
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Renata bersiap-siap. Gadis itu tampil manis dengan midi dress berwarna lilac dan rambut yang diikat high ponytail.
Sesampainya di ruang tamu, Renata melihat Tuan J yang sedang berbincang dengan Zayn.
"Harus sudah pulang sebelum jam sepuluh malam," Zayn berkata dengan nada yang terdengar mengancam.
Tuan J memutar bola mata, "Cinderella saja sampai jam dua belas malam."
"Jangan samakan Adikku dengan Cinderella," sengit Zayn.
"Jika dia Cinderella makan kau adalah Ibu tirinya," Tuan J tidak kalah sengit.
"Aku Kakak kandungnya bukan Ibu tirinya!"
"Tapi kau lebih cocok menjadi seorang Ibu-ibu karena begitu cerewet."
"Kurang ajar kau, Jefra Tjong!"
Renata terkekeh melihat betapa akrabnya mereka.
"Aku sudah siap," ucap Renata menginterupsi, yang membuat kedua pria itu beralih menatapnya.
Tuan J tidak berkedip dibuatnya, bukan karena apa-apa, ini adalah kali pertama baginya melihat leher jenjang Renata karena biasanya gadis itu selalu menggerai rambut atau hanya mengikat setengah.
Kenapa lehernya seksi sekali?
Benar-benar pikiran seorang pria dewasa.
"Jaga pandanganmu," ancam Zayn yang melihat ke mana arah tatapan Jefra Tjong.
Tuan J menjadi agak kikuk. Bisa-bisanya dia terpaku dengan leher seorang gadis.
"Renata, sebaiknya kamu lepas ikatan rambutmu itu," ujar Zayn pada Renata yang tidak menyadari tatapan Tuan J.
"Eh, kenapa? Apa jelek?" Renata bingung seketika. Padahal dia hanya tidak ingin membuat Tuan J menunggu terlalu lama, itulah mengapa hanya mengikat ponytail rambutnya.
"Ya, jelek sekali," celetuk Tuan J, bermaksud membuat alibi karena sudah tertangkap basah oleh Zayn.
Zayn mendelik pada Tuan J. Bisa-bisanya pria itu mengatakan jika Adiknya yang manis itu jelek. Apa dia buta? Ingin sekali Zayn memberikan pukulan pada pria bermuka datar itu. Sepertinya, Zayn tidak menyadari jika dia dan Jefra Tjong sama-sama bermuka datar, alias jarang sekali menunjukan ekspresi, bisa dibilang keduanya memiliki sifat sebelas dua belas.
"Baiklah, aku akan melepasnya."
**
Jefra Tjong sudah mencatat semua yang harus dilakukannya hari ini. Pertama-tama mereka akan menonton film yang sudah direkomendasikan Arvin, katanya film itu memiliki penilaian bagus di internet. Kebetulan cuaca hari ini sangat sempurna untuk berkuda di pinggir pantai. Lalu makan di sebuah restauran mewah yang sudah dia reservasi.
Itulah kencan ala Tuan J.
__ADS_1
Semoga saja hal yang sudah disusunnya berjalan dengan lancar, dan rasa bosan si calon istri akan hilang supaya hidupnya bebas dari gangguan.
Sesampainya di gedung bioskop.
"Kenapa sepi sekali?" tanya Renata tatkala melihat gedung bioskop yang sepi, sampai-sampai hanya ada mereka berdua dan para Karyawan bioskop.
"Karena aku sudah menyewa seluruhnya."
Renata sampai tersedak napasnya sendiri, "Apa itu tidak berlebihan?"
"Aku hanya tidak ingin diganggu oleh orang lain, apalagi menonton di tengah-tengah orang banyak."
"Kalau seperti itu kenapa tidak menonton film di rumah saja?" Renata sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiran seorang Jefra Tjong.
"Ck, berisik."
Renata cemberut seketika.
Apa yang telah aku katakan? Jika seorang wanita cemberut seperti itu bukankah buruk?
Tuan J merutuki kembali mulutnya yang masih tidak bisa dikontrol. Seharusnya dia bisa menjaga mulutnya selama kencan ini berlangsung.
Kemudian mereka memasuki ruangan yang memiliki layar lebar dan susunan bangku berderet rapi ke samping dan ke atas.
"Mau duduk di mana?" tanya Tuan J yang terlihat sedang memeluk popcorn berukuran jumbo dan membawa minuman di masing-masing tangannya. Arvin mengatakan jika dia harus bersikap gentleman dengan membawakan popcorn dan minuman.
