Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Bantuan Yang Berlebihan


__ADS_3

"Oh, jadi kamu yang menampar istriku," ucap Tuan J dingin.


Hal selanjutnya yang membuat Renata terbelalak sampai menutup mulut dengan kedua tangan.


Sebuah moncong pistol mengarah pada pelipis Elsa.


Jefra Tjong lah yang menodong Elsa dengan pistol, dia memang selalu membawa benda itu dibalik ikat pinggang.


Wajah Tuan J begitu datar namun terlihat tegang. Matanya menatap marah pada Elsa. Darah Tuan J seolah-olah mendidih tatkala tahu jika sang istri telah disakiti. Bahkan pria itu tidak perduli dengan keadaan wajah Elsa yang memprihatinkan.


Padahal Tuan J sendiri sangat berhati-hati dalam menyentuh Renata karena tidak ingin istrinya terluka. Tapi dengan seenaknya Elsa menyakiti sang istri yang ingin dia jaga.


Benar-benar tidak bisa dimaafkan. Wanita itu harus mati di tangannya saat ini juga.


Sementara itu, Elsa sangat ketakutan. Setelah lepas dari intimidasi Renata, sekarang justru nyawanya sedang di ujung tanduk. Karena dengan sekali gerakan jari, sebuah peluru akan menembus tengkorak kepalanya.


Benar-benar sepasang suami-istri yang mengerikan. Jika tahu begini, Elsa tidak mungkin berani mencoba menganggu mereka.


Sedangkan Renata ngeri melihat sang suami yang terlihat ingin membunuh Elsa. Dia tidak mau Elsa sampai mati.


"Sayang, jangan!" Renata meraih tangan Tuan J yang memegang pistol. Memegang lengan dan menariknya dengan hati-hati.


"Kamu tidak ingin wanita ini mati? Bukankah dia sudah menyakitimu?" desis Tuan J kesal.


"Bu-bukan! Bukan Nona Elsa yang menyakitiku, aku hanya... ter-terjatuh. Ya, Terjatuh!" Renata masih bersikukuh untuk berbohong.


Padahal dia tidak pandai untuk berbohong.


"Simpan pistol kamu lagi, ya. Jangan bermain dengan benda berbahaya," rengek Renata menarik-narik lengan Tuan J agar menyimpan senjata apinya.


Oh, Renata bahkan tidak tahu jika sang suami memiliki benda berbahaya itu. Atau dia yang tidak terlalu memperhatikan.


Tuan J menghela napas berat. Lalu menatap tajam Elsa yang terlihat sangat pucat karena ketakutan.


"Dengar itu? Dia bahkan sampai membohongi suaminya sendiri demi untuk menyelamatkanmu! Apa kamu tidak malu diselamatkan oleh orang yang kamu benci?" cibir Tuan J pelan penuh amarah.


Hati Elsa terenyuh dibuatnya.


Ya, juga.


Kenapa Renata membelanya? Bukankah dia telah berbuat jahat dan menghina Renata? Bukankah seharusnya wanita itu senang jika dia mati?


Seketika itu juga, rasa benci Elsa pada Renata menguap. Dia merasa bersalah karena telah menilai buruk wanita sebaik Renata.

__ADS_1


Sebenarnya, hal yang menimbulkan rasa benci Elsa pada Renata yakni Sienna dengan segudang provokasinya. Sienna mengatakan jika Elsa yang pantas bersanding dengan Tuan J. Tidak adalah wanita lain yang cocok selain dirinya. Sienna bahkan menjelekkan Renata sebagai pelakor.


Kemudian Elsa menatap Renata yang sedang meringis karena ketahuan bohong oleh sang suami.


"Renata, maafkan aku," ucap Elsa dengan bersungguh-sungguh.


"Ya, tida──"


Perkataan Renata yang ingin memaafkan Elsa begitu saja terhenti karena Tuan J menyela, "Apa begitu caramu meminta maaf? Berlutut padanya dan cium kakinya!"


Renata mendelik seketika. Ingin melayangkan protes namun kembali menutup mulut tatkala Tuan J memicingkan mata tajam ke arahnya.


"Tidak usah protes. Aku akan memberimu hukuman karena sudah berbohong, jadi khawatirkan saja dirimu sendiri," Tuan J berkata dengan dingin, senyum kejam yang teramat tipis terbit di bibirnya.


