
Sepuluh menit setelah obrolannya dengan Orion ditelepon, lelaki bertubuh tinggi sedikit ramping itupun menampakkan batang hidungnya. Rigel kemudian menghampiri meja Beatrice dan Orion, ia memilih duduk dikursi samping Orion sehingga ia bisa melihat paras ayu Beatrice.
“ Hai! Apa kabar mu Be? “ sapa Rigel saat melihat Beatrice duduk dengan manis seraya menyeruput teh ocha nya.
“ Baik Gel, kau? “ jawab Beatrice kemudian, setelah pelayan yang mengantarkan menu ekstra meninggalkan meja mereka.
“ Baik juga, kalau kau Rion? Sekarang kamu sering sekali bolak balik kesini ya? “ Rigel menepuk pundak Orion dengan pelan.
“ Kak Beatrice sedang bersiap membuka kedai kopi, aku membantunya mempersiapkan beberapa hal Gel. “ jawab Orion.
“ Ah kau Rion, mentang – mentang akan menikahi Kath kau memanggil Beatrice sebutan Kakak padahal kita bertiga seumuran. “ gerutu Rigel, sementara Orion hanya tertawa.
“ Kedai kopi dimana Be? Ku pikir kamu benar – benar mendapatkan pekerjaan baru disini. Rupanya kamu mau membuka usaha. “ terdengar nada kecewa dari suara Rigel.
“ Sudahlah kalian bicara dulu, klien ku sudah datang. “ Orion kemudian bangkit berdiri seraya menunjuk pasangan yang baru saja duduk diujung ruangan.
“ Jadi kamu bekerja dimana sekarang Gel? “ tanya Beatrice setelah Orion melenggang menuju meja disudut ruangan.
“ Mark & Spencer “ jawab Rigel singkat.
“ Wah hebat, bisa secepat ini lompatan karir mu Gel. “ puji Beatrice pada Rigel.
“ Lalu kamu Be? Mengapa memilih membuka kedai kopi? “ sambung Rigel lagi.
“ Ya karena aku ingin Gel. “ Beatrice menatap Rigel, ia sedang mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan segalanya pada pria yang menyukainya itu,sesungguhnya ia tidak tega.
__ADS_1
“ Be, bagaimana? Apakah kamu tetap menolak ku? “tiba – tiba Rigel meraih tangan Beatrice yang masih memegang sumpit diatas meja.
Rigel tergagap sesaat melihat cincin melingkar dijari manis tangan kanan wanita pujaan hatinya itu. Ia menatap lekat jemari lentik Beatrice, lalu ia menyentuh pelan cincin disana. Melihat tingkah Rigel, dengan cepat Beatrice menarik tangannya dari genggaman tangan Rigel.
“ Benar apa yang kamu pikirkan Gel, aku sudah menikah. “ ucap Beatrice halus.
“ Bohong, dengan siapa Be? Aku tidak pernah tahu kamu dekat dengan pria selain aku dan Orion. “ Rigel menatap lurus mata Beatrice yang berbinar indah.
“ Apa keuntungan yang kudapat jika aku berbohong Gel? Aku benar – benar sudah menikah, kamu bisa menanyakannya pad Orion, dia turut hadir dalam pernikahan ku. “ Beatrice juga menatap Rigel lekat.
“ Siapa Be? Siapa pria beruntung itu? “ mata Rigel terlihat berkaca – kaca.
“ Hanya seseorang Gel, kamu tak perlu tahu. Maaf kan aku pernah membuat mu berharap. “ Sesal Beatrice.
Keduanya hanya saling menatap satu dengan yang lain dalam keheningan, mata Rigel semakin memerah berkaca – kaca. Sementara Beatrice mengutuki dirinya sendiri didalam hati karena menyakiti Rigel, bagaimana pun ia sudah menganggap Rigel sebagai kakak yang selalu melindunginya dulu.
“ Permisi, Rion aku ada urusan lain, nanti akan kuhubungi saat sudah tiba dirumah. “ sela Beatrice saat mendapati Orion dimeja lain.
“ Oke, hati – hati Kak, tinggalkan saja billnya. “ pesan Orion pada Beatrice.
Beatrice segera melenggang keluar melewati meja yang masih dipakai oleh Rigel, sesungguhnya rasa bersalah menggelayut disekujur hatinya. Tetapi kejujurannya pada Rigel adalah hal yang tepat, agar pria itu tidak terus menerus berharap kepadanya.
“ Apakah dia pria kaya? Apakah dia pria yang membiayai mu membuka kedai kopi Be? Apakah kamu sungguh menyukai uang Beatrice? “ teriak Rigel didepan pintu restoran membuat Beatrice menghentikan langkahnya.
“ Hash! Dia pria baik Gel, dia justru berfikir bahwa aku tidak pernah menginginkan uangnya. Ternyata selama ini aku salah menilaimu Gel.” Beatrice menghembuskan nafasnya dengan keras, kemudian menjawab Rigel dengan nada ketus.
__ADS_1
“ Apakah kamu mencintainya Be? “ Ucap Rigel lagi.
“ Tentu saja aku sangat mencintainya. Bahkan aku tidak ingin berpisah jauh darinya. “ jawab Beatrice seraya memalingkan wajahnya ke arah Rigel yang berdiri dibelakangnya. Mata Beatrice terbelalak, saat mendapati beberapa orang berkerumun menyaksikan tingkahnya yang seperti adegan dalam drama. Ia semakin terkaget saat melihat tubuh tinggi Kendrick menyembul diatara beberapa pasang mata lain yang ada disana. Beatrice hanya menundukkan kepala nya karena malu, terlebih ada Clovis, Laura, dan tim Kendrick yang lain.
“ Ken, boleh aku ikut mobil mu? Kita akan menuju studio yang sama bukan? “ tiba – tiba terdengar suara perempuan memecahkan suasana canggung yang terjadi siang itu. Ternyata suara itu bersumber dari wanita berambut panjang yang baru saja keluar dari bangunan restoran, Regina Altair.
“ Tidak, pergi saja lebih dahulu. “ jawab Kendrick dingin.
“ Hmmm, baiklah Ken, apakah ada masalah disini? “tanya Regina saat melihat disekelilingnya beberapa orang berkerumun di depan pintu masuk restoran. Namun tidak ada satu orang pun yang bersuara, akhrinya dengan wajah kecewa Regina meninggalkan Kendrick yang masih berdiri mematung disana.
“ Gel! Apa yang terjadi? “ Orion keluar dari dalam bangunan restoran kemudian menarik Rigel masuk kembali, ia tahu ada Kendrick disana sehingga berusaha menjauhkan Rigel dari Kendrick.
“ Lau, ikutlah mobil Dami, kita bertemu di studio. “ perintah Kendrick
“ Oke Ken. “ Laura kemudian mengajak Dami, Renata dan Evan meninggalkan Kendrick yang masih berdiri disana bersama Clovis.
Sesaat mobil Regina dan tim nya sudah berlalu kemudian disusul oleh mobil yang ditumpangioleh Laura dan yang lainnya. Beatrice masih berdiri didepan Kendrick seraya menundukkan kepalanya.
“ Ayo naik. “ ucap Kendrick dingin pada Beatrice. Wanita itu masih terpaku ditempatnya semula, ia bahkan tidak berani menatap wajah Kendrick.
“ Ayo naik! “ pria itupun menarik tangan Beatrice, dan mendorongnya pelan agar masuk kedalam mobil. Beatrice tidak ada pilihan lain selain mengikuti perintah Kendick, ia menyadari Pria yang dicintainya itu sedang menahan amarah.
“ Apakah langsung ke studio Ken? “ tanya Clovis dari bangku kemudi.
“ Iya, kita tidak punya waktu untuk kembali ke rumah Clo. “ jawab Kendrick.
__ADS_1
“ Apa? Kamu akan membawa ku kemana Ken? Apakah aman? Apakah baik – baik saja? “ Beatrice panik karena Kendrick akan mengajaknya ke lokasi syuting. Namun Kendrick tidak bergeming mendengar pertanyaan Beatrice, ia tetap bertahan dalam diamnya.