
"Bagaimana bisa kalian membiarkan wanita itu menganggu?"
Tuan J menatap satu persatu Bodyguard yang sedang menunduk takut. Ada sekitar tujuh Bodyguard.
"Wanita itu bilang, jika memiliki hubungan baik dengan Tuan dan Nyonya Sienna. Kami pikir tidak masalah membiarkannya," jawab salah satu Bodyguard.
"Kami takut jika menghalanginya, kami akan dipecat," timpal Bodyguard lain.
Seketika wajah Tuan J mengeras. Sudah dipastikan, kedatangan Elsa adalah ulah sang Ibu tiri.
Tuan J berpikir jika Sienna Tjong terlalu bebal untuk mengindahkan ancaman yang dia berikan. Sepertinya dia memang harus memberikan teguran keras pada wanita itu.
"Lain kali jangan biarkan dia mendekatiku atau istriku, kalian boleh gunakan cara apapun untuk menghalanginya," titah Tuan J dengan dagu yang terangkat.
"Baik, Tuan."
Kemudian Tuan J kembali masuk ke dalam kamar.
Setelah berada di dalam kamar, pria itu melepas semua pakaian yang dikenakannya dan menggantinya dengan bathrobe lembut berwana biru tua. Selanjutnya, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, di mana sebelumnya ia menyuruh sang istri menyiapkan air hangat.
Terlihat Renata yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai ia tidak menyadari jika air di bathtub sudah penuh dan tumpah.
Renata juga tidak menyadari, jika sang suami sedang memperhatikannya. Tuan J berdiri di bingkai pintu seraya bersandar, dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
Tuan J sengaja tidak mengejutkan Renata. Dia ingin melihat, sampai mana istinya itu akan melamun.
Sampai akhirnya, ketika air yang tumpah itu menyentuh kaki Renata. Ia langsung tersadar dan terkejut.
"Astaga!"
Seru Renata terlihat panik, ketika melihat isi air bathub sudah penuh hingga tumpah membasahi lantai.
Dia benar-benar ceroboh.
Segeralah Renata berdiri dan menghentikan aliran air.
"Aduh, bisa-bisanya aku melamun!"
Renata menyalahkan dirinya sendiri.
"Renata, kamu bodoh sekali! Untuk mengisi air saja tidak bisa! Jangan sampai kamu dianggap istri tidak becus oleh suamimu!"
Omelan pada diri sendiri pun tidak luput dari bibir mungil yang mengerucut lucu. Tangannya bergerak untuk merapihkan kekacauan yang telah ia perbuat.
Sedangkan Tuan J, tersenyum tipis dibuatnya. Ternyata istrinya itu tidak hanya suka mengomel pada orang lain, tapi juga suka mengomeli dirinya sendiri. Bahkan sampai mengumpat.
Renata berniat membersihkan lantai yang basah dengan pel karet yang tidak dapat ditemukan. Dia hendak berbalik untuk mencari benda tersebut.
__ADS_1
Namun, ketika tubuh Renata berbalik. Dia dikejutkan dengan sang suami yang berdiri tepat di bingkai pintu.
"Oh, astaga!" Renata agak terlonjak kaget, "Sejak kapan kamu di situ? Mengagetkan saja!
"Sejak kamu menjadi istri yang tidak becus, mengisi air saja tidak bisa," Tuan J menjawab dengan sengaja meniru perkataan Renata tadi.
Astaga! Sang suami melihat kecerobohannya. Renata langsung menggeleng cepat, "Tidak! Aku bukan istri yang tidak becus, aku akan mengeringkan lantainya!"
Padahal baru saja ia mendapatkan sebuah kepercayaan dari Tuan J. Hubungan mereka baru saja berubah menjadi lebih baik. Renata tidak ingin menerima kemungkinan buruk jika sang suami menganggapnya tidak becus.
Namun, ketakutan itu tidak benar-benar terjadi. Karena Renata merasa sebuah cekalan pada lengannya ketika ingin beranjak pergi mencari pel karet.
"Tidak apa, di sini saja, tidak usah pergi," ujar Tuan J yang membuat Renata mendongak.
Saat itu juga tatapan Renata bertemu dengan Tuan J. Dua hati bergetar tanpa ada yang mengetahui. Lalu keduanya fokus pada netra satu sama lain.
Cukup lama keduanya saling tatap seperti itu.
Tiba-tiba tangan Tuan J yang mencekal lengan Renata, berubah menjadi mengusap pipi wanita itu.
Renata yang merasakan usapan yang begitu halus pada pipinya seketika terbawa suasana, dan memejamkan mata.
"Temani aku mandi."
"Eh?" seketika mata Renata terbuka sempurna.
"Kamu menolak suamimu?" tanya Tuan J yang mengartikan sebuah penolakan dari reaksi istrinya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Jika dia menolak, Tuan J akan semakin menganggapnya istri yang tidak becus. Karena memang tugas seorang istri menurut pada suaminya.
"Ti-tidak kok, aku tidak menolak."
Tuan J menyeringai samar. Si kucing liar akhirnya menurut.
"Bagus," ucap Tuan J.
"Aku akan memasukkan bath foam terlebih dahulu," tukas Renata karena telah melupakan hal yang terpenting.
"Hmm," Tuan J hanya bergumam.
Kemudian Tuan J kembali memperhatikan Renata. Dia memperhatikan bagaimana Renata mengambil botol di samping bathtub yang berisikan liquid bubble foam, dan meneteskannya pada air bathub. Lalu mengaduknya hingga berbusa.
"Apa itu bath foam milikmu?" tanya Tuan J.
"Ya, apa kamu keberatan? Kamu ingin memakai bath foam milikmu sendiri?" tanya Renata.
Lagi-lagi dia melupakan sesuatu, seharusnya dia bertanya dulu pada sang suami. Kenapa dia asal menuangkan sabun, sih?
__ADS_1
Renata merutuki dirinya yang hari ini benar-benar bodoh dan ceroboh.
"Tidak apa, aku menyukai wanginya."
"Oh, baiklah," Renata bernapas lega.
Karena terlalu kalut dengan pikirannya sendiri, Renata tidak menyadari jika ada arti lain dari perkataan suaminya. Yakni yang memiliki arti, 'aku menyukai wangi tubuhmu'.
Setelah menuangkan bath foam, Renata mengambil botol kecil yang satunya. Dia juga menuangkan benda itu ke dalam air, yang merupakan oil aromaterapi.
"Ini adalah esensial oil peppermint."
Jika ini, Renata memang sengaja memakainya karena akan memberikan efek psikologis ketika menghirup aromanya. Ini akan sangat membantu Tuan J.
"Bagi kamu yang sedang stres saat bekerja, kamu bisa menggunakan aromaterapi dengan wangi peppermint," sambung Renata mencoba menjelaskan.
"Kamu menganggap aku stres?"
Tuan J justru menyalah artikan. Tatap tajam pun dilayangkan pada Renata.
"Tidak, bukan seperti itu," Renata menggeleng cepat, "Kamu mengatakan jika sering sakit kepala, bukan? Aroma peppermint dapat menimbulkan efek menenangkan yang membantu rileks ketika mengalami sakit kepala."
"Oh, begitu," tatapan tajam Tuan J seketika itu juga berubah teduh.
"Selain itu, aroma ini juga dapat meningkatkan memori dan kewaspadaan," jelas Renata lagi.
Pada akhirnya ritual sebelum mandi telah selesai.
"Nah, sekarang kamu sudah bisa mandi," ujar Renata.
Set
"Akh! Ke-kenapa kamu tidak memakai apapun?"
Renata langsung menutup kedua mata, karena bathrobe yang dikenakan Tuan J dilepas begitu saja dan menunjukan sesuatu yang menodai mata. Sungguh membuat Renata berpikir jorok saja.
Namun, Jefra Tjong justru menyeringai samar melihat reaksi Renata, "Kenapa menutup mata? Bukankah kamu sudah pernah melihatnya? Bahkan merasakannya."
"Dasar mesum!" pekik Renata masih menutup mata.
Tanpa perduli dengan pekikan sang istri, Tuan J melangkahkan kakinya untuk memasuki bathub. Dia duduk di bathub yang sudah dipenuhi bubble foam. Rasanya benar-benar menenangkan, terlebih saat mencium aroma peppermint yang benar-benar mampu membuatnya rileks.
Renata membuka mata, tapi hanya setengah. Dia melihat Tuan J yang memejamkan mata.
"Kenapa diam?" tanya Tuan J dengan mata yang masih tertutup.
"Eh?"
__ADS_1
"Kemari dan lepas pakaianmu."
_To Be Continued_