Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Hei, Cium Aku Lagi


__ADS_3

"Badanku juga perlu kamu kompres."


"Eh? Maksudmu?" Renata heran detik itu juga.


Tuan J langsung membuka kardigan dan kaos putihnya. Membuat Renata bisa melihat memar samar di bagian dada dan pundak suaminya.


Bola mata Renata sontak membulat, karena kaget sekaligus panik, "I-itu... badanmu, hiks..." air mata kembali membalut permukaan bola mata Renata.


Dengan terisak pelan, tangannya bergerak memeras handuk.


Ternyata Alvaro tidak hanya menyerang bagian wajah.


"Hei, kenapa kamu menangis?" tanya Tuan J panik sendiri.


Ditariknya bahu Renata, yang membuat handuk yang dipegang tergelincir masuk ke dalam air.


"Memar kamu banyak sekali, aku sedih melihatnya."


Renata mengaku jika dirinya sangat cengeng, dan dia membenci hal itu. Renata tidak suka dianggap lemah. Namun, saat melihat luka memar Jefra-nya membuat hati Renata seakan tercubit kuat. Sakit teramat sangat dia rasakan.


"Aku baik-baik saja. Jangan menangis, Dear," Tuan J mengusap wajah Renata. Mencium kelopak mata sang istri, dan menambah kecupan di kening yang berlangsung cukup lama.


Setelah tangis Renata usai, Tuan J mengusap pipi kemerahan itu.


"Yasudah, tidak perlu mengompres badanku jika membuatmu semakin menangis."


Renata menggeleng, "Tidak apa-apa. Sini aku kompres."


"Yakin?"


Renata mengangguk mantap.


Kemudian Renata beringsut, untuk kembali meraih beberapa es baju dan membungkusnya dengan handuk. Lalu menekannya di dada dan pundak yang terdapat memar.


Sementara Tuan J, meletakkan kepalanya di bahu Renata, menghirup aroma yang selalu memenangkan jiwa dan pikirannya.


Ketika Renata ingin mengoleskan salep, Tuan J mengangkat bahunya.


Setelah dioleskan salep oleh sang istri. Tuan J tiba-tiba saja berbaring dengan paha kecil yang menjadi bantalan.


"Mukaku belum kamu pakaikan salep," ucap Tuan J seraya memejamkan mata. Seolah pasrah dengan apa yang dilakukan sang istri selanjutnya.


Renata terkekeh pelan melihat tingkah laku menggemaskan suaminya. Sungguh pintar dalam mencuri kesempatan untuk bermanja-manja.


Kemudian Renata mulai mengoleskan salep pada wajah tampan yang sedang luka-luka itu. Sungguh terlihat kasian sekali suami tercintanya.

__ADS_1


"Kamu sangat jago menggunakan pistol, belajar dari mana?" Renata bertanya setelah selesai mengoleskan salep, dielusnya rambut hitam Tuan J dengan lembut.


"Aku tidak perlu belajar menggunakan itu," jawab Tuan J terkesan menyombongkan diri.


Renata terdiam. Tidak dulu atau sekarang, Jefra tidak lepas dari senjata api. Tiba-tiba rasa sesak memenuhi hatinya, ketika teringat penyebab Jefra meninggal dulu. Suaminya itu gugur dalam misi karena mendapat sebelas luka tembak.


Tes


Setetes air mata jatuh di pipi Tuan J, yang membuat mata hitam itu terbuka. Seketika terkejut tatkala melihat Renata kembali menangis.


Tangan Tuan J terulur untuk meraih pipi Renata, dia dapat melihat tatapan sang istri seperti menyimpan kesedihan yang teramat dalam, matanya begitu sendu.


"Kenapa menangis lagi?"


Bukannya menjawab, Renata justru menundukkan wajah. Dan saat itu juga, bibir keduanya bertemu dalam sebuah ciuman. Bibirnya bergerak pelan, menjilat atas dan bawah bibir suaminya itu.


Tuan J terdiam kaku. Dia bisa merasakan ciuman lembut Renata ada kesedihan. Dan terasa aneh karena ciuman mereka terasa asin. Namun, Tuan J tidak kuasa untuk menolak. Tangannya perlahan naik untuk menyusup ke tengkuk Renata dan menariknya. Ciuman ini. Sangat di sayangkan untuk lepas dari bibir mereka.


Karena pasokan udara yang menipis, Renata melepas ciumannya.


