lakukan hanya menangis.


    “ Sayang sungguh aku tidak tahu. “ Kendrick meraih lengan Beatrice dan memeluknya.


    Sementara tangis Beatrice semakin pecah, apa yang ia takutkan semalaman benar – benar terjadi. Kendrick pulang dengan membawa bekas – bekas bercumbu entah dengan siapa, satu orang yang ada didalam benaknya hanyalah Regina Altair.


    “ Sayang dengarkan aku, aku benar – benar tidak tahu. Sayang! “ Semakin kuat Kendrick mengguncangkan tubuh Beatrice namun perempuan itu menampik tangannya dengan tegas.


     “ Lepaskan aku Ken, aku ingin mandi. “ Kendrick menjatuhkan tubuhnya ke sofa saat Beatrice sudah lepas dari genggamannya, sementara  dengan gontai Beatrice berjalan menuju kamar mandi.


    Perempuan itu menyalakan shower dan menghamburkan tubuhnya dengan lemas dibawah pancuran air setelah ia mengunci pintu kamar mandi. Beatrice menangis sejadinya dibawah derasnya guyuran air hangat yang jatuh menerpa tubuhnya.


    “ Sayang, aku mohon jangan seperti ini. Ayo kita bicara diluar sayang, Beatrice! “ Kendrick mengetuk dengan keras pintu kamar mandi, namun Beatrice mengabaikannya.


     “ Sayang, maafkan aku. “ Suara Kendrick terdengar lemah memohon.


    “ Minggir Ken aku harus bekerja. “ Beatrice dengan suara dingin mendorong tubuh Kendrick yang menghalanginya.


    Melihat Beatrice masuk kedalam kamar ganti, Kendrick langsung menghambur ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan cepat. Sesudahnya ia segera berlari menuju kamar ganti namun ia tidak mendapati Beatrice disana. Dengan cepat ia menyambar turtleneck rajut berwarna biru dari lemari bajunya dan memakai celana hitam polos lalu mengejar Beatrice yang mungkin sudah berada dibawah.


Tergesa – gesa Kendrick menapaki anak tangga untuk segera menggapai Beatrice, dilihatnya wanita cantik itu sedang mengemas bekal makan siangnya bersama Bibi Inah. Kendrick melenggang ke arah box key serta mengambil dengan asal kunci mobilnya dan mendekati Beatrice yang masih berada diruang makan.


     “  Sayang, aku antar ya. “ Bisik Kendrick pelan tepat didekat telinga Beatrice, namun perempuan itu tidak bergeming.


     “ Ayo Sam! “ Panggil Beatrice pada Sam yang berdiri tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


    “ Sayang, aku saja yang mengantar mu. “ Kendrick meraih tangan Beatrice namun perempuan itu mengibaskan tangan Kendrick ke udara.


     “ Jangan sentuh aku. “ Ucap Beatrice datar, Bibi Inah hanya menatap mereka berdua dengan wajah gusar, sementara Sam berdiri disamping Beatrice dan menundukkan kepalanya.


     “ Ayo Sam! “ Perintah Beatrice dengan nada yang lebih tinggi.


    “ Pergi denganku Beatrice! Kau tinggal di rumah Sam! “ Kali ini Kendrick memaksa Beatrice dan menarik lengan Beatrice dengan keras.


    “ Aku tidak mau! “ Lagi – lagi Beatrice membuang tangan Kendrick.


    “ Beatrice! “ Teriak Kendrick sambil menatap dalam wajah istrinya, ia tahu Beatrice sedang marah, sedang bersedih dan ia sedang kecewa padanya. Namun dirinya sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi pada nya semalam.


     “ Apa?! Aku tidak ingin pergi dengan kalian berdua, jangan ikuti aku! “ Dengan amarah yang membuncah Beatrice melempar kotak makannya tepat diujung kaki Kendrick. Perempuan itu terlihat melenggang keluar rumah sambil menangis, sementara Bibi Inah dan Bibi Rasi yang tergopoh – gopoh dari ruang cuci hanya dapat memandang mereka dalam keheningan.


    “ Sam, ikuti Beatrice. “ Perintah Kendrick seraya berkacak pinggang dan menghela nafas dengan cukup keras.


    “ Baik Tuan. “ Sam membungkukan tubuhnya kemudian segera berlari menuju garasi mobil, berharap masih dapat mengejar Beatrice.


    Beatrice masih terus menitikkan air matanya disepanjang jalan ia keluar dari rumah menuju halte bus. Wanita itu berjalan tergopoh – gopoh karena amarah masih menguasai hatinya, ia terluka juga kecewa dengan apa yang ia lihat.


    Tin.. Tin.. Tin


    Beatrice menoleh kearah sumber suara, dilihatnya Sam mengejarnya dengan mobil yang biasa ia pakai. Melihat kondisinya yang mengenaskan ini ia memilih untuk ikut bersama Sam, perempuan itu segera masuk kedalam mobil dan menangis sejadi – jadinya pada kursi penumpang  sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya itu.


    “ Kenapa kamu tega melakukan hal ini Ken! “ ratap Beatrice dalam hati, sementara telaga kristal dari matanya tak kunjung berhenti.

__ADS_1


__ADS_2