
Dua putra keluarga Tjong tengah menggila, saling memukul dan berguling.
Mau sampai kapan?
Renata, Sienna, dan Sir. Matthew yang sedang menonton bingung harus apa. Hal buruk akan terjadi jika perkelahian itu terus berlangsung.
Renata melirik pistol yang berada di bawah ikat pinggang Tuan J. Ketika tubuh Tuan J berbalik menjadi di atas, Renata langsung mengambil pistol itu.
Jika menarik salah satu dari mereka tidak membuahkan hasil, maka tidak ada cara lain untuk menghentikan kedua pria itu.
"Hentikan kalian!"
Dor! Dor!
Suara tembakan yang begitu nyaring tiba-tiba terdengar.
Renata melepaskan tembakan ke udara, dengan tangan yang tremor karena baru kali pertama memegang pistol.
Sontak kedua pria itu berhenti dan menatap Renata.
"Berhenti berkelahi! Atau aku akan menembak kalian berdua! Kalian sudah tua untuk berkelahi seperti itu!" seru Renata seraya menodong pistol, bergantian ke arah Tuan J dan Alvaro.
Sebenarnya Renata sangat takut memegang pistol! Dan juga, mana mungkin dia menembak kedua pria itu. Apalagi menembak Jefra-nya.
"Renata, kamu akan menembak aku?" Alvaro menatap tidak percaya.
"Tembak saja," Tuan J justru menantang Renata. Lalu mengelap darah yang mengalir di bibirnya.
Tuan J berdiri, tidak takut ditodong pistol oleh sang istri. Tidak seperti Alvaro yang menatap horor Renata.
Ayolah, Tuan J tahu jika kucing liarnya tidak mungkin menembaknya. Benar-benar kepercayaan diri yang pantas diacungi jempol. Atau pada dasarnya, dia memang sudah percaya pada Renata.
"Kembalikan," pinta Tuan J supaya Renata mengambilkan pistolnya.
"Ta-tapi jangan berkelahi lagi," ujar Renata dengan suara bergetar.
"Hmm," Tuan J hanya bergumam.
Kemudian Renata menyerahkan pistol itu. Dia juga tidak mau berlama-lama memegangnya.
Melihat wajah sang suami yang sudah babak belur setelah saling hajar dengan Alvaro barusan, membuat Renata menjadi ingin menangis.
Apa Tuan J juga tidak merasakan sakit lagi?
__ADS_1
Dapat dilihat jika ekspresi wajah pria itu datar, beda sekali dengan ekspresi Alvaro yang sedang meringis kesakitan di pelukan Sienna.
Namun, bukannya menyimpan pistolnya. Tuan J justru menodong Sienna dan Alvaro, serta menatap tajam seperti predator yang mengancam mangsanya.
"Sekali lagi aku akan memberi peringatan. Kalian jangan pernah muncul di kediaman keluarga Tjong lagi."
Seketika wajah Ibu dan anak itu terbelalak. Kini bukan hanya Sienna. Tapi Alvaro juga tidak boleh diizinkan untuk menapakkan kaki di kediaman keluarga Tjong lagi.
Jefra Tjong benar-benar menunjukkan kekuasaannya saat ini.
"Kamu gila?" sentak Alvaro meski merasa perih diwajahnya.
"Ya, aku memang gila! Seharusnya kau sudah tahu apa yang membuatku gila!" Tuan J menatap bengis, "Jika aku melihat kalian muncul di sini lagi, makan akan..."
Tuan J mengarahkan moncong pistol pada Alvaro, dan mulai menarik pelatuknya.
Dor!
Semua melebarkan mata, tidak terkecuali Renata.
Sebuah peluru mengarah pada Alvaro. Namun, hanya melintas dan menggores pipinya hingga mengeluarkan darah. Dan peluru itu berakhir mengenai tembok di belakang Alvaro.
Tidak, itu tidak meleset. Tuan J memang sengaja mengarahkan peluru itu ke sana. Siapa yang menyangka, jika Jefra Tjong sangat mahir menggunakan senjata api.
"...Akan aku pastikan jika peluru itu tidak hanya mengenai tembok. Tapi, kepala kalian berdua," sambung Tuan J atas perkataan sebelumnya.
Sedangkan Sienna tidak kalah takutnya. Dia kira, putranya akan benar-benar ditembak.
Selama ini, mereka kira diamnya Tuan J, karena pria itu lemah dan tidak bisa melakukan apapun. Namun, mereka melupakan jika air yang tenang dapat menghanyutkan dan menenggelamkan, begitu dalam dan berbahaya. Itulah Jefra Tjong yang sebenarnya.
