Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Salah Fokus


__ADS_3

Rapat berakhir dengan kemenangan Jefra Tjong.


Dengan wajah yang berkabut amarah, Alvaro meninggalkan ruang rapat. Theo pun sudah dibawa oleh sang Dokter untuk dibawa kembali ke rumah sakit.


Brak


Sesampainya di ruang Kepala Manager, Alvaro langsung memukul meja kerjanya dengan kencang untuk meluapkan emosi. Dia sudah kalah telak.


Cara apa lagi untuk dirinya bisa berada di posisi CEO?


"Bangsat!" umpat Alvaro memandang kaki meja, hingga membuat pigura foto yang berada di atas meja terjatuh hingga pecah.


Dengan napas memburu dan dada yang kembang kempis, Alvaro menatap foto seorang gadis dengan seragam sekolah tengah tersenyum manis, ada juga dirinya yang tersenyum dan merangkul pundak gadis itu. Dia dan juga Angel saat masih menjadi sepasang kekasih.


Lalu Alvaro berjongkok, berniat mengambil foto itu. Namun, jarinya terkena pecahan kaca sebelum mengambilnya. Pergerakannya langsung terhenti. Dia menatap nanar darah yang keluar dari jari yang terluka.


Hanya untuk mengambil foto kenangan dirinya dan gadis yang dicintainya saja, mampu menimbulkan rasa sakit.


Apalagi untuk mendapatkan gadis itu lagi?


Bahkan, Alvaro sudah tahu jika dia tidak mungkin bisa mendapatkan Renata. Dia hanya akan berakhir menyedihkan.


"Astaga! Tuan Alvaro! Kamu baik-baik saja?"


Salvina yang baru masuk, dikejutkan dengan kondiri sang Kepala Manager. Terlebih dengan jari tangan Alvaro yang semakin banyak mengeluarkan darah, hingga menetes di lantai.


Segera dia raih tangan Alvaro, hendak mengobati. Namun, tangan Salvina ditepis. Hatinya mencelos, dalam kondisi seperti ini saja Alvaro masih menolaknya.


"Pergi! Tinggalkan aku!" bentak Alvaro dengan urat di leher, dia sedang tidak ingin diganggu, terlebih diganggu oleh Salvina yang sangat jelas menyimpan perasaan padanya.


Semenjak pernikahannya dan Sanaya berakhir, Alvaro menjadi membenci setiap wanita kecuali Renata. Ya, dia cukup trauma dengan apa yang telah mantan istrinya lakukan terhadapnya.


Dibohongi berkali-kali, dikhianati, dan dibodohi oleh Sanaya. Membuat hati Alvaro sulit menerima wanita lain. Bahkan merasa jika semua wanita itu buruk.


"Tidak, Tuan Alvaro. Izinkan aku mengobati lukamu," Salvina menggeleng, masih berusaha untuk bisa mengobati luka Alvaro.


Bagi Salvina, ini adalah kesempatan untuk mendapatkan hati pria itu.


Namun.


Alvaro justru menatap Salvina dengan tajam, tatapan yang berisikan kekesalan. Lalu didorongnya tubuh wanita itu hingga terjungkal ke belakang. Salahkan Salvina yang masih terus mencoba meraih tangannya.


"Jaga batasanmu, Salvina!" bentak Alvaro sekali lagi.


Kemudian Alvaro keluar dari ruangan itu, dengan menutup pintu dengan kencang.

__ADS_1


Brak


Salvina yang meringis kesakitan sampai terlonjak dibuatnya. Tatapan wanita itu tertuju pada pigura foto yang pecah, wajahnya mengeras seketika.


"Angel," desis Salvina.


Wanita itu menyalahkan Renata, atas semua penolakan yang dia terima dari Alvaro.


**


Di ruang sang CEO.


"Dokter bilang kondisinya semakin menurun. Metabolisme tubuhnya memburuk. Berbagai obat sudah masuk. Dukungan, cinta, dan kesabaran penuh adalah kunci untuk penderita stroke dapat pulih dengan baik," ucap Renata pada Jefra yang sedang menunduk, mengamati grafik perusahaan di layar tab.


"Hmm," Jefra melirik sekilas Renata.


"Apa kamu masih membenci Tuan Theo?" tanya Renata hati-hati.


Tarikan napas Jefra terdengar berat, lalu diletakkannya tab di atas meja.


"Dear, sini," panggilnya pelan. Menepuk paha kanan, meminta Renata duduk di pangkuannya.


