
Setelah acara pesta usai seluruh anggota keluarga Kendrick dan Beatrice kembali ke kamar mereka masing – masing di hotel bintang lima yang sama dengan lokasi ball room tempat acara pernikahan itu berlangsung. Beatrice dan Kendrick pun berjalan menuju kamar yang telah disiapkan khusus untuk pengantin baru, jarak kamar dengan ballroom cukup jauh membuat Beatrice sedikit kewalahan. Melihat Beatrice kewalahan berjalan dengan gaun yang ternyata cukup berat itu, Kendrick tergerak untuk membantu mengakat bagian ekor gaun Beatrice.
“ Apa yang kamu lakukan Ken “ Beatrice kaget saat mendapati Kendirck menyingkap bagian bawah gaun yang ia kenakan.
“ Membantu mu berjalan Be! “ jawab Kendrick sedikit kesal.
Tiba – tiba Beatrice menghentikan langkahnya, kemudian mencengkeram tangan Kendrick cukup kuat. Beatrice menyibakkan sedikit keatas gaun yang ia kenakan, lalu perlahan melepaskan sepatu hak tinggi yang membungkus indah kaki mungilnya.
“ Akhirnya aku lepas dari penderitaan, sepatu indah belum tentu nyaman rupanya ya Ken ? “ gumam Beatrice terlihat sangat lega.
“ Bukan kah kamu sendiri yang memilih sepatu itu ? “ dengus Kendrick sebal. Sementara Beatrice hanya terkekeh mendengar jawaban Kendrick baru saja.
Dari kejauhan Ayah dan Ibu Beatrice melihat pengantin baru itu berjalan beriringan, mereka melihat sisi baru Kendrick yang ternyata terlihat lembut saat menghadapi Beatrice. Beberapa orang yang melewati pasangan baru itu juga terlihat sangat kagum akan sikap Kendrick yang gentle karena mau membantu Beatrice .
Setiba nya dikamar, mereka berdua mendapati kamar yang telah di dekor dengan indah layaknya kamar pasangan pengantin sungguhan. Sepasang angsa yang dibuat dari handuk diletakkan dengan manis diatas ranjang, sementara disisi kanan kiri meja dipasang bunga – bunga mawar segar senada dengan bunga yang ada diruangan pesta. Diatas meja kaca terdapat satu botol wine dengan dua buah gelas kaca lengkap beserta kudapannya.
“ Wuaah “ ucap Beatrice heran.
“ Apakah kamu selalu heran begitu Be dengan hal – hal baru ? “ jawab Kendrick sedikit sinis.
“ Makhlumi saja Ken, bahkan aku membeli sepatu seharga satu tahun gajiku juga baru sekali ini setelah aku mengenalmu “ balas Beatrice, sementara Kendrick hanya menggeleng – gelengkan kepalanya mendengar perkataan Beatrice.
Beatrice kemudian menjatuhkan dirinya diatas sofa disamping meja kaca, ia merasakan seluruh tubuhnya sangat pegal. Padahal seharian ia hanya duduk dan berdiri, berjabat tangan dan tersenyum namun tenaga nya terasa habis terkuras. Melihat Beatrice melepas lelah diatas Sofa, Kendrick segera membuka texudo nya, melepaskan dasinya dan perlahan ia membuka kancing kemeja nya.
“ Ken? Apa yang sedang kamu lakukan? “ tanya Beatrice tergagap dengan nada curiga sekaligus takut saat melihat tingkah Kendrick.
“ Hahaha, aku mau mandi Be. Sudahlah jangan pernah berharap lebih “ Kendrick mengernyitkan dahinya kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Ting...tong.. Ting tong..
Sesaat terdengar suara bel dibunyikan, dengan gontai Beatrice berjalan membuka kan pintu. Terlihat berdiri disana wanita yang ternyata adalah anggota Tim Make Up yang sedari tadi pagi membantu Beatrice bersolek.
“ Nyonya mari ke kamar sebelah, akan kami bantu membersihkan riasan dan berganti baju sekaligus mencuci rambut Nyonya “ ucap wanita yang tadi menekan bel pintu.
“ Oh Baiklah, aku terselamatkan “ wanita itu kemudian membantu Beatrice berjalan menuju kamar yang dimaksud.
