Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Kekalahan Telak


__ADS_3

Terlihat Renata yang sedang duduk bersama dengan para karyawan. Mereka mengobrol tentang apa saja, mulai dari pekerjaan ataupun yang lainnya.


"Nyonya, aku mau tanya hamil itu seperti apa rasanya?" tanya salah satu karyawan yang Renata ketahui bernama Keysa. Saat masih bekerja, dia pernah beberapa kali bertemu dengan wanita itu.


"Kenapa kalian semua melihatku seperti itu?" Keysa mengeryit bingung, karena semua karyawan yang tengah duduk di balkon restauran menatapnya, begitu juga dengan Renata.


"Ya, tidak kenapa-kenapa, sih. Hanya terkejut saja, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Memangnya kamu sudah ingin menikah?" ucap karyawan yang bernama Sisil.


"Hanya bertanya saja, lagi pula aku kan juga perempuan, otomatis juga akan menikah dan memiliki anak entah itu kapan," ungkap Keysa sambil memainkan jari.


Renata menatap Keysa yang terlihat imut itu. Seketika itu juga, dia menyadari jika wanita itu sedang melirik diam-diam Arvin yang sedang mengobrol serius dengan Jefra.


Oh, sepertinya Keysa menyukai Sekertaris CEO. Renata hanya tersenyum simpul. Apakah ini cinta di antara gadis lugu dan Casanova?


"Beranikan dirimu," ujar Renata seraya menatap Keysa.


"E-eh? Apa?" Keysa gugup detik itu juga.


Renata masih tersenyum simpul, lalu menggerakkan dagu ke arah Arvin.


Keysa menelan saliva dengan susah payah. Merasa malu karena sang istri CEO tahu tentang dirinya yang menyukai Arvin. Lalu mengangguk dengan kedua pipi yang memerah matang. Sebenarnya, Keysa merasa tidak percaya diri karena pria yang disukainya itu merupakan idola di kantor, sedangkan dia hanyalah karyawan biasa yang tidak menonjol sama sekali.


"Ngomong-ngomong, Nyonya Renata. Aku ingin mengatakan sesuatu tentang Sekretaris Kepala Manager yang menjelek-jelekkan CEO, mengatakan jika Tuan J memiliki tempramental buruk. Tapi setelah aku melihat betapa Tuan J mencintai Nyonya Renata, seketika aku tidak mempercayainya," ucap karyawan lainnya tiba-tiba.


"Salvina? Hais, dia itu memang tidak bisa dipercaya. Kerjaannya selalu mencari muka pada Tuan Alvaro. Itu alasan kita tidak memberitahunya tentang pesta kejutan ini, bisa-bisa dia mengacau," sahut yang lainnya lagi.


Renata hanya diam mendengar para karyawan yang mulai bergosip tentang Salvina. Sebelumnya, dia memang sudah tahu jika wanita itu akan mencoba menghasut para karyawan TJ Crop untuk membenci Jefra Tjong, itulah mengapa Renata berusaha mengakrabkan diri dengan mereka.


Dia telah mengambil langkah seratus kali lebih cepat, berkat alur novel yang telah diketahui.


Ya, meski dulu karyawan-karyawan itu bersikap tidak baik terhadap Angel. Namun akhirnya, mereka berbalik berpihak pada Renata.


"Nyonya Renata, bagaimana jika kita berfoto?"


"Boleh," jawab Renata tersenyum seolah-olah dia adalah Nyonya Besar yang rendah hati.


Bukankah akting Renata begitu bagus?


"Wah, harusnya terlihat bagus!"


"Aku akan menguploadnya di grup chat perusahaan."


Entah melupakan atau tidak, mereka melupakan keberadaan Salvina dan Alvaro yang juga berada di grup chat itu. Bahkan, mereka memberikan caption ucapan selamat ulang tahun pada Tuan J dengan heart symbol. Menunjukan jika begitu menyukai CEO mereka.


Bukankah ini kekalahan telak bagi Alvaro?


**


"A-apa ini?"

__ADS_1


Salvina langsung meloncat dari tempat tidurnya saat melihat foto kebersamaan karyawan Tj Corp dengan Renata di layar. Terlihat jika mereka sedang berada di sebuah restauran dengan dekorasi pesta ulang tahun.


Wanita licik itu berhenti bernapas sepertinya. Matanya yang sipit mendelik dengan maksimal. Beberapa kali terlihat dia menelan saliva. Menggeleng kepala lemah.


"Mereka membuat pesta kejutan untuk Jefra Tjong? Dan hanya aku dan Alvaro yang tidak mendapat undangan?"


Salvina panik detik itu juga. Padahal dia sudah bersikap percaya diri, jika telah berhasil menghasut para karyawan.


Kini, dia merasa takut karena sang Kepala Manager pasti akan benar-benar memecatnya. Yang bisa dilakukannya saat ini ada mengigit kuku jari dengan perasaan kalang kabut.