Mereka berdua langsung menuju ke kursi bagian tengah dan duduk berdampingan.
Tidak lama kemudian lampu ruangan itu mati dan mulai terdengar suara-suara menggelegar dari film yang mereka tonton. Ternyata itu adalah film horor. Oh, Tuan J tidak tahu ini. Kemudian ditatapnya teralih pada Renata yang duduk di sampingnya, wajah gadis itu terlihat pucat.
Tuan J menarik napas panjang, padahal tadi dia sudah melakukan kesalahan karena membuat Renata cemberut, sekarang justru membuatnya ketakutan. Kenapa juga Arvin merekomendasikan film horor?
Arvin, sialan. Tidak, yang membuat film inilah yang sialan.
Satu jam kemudian film itu pun berakhir, mereka berdua keluar dari gedung bioskop. Tuan J masih memperhatikan ekspresi Renata yang semakin memburuk.
Tidak apa, tenanglah. Aku akan mengembalikan suasana saat berkuda di pantai. Cuacanya juga sejuk dan cerah, pasti dia akan senang nanti.
Tuan J mencoba meyakinkan dirinya, jika apa yang telah disusunnya pasti dapat menghilangkan rasa bosan Renata, dan tidak semakin memperburuk mood gadis itu.
Oh, ayolah, ketenangan hidupnya dipertaruhkan dalam keberhasilan kencan ini.
"Setelah ini kita akan berkuda di pinggir pantai," ucap Tuan J.
"Sepertinya seru," seketika bola mata cokelat milik Renata berkilat senang.
Tuan J menjadi lega melihat ekspresi Renata yang mulai membaik.
__ADS_1
Namun.
Ketika sudah di luar gedung bioskop.
Zrashhh
Hujan.
"Ya ampun, padahal tadi langit begitu cerah. Mungkin hanya hujan sebentar," ucap Renata seraya melihat ke balik tirai hujan. Terlihat ranting-ranting pohon melenggang penuh pesona tertiup angin dan kuyup tergerai, seperti tangan penari mengikuti irama hujan.
"Sepertinya begitu," imbuh Tuan J datar.
Sial, kenapa hujan?
Tapi tidak dengan hatinya yang mengumpat.
Renata terlihat menggigil karena merasakan hawa dingin yang menusuk kulit hingga tulangnya.
Sett
Sebuah blazer menutup kepala Renata, dan itu cukup membuatnya terkejut. Tuan J memberikan blazer miliknya. Renata mendongak untuk menatap Tuan J, pria itu memang terlalu tinggi hingga Renata harus mendongak untuk sekedar menatap.
"Pakai saja," ucap Jefra dengan menatap balik Renata.
Kini Tuan J hanya memakai t-shirt putih polos berlengan panjang. Hawa dingin seperti ini memang bukanlah apa-apa untuknya.
"Terima kasih," Renata semakin merapatkan blazer milik Tuan J pada tubuhnya. Wangi citrus seperti pepohonan menyeruak dari blazer itu, wangi yang begitu dirindukan Renata.
**
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil.
Tuan J berpikir tentang rencana yang tidak berjalan baik. Seperti ada seseorang yang berniat menghancurkan hari ini, tapi pria itu mencoba berpikir positif. Kencan dengan berkendara di saat hujan mungkin mempunyai daya tarik sendiri, semoga saja Renata menyukainya.
[ Kami akan mengumumkan informasi lalu lintas. ]
Suara radio mengisi keheningan di mobil.
[ Kecelakaan beruntun terjadi akibat hujan deras yang turun tiba-tiba. Sehingga beberapa akses jalan di area tersebut telah ditutup. Kecelakaan itu terjadi di area Orchard Road, termasuk jembatan Orchard. Abbey Road, jembatan Jakevo, jembatan... ]
Seketika Tuan J membeku. Area Orchard Road adalah tempat di mana dia reservasi restauran. Artinya mereka tidak bisa makan di restauran yang sudah dipesan khusus itu. Akan sulit jika mencari tempat makan yang bagus, terlebih saat ini sedang hujan lebat. Paling-paling mereka bisa makan di restauran murah.
Tidak. Dia tidak mungkin mengajak calon istrinya makan di restauran murah. Yang ada mood gadis itu akan semakin buruk.
Ini sungguh membuat Jefra Tjong gila! Kenapa mengajak kencan seorang wanita bisa sesulit ini?
_To Be Continued_
__ADS_1