
Seharian Beatrice berada didapur kedai kopinya bersama dengan Daniel dan Okta melalukan test food untuk beberapa kue yang akan dijadikan menu di kedai kopi miliknya. Sementara Orion bersama Erick dan Nino sejak tadi pagi memainkan coffee maker yang ada disana untuk memilih rasa kopi terbaik dan minuman lain yang dibuat oleh dua barista itu.
“ Sip, aku tentukan ini saja! “ Beatrice memilih cream puffs with custard filling, castella coffee cake, mille crepes cake dan french apple cake sebagai menu utama bakery nya.
“ Kalau chocochips cookies akan kita berikan free khusus pelanggan dine-in yang memesan kopi. “ Beatrice melanjutkan.
“ Okay! Kalau minuman akan lebih banyak variannya kak. “ Orion mengulurkan ipad yang dipegangnya. Mulai dari double shots espresso, americano, caramel macchiato, cappucino, caffe latte, bavarian coffee, vanilla cream, coffee frappucino, mojito espresso dan cascara lime tonic.
“ Wow! Banyak sekali Rion? Apakah ada menu andalan? “ tanya Beatrice sambil melihat deretan gelas dan cangkir yang penuh dengan minuman – minuman itu.
“ Bavarian Coffee dan Mojito Espresso sepertinya akan membuat kedai ini lebih unggul kak. “ Orion kemudian mengulurkan cangkir kopi berwarna putih kearah Beatrice.
“ Hmmm, aku baru kali ini merasakannya. “ ujar Beatrice setelah menyesap bavarian coffee yang masih hangat.
“ Kopi dengan rasa cokelat dan lemon dalam satu teguk. Nikmat! Kamu memang tidak salah memilih menu dan juga barista Rion. “ sambung Beatrice sambil mengacungkan ibu jarinya.
***
Pukul delapan malam Beatrice sudah berada dirumah, ia sudah selesai mandi dan sudah berada diatas ranjang. Badannya terasa sangat lelah dan matanya juga sudah mulai terasa berat, belum lama ia membaringkan tubuhnya Beatrice sudah terlelap. Bahkan ia tidak sempat mematikan lampu kamar dan masih memegang HP ditangannya.
Bruk!
Beatrice terperanjat saat Kendrick menjatuhkan tubuhnya diranjang dan ia pun terjaga, dilirknya jam diatas nakas ternyata sudah hampir jam dua belas malam. Dilihatnya Kendrick masih mengenakan setelan jas lengkap. Bahkan ikat pinggang hitam masih melingkar erat dicelannya.
“ Ken? Apa tidak mandi dahulu? “ namun Kendrick tidak bergeming. Keringat nampak mengucur pada keningnya, bibir Kendrick terlihat pucat.
“ Ken? Apa kamu mabuk? “ panggil Beatrice lagi. Karena Kendrick tetap diam dan memejamkan matanya, Beatrice berusaha menggoyangkan tubuhnya. Perempuan itu tidak sengaja menyentuh punggung tangan Kendrick.
__ADS_1
“ Ya ampun Ken? Panas sekali badan mu? “ Beatrice segera berlari mengambil kotak obat dilaci meja rias, ia meraih thermometer dari dalam sana.
Tit! Terdengar suara termometer setelah beberapa saat Beatrice mendekatkan pada telinga Kendrick. Tercatat suhu Kendrick diangka 39.4 derajat, Beatrice kemudian meletakkan kembali termometer itu diatas meja dan mengambil baju ganti dari kamar ganti.
“ Ayo Ken bangun dulu kita ganti pakaianmu. “ Beatrice kemudian melepaskan jas Kendrick yang berkerah runcing itu, disusul dengan dasi hitam yang melekat erat pada leher Kendrick, dengan hati – hati Beatrice melepaskan pin kerah dan pin lengan kemeja Kendrick. Beatrice juga melepaskan ikat pinggang Kendrick serta membuka kancing kemeja putih yang melekat pada tubuh kekar Kendrick dengan terburu - buru dan meloloskannya dari badan pria tampan itu setelah seluruh kancing terbuka.
“ Ayo bangun Ken. “ susah payah Beatrice membuat Kendrick duduk, lalu mengganti kemeja nya dengan kaos yang lebih menyerap keringat.
Beatrice kemudian mengambil HP nya diatas meja lalu ia menghubungi Clovis.
“ Halo Clo, Kendrick sakit. Suhu tubuhnya sangat tinggi Clo, apakah dia tadi meminum minuman beralkhohol? “ tanya Beatrice saat Clovis sudah mengangkat teleponnya.
“ Apa? Tidak Beatrice, dia tidak meminum alkhohol. Aku akan kesana Beatrice. “ kemudian Beatrice mematikan sambungan teleponnya.
Beatrice bergegas ke dapur, ia mengambil baskom dan satu gelas air hangat kemudian mengambil air hangat dari shower di kamar mandi, lalu ia meraih paracetamol dari dalam kotak obat.
“ Ayo tidur lagi. “ Beatrice membantu Kendrick berbaring kembali, ia membuka selimut yang menutupi tubuh Kendrick, dan menggantinya dengan kain yang lebih tipis. Sesudahnya Beatrice mengompres kepala Kendrick dengan air hangat, sesekali ia mengganti kain yang menempel di kening pria tampan itu.
“ Cepat sembuh Ken, jangan sakit seperti ini. “ bisik Beatrice sambil menyentuh pipi Kendrick pelan.
Tok.. tok.. tok
“ Masuk. “ ucap Beatrice sesaat setelah mendengar ketukan pintu. Terlihat Clovis dengan wajah paniknya menyembul dibalik pintu.
“ Bagaimana Be? “ tanyanya dengan cemas.
“ Sudah kuberikan obat penurun panas Clo, aku minta kamu berjaga – jaga saja karena aku tidak bisa menyetir mobil jika sesuatu terjadi. “ ujar Beatrice pada Clovis.
__ADS_1
“ Sepertinya Kendrick kelelahan, seharian dia berendam didalam air karena pengambilan scene. Belum sempat ia beristirahat dan makan kami sudah harus menuju acara Drama Award. “ Clovis tidak mengalihkan pandangannya dari Kendrick.
“ Tidak apa – apa Clo, kamu istirahat saja di bawah. Pasti kamu juga lelah, biarkan aku menunggu Kendrick. “ sambung Beatrice kemudian.
“ Apakah tidak apa – apa Beatrice? “ Clovis terdengar sungkan.
“ Tentu saja, aku istri Kendrick Clo. Apa yang kamu khawatirkan? “ Beatrice berusaha membuat Clovis nyaman.
“ Baiklah, aku dibawah ya. Jika ada apa – apa telpon saja. “ pesan Clovis sebelum meninggalkan kamar itu.
Dengan sabar Beatrice mengganti kain kompres Kendrick setiap lima menit sekali, ia juga mengecek berkali – kali suhu tubuh Kendrick. Ia juga mengelap kaki dan tangan Kendrick dengan handuk kecil, Beatrice merawat Kendrick dengan sungguh – sungguh.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi, Beatrice masih terjaga. Ia masih terus mengganti kain kompres Kendrick dan kembali ia mengecek suhu tubuhnya.
“ Ah 37.5 derajat. Syukurlah. “ Beatrice lalu meletakkan kembali termometer keatas meja, ia kemudian beranjak dari ranjang. Tetapi tangan Kendrick tiba – tiba meraihnya.
“ Jangan pergi. “ ucap Kendrick pelan.
“ Tidak, aku hanya mau menyimpan pakaian kotor mu. “ bisik Beatrice.
Kendrick lalu melepaskan tangan Beatrice, lalu memejamkan matanya lagi. Beatrice kemudian kembali keatas ranjang, membalikkan kain kompres dikepala Kendrick.
“ Tidurlah Be, aku sudah tidak apa - apa. “ Kendrick kemudian meraih kain yang ada diatas kepalanya.
“ Hahaha, kenapa kamu memakai ini Be? Apa kamu sangat panik? Ada water bag didalam laci itu. “ protes Kendrick diiringi tawa, meskipun suaranya masih terdengar lemah.
“ Iya, aku sangat panik melihat mu begini. Jangan pernah sakit lagi Ken. “ bisik Beatrice kemudian, dan terlihat Kendrick mengangguk pelan.
__ADS_1
Kendrick kembali terlelap, rasa kantuk juga sudah mulai bergelayut disudut mata Beatrice. Mereka berduapun akhrinya sama – sama hanyut dalam tidurnya, Kendrick memeluk lengan Beatrice dengan cukup erat. Mereka tidur dengan sangat lelap pada ranjang yang sama tanpa pembatas untuk pertama kalinya.