
"Tentu saja mengunjungi Adikku yang sedang sakit, dan... " Renata menatap Nikolas yang mengekor Santy, "Kenapa Sekertaris Kak Zayn ada di sini?"
Santy bingung harus menjawab apa. Dia tidak menyangka jika Renata datang. Tadi Santy memang menghubungi kediaman keluarga Tan, hal itu dilakukannya untuk memberitahu jika dia akan mengurus Sanaya yang mengalami kecelakaan. Namun siapa sangka, jika Renata datang mengunjungi Sanaya. Padahal dia yakin tidak mungkin ada yang datang karena Sanaya sudah tidak dipedulikan lagi.
Dan sialnya, Renata melihatnya bersama dengan Nikolas.
"Mobil Nyonya Santy mogok di jalan, saya tidak sengaja bertemu dengannya," jawab Nikolas dengan lancar.
"Y-ya, Nikolas menawari Ibu tumpangan," timpal Santy.
Renata menatap Santy dan Nikolas bergantian dan menyeringai samar, sungguh alasan klasik. Apa mereka kira Renata akan percaya begitu saja? Jelas sekali jika mereka sedang ada affair. Terlebih Renata dapat melihat tanda kemerahan yang samar di leher Santy. Menjijikkan.
Dasar tidak tahu umur, apa dia tidak malu dengan keriput di wajahnya? Bisa-bisanya bermain gila dengan daun muda.
Ternyata Santy dan Sanaya sama-sama gilanya. Ibu dan Anak yang meresahkan.
"Oh, begitu," Renata mengangguk seakan-akan percaya. Hal itu membuat Santy lega, tapi tidak berlangsung lama karena perkataan Renata selanjutnya, "Aku kira Tante Santy dan Nikolas memiliki sebuah hubungan."
Seketika perasaan panik menyelimuti Santy. Namun, dapat segera ditutupinya dengan guratan kemarahan, "Jangan bicara sembarangan, Renata! Aku ini istri Ayahmu, tidak mungkin aku memiliki hubungan dengan Nikolas!" bantahnya.
Renata menunjukan raut wajah kaget dengan dahi yang mengeryit, "Kenapa marah? Aku hanya mengira-ngira saja. Kalau memang tidak benar, seharusnya Tante Santy tidak usah marah."
Santy melotot dibuatnya, dia telah terbawa emosi. Renata berhasil memancing Ibu tirinya itu.
"Maaf, Nona. Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Nyonya. Jadi jangan berpikir macam-macam karena hal itu termasuk pencemaran nama baik," kini Nikolas yang membantah dengan tenang.
Renata memegang dagunya dengan ibu jari dan jari telunjuk yang disatukan, "Hmm, baiklah."
Ya, kali ini kalian bisa lolos. Tapi aku tidak membiarkan kalian begitu saja, aku tidak akan membiarkan kalian yang ingin berbuat jahat pada Zayn.
Tentu saja Renata akan menggagalkan rencana Santy dan Nikolas yang ingin memenjarakan Zayn dan berakhir menguasai harta keluarga Tan. Dan juga, Renata ingin melihat bagaimana reaksi Rendra kalau istri tercintanya ternyata berselingkuh dengan daun muda.
"Ibu..." Sanaya menginterupsi dengan suara parau karena menangis.
"Ya, Sanaya. Ada apa?" sahut Santy mendekat pada brankar tempat putrinya berbaring, sejak tadi Sanaya memang dalam posisi berbaring.
"Usir dia dari sini! Aku tidak mau kalau jal*ng itu di sini!" seru Sanaya dengan tatapan kemarahan yang dilayangkan pada Renata.
__ADS_1
Renata mengangkat salah satu alis dan tersenyum mencemooh, "Jal*ng? Apa kamu sedang menyebut dirimu sendiri?"
"Bereng sek! Keluar kamu dari sini! Keluar!" raung Sanaya sejadi-jadinya, begitu keras dan mungkin sampai terdengar hingga ujung lorong rumah sakit.
Sungguh merusak ketenangan rumah sakit. Bahkan orang yang menghampiri ruang rawat Sanaya semakin banyak. Pihak keamanan rumah sakit pun turut datang.
"Nona sebaiknya keluar saja. Saya bisa mengantar Nona pulang," ujar Nikolas mencoba mengusir Renata secara halus.
"Keluar!" raung Sanaya lagi.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," tolak Renata.
Lagi pula Renata memang tidak ingin terus berlama-lama di sini, di satu ruangan dengan tiga orang munafik.
Kemudian Renata berlalu meninggalkan ruang rawat Sanaya.