"Tidak mau!" tolak Renata, tahu jika sang suami sedang mencoba mengalihkan pembicaraan, ekspresi wajahnya berubah cemberut.


"Sudah makan?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan!"


Renata menolak Jefra yang hendak memeluk.


"Kamu semakin cantik kalau cemberut, membuatku semakin cinta," bisik Jefra mengecup telinga Renata, sambil terus memeluk sang istri yang sedang duduk di sofa.


"Tidak perduli! Kamu menyebalkan!"


Renata melengos. Namun, siapa yang tahu, jika kedua pipinya tersipu malu.


Jefra mendudukkan dirinya di sebelah Renata, menyadarkan punggung pada sandaran sofa, lalu menutup kedua matanya. Helaan napas panjang terdengar.


Renata menatap wajah Jefra yang masih menutup mata, membuat bulu mata lentiknya semakin terlihat jelas. Alis tebal dan bulu mata lentik, benar-benar perpaduan yang begitu sempurna. Terlebih kontur wajah yang tegas dan tidak ada noda sedikitpun.


Astaga! Apa pria tampan ini suamiku? batin Renata tidak percaya. Salah fokus pada wajah sang suami.


Seakan melupakan mode ngambeknya, Renata bergerak mencondongkan tubuhnya, lalu menciumi seluruh wajah Jefra.


Si Bumil menjadi gemas sendiri.

__ADS_1


Jefra terkekeh dan pasrah saat sang istri menciumi seluruh wajahnya bertubi-tubi, lalu mengangkat tubuh mungil Renata untuk duduk di pangkuannya.


"Sudah puas ciumnya?" tanya Jefra setelah Renata menghentikan serangan penuh cinta itu.


"Belum," cicit Renata sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jefra.


Jefra tertawa mendengarnya, "Kalau belum kenapa berhenti?"


"Kamu belum menjawab pertanyaanku," Renata kembali ke mode ngambek.


"Pertanyaan apa, hmm?" tanya Jefra seolah lupa.


"Apa kamu masih membenci Tuan Theo?" Renata mengulang pertanyaannya, mendongak menatap sang suami.


Jefra diam sejenak. Meski ingatan kehidupan sebelumnya sudah dia ingat, tapi dirinya tidak bisa melupakan kekejaman Theo begitu saja. Dia sudah menjadi Jefra Tjong sejak kecil, berbeda dengan Renata yang baru memasuki tubuh Angel saat berusia dua puluh tahun.


Entahlah, untuk hal itu memang tidak bisa dijelaskan secara logika.


"Aku masih membencinya," jawab Jefra.


Ya, dia membenci Theo. Karena sang Ayah lah, Jefra Tjong memiliki kenangan masa kecil yang buruk, hingga membuatnya melupakan Renata. Bertahun-tahun lamanya dia terjebak dalam ketakutan dan kebencian.


"Apa kamu tidak memiliki niat untuk memaafkannya?" tanya Renata dengan mata yang mengerjap penuh harap.


Jefra tidak menjawab pertanyaan Renata. Tidak berkata 'ya' atau 'tidak'. Apa mungkin Jefra sedang mempertimbangkannya?


"Apa kamu mengharapkan aku untuk memberi dukungan, cinta, dan kesabaran pada Theo? Kamu berharap dia sembuh?" tanya Jefra tepat sasaran.


"Aku hanya tidak ingin kamu menyesal. Menyesal karena telah mengabaikan kesempatan memperbaiki hubunganmu dengan Ayahmu. Bukankah Tuan Theo juga sudah menerima balasannya?" ucap Renata sambil membelai rahang tegas Jefra.


Ya, Theo memang sudah menerima balasannya. Terserang stroke yang menggerogoti tubuh, diabaikan putranya, dan mendapatkan perilaku buruk dari Sienna.


"Memaafkan Theo Tjong? Itu tidak semudah yang kamu kira," Jefra membuang pandangan ke luar jendela.


"Hei, Sayang, lihat aku," Renata mengarahkan wajah Jefra padanya.


Manik hitam dan cokelat beradu dalam satu tatapan.


"Kebencian merupakan beban yang terlalu berat untuk ditanggung. Itu melukai si pembenci lebih dari melukai yang dibenci. Cobalah berdamai dengan masa lalu," ucap Renata lembut sekali, mendayu seperti angin pantai di sore hari yang menerpa sanubari Jefra.


Jefra tertegun, hatinya bergetar.


Berdamai dengan sang Ayah? Apa dia bisa melakukannya?


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2