THE FORTUNATE

THE FORTUNATE
SERANGAN


__ADS_3

    Malam itu Kendrick, Regina, Betrand dan beberapa tim produksi film terlihat melenggang dari dalam teater bioskop setelah menghadiri press conference dan pemutaran film perdana mereka. Kendrick terlihat berjalan menuju mobilnya sambil menenteng buket bunga peony berwarna merah muda.


    “ Oke Ken, kita langsung menuju galeri ya. “ Ucap Clovis pada Kendrick yang  terlihat sudah sangat lelah. Mereka akan menuju sebuah galeri seni untuk melihat Art Exhibition seorang seniman yang juga berkolaborasi membuat poster untuk film yang dibintangi oleh Kendrick.


***


    Sementara hari itu Beatrice pulang kerumah lebih awal dari biasanya, ia sedang tidak enak badan karena beberapa hari ini pekerjaan di kedai sangat banyak. Jumlah pengunjung mereka meningkat dengan cukup drastis setelah Kendrick membawanya kedepan publik.


    Seperti biasanya ia menggunakan bus kota dari kedai kopinya menuju kerumah, pukul delapan lebih tiga puluh menit ia tepat tiba dihalte bus yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Tiba – tiba beberapa gadis berseragam mengikuti Beatrice sesaat setelah berjalan menjauhi halte bus dan melewati jalanan yang sepi, wanita itu mempercepat langkahnya.


    “ Berhenti! “ Terdengar suara perempuan seraya meraih tangan Beatrice dan memaksa wanita itu menghentikan langkahnya.


    “ Maaf ada yang bisa saya bantu? “ Suara Beatrice terdengar sedikit bergetar.


    “ Kau pikir kau siapa? Bisa menikahi laki – laki sehebat Kendrick Leandro? Kamu menggodanya? “ Ucap perempuan berseragam dengan badan bongsor yang tadi meraih tangan Beatrice.


    “ Kalian siapa? “ Beatrice menjadi semakin ketakutan.


    Tiba – tiba beberapa orang melempari wajah Beatrice dengan telur ayam, membuat perempuan cantik itu berbalik arah dan berlari. Namun sayang, sekelebat perempuan itu meraih rambut Beatrice dan menjambakknya dengan cukup kencang membuat Beatrice meringis kesakitan.


    “ Kami? Orang yang sudah kamu sakiti! “ Bentak perempuan itu.


    “ Ah, ah sakit. Bisa kita bicara baik – baik? “ Beatrice terdengar memohon.


    “ Baik – baik katamu? “ Perempuan itu melepaskan tangannya jadi rambut Beatrice lalu mendorong keras tubuh Beatrice hingga ia terjerembab kejalanan.


    Dengan keras seseorang memukul punggung Beatrice dengan balok kayu, membuatnya semakin tersungkur mencium aspal. Gerombolan perempuan itu menendang punggung dan kaki Beatrice dengan sangat brutal secara bergantian, bahkan ada yang meninju wajah cantik Beatrice dengan cukup keras sehingga ujung bibir istri Kendrick itu terlihat berdarah.

__ADS_1


    Beatrice tidak memiliki kekuatan untuk melawan gerombolan orang yang sedang merundungnya itu. Wanita cantik itu hanya dapat menangis menahan sakitnya, ia hanya berteriak dengan sangat lemah berharap ada orang menyelamatkannya. Hingga akhirnya perempuan itu jatuh pingsan, para wanita yang sedang menghajar Beatrice itu tidak berhenti menyerang wanita yang sudah sekarat didepan mereka.


    “ Woy! Ada apa itu? “ Teriakan seorang Pria dengan lantang mengagetkan gerombolan perempuan anarkis itu, dan membuat mereka berlarian takut tertangkap basah.


    Pria itu segera menghampiri tubuh Beatrice yang sudah tergolek tak berdaya ditepi jalan dengan wajah babak belur karena ulah gerombolan orang yang tidak ia kenal itu. Wajah cantik Beatrice terlihat basah oleh darah yang tercampur dengan air matanya.


    “ Beatrice! “ Teriak Pria yang baru saja datang itu saat melihat wanita yang pingsan itu adalah orang yang ia kenal.


    Segera lelaki itu menelpon ambulance juga polisi dan tetap berusaha membuat Beatrice sadar, namun perempuan itu tidak kunjung membuka matanya. Tidak sampai lima belas menit polisi dan ambulance sudah tiba disana, segera ia membantu perawat mengangkat tubuh mungil Beatrice keatas ranjang dorong. Lelaki itu juga terlihat memberikan keterangan pada polisi yang datang memeriksa tempat kejadian. Sesudah menyelesaikan beberapa pertanyaan laki – laki itu meminta waktu agar bisa menemani Beatrice ke rumah sakit.


