
Matahari sudah menerobos dibalik tirai yang sedikit tersingkap menutupi jendela kaca diruang baca. Beatrice menarik kain yang membungkus tubuhnya, kepalanya bertumpu dengan nyaman pada bantal lembut yang ada dibalik tengkuknya.
Kring.. Kring.. Kring
Beatrice terperanjat mendengar HP nya berdering dengan cukup nyaring, segera ia meraih HP yang tergeletak sembarangan diatas meja.
“ Hmm, halo. “ sapa nya pada seseorang yang berbicara diseberang.
“ Kak jangan lupa, barang – barang akan tiba ke kedai nanti sore. “ suara Orion menyadarkan Beatrice dari kantuknya.
“ Oh okay Rion, terima kasih telah mengingatkanku. Setelah mengunjungi rumah Ibu Kendrick aku akan segera menyusul ke kedai.“ Sesaat ia mengakhiri percakapannya dengan Orion yang sudah sibuk membantu renovasi di kedai kopi milik Beatrice.
Beatrice meletakkan HP nya pada sisi sofa kemudian mengamati blanket abu – abu yang menghangatkannya, lalu beralih pada bantal nanofiber yang nyaman mengganjal kepalanya. Ia ingat semalam ia tidak membawa apapun saat melarikan diri dari Kendrick. Beatrice tidak ambil pusing, ia segera keluar dari ruang baca. Hari itu sudah pukul sembilan pagi, ia tahu persis Kendrick sudah meninggalkan rumah.
Dengan pelan Beatrice membuka pintu kamarnya, seperti dugaannya memang Kendrick sudah berangkat. Ia segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, ia berencana berkunjung ke rumah mertuanya. Sesudah bersiap Beatrice segera menuju ruang makan, kedua asistennya masih berada disana.
“ Selamat pagi Bi, pukul berapa Kendrick berangkat? “ ucap Beatrice sambil meraih kursi.
“ Tadi Tuan berangkat pukul lima pagi Nyonya. “ jawab Bibi Inah sambil meletakkan omelet keatas piring Beatrice.
“ Apakah bibi yang memberiku selimut dan bantal semalam? “ tanya Beatrice pada kedua asistennya itu.
“ Selimut dan bantal apa Nyonya? “ Bibi Inah bertanya dengan bingung.
“ Iya selimut dan bantal apa Nyonya?” Bibi Rasi menimpali.
“ Oh bukan, tidak, sepertinya aku bermimpi. “ Beatrice berbohong.
“ Apakah Kendrick? Atau Laura? Atau Dami? “ bisiknya dalam hati.
“ Tapi Laura atau Dami pasti tidak tahu kalau aku tidur disana, mereka ada dikamar bawah. Apa Kendrick? Ah tidak mungkin! “ Beatrice masih bermonolog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
***
Sesudah menyantap habis sarapannya Beatrice mengemas kue – kue yang sudah ia bungkus plastik kedalam stoples kaca bening. Ia berencana membawa kue itu ke rumah Ibu Kendrick, ia ingin Ibu mertuanya mencicipi hasil olahannya. Beatrice juga membagikan beberapa pada Bibi Inah dan Bibi Rasi, mereka menyukai cookies buatan nya itu.
“ Bibi aku pergi dahulu ya, aku akan mengunjungi Ibu Kendrick. Aku paling pulang malam jadi tidak perlu membuat makan siang atau makan malam buatku. “ pamit Beatrice saat hendak meninggalkan rumah.
“ Nyonya, tadi Tuan berpesan agar memasak beberapa makanan karena Tuan akan kembali sebelum jam tujuh malam. “ Bibi Rasi menyahut Beatrice yang masih berdiri diambang pintu.
“ Oh begitu, okay Bi. Masak yang diminta Kendrick saja. “ Beatrice menutup pintu kemudian menghilang dari pandangan para asistennya.
Tidak lama berkendara dengan bus kota, Beatrice sudah tiba dihalaman depan rumah orang tua Kendrick. Wanita itu segera menekan bel yang ada di dekat pagar dan mendekatkan wajahnya pada layar intercom disana.
“ Halo Bibi, ini Beatrice. “ ucapnya saat melihat wajah Bibi Nem dilayar intercom.
“ Oh Nyonya Beatrice, silahkan masuk. “ jawab Bibi Nem dari dalam rumah. Pagar otomatis terbuka, Beatrice segera menerobos masuk kehalaman rumah. Diteras rumah mewah itu terlihat Ibu Kendrick sudah menunggunya.
“ Kenapa tidak minta dijemput saja sih Beatrice? “ seloroh Ibu Kendrick sambil memeluk anak menantunya itu.
“ Pasti kamu naik bus ya Beatrice? “ sambung Ibu Kendrick lagi.
“ Tidak, tapi Ibu ini sudah mulai mengenal mu Beatrice. Ayo masuk, bagaimana honey moon nya? Sudah berusaha bikin cucu buat Ibu? “ bisik Ibu Kendrick sambil memeluk lengan Beatrice.
“ Hahahah, tapi berkat Ibu dan Kendrick, Beatrice menikmati semuanya Bu. Villa nya sangat indah, pantainya juga bagus. “ Kembali Beatrice terbahak mendengar pertanyaan Ibu mertuanya itu kemudian ia menjawab dengan riang.
“ Oh iya Bu, ini cookies buatan Beatrice. “ wanita cantik itu kemudian mengulurkan toples kaca yang ia bawa dari rumah Kendrick tadi.
“ Beatrice kamu ini sempat sekali membuat makanan begini, lihat Ibu mau mencobanya. “ wanita paruh baya itu segera mengambil satu buah cookies dari dalam toples. Ia menggigit perlahan kue kering bertaburan choco chips itu.
“ Hmmm, crunchy dipinggirnya Beatrice tetapi soft sekali ya bagian tengahnya. Enak! Layak deh masuk ke kedai kopi kamu nanti. “ puji Ibu Beatrice.
“ Sungguh bu? “ tanya Beatrice lagi.
__ADS_1
“ Iya enak, sungguh Beatrice. “ Ibu Kendrick meyakinkan menantunya.
“ Syukurlah bu, Beatrice sudah mempersiapkan semua kebutuhan kedai kopi bu. Perlengkapan kedai akan datang sore ini, dan mungkin minggu depan kedai kopi Beatrice sudah bisa beroperasi. Minggu ini Beatrcie dan teman – teman akan berisap memilih menu dan kegiatan promosi. “ sambung Beatrice lagi.
“ Wah, kamu sudah menyiapkan semuanya sendirian Beatrice? Ada yang bisa Ibu bantu? Apa yang Beatrice perlukan? “ Ibu Kendrick menimpali.
“ Ibu sudah banyak membantu Beatrice, dan kebetulan untuk saat ini semuanya sudah cukup Bu. “ Beatrice terlalu sungkan pada Ibu mertuanya, ia merasa sudah banyak menerima kebaikan dari mereka.
“ Jangan pernah sungkan untuk mengatakan apapun yang kamu perlukan ya Beatrice. Oh iya, Kendrick sepertinya masih sibuk sekali ya? Proses pembuatan film nya apakah belum selesai? “ dengan lembut Ibu Kendrick menggenggam tangan Beatrice.
“ Sepertinya masih Bu, karena belakangan Kendrick pulang sangat malam dan pergi sebelum Beatrice bangun. Hehehe. “ sambil terkekeh Beatrice menjawab Ibu Kendrick.
“ Tapi kalian baik – baik saja kan? Kata Bibi Rasi, semakin hari Kendrick terlihat semakin happy. “ Ibu Kendrick tertawa gemas sambil memandang wajah mungil Beatrice.
“ Happy? Happy bagaimana? Sikapnya sangat menyebalkan! “ gerutu Beatrice didalam hati.
“ Tenang saja Ibu, kami baik – baik saja. “ Beatrice bersuara dan berusaha meyakinkan Ibu Kendrick.
Setelah beberapa saat bercengkerama di ruang keluarga, Ibu Kendrick melenggang ke halaman belakang rumah dan Beatrice mengikutinya. Ia melihat seekor anjing poodle berbulu cokelat sangat menggemaskan berada didalam bak karet berwarna putih.
“ Ya ampun Ibu, Beatrice baru tahu kalau Ibu memelihara anjing selucu ini. “ ucap Beatrice dengan gemas saat melihat anjing yang terlihat seperti boneka itu.
“ Kendrick belum cerita ya? Ini namanya Choco dia dulu anjing kesayangan Kendrick karena dia pemberian Regina. Tapi setelah mereka memutuskan hubungan, Kendrick bersi keras mau membuangnya Beatrice, tapi Ibu tidak tega. Jadi dia kami buatkan tempat kecil di rumah belakang. “ dengan lembut Ibu Kendrick memandikan anjing berukuran kecil itu.
“ Oh begitu Bu, sayang sekali kalau anjing selucu ini harus dibuang. “ Suara Beatrice terdengar bergetar, ia sedikit merasa kecewa karena itu adalah anjing pemberian Regina.
“ Iya, kasihan melihatnya kalau dibuang. Aduh Beatrice kamu jadi ikut basah memandikan Choco. “ mereka berdua terbahak saat anjing lucu itu menggoyangkan tubuhnya dan air terciprat ke segala arah.
***
“ Bu Beatrice pamit ya, maaf Beatrice belum bisa menginap ya Bu. Beatrice masih mengejar target menyelesaikan kedai kopi dahulu Bu. “ pamit Beatrice pada Ibu mertuanya.
__ADS_1
“ Tidak apa – apa Beatrice, Ibu bisa mengerti. Ya sudah sana hati – hati, biar diantarkan Pak Man, oh iya jadi kapan supir bisa mulai bekerja pada mu Beatrice? “ Ibu Kendrick menghusap rambut Beatrice lembut.
“ Ibu tenang saja, nanti kalau sudah waktunya Beatrice memerlukan supir pasti akan mengatakannya pada Ibu. Kalau begitu Beatrice pergi ya Bu, Ibu jaga kesehatan ya salam untuk Ayah. “ kemudian wanita cantik itu masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya di halaman parkir, dan menghilang setelah mobil keluar dari halaman rumah.