Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Pria Yang Manis


__ADS_3

Jam Rolex emas di tangan Tuan J menunjukan pukul sebelas malam. Kini, dia sudah berada di kediaman keluarga Tan, tepatnya di kamar bernuansa peace. Kamar Renata yang dulu.


Tuan J terduduk di tepi ranjang, fokus menatap ponsel yang ia genggam, tapi tidak dengan pikirannya. Pikirannya entah hilang ke mana.


Katakan saja, jika pria itu sedang galau.


Ada banyak ketakutan yang muncul di dalam dirinya, dia takut jika Renata berakhir membencinya, dia takut jika Renata akan menjauh, dia takut jika Renata akan pergi dari meninggalkannya.


Saat ini Tuan J tidak bisa memikirkan apapun selain Renata. Apa yang harus dia lakukan? Minta maaf karena telah benar-benar menjadikan Santy santapan buaya? Bersembunyi dan bersikap tidak bersalah?


Tuan J mengusap wajah kasar dengan telapak tangan. Teringat pembicaraan dengan sang istri saat di telepon sebelumnya. Renata berteriak supaya dia menghentikan kegilaan yang sedang dilakukannya.


"Sial, Jefra Tjong!" umpat Tuan J pada dirinya sendiri, lalu mengacak rambutnya kasar.


Di sisi lain, Renata keluar dari kamar mandi setelah mandi dan keramas.


Setelah menemani Rendra di rumah sakit, Renata tidak langsung pulang ke kediaman keluarga Tjong, tapi dia akan menginap di kediaman keluarga Tan malam ini. Sekalian mengambil beberapa barang yang masih tertinggal di kamar lamanya.


Dengan masih menenteng handuk di tangannya, Renata melangkah memasuki kamar. Rambut panjangnya yang basah menempel di punggung, dan membasahi kaos yang ia kenakan. Saat sesudah keramas, dia baru teringat jika di sini sudah tidak ada pengering rambutnya.


Langkah Renata terhenti sesaat saat melihat Tuan J duduk di ranjang tidurnya, sambil memainkan ponsel.


Namun kenyataan, suaminya itu tidak benar-benar fokus pada ponsel.


"Jef..." panggil Renata riang sambil menubrukkan tubuhnya ke pangkuan suaminya itu. Lalu mengalungkan tangannya di leher Tuan J dan memeluknya erat.


Beberapa saat kemudian, Tuan J meraih tangan Renata dan membuatnya menghentikan pelukannya itu. Dengan menggunakan ujung jarinya, Tuan J mendorong dahi Renata supaya menjauh darinya.


"Menjauh dariku, rambutmu basah."


Renata menepis jari Tuan J dengan sedikit jengkel, "Kamu benar-benar menyebalkan! Itukah perkataan pertamamu setelah meninggalkan aku?"


Tuan J menyentil dahi Renata pelan, "Memang apa yang ingin kamu dengar?"


"Kamu bisa mengatakan rindu padaku," Renata berkata dengan tersenyum simpul.


Tuan J mencubit pipi Renata, "Baru saja aku tinggal sebentar," kini ia melepas cubitannya.


"Sakit..." protes Renata sambil menggosok-gosok pipinya, "Memangnya tidak boleh saling rindu meski ditinggal sebentar?"


Tuan J terdiam sesaat, tidak tahu harus menjawab apa. Terlebih kini dia juga merasa bingung. Kenapa Renata masih bersikap seperti biasanya? Padahal Tuan J sