
"Aku tidak memiliki laki-laki yang kucintai."
Tuan J tersenyum getir. Sudahlah, memang siapa juga yang bersedia mencintainya? Bukankah dirinya gila? Bahkan, tadi berniat mencelakai dirinya sendiri dengan membawa Renata ugal-ugalan di jalan raya. Dia hampir membunuh wanita itu.
Kenyataannya, dia memang belum sepenuhnya sembuh.
Ini hal yang selalu Tuan J cemaskan. Dia ragu mengungkapkan perasaannya karena takut ditolak dan dipermainkan. Namun, sebelum perasaannya diungkapkan, ternyata Renata sedang tidak mencintai siapapun, tentunya termasuk dirinya.
Padahal dia sudah berusaha bersikap manis selama ini, untuk membuat sang istri jatuh cinta padanya. Nyatanya, perasaannya tidak mendapat balasan.
Tuan J menghela napas berat. Lalu tatapnya bertemu dengan pergelangan tangan Renata.
Jemari Tuan J meraih tangan Ranata. Dia menundukkan kepala, dan melihat adanya lebam kemerahan di pergelangan tangan sang istri. Itu karena cengramannya tadi.
Pergelangan tangan itu dia kecup berkali-kali. Meminta maaf tanpa mengucap kata maaf itu sendiri.
"Apa kamu sudah tidak marah?" tanya Renata dengan wajah yang merona.
Marah? Lebih tepatnya, saat ini perasaan Tuan J sedang kacau.
Tuan J memilih tidak menjawab.
"Kamu cemburu, ya?" tebak Renata.
"Tidak usah percaya diri, aku tidak cemburu padamu. Kamu istriku, kamu milikku. Tidak ada suami yang suka jika istrinya bersama laki-laki lain. Simpel saja seperti itu," sangkal Tuan J dengan nada yang terdengar kesal.
Setidaknya, Tuan J bisa menggunakan statusnya sebagai suami, untuk melarang Ranata bersama dengan pria lain.
Sedangkan Renata, merasa menelan pil pahit. Renata kira Tuan J sudah sayang padanya. Ternyata alasannya hanya karena Tuan J tidak mau jika dirinya selingkuh saat mereka masih menikah.
Kedua insan itu memiliki pemikiran yang berbeda, padahal mereka hanya perlu jujur pada perasaan masing-masing.
**
Setelah kejadian itu, hubungan Renata dan Tuan J menjadi sangat berbeda. Yang membuat Renata sangat kebingungan.
Seperti pada pagi ini.
Renata sudah terbiasa bangun pagi sebelum Tuan J bangun. Dia menyiapkan sarapan untuk Tuan J dan Kakek Ashton. Meskipun ada puluhan pelayan di kediaman keluarga Tjong, Renata memiliki jika urusan memasak dialah yang melakukannya sendiri.
Setelah menyiapkan sarapan, Renata beranjak ke kamar untuk membantu sang suami bersiap.
Ketika Renata memasuki kamar, dia dibuat terkejut, sebab Tuan J sudah berpakaian lengkap ke kantor. Bahkan dasinya sudah terpasang meski terlihat miring. Padahal mereka sudah sepakat jika Renata lah yang setiap hari memasangkan dasi.
Apa Tuan J sudah tidak mau dipasangkan dasi lagi?
"Ah, kamu sudah siap?"
"Hmm," Tuan J bergumam dengan dingin.
Kenapa sikap dingin pria itu muncul lagi?
Padahal Tuan J selalu bersikap hangat pada Renata sebelumnya.
__ADS_1
Apa es kembali membeku?
Renata mencoba mengabaikan perubahan itu, dia mendekat berniat membenarkan dasi yang miring, tapi Tuan J justru menghindar.
"Dasimu miring, aku hanya ingin membenarkannya," ucap Renata.
Jujur, hatinya terasa sesak karena penolakan sang suami.
"Aku bisa sendiri," tolak Tuan J, memilih membenarkan dasinya sendiri, berputar untuk melihat cermin.
Renata meneguk saliva dengan kasar, menatap sang suami yang memunggunginya.
Apa Tuan J masih marah dengan kejadian kemarin?
Tapi Renata kan sudah menjelaskannya semua. Apa ada yang masih belum jelas?
"Sayang, aku membuatkan sarapan nasi goreng dan segelas kopi," ucap Renata dengan hati-hati.
"Aku tidak sarapan."
"Tapi──"
Ucapan Renata terhenti. Tepat, saat melihat Tuan J pergi meninggalkannya begitu saja. Dan keluar dari kamar.
Tanpa mengatakan apapun dan tidak berpamitan. Tuan J pergi.
Renata terdiam di tempat, wajahnya memancarkan kecemasan, dan sungguh dia merasa bingung sekarang.
Dia pikir sudah tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka.
"Jefra!"
Tuan J yang ingin menaiki mobil menghentikan pergerakannya. Kini beralih menatap Ranata.
Para Bodyguard dan Arvin sampai dibuat terkejut karena sang Nyonya berteriak, tapi mereka hanya diam saja.
"Jefra, aku menantimu pulang!" seru Renata dengan menatap Tuan J dengan penuh kesungguhan.
Ayolah, Renata harus menahan malu karena para Bodyguard dan Arvin mendengar seruan kerasnya.
Namun, Renata ingin meyakinkan bahwa dia masih selalu menunggu kepulangan pria itu.
Tuan J pun bergerak untuk mendekat pada Renata. Lalu meletakkan telapak tangannya di pipi Renata, dan mengusapnya dengan lembut.
"Hmm, tunggu aku pulang."
Meski perkataannya terdengar dingin. Tapi, Renata masih merasakan kehangatan dari telapak tangan besar itu.
Renata sungguh menyukai segala apapun yang ada pada diri Jefra-nya.
**
Tuan J tampak murung. Bahkan ketika beberapa Staf Karyawan menyapanya, pria itu tidak memberikan respon apapun. Ya, meskipun bisanya juga tidak, tapi hari ini terkesan lebih dingin.
__ADS_1
Dia diam, layaknya orang yang sedang menghadapi masalah.
Tuan J menyesal karena tadi pagi tidak memeluk Renata. Dan kini dia menjadi uring-uringan sendiri.
Tuan J duduk di atas kursi kebanggaannya, lalu mengambil ponsel dari saku celananya.
Rasa sesak yang dirasakannya kemarin, masih tersisa hingga sekarang. Mungkin tidak akan bisa mereda, sebelum sesuatu yang baik terjadi dalam hubungannya dengan sang istri.
Adakah hari di mana Renata membalas perasaannya?
Apa mungkin selama ini dia terlalu berharap? Terlalu cepat memberikan hatinya, dan mencintai Renata.
Tuan J melihat wallpaper ponselnya yang menggunakan foto Renata, yang dipotretnya diam-diam saat kencan mereka kala itu. Renata terlihat sedang menikmati pemandangan gelombang laut yang bersinar kebiruan, sambil berlari kecil di pinggir pantai.
"Cantik," satu kata pujian lolos dari bibir yang tersenyum hambar itu.
Knock... Knock...
Suara ketukan di pintu pun diabaikan Tuan J. Dia masih terus fokus memandang foto istri tercintanya.
Sampai akhirnya, Arvin masuk ke dalam ruangan. Membawa setumpuk file.
Tuan J masih tidak memperdulikan Asistennya itu. Meski menyadari kehadiran Arvin, yang menatap heran.
"Ini berkas yang harus Tuan periksa."
Arvin mengerutkan kening, dia terus memperhatikan sang CEO yang terus menatap layar ponsel dengan tatapan memuja.
"Tuan?" Arvin mencoba memanggil, tapi masih tidak mendapatkan respon.
Tiba-tiba Tuan J mengarahkan ponselnya pada Arvin, "Bukankah istriku begitu cantik?"
Arvin menatap layar ponsel yang diarahkan padanya, ada foto seorang wanita yang diketahuinya sebagai istri sang CEO.
Detik kemudian, Arvin sadar apa yang telah terjadi. Terlebih saat kejadian di cafe dan saat berangkat tadi, pria itu berada di tempat kejadian.
Arvin menggaruk alisnya sambil tersenyum kecil. Ternyata begini jika seorang Jefra Tjong sedang dimabuk cinta. Cemburu buta, ngambek, dan berakhir rindu sendiri karena telah mengabaikan istrinya.
"Hmm, aku rasa..." Arvin menggantung jawabannya, menatap lekat foto itu dengan seksama.
"Berhenti menatapnya! Ck, menyesal aku menyuruhmu melihat foto ini!"
Padahal tadi Tuan J yang menyodorkannya sendiri, tapi dia jadi kesal sendiri karena Arvin berlama-lama melihat foto Renata.
Arvin hanya tercengang sendiri. Tuan-nya itu benar-benar posesif terhadap sang istri. Tapi dia merasa senang, karena Tuan J terlihat lebih hidup karena menikah dengan Renata. Arvin yang sudah cukup lama bekerja menjadi Asisten CEO, tentu saja tahu bagaimana menghawatirkannya pria itu.
Arvin menggelengkan kepalanya, kembali tersenyum kecil.
"Tuan, apakah ingin mendengarkan saran dariku?"
"Saran apa?"
"Saran untuk kembali berhubungan baik dengan Nyonya."
__ADS_1
_To Be Continued_