
Setelah lewat tengah malam Beatrice baru menyelesaikan pekerjaannya didapur, ia juga sudah membersihkan kembali area dapur yang semula terlihat berantakan karenanya. Chocochips Cookies tampak begitu menggiurkan dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari ukuran normal sudah dibungkus dengan apik dan tersusun rapi dikeranjang atas meja. Ia segera kembali ke kamarnya, badannya terasa pegal karena seharian ia memang mengurus seluruh keperluan kedai kopinya.
Tok.. Tok.. Tok..
Dengan sopan wanita itu mengetuk pintu kamarnya sendiri, dilihatnya Kendrick masih dengan santai duduk meluruskan kaki diatas sofa sambil memainkan Ipad nya. Ia melihat Beatrice melenggang masuk dan langsung menuju kamar mandi, namun ia tidak berani memandang wanita itu.
“ Kamu ini Be, kenapa masuk kamar mu sendiri pakai mengetuk pintu segala? “ gerutu Kendrick saat melihat Beatrice keluar dari kamar mandi.
“ Hmm, kalau aku langsung menerobos masuk terus kamu nya lagi ganti baju gimana? “ Beatrice menimpali seraya berlalu menuju kamar ganti. Sesudah berganti dengan setelah piyama pendek ia keluar dari ruangan yang lebih mirip dengan toko pakaian itu.Kemudian ia menuju meja rias, mengaplikasikan beberapa krim kewajahnya sambil memeriksa wajah cantiknya melalui cermin dihadapannya.
“ Kan tidak mungkin aku telanjang diluar kamar mandi atau ruang ganti Be! “ Pria itu masih protes sembari mematikan lampu yang ada diruang duduk dikamar mereka. Kendrick kemudian menyandarkan tubuhnya pada bahu ranjang dan mengganjal punggungnya dengan bantal.
Beatrice segera menyusul ke atas ranjang, masih sama seperti sejak pertama mereka memutuskan tidur pada ranjang yang sama. Tetap ada batas pemisah berupa guling diantara keduanya. Beatrice membaringkan tubuhnya yang terasa remuk diatas kasur yang empuk itu, sesaat ia menghirup nafas panjang membuang segala kelelahannya.
“ Kamu pulang jam berapa sih Be? Kok jam segini baru selesai semuanya.? “ tanya Kendrick tidak melepaskan tatapannya dari permainan di Ipad nya.
“ Tadi jam sembilan mungkin Ken, karena banyak hal yang harus ku selesaikan Ken. Mungkin minggu depan kedai kopi ku sudah bisa beroperasi. “ ucap Beatrice dengan riang.
“ Hah? Cepat sekali Be? Memang segala macam perizinan dan keperluannya sudah kamu selesaikan? “ tanya Kendrick penasaran.
__ADS_1
“ Tentu saja karena aku kan punya Orion Ken, semuanya dia kerjakan dengan cepat. Hanya untuk perizinan masih sambil berjalan kami proses. “ Beatrice meraih HP yang ada diatas nakas, kemudian ia duduk menyamakan posisinya seperti Kendrick.
“ Semua perlengkapan sudah siap? “ Kendrick bertanya lagi. Beatrice hanya menganggukkan kepala nya sambil mengerucutkan bibirnya.
“ Semoga bisa berjalan dengan lancar ya Be. “ Kendrick memberikan semangat.
Sesaat Beatrice hanya terdiam sambil memandangi layar HP nya yang masih menyala, namun ia tidak memainkannya. Tatapan Beatrice tampak kosong seolah sedang memikirkan banyak hal didalam benaknya.
“ Be, kamu kenapa? “ Kendrick menyentuh bahu Beatrice pelan.
“ Ken, apa yang sebenarnya kamu lakukan padaku? “ tanya Beatice sambil memalingkan wajahnya pada Kendrick.
“ Kenapa tadi kamu melakukan itu? Bukan hanya tadi, tapi juga kemarin, dan sebelumnya? “ Beatrice lalu meletakkan HP nya kembali dan memalingkan wajahnya dari Kendrick.
“ Begini? “ Kendrick kemudian meraih sebelah tangan Beatrice dan ia mendekatkan lagi wajah tampan nya pada wajah Beatrice.