"Hari ini benar-benar menguras emosi. Untung aku datang ke rumah sakit. Kalau tidak, pasti Sanaya berhasil mengkambing hitamkan aku lagi. Dasar rubah tidak tahu diri. Rasanya ingin aku pukul wajah sok polosnya itu. Menyesal aku karena dulu sempat kagum padanya," gumam Renata mencak-mencak.
Renata memang kagum pada sosok Sanaya yang diceritakan di dalam novel, sosok yang diceritakan sebagai gadis yang polos, lemah lembut, dan penuh kasih sayang. Namun, kenyataannya benar-benar bertolak belakang.
Ketika langkah Renata sampai di pintu rumah sakit yang terbuka otomatis, tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya.
"Mau apa lagi, Alvaro?"
**
"Bagaimana kencannya, Tuan?" tanya Arvin tepat setelah pintu lift terbuka.
Orang yang mendapatkan pertanyaan tidak menjawab. Langkah lebarnya tengah melewati lobi perusahaan menuju pintu keluar. Semua Karyawan segera menunduk dan memberi jalan untuk sang CEO yang melangkah dengan mata setajam elang. Mood Jefra Tjong mendadak buruk karena pertanyaan Asistennya.
"Apa tidak berjalan lancar, Tuan?" Arvin menebak, dia memang penasaran dengan hasil kencan Tuan-nya, sejak tadi mulutnya gatal ingin bertanya tapi belum ada kesempatan.
Tuan J masih tidak menjawab.
"Sayang sekali, kemarin memang tiba-tiba hujan lebat. Hal itu bukan kesalahanmu kok. Mungkin kencan berikutnya akan berjalan lancar," Arvin mencoba menghibur.
"Tutup mulutmu, Arvin," desis Tuan J, Asistennya itu justru semakin memperburuk suasana hatinya.
__ADS_1
Arvin langsung melipat bibir rapat. Bisa ngamuk Tuan-nya jika dia terus berbicara. Dari ekspresi Tuan J sudah dapat dipastikan jika kencan kemarin tidak berjalan lancar.
Kencan kemarin memang tidak berjalan lancar. Namun, bukan itu masalahnya. Alasan yang sebenarnya adalah karena pria itu merasa jika harga dirinya sedang dipermainkan si calon istri.
Bisa-bisanya dia menganggap aku orang lain saat berciuman. Apa aku hanya sebuah pelampiasan? Pikir Tuan J dengan membayangkan kejadian semalam.
Ya, Tuan J benar-benar mengira jika Renata menganggapnya Alvaro saat mereka berciuman. Renata menciumnya, bukan berarti dia suka.
Sebuah mobil Lamborghini Hitam dengan dua orang Bodyguard di masing-masing sisinya sedang menunggu Tuan J. Kemudian salah satu Bodyguard membukakan pintu tatkala Tuan J muncul dari pintu keluar gadung kantor TJ Crop.
Tuan J langsung masuk di bagian kursi belakang, diikuti Arvin yang masuk di bagian kursi pengemudi.
Sore ini Tuan J memiliki jadwal pertemuan penting dengan seorang klien di sebuah restauran yang sudah direservasi oleh Arvin sebelumnya. Sepenjang perjalanan raut wajah Tuan J mengerut.
"Jangan berkerut seperti itu, Tuan. Nanti klien yang akan bertemu denganmu akan kabur karena takut," seloroh Arvin seraya melihat Tuan J dari spion tengah.
Tuan J mendelik dibuatnya, "Ucapkan selamat tinggal untuk lima puluh persen gaji kamu, Arvin."
"A-apa?"
Oh, Arvin. Salahmu sendiri yang tidak memahami jika suasana hati Tuan-mu yang sedang buruk-buruknya.
Sungguh tega.
Arvin meratapi gajinya yang akan dipotong. Terlebih dipotong setengahnya! Bukankah seharusnya dia mendapatkan bonus? Dia kan sudah berhasil menyelidik foto-foto Renata dan Aslan. Sepertinya Jefra Tjong melupakan jasanya itu.
"Berhenti!" titah Tuan J tiba-tiba.
Arvin langsung menginjak rem. Begitu pula mobil yang berada di belakangnya, yakni mobil para Bodyguard yang selalu mengawal Tuan J.
"Ada apa, Tuan?" tanya Alvin.
Dapat dilihat jika raut wajah Tuan J mengeras. Tatapannya menyorot tajam keluar jendela mobil. Arvin mengikuti apa yang tengah dilihat Tuan J.
Terlihat Renata dan Alvaro yang sedang memasuki sebuah cafe.
Apa Jefra Tjong sedang cemburu?
__ADS_1
_To Be Continued_