Bola mata berwarna hitam dan cokelat beradu, dalam satu tatapan.


"Kamu benar-benar, membuatku khawatir," ucap Renata dengan mengelus rambut hitam suaminya.


Tuan J beringsut memeluk pinggang Renata, menyembunyikan wajahnya di perut ramping istrinya itu.


Renata tersenyum dibuatnya. Dan tanpa dia tahu, sang suami juga tengah mengembangkan senyum karena senang telah dikhawatirkan olehnya.


"Bagaimana perasaan kamu saat bertemu Ayahmu?" tanya Renata kemudian.


Mendengar pertanyaan itu, Tuan J membalikkan tubuhnya dan kembali tidur terlentang. Dan tentunya sudah kembali berekspresi datar. Sungguh padai dalam menyembunyikan perasaan


"Dulu aku sangat takut ketika bertemu dengannya. Bagiku dia adalah monster."


Bagaimana dulu Theo memukulinya seperti binatang, kerap kali menjadi mimpi buruk. Tidak heran jika Tuan J menganggap Ayahnya monster.


Lalu Tuan J kembali mengingat keadaan Theo yang berada di kursi roda, "...Tapi aku sudah tidak merasa takut lagi. Monster itu sudah tidak berdaya sekarang. Dia sudah tidak bisa memukuliku lagi seperti dulu."


Selama ini Tuan J mencoba melupakan masa kecilnya yang buruk. Namun, semakin dia berusaha melupakannya, justru semakin hadir dalam pikiran dan mimpi.


Kenyataan, mencoba melupakan bukanlah pilihan yang tepat. Karena lebih baik menerima kenyataan. Berdamai dengan takdir demi kebaikan hati.


"Tahukah kamu apa itu kunci bahagia?" Renata bertanya dengan jemari yang bergerak seakan mengukir alis tebal Tuan J.


"Apa?" Tuan J langsung to the point.

__ADS_1


Renata mengulum senyum, "Jika ingin hidup bahagia, jangan biarkan masa lalu mengganggu ketenanganmu. Masa lalu buruk hanyalah sebuah kenangan."


"Layaknya jarum jam yang seakan akan berputar ke kiri. Namun, ingatlah bahwa jarum jam selalu berputar ke kanan, dia tidak mungkin bisa berputar ke kiri. Masa lalu tidak mungkin datang kembali untuk menyakitimu. Akan lebih baik, menjadikan masa itu menjadi suatu pelajaran berharga agar bisa menjalani hidup lebih baik."


Tuan J hanya mengangguk mendengar apa yang dikatakan Renata. Namun, perkataan itu akan disimpannya baik-baik.


Memang sudah saatnya Tuan J berdamai dengan bayang-bayang masa lalunya.


Kini, datanglah Renata yang telah mengetahui isi hati terdalamnya. Perlahan beban yang dia pendam selama ini, terangkat sedikit demi sedikit.


"Hei, cium aku lagi."


Renata tergelak mendengar permintaan sang suami. Bisa-bisanya minta cium di saat wajah babak belur seperti itu.


Namun, saat Renata ingin menundukkan wajahnya tiba-tiba ponselnya berdering.


Drett... Drett...


"Ck," Tuan J berdecak kesal.


Masih dalam posisi Tuan J yang tidur berbantal pahanya, tangan Renata terulur mengambil ponsel miliknya yang berada di meja──bersebelahan dengan ponsel milik Tuan J.


"Dari Kakakku," ucap Renata, seraya menunjukan layar ponsel yang menampilkan nama Zayn pada Tuan J.


"Hmm."


Kemudian Renata mulai memencet tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


"Halo, Kak Zayn."


[ Lama sekali mengangkatnya, kamu sedang apa? ]


Bola mata Renata bergerak ke bawah untuk melirik sang suami yang masih betah pada posisinya, "Aku sedang bersama suamiku."


Tuan J yang kesal karena mendapatkan gangguan, seketika senang karena Renata memanggilnya 'suamiku'. Dipeluknya kembali pinggang Renata.


[ Apa kamu sudah pulang? Kenapa tidak mengabari Kakak? ]


"E-eh, baru saja aku ingin mengabari Kak Zayn."


Badan Renata menggeliat tatkala Tuan J menyingkap kemejanya, dan menciumi perutnya. Dia mencoba mendorong kepala yang ditumbuhi rambut hitam itu, tapi sang suami hanya bergeming. Masih tetap melancarkan aksinya.


Benar-benar nakal!


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2