THE FORTUNATE

THE FORTUNATE
PERASAAN BEATRICE


__ADS_3

    Sesampainya dikamar, Kendrick langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Sementara Beatrice menyalakan televisi yang ada disana, kemudian meluruskan kakinya disofa panjang didepan televisi.


    “ Cuci kaki mu dulu Be! “ perintah Kendrick yang sudah menjatuhkan diri diatas ranjang.


     “ Hmm “ Beatrice mengiyakan lalu melenggang ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan mengganti baju nya.


    Beatrice kembali menjatuhkan tubuhnya keatas sofa panjang disana, ia tidak berani menatap Kendrick apalagi mendekati Kendrick. Dadanya masih terasa berdesir, ia masih merasakan debaran yang sangat cepat disana, wajah Kendrick yang hendak menciumnya tiba – tiba terlintas dalam benakknya. Jarak mereka tadi sungguh dekat, dan sesungguhnya Beatrice mendambakan sedikit kecupan dari Kendrick.


    “ Hah “ Beatrice mengacak rambutnya sendiri kemudia menutup wajahnya dengan bantal yang ada diatas sofa.


    “ Be? “ panggil Kendrick dari atas tempat tidur.


     “ Ya Ken? “ suara Beatrice terdengar gugup.


     “ Kamu tidak tidur? “ tanya Kendrick lagi.


    “ Aku masih ingin menonton televisi Ken. “ Beatrice beralasan, sesungguhnya ia benar – benar sudah tidak dapat mengendalikan perasaannya.


    Beatrice belum lama serumah bersama dengan Kendrick, bahkan mereka benar – benar intens berkomunikasi dan hidup selayaknya pasangan pada umumnya baru beberapa hari namun Beatrice menyadari bahwa ia sudah jatuh hati kepada Kendrick. Bukan sebagai seorang penggemar lagi, tapi sebagai seorang wanita yang menyukai pria.


     “ Kamu kenapa Be? “ kembali Kendrick bertanya pada Beatice.


     “ Aku tidak kenapa – kenapa Ken. “ Beatrice menjawab cepat tanpa berani melihat ke arah Kendrick.

__ADS_1


    Kendrick pun berajak dari atas ranjang kemudian mendekati Beatrice yang terlihat sedang berbaring diatas sofa. Melihat Kendrick mendekatinya membuat Beatrice salah tingkah dan cepat – cepat bangun kemudian duduk disudut sofa.


    “ Kamu kenapa? Kamu menjadi aneh sekali? “ ujar Kendrick seraya mematikan televisi yang menyala.


    “ Aneh? Aku aneh? Apanya Ken? “ Beatrice menggaruk – garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal itu.


    “ Iya kamu aneh! “ dengan usil Kendrick mencolek hidung Beatrice yang cukup mancung itu dengan jari telunjuknya.


    “ Kendrick! “ bentak Beartice.


     “ Apa? Kenapa berteriak? “ Kendrick terkaget dengan respon Beatrice baru saja.


     “ Kenapa kamu seenaknya menyentuhku? Mulai dari rambut, tangan, hidung, dan tadi! “ Beatrice urung melanjutkan kalimatnya, saat ia teringat kejadian di Paviliun. Sesaat ia merasa malu, ia mengutuki dirinya sendiri kenapa tidak merespon Kendrick dengan kemarahan sejak tadi.


     “ Apakah kamu marah Be? Aku meminta maaf karena tadi aku benar – benar terbawa suasana, tapi untuk memegang rambutmu, menggandeng tangan mu, bukan kah orang yang berteman wajar melakukan hal itu semua?“ sambung Pria itu lagi.


    “ Minggir, tidak ada laki – laki dan perempuan yang berteman dengan tingkah seperti itu! “ dengus Beatrice dengan sebal. Wanita itu menendang ujung kaki Kendrick dengan pelan, mengisyaratkan agar Kendrick menyingkir dari sofa.


    “ Minggir Ken, sini remote nya! “ Beatrice merebut remot yang digenggam oleh Kendrick dan kembali menyalakan televisi.


     “ Jangan marah Be aku tidak akan mengulanginya lagi. “ ujar Kendrick penuh penyesalan. Beatrice hanya diam tidak memberikan tanggapan apapun, Beatrice tidak berharap sentuhan – sentuhan itu hanya berarti sebagai sebuah pertemanan. Beatrice mengharapkan lebih dari sebuah pertemanan, ia benar – benar ingin menjadi istri Kendrick sungguhan bukan hanya sebatas sandriwara.


    “ Jangan tidur terlalu malam ya Be. “ pesan Kendrick. Pria gagah itu segera memadamkan lampu kamar kemudian meluruskan tubuhnya diatas ranjang.  Sementara pikiran Beatrice mengembara jauh kedalam hatinya yang sudah benar – benar jatuh pada Kendrick.

__ADS_1


    “ Aku mengininkan lebih Ken, aku menginginkan hatimu dan aku sangat menyukaimu. “ gumam Beatrice sangat pelan, hanya terdengar oleh dirinya sendiri.


     “  Bodoh sekali aku, mengapa aku bisa menyukaimu, mengapa harapanku terlalu tinggi. Aku bukan selera Kendrick, aku hanya akan melukai diriku sendiri. Dasar perempuan bodoh! “ Beatrice mengutuki dirinya sendiri sambil memukul kecil kepalanya sesaat setelah ia menyadari bahwa ini tidak seharusnya terjadi.


     “ Ah sudahlah “ gerutu Beatrice sambil menjejakkan kakinya pada lengan sofa. Pikirannya semakin mengembara, angan – angannya pada Kendrick semakin tak dapat ia kendalikan hingga akhirnya ia terlelap.


***


    Pagi harinya Beatrice menyipitkan matanya saat bangun dari tidur lelapnya semalaman, berkas - berkas cahaya matahari menerpa paras ayunya. Semilir angin menerobos masuk dari jendela kaca yang saat itu sudah terbuka lebar hanya tertutup oleh vitrase tipis berwarna putih. Beatrice menarik selimutnya ia merasakan kenyamanan tertinggal dipunggungnya, hingga ia menyadari jika ia sudah berada diatas ranjang.


    “ Selamat pagi Beatrice “ sapa Kendrick yang baru saja masuk kedalam kamar. Pria itu melepaskan kaos tipisnya memamerkan cetakan dada dan perutnya yang terlihat sempurna, tampak jika dia baru saja kembali dari berolahraga.


    “ Kenapa aku di ranjang Ken? “ tanya Beatrice penasaran.


    “  Aku sudah bilang Be, aku akan merasa bersalah jika kamu tidur disofa seperti semalam. Jadi aku memindahkan mu ke atas ranjang. “ Kendrick menjawab santai, ia kemudian meneguk sebotol air yang ia bawa dari luar.


    Beatrice hanya diam dan memasang wajah kesal namun dalam hatinya berlonjak kegirangan, ia senang  Kendrick membawanya ke tempat tidur. Semakin hatinya berdesir, semakin ia menyukai Pria tampan itu, dan semakin ia ingin memiliki Kendrick sebagai pasangannya yang sungguhan.


    “ Apa kamu menggendongku Ken? “ tanya Beatrice lagi.


    “ Lalu apa mungkin aku menyeret mu? “ jawab Kendrick sambil masuk ke dalam kamar mandi. Beatrice tersenyum kecil mendengar jawaban laki – laki itu, namun ia kembali tersentak pada angannya itu bahwa ia tidak seharusnya jatuh cinta pada Kendrick.


    “ Jika begini terus aku akan semakin menyukai mu Ken “ Beatrice bermonolog pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2