Drett... Drett...


Hal yang dikhawatirkan, segera menghampiri Salvina tatkala ponselnya menunjukan sebuah panggilan dari Alvaro Tjong. Dengan gemetar, dijawabnya panggilan telepon itu.


"H-halo, Tuan Alvaro."


[ Sangat tidak berguna. ]


Tangan di atas pangkuan terlihat saling meremas, saat mendengar suara yang sangat dingin dari orang di sebrang sana.


"Maaf, Tuan Alvaro. A-aku..."


Salvina, tidak mampu berkata-kata lagi.


[ Mulai besok kamu tidak usah menjadi Sekretaris Kepala Manager lagi. ]


"Tuan Alvaro, jangan pecat aku. Bukankah hanya aku yang paling setia padamu? Tuan tidak mungkin bisa mencari penggantiku."


"A-ah, itu... aku benar-benar menyesal, tolong beri aku kesempatan untuk berada di sisimu."


[ Dalam mimpimu saja, Salvina. Jika aku memberimu kesempatan, itu sama saja aku kembali bersama dengan wanita busuk seperti mantan istriku. Kamu dan dia tidak ada bedanya. ]


"Tidak aku──"


Tut... Tut... Tut...


Perkataan Salvina terhenti karena panggilan telepon sudah diputus secara sepihak.


"Aaa!"


Prang


Suara pekikan terdengar bersama dengan bunyi kaca pecah. Yang ternyata, Salvina melempar cermin di depannya dengan sebuah botol parfum. Membuat beling-beling tajam berceceran di lantai kamarnya.


Salvina memekik histeris, layaknya seseorang yang baru kehilangan orang yang dicintai.


"Brengsek! Sialan kamu, Angel!"


Dan lagi-lagi dia menyalahkan Renata atas kegagalannya mendapatkan Alvaro. Kebencian terhadap Renata sudah berakar begitu kuat di hatinya. Padahal apa yang terjadi pada dirinya saat ini karena perbuatannya sendiri.

__ADS_1


"Aku tidak terima ini! Aku tidak terima!"


Cukup lama Salvina merenung dan berteriak-teriak, hingga dia berhenti dengan wajah yang muram. Namun, meski begitu tatapan kebencian itu tidak hilang saat dia kembali melihat layar ponselnya. Terdapat foto Renata yang sedang menyuapi sepotong kue pada Tuan J.


"Angel..." geramnya dengan rahang yang mengatup rapat, "Aku tidak akan membiarkanmu bahagia di atas kegagalanku!"


Salvina mengepalkan tangannya dengan kuat, seolah sedang merencanakan sesuatu di dalam kepalanya. Kemudian dia tertawa seperti orang gila.


Kini, dia telah memutuskan akan berhenti mengejar Alvaro. Ya, Slavina akan berhenti.


Karena dia akan berbalik mengejar Jefra Tjong!


Salvina akan merebut suami dari wanita yang dibencinya itu. Dengan begitu, Renata akan merasakan keterpurukan yang sekarang sedang dirasakannya.


Lagi pula, bukankah Tuan J lebih hebat daripada Alvaro?


Ketika dia berhasil mendapatkan Tuan J, Alvaro juga pasti akan menyesal karena telah menolaknya.


"Lihat saja, apa yang akan aku lakukan untuk mendapatkan Jefra Tjong!" ucapnya dengan geraman tertahan.


**


Di tempat lain. Sama halnya dengan Salvina yang sedang dihantui amarah dan dendam. Alvaro terlihat mengeraskan wajah.


Brak


Dipukulnya setir mobil dengan kencang.


"Sial!"


Amarah Alvaro meledak, karena merasa semakin sulit menggeser sang Kakak dari tahta.


Kenapa para karyawan menjadi berada di pihak Jefra? Slavina benar-benar tidak berguna!


"Apa ini karena Renata?" gumam Alvaro mengingat wanita yang dicintainya.


Sudah dipastikan, Renata lah yang sudah membantu Tuan J. Tidak mungkin jika sosok angkuh dari seorang Jefra Tjong bisa meluluhkan hati pada karyawan.


Alvaro mencengkram setir mobil dengan kuat, hingga kuku-kuku jari memutih seluruhnya.


Knock.... Knock...


Ketukan pada kaca pintu mobil mengalihkan Alvaro. Segera diturunkannya kaca berwarna gelap itu, saat tahu siapa pelakunya.


"Bagaimana?" tanya Alvaro pada seorang pria yang mengenakan jaket kulit hitam.


"Aku sudah mencari informasi dari wanita yang bernama Daisy itu. Dari ciri-cirinya, dia adalah adik perempuan dari Alex Rudiart," jawab pria itu.


"Alex Rudiart? Jangan bilang dia..."

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2