Kini, Sienna dan Alvaro sudah tidak dapat mengatakan apapun lagi. Mereka terlalu takut dan shock.
"Sir. Matthew," panggil Tuan J pada si Kepala Pelayan yang sejak tadi diam menyaksikan.
"Ya, Tuan Besar," jawab Sir. Matthew.
"Kemasi barang-barang Sienna Tjong dan Theo Tjong."
Di sisi lain.
Terlihat Kakek Ashton yang ternyata sejak tadi melihat kejadian baku hantam, hingga keputusan besar yang telah diambil Tuan J. Dia sengaja tidak bergerak ikut campur, karena dia sudah terlalu tua untuk itu.
Meski Theo adalah putranya, dia tidak keberatan jika Theo pergi bersama Sienna. Karena Ashton sudah cukup kecewa dengan putranya itu. Dengan begini, dia berharap jika Theo akan menyesali perbuatannya dulu.
__ADS_1
Theo pasti akan menyesal karena lebih memilih Sienna daripada Aruna. Padahal kejayaan yang sampai sekarang keluarga Tjong dapatkan, itu semua adalah berkat bantuan keluarga Aruna.
**
Sinar matahari bersinar cerah, berdampingan dengan udara dingin yang memasuki musim salju.
Tatapan Renata terkunci pada seorang pria paruh baya yang berada di kursi roda, salah satu sisi wajahnya terlihat menurun, mulut dan matanya terkulai. Kondisi Theo lumpuh dan sulit bicara.
Merasa heran dengan wajah Theo yang tidak mirip dengan Ayah Jefra di masa lalu. Padahal wajah Aruna begitu mirip dengan Ibu Jefra di masa lalu. Kadang, Renata melupakan jika dia sedang berada di dunia novel. Ada hal yang mirip namun ada juga yang tidak.
Renata bersama dengan Tuan J dan Kakek Ashton sedang berdiri di teras depan rumah, melihat Sienna yang mendorong kursi roda Theo menuju mobil milik Alvaro.
Tatapan Renata beralih menatap sang suami yang terlihat datar. Entah apa yang sedang dipikirkan. Renata benar-benar tidak dapat membaca ekspresinya.
"Apa kamu khawatir dengan Ayahmu?" tanya Renata.
"Tidak," jawab Tuan J.
"Asal kamu tahu, suamimu memiliki hati selembut sutra. Pasti dia khawatir dengan Ayahnya," celetuk Kakek Ashton.
"Benarkah?" Renata berkedip-kedip lucu.
"Ck, Kakek jangan bicara sembarangan. Aku tidak mungkin khawatir dengan pria brengsek itu. Lagi pula dia bersama dengan istri dan putra tercintanya," sangkal Tuan J.
"Oh, lihatlah. Suamimu memang sangat suka berkata tajam dan terlihat tidak berperasaan. Tapi, isi hatinya sangat berlawanan. Apa kamu sudah tahu itu?" Kakek Ashton tidak perduli dengan sang Cucu yang menyangkal.
"Emm," Renata berpikir sejenak, lalu mengangguk, "Asisten Arvin juga pernah mengatakan itu."
"Itu memang sifatnya. Kamu harus terbiasa," ujar Kakek Ashton.
"Ya, Kakek," Renata menjawab dengan tertawa pelan.
"Nah, seperti itu. Kamu tidak usah tegang," seloroh Kakek Ashton.
"Aku tidak tegang, kok," Renata kembali tertawa.
Sepertinya, Kakek Ashton memang sengaja untuk membuat Renata tertawa. Padahal ini adalah hari pertama Cucu Menantunya tinggal di kediaman keluarga Tjong, tapi sudah disuguhkan dengan kejadian seperti ini.
Sedangkan Tuan J hanya diam saja. Bola matanya terus menyorot Theo. Ini adalah kali pertamanya bertemu Theo setelah terserang stroke.
Sudah lima tahun lamanya Theo mengidap stroke yang menggerogoti tubuhnya. Tidak heran jika sang Ayah menjadi terlihat begitu kurus dan bertambah tua.
Untuk apa aku takut padanya? Sekarang dia sudah sangat tidak berdaya.
__ADS_1
Tanpa sadar, Tuan J sudah bisa lepas dari bayang-bayang menakutkan tiap kali Theo memukulinya dulu.
_To Be Continued_