Lagi, Kendrick bisa menghirup aroma manis cherry blossom dari tubuh Beatrice sementara gadis itu bisa merasakan nafas hangat Kendrick terhembus diwajahnya. Jantung Beatrice berdegup lebih kencang, hingga ia bisa mendengar debaran suaranya.
“ Ken, ini melanggar kontrak pernikahan kita. “ Beatrice tertunduk lesu.
__ADS_1
“ Ehm, memang aku melakukan apa? Aku hanya ingin memandangmu lebih dekat. “ Kendrick menjauhkan wajahnya kemudian duduk bersandar pada bantalnya. Keduanya menjadi hening, Beatrice terlihat meremas – remas kedua tangannya dengan cukup kuat, ia sedang merasakan kegugupan yang teramat dalam.
“ Jangan begini Ken, aku tidak bisa menahannya jika kamu terus begini. “ terdengar suara Beatrice pelan.
“ Maaf kan aku Beatrice, aku melakukannya. . . “ Kendrick belum menyelesaikan ucapannya tetapi Beatrice sudah menyelanya.
“ Apakah kamu tidak merasakannya Ken? Aku menyukaimu Ken, bukan sebagai seorang penggemar. Aku menyukaimu selayaknya perempuan yang menyukai laki – laki Ken. “ tanpa sadar Beatrice memberikan pengakuan pada Kendrick. Sekerjap Kendrick menatap Beatrice dengan nanar, ia memang menyadari sikap Beatrice yang berbeda, ia lebih hangat dan terbuka padanya. Namun ia tidak pernah menyangka jika Beatrice akan memberikan pengakuan seperti ini.
“ Bagaimana aku bisa melanjutkan ini jika perasaanku semakin hari tumbuh semakin besar pada mu Ken? Maaf aku terlampau lancang untuk bisa menyukaimu, aku terlalu berani untuk mengungkapkan perasaan pada mu Ken. “ Beatrice menundukkan kepalanya dengan bersalah, seolah ia sudah melakukan sebuah kejahatan besar.
“ Jangan pernah lakukan hal itu lagi jika maksudmu hanya untuk menggodaku Ken. “ Beatrice kemudian beranjak dari tempat tidur seraya mengambil HP nya dari atas nakas. Ia terlalu malu untuk bisa tidur satu ranjang dengan Kendrick, ia kemudian berjalan menuju pintu dan meraih gagang pintu dari besi berlapis kuningan itu.
“ Kamu mau kemana Beatrice? “ panggil Kendrick saat melihat wanita itu sudah membuka kunci.
“ Jangan ikuti aku. “ suara Beatrice terdengar lemah.
Dalam hati Kendrick terselip seutas rasa bersalah karena sedikit mempermainkan Beatrice yang nyatanya lebih polos dibanding dugaannya. Ia sendiri belum memahami hatinya, Kendrick masih meragu untuk bisa mempercayakan hatinya pada wanita lain. Namun ia sadar, jika ia sudah cukup melewati batas hingga akhrinya membuat Beatrice hanyut dalam perasaannya. Pria tampan itu menatap pilu bahu mungil Beatrice yang menghilang dibalik pintu.
Sementara Beatrice sedang meratapi kebodohannya karena terlalu cepat terbawa perasaan dalam situasi pelik hubungannya ini. Dalam kegelapan wanita itu mengutuki dirinya sendiri, ia marah pada dirinya sendiri karena berlaku dengan murahan dihadapan Kendrick. Ia memukul kepala nya berkali – kali, namun justru dadanya yang terasa sakit, ia menyadari bahwa perasaannya ini hanyalah sebuah wujud cinta tak berbalas dari dirinya kepada Kendrick Leandro.
__ADS_1
Beatrice dengan lesu membaringkan tubuhnya diatas sofa diruang baca, ia meringkuk menahan dinginnya malam itu. Ia tidak membawa serta bantal bahkan selimut, ia mengusap – usap tubuhnya pelan menghalau dingin yang menyapu kulit halusnya. Beatrice menumpukan kepalanya pada lengannya, lalu memejamkan mata berharap agar dapat segera terlelap.