Renata merinding dibuatnya. Ya, dia memang harus menghawatirkan dirinya sendiri.


Sedangkan Elsa tidak memiliki pilihan lain. Dia segera berlutut di hadapan Renata. Lalu perlahan menunduk untuk mencium kaki Renata. Wanita itu sudah tidak perduli dengan harga dirinya. Karena nyawanya akan hilang detik ini juga, jika dia tidak melakukan apa yang Jefra Tjong katanya.


"Maafkan aku," ucap Elsa dengan terisak.


Setelahnya Renata langsung meraih lengan Elsa untuk membatu berdiri.


"Sudah tidak apa."


Seketika itu juga Elsa benar-benar menyesali perbuatannya.


**


Kini pasangan pengantin baru itu sudah kembali berada di kamar.


"Aduh!" pekik Renata ketika Tuan J menekan luka memarnya di bagian pipi dengan handuk kompres.


Tuan J melirik ekspresi Renata yang meringis dengan mata yang tertutup, "Ini kedua kalinya aku mengobati kamu. Kenapa kamu gemar sekali menerima tamparan?"


Ini mengingatkan, ketika Tuan J mengobati Renata yang ditampar Rendra kala itu. Pria itu mengobati Renata agar tidak membalas budi karena wanita itu sudah mengobati luka-lukanya──sehabis dipukuli Zayn.


Namun, saat ini Tuan J memiliki alasan yang berbeda. Ada sebuah ketulusan dari dalam hatinya.


Karena Tuan J sudah menyayangi Renata.


Perlahan mata indah milik Renata terbuka, dia memandang Tuan J yang tengah mengobatinya dengan ekspresi datar.


"Tidak ada orang yang gemar ditampar," Renata cemberut, "Lagi pula aku sudah membalasnya dengan dua tamparan yang lebih kencang," ucapnya membanggakan diri.

__ADS_1


Tuan J mengangguk, dia tadi juga melihat wajah menyedihkan Elsa. Ternyata sang istri bukanlah wanita lemah yang mudah untuk ditindas. Ada rasa bangga di hatinya. Seorang istri Jefra Tjong memang harus seperti itu.


Pergerakan tangan Tuan J berhenti, diletakkannya handuk kompres ke wadah berisi air hangat.


Dan hal selanjutnya yang dilakukan suaminya sangat membuat Renata terkejut.


Tangan Tuan J merayap ke punggung Renata, lalu segera menurunkan resleting dress yang ia kenakan.


Srek


"Ekh! A-apa yang ingin kamu lakukan?" seru Renata dengan mata yang membulat dan pipi merona. Segera ditahannya dress yang ingin merosot.


"Aku akan membantumu berganti pakaian," jawab Tuan J masih menunjukan ekspresi yang tidak berarti apapun.


"Tidak perlu!" tolak Renata menggeleng cepat.


"Pipimu sedang sakit," ujar Tuan J.


Oh, ayolah, yang sakit itu hanya di bagian pipi. Renata masih bisa mengganti pakaian sendiri, kaki dan tangannya masih bisa digerakkan.


Jangan bilang jika itu hanya modus Tuan J.


Tapi kalau modus, kenapa wajahnya masih terlihat datar? Sungguh hanya ekspresi sang suami yang sangat sulit untuk Renata pahami!


"Aku masih bisa mengganti pakaian sendiri!"


Setelah mengatakan itu, Renata segera bangkit dari sofa. Lalu secepat kilat mengambil piyama tidur dari dalam koper, dan lari masuk ke dalam kamar mandi.


Brak


Dalam diam Tuan J menatap pintu kamar mandi yang ditutup agak kencang oleh Renata.


"Memangnya apa salahnya kalau aku membantunya?" gumam Tuan J.


Sebenarnya dia tidak bermaksud modus. Pria itu murni ingin membantu sang istri. Hanya saja Tuan J tidak sadar jika bantuan yang ingin diberikannya itu terlalu berlebihan.


Setelahnya, Tuan J menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Menutup mata sejenak, dan tidak lama kemudian kembali terbuka. Tatapan menerawang diarahkan ke langit-langit kamar.


Hembusan napasnya terdengar berat.


"Sienna Tjong, tunggulah apa yang akan aku lakukan padamu nanti."


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2