__ADS_1
Sesampainya disana Beatrice mendapatkan bala bantuan, mulai dari melepaskan gaun, menghapus riasan, membersihkan kuku, bahkan mencuci rambut. Sesudahnya Beatrice segera berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Bahkan mereka telah menyediakan air hangat pada bathtub disana. Tak lama Beatrice membasuh tubuhnya, ia merasa lebih relax dan kelalahan yang tadi nya bergelayut diseluruh tubuhnya perlahan hilang.
“ Terima kasih atas bantuannya kakak – kakak semua “ ucap Beatrice polos sesaat sebelum meninggalkan kamar tersebut untuk kembali ke kamarnya.
Ting tong.. Ting tong..
Beatrice menekan bel pintu kamarnya, karena ia lupa membawa kunci saat keluar dari kamar tadi. Tak lama Kendrick membuka kan pintu untuk Beatrice, segera gadis mungil yang hanya mengenakan handuk kimono itu melesat kedalam kamar.
“ Kamu dari mana ? “ tanya Kendrick seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“ Dari kamar sebelah, mereka menolongku membersihkan diri Ken “ sambung Beatrice yang duduk berjongkok seraya mengaduk – aduk isi kopernya mencari pakaian.
“ Cari apa sih? “ Kendrick ikut penasaran, ia pun mendekat kan tubuhnya ke arah Beatrice.
“ Astaga “ Beatrice tersentak mendapati Kendrick yang jaraknya sangat dekat dengannya. Diliriknya tubuh kekar Kendrick yang saat itu tidak tertutup oleh baju, ia hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
“ Kendrick pakailah pakaian mu! “ teriak Beatrice seraya berlari ke kamar mandi.
“ Siapa tadi yang menekan bel? Aku jadi berlarian sebelum berganti pakaian gara – gara kamu menekan bel dari luar Beatrice “ teriak Kendrick dari balik pintu luar kamar mandi.
Sesudah berganti baju, Beatrice segera keluar dari kamar mandi, dilihatnya Kendrick belum berpakaian duduk diatas ranjang sambil memainkan HP nya. Sementara Beatrice terlihat seperti orang bersiap tidur, dengan setelan celana panjang dan kaos putih polos lalu seketika merebahkan diri diatas sofa.
Sesaat terdengar HP Beatrice berdering, segera ia mencari sumber suara karena kebetulan seharian ini dia tidak sempat membuka Hpnya. Beberapa saat ia hanya memandang layar HP nya tanpa memberikan respon apapun, setelah menghela nafas segera ia menjawab panggilan itu.
“ Halo, Rigel? “ sapa Beatrice sedikit ragu – ragu saat menjawab panggilan tersebut.
“ Halo Be, apa kabar mu? “ jawab Pria dari seberang telepon.
“ Baik Gel, bagaimana dengan mu ? “ tanya Beatrice kaku, dalam hatinya masih mengganjal peristiwa waktu lalu saat Rigel ingin memutuskan pertemanan dengannya.
“ I’m good Be. Aku menelpon hanya karena ingin memberitahumu Beatrice kalau aku sudah tidak bekerja lagi di Basanta. Aku mendapatkan pekerjaan baru, tidak jauh dari tempat mu berada “ ucapan Rigel membuat Beatrice tercengang.
“ Apa? Kenapa Gel? Apakah ada masalah disana? Lalu memang kau tahu aku dimana? “ cecar Beatrice pada temannya itu.
“ Aku hanya ingin mengikuti mu Be, beberapa waktu lalu aku bertanya pada Kath, ternyata kau pindah ke kota itu. Aku akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan disana “ Rigel menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
“ Tapi kenapa Gel ? “ Beatrice masih mencecar, ia merasa bersalah pada Rigel. Hingga detik ini ia belum memberi tahu Rigel bahwa ia sudah menikah.
“ Be, maafkan aku karena kesalahan ku waktu itu. Aku hanya belum bisa menerima penolakanmu waktu itu Be, aku hanya ingin berusaha meluluhkan hati mu “ Rigel masih kekeh dengan perasaannya pada Beatrice.
Beatrice segera beranjak dari duduknya, kemudian ia hendak berjalan menuju arah balkon di dekat sofa. Beatrice sedang berusaha mencari privasi, ia ingin menjelaskan segala nya pada Rigel. Ia ingin agar Rigel berhenti berharap padanya.
“ Mau ke mana? Bicara disini saja, sudah malam udara dingin tidak baik untuk tubuhmu. “ Kendrick meraih tangan Beatrice dan mencegahnya agar ia tidak keluar dari kamar.
“ Apakah kau sedang bersama seseorang Be? “ tanya Rigel dari sambungan telepon, ia mendengar sekilas suara pria sedang bersama Beatrice.
“ Iya Gel “ Beatrice menjawab singkat. Sementara Kendrick mendorongnya pelan agar Beatrice tetap duduk di sofa.
“ Oh, maaf aku mengganggu mu Be. Jika begitu aku hubungi kau setibanya aku disana nanti. Good night Beatrice “ belum sempat Beatrice menjawab apapun Rigel sudah menutup sambungan teleponnya.
“ Pria di lift? “ tanya Kendrick to the point. Beatrice hanya mengangguk, ia sedikit kesal pada sikap Kendrick yang kurang menghargai privasinya.
“ Jangan lupa Be, kamu wanita bersuami. Jangan terlalu gegabah saat kamu dekat dengan seseorang, karena tidak akan mudah bagi kita untuk selamanya bersembunyi dari dunia “ pesan Kendrick memperingatkan. Kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk segera mengganti pakaiannya.
“ Hah, aku tahu Ken, ini babak baru yang tidak mudah “ jawabnya mencibir dengan suara pelan agar Kendrick tidak mendengarnya.
“ Be, aku tidak akan pernah melarangmu dekat dan berteman dengan siapapun. Hanya tolong bersabarlah hingga beberapa saat Be, selama kita menikah “ terdengar suara Kendrick setelah keluar dari kamar mandi membuyarkan lamunan Beatrice. Ia hanya mengenakan celana pendek diatas lutut dan kaos polos putih yang sekilas mirip dengan yang Beatrice kenakan.
Beatrice sedikit merasa salah tingkah saat melihat pria tampan yang berstatus suaminya itu, karena ia tidak pernah melihat Kendrick mengenakan pakaian seperti itu sebelumnya. Lalu pria itu justru menghampiri Beatrice dan duduk disampingnya.
“ Be, meski kita tidak memiliki kesepakatan yang pasti mengenai lama nya pernikahan ini, aku berharap kita bisa bekerja sama seperti teman bahkan sahabat. Aku tidak ingin kita saling tertekan dengan sikap satu sama lainnya Be, aku berharap kita bisa menjadi tim yang baik Be. “ sambung Kendrick lagi.
“ Aku akan berusaha semampu ku Ken, karena menghadapi mu itu sungguh tidak mudah. Bahkan terkadang kamu marah – marah tanpa sebab, kamu juga bilang kita harus saling menghargai privasi satu sama lain “ Beatrice meluapkan perasaannya, sementara Kendrick hanya diam.
“ Be, jangan marah, ayo kita mulai lagi dari awal. Mari kita berteman dengan batas – batas pertemanan seperti pada umumnya. Ya? “ ujar Kendrick memohon.
“ Ah sudahlah, aku lelah Ken, minggir aku mau tidur “ Beatrice mendorong tubuh Kendrick agar ia bangun dari duduknya, namun ia tetap tak bergerak.
“ Mau wine Be? “ tanya Kendrick mengabaikan perintah Beatrice. Mata Beatrice memelototi Kendrick, seolah ia sedang memarahinya.
“ Minum saja sendiri Ken, aku tak pernah berniat mencobanya “ Beatrice beranjak dari Sofa, kemudian ia mengambil bantal dari ranjang dan meletakkan pada sisi sofa.
__ADS_1
“ Awas, pindahlah Ken, aku mengantuk “ Beatrice menendang kaki Kendrick pelan, lalu pria itu pindah ke sisi sofa yang lebih kecil. Lalu Beatrice segera menjatuhkan tubuh mungilnya, meringkuk memunggungi Kendrick yang masih duduk disana dan meletakkan bantal menutupi sebagian tubuhnya.
“ Jangan lupa matikan lampu “ ucap Beatrice dari bawah bantal.