***


    Setiba nya di rumah sakit Beatrice mendapatkan penangangan di IGD, lelaki tersebut menemani Beatrice yang masih belum sadarkan diri. Sesudah dilakukan pemeriksaan lelaki itu membantu proses adminitrasi pemindahan Beatrice ke kamar perawatan. Setelah masuk ke kamar perawatan, ia duduk disamping ranjang Beatrice dibaringkan, pria itu menyentuh lembut rambut Beatrice yang berantakan.


Kring.. Kring.. Kring..


    “ Sayang, maaf aku baru sempat mengabari mu. Agenda ku hari ini akhrinya selesai, apakah kamu sudah pulang?  “ terdengar suara Kendrick dari seberang sangat ceria.


    “ Apa kamu suami bodoh Beatrice? Bagaimana bisa kamu selengah itu membiarkan dia dihajar habis – habisan oleh gerombolan wanita gila? “ Suara Pria yang menolong Beatrice itu terdengar sangat marah.


    “ Ini siapa? Mengapa HP Beatrice ada pada mu? Mana istri ku? “ Suara Kendrick terdengar panik juga marah.


    “ Beatrice masih belum sadarkan diri, dia ada di Rumah Sakit Joy Hope. Aku Rigel, temannya. “ Jawab lelaki yang ternyata Rigel itu dengan nada kesal.


    “ Apa? Bagaimana ceritanya? “ Kendrick menjadi panik saat mendengar istrinya tidak sadarkan diri.


    “ Tanya saja nanti pada Beatrice saat ia sudah siuman. “ Rigel langsung mematikan sambungan teleponnya dan memasukkan HP Beatrice kembali kedalam tasnya dengan kasar.

__ADS_1


    “ Beatrice, bangun lah. “ Dengan cemas Rigel mengusap lembut tangan Beatrice.


    “ Gel? Apakah itu benar kau? “ Suara Beatrice terdengar parau saat ia membuka matanya perlahan.


    “ Be! Iya ini aku, apa yang kamu rasakan? Apa yang sakit Be? “ tanya Rigel dengan sangat cemas. Namun perempuan itu hanya menggelengkan kepala nya dengan lemah.


    “ Aku panggilkan perawat dulu Be. “ Rigel segera bergegas meninggalkan kamar Beatrice dan memanggil perawat di meja jaganya. Ia memberitahukan pada perawat bahwa Beatrice sudah siuman.


    Perawat kembali memeriksa tubuh Beatrice dan membawanya ke ruang CT Scan, Rigel dengan setia menemani Beatrice melakukan pemeriksaan. Setelahnya Rigel kembali membantu mendorong tempat tidur Beatrice masuk kedalam kamar, suster memberikan beberapa suntikan obat melalui infus dan tidak lama Beatrice terlelap.


    Tok.. tok.. tok..


    Hampir pukul sebelas malam terdengar suara ketukan dari pintu kamar perawatan Beatrice. Rigel segera beranjak dari tempat duduknya, ia meraih handle pintu dan membukanya. Didapatinya seorang pria dan seorang wanita yang berdiri disana, mereka hanya mengenakan setelan baju tidur dan menggengam HP serta dompet berwarna hitam ditangan perempuan itu. Terlihat jelas bahwa mereka terburu – buru menuju ke rumah sakit.


    “ Maaf, apakah benar kamar Beatrice Leandro? “ tanya perempuan itu dengan panik.


    “ Benar, apakah anda kerabatnya? “ Telisik Rigel.


    “ Iya, saya Kakak iparnya. “ Sambung Hera tegas.


    “ Silahkan masuk, Beatrice sudah tidur. Baru saja perawat memberikan obat. “ Rigel memberikan jalan agar kedua orang itu masuk kedalam kamar perawatan.


    Hera langsung memeriksa Beatrice yang terlihat lemah terbaring diatas tempat tidur. Mimik muka  Hera sesaat berubah menjadi sangat khawatir, melihat kondisi wajah lebam Beatrice.


    “ Karena kalian sudah ada disini, saya pamit. Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan hubungi saya. Saya juga sudah melaporkan hal ini pada polisi, sepertinya ini pengeroyokan. “ Rigel mengulurkan kartu nama yang ia keluarkan dari dalam dompetnya.


    “ Maaf Tuan, untuk biaya administrasi apakah menggunakan uang dari Tuan? Mohon diberikan kwitansi pembayarannya agar dapat kami ganti. “ Ucap Travis setelah menerima kartu nama dari Rigel.

__ADS_1


    “ Tidak apa – apa Tuan, akan saya selesaikan sendiri dengan Beatrice. Kebetulan kami adalah teman lama dan saling mengenal dengan baik, saya permisi. “ Rigel menolak tawaran Travis kemudian menghilang dibalik pintu tanpa mendengar jawaban apapun baik dari Travis maupun dari Hera.


__ADS_2