
Rumah yang semula ramai dan dipenuhi dengan kehangatan mendadak menjadi kosong dan terasa sangat sepi. Orang tua Beatrice bersama Kath sudah kembali kerumah mereka sore tadi, Beatrice dan Kendrick juga turut melepas kepergian mereka di Bandara.
Hari itu pukul tujuh malam Kendrick sudah terlelap didalam kamarnya, makhlum saja karena mobilitas yang tinggi dan aktivitas nya yang padat dihari – hari biasanya sehingga ia memanfaatkan waktu luangnya untuk beristirahat. Sementara Beatrice sendiri terlihat bosan karena tidak ada hal yang harus ia kerjakan, sudah ada dua asisten rumah tangga yang siap membantu semua pekerjaan rumah.
“ Nyonya, tidak perlu repot – repot membantu. Saya sendiri saja Nyonya “ Bibi menolak bantuan Beatrice saat ia sedang menyiapkan makan malam.
“ Bibi, panggil saja saya Beatrice dan tidak perlu sungkan seperti ini “ pinta Beatrice pada asisten rumah tangganya.
“ Tidak Nyonya, saya tidak memiliki keberanian. Tuan Kendrick akan sangat marah jika mendengarnya “ jawab Bibi lagi.
“ Baiklah, jadi Bibi Inah dan Bibi Rasi akan bergantian liburnya ya setiap Sabtu? “ tanya Beatrice lagi sambil duduk di kursi dekat meja dapur.
“ Iya Nyonya, oh iya Nyonya jika ada perabot yang ingin disusun ulang silahkan sampaikan pada saya atau Rasi. Lalu daftar menu makanan juga nanti bisa diberikan kepada saya Nyonya. “ asisten rumah tangga itu tetap sungkan berbicara dengan Nyonya barunya.
“ Oh? Kalau perabot biarkan saja seperti ini Bi, kalau menu aku mengikuti apa yang sudah Kendrick berikan saja pada Bibi. Hanya untuk makanan, saya memiliki alergi seafood ya Bi, khususnya udang dan cumi “ Beatrice menjelaskan, dan asistennya itu tersenyum seraya mengangguk.
“ Bi, apakah Bibi tahu tempat berbelanja bahan kue yang harganya terjangkau ? “ Beatrice bertanya lagi pada asistennya yang masih sibuk menyiapkan makanan didapur.
“ Oh ada Nyonya, tapi harus masuk ke dalam pasar “ Bibi Inah menjawab pertanyaan Beatrice sambil menuangkan sapo tahu yang masih mengepul kedalam mangkok keramik diatas meja.
“ Bibi ada waktu senggang? Kalau ada, bawa saya ke pasar ya Bi “ ucap Beatrice pada Bibi. Belum sempat Bibi menjawab, Kendrick sudah masuk ke dapur.
“ Aku cari kemana – mana Be, ternyata disini “ suara Kendrick menganggetkan Beatrice yang masih asyik memandangi asisten rumah tangga nya.
“ Oh, sudah bangun Ken “ Beatrice melongok ke arah sumber suara.
__ADS_1
“ Kamu sudah mandi Ken? “ tanya Beatrice lagi saat melihat Kendrick sudah berganti pakaian, dan ia hanya mengangguk.
“ Makan malam apa Bi? “ tanya Kendrick pada asisten rumah tangga nya.
“ Tumis okra, sapo tahu dan ayam tim tuan “ Bibi Inah menjawab Kendrick. Meskipun sikap Kendrick biasa saja, banyak orang yang ternyata segan padanya. Sehingga mereka terlihat sangat berhati – hati saat berbicara dengan Kendrick.
“ Ayo makan Be “ Kendrick kemudian berjalan menuju meja makan, lalu duduk dikursi paling ujung, kursi yang selalu ia tempati. Beatrice kemudian menarik kursi paling dekat dengan Kendrick, lalu wanita itu menuangkan air pada gelas ‘suami’ nya.
“ Kenapa kamu tidak bicara dahulu padaku soal membuka kedai kopi “ Kendrick mengawali pembicaraan mengenai rencana Beatrice membuka bisnis. Mendengar nada bicara Kendrick yang agak dingin, Bibi kemudian meninggalkan area dapur dan ruang makan.
“ Soal itu, aku pikir kamu tidak akan tertarik mendengarkan rencana ku Ken. Kamu sempat mengatakan bahwa kita akan mengurusi urusan kita masing – masing “ ucap Beatrice sambil meletakkan centong nasi yang dipegangnya.
Kendrick tidak memberikan jawaban apa – apa atas penjelasan Beatrice, pria itu hanya diam sambil mengunyah makan malamnya. Beatrice menjadi merasa tidak enak pada Kendrick, sesekali wanita itu memandang ke arah Kendrick sambil menyendok makanannya.
“ Ken, aku tidak bermaksud untuk tidak mengatakannya padamu. Hanya saja waktu itu kamu yang mengatakan “ belum sampai menyelesaikan perkataannya Kendrick sudah melempakan sendok nya ke atas meja.
Beatrice merasakan kemarahan, kekesalan juga kewaspadaan dari dalam diri Kendrick sehingga ia juga bergegas mengejar laki – laki yang masuk ke ruang baca itu. Sedikit berlarian Beatrice mengejar langkah Kendrick.
“ Ken, apakah kamu marah ? “ tanya Beatrice ragu – ragu.
“ Haah, aku tidak marah pada mu Beatrice hanya saja aku sedikit kecewa padamu. Bukan kah aku sudah mengatakan jika sebaiknya kita bisa bekerja sama dalam pernikahan ini selayaknya teman? “ Kendrick menghela nafas panjang kemudian menjawab Beatrice lalu ia duduk di sofa yang ada diruangan tersebut.
“ Aku hanya belum sempat mengatakannya Ken “ Beatrice melakukan pembelaan.
“ Bukan hanya itu Beatrice, aku harap kamu bersungguh – sungguh menjalankan peranmu sebagai isteriku. Perhatikan setiap hal yang kamu ucapkan dari mulutmu Beatrice, jangan pernah mengatakan hal – hal sembarangan seperti tadi sewaktu diruang makan. “ Kendrick tetap dengan sikap dinginnya.
__ADS_1
“ Tapi kamu sendiri yang memulai untuk membicarakan hal itu Ken “ sergah Beatrice.
“ Iya memang aku, hanya saja kamu tidak perlu mengakatakan hal – hal sembarang seperti tadi. ‘ Mengurusi hidup masing – masing ‘ itu yang kamu katakan tadi “ Kendrick mengulangi perkataan Beatrice sewaktu diruang makan.
“ Be ingatlah, untuk beberapa hal hanya aku dan kamu saja yang tahu. Jalankan saja peran mu sebaik – baiknya sebagai isteriku, banyak mata dan telinga di rumah ini Beatrice, mengertilah. “ sambung Kendrick lagi.
“ Iya Ken, maafkan aku “ Beatrice menyadari kesalahannya, ia sering tidak dapat mengontrol dirinya sendiri saat berkata – kata.
“ Hmm, sudahlah Be jangan diulangi lagi. Sekaligus aku minta kepadamu, mari kita bekerja sama seperti teman, atau sahabat jika itu memungkinkan “ jawab Kendrick kemudian.
“ Baik Ken, aku berusaha “ Beatrice mengiyakan perintah Kendrick.
Sesaat Beatrice baru menyadari, ini pertama kalinya ia masuk ke ruang baca milik Kendrick dan ia pun terpesona. Ruangan yang seluruhnya didominasi oleh rak – rak buku berwarna putih, serta buku – buku yang disusun dengan sangat rapi. Terdapat sofa beludru berwarna abu – abu juga meja senada dengan rak buku terletak di tengah – tengah ruangan.
“ Ken, nyaman sekali ruangan ini “ Beatrice terkagum saat mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.
“ Ya memang aku ingin menciptakan rumah yang nyaman supaya aku bisa merasa betah tinggal di rumah “ jawab Kendrick sambil merogoh saku celananya, mengambil Hp. Sementara Beatrice hanya mengangguk – angguk mendengar jawaban Kendrick.
“ Sepertinya Ayah dan Ibu sudah sampai rumah, Kath mengabari ku “ Ucap Kendrick sesaat setelah menatap layar Hpnya.
“ Oh ya? Syukurlah, HP ku ada dikamar, mungkin Kath menelponku tadi “ tukas Beatrice.
“ Be, aku masih ada libur empat hari, mau ke Pantai? Kami punya sebuah villa di dekat pantai, disana masih cukup sepi jadi kita bisa memiliki privasi, jika kamu mau. “ ajak Kendrick.
“ Pantai? Aku mau! “ Beatrice langsung mengiyakan ajakan Kendrick.
__ADS_1
“ Oke, nanti aku hubungi Ibu supaya mengaturkan tempat disana “ jawab Kendrick kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan ruang baca. Beatrice pun mengikuti Kendrick yang sudah terlebih dahulu keluar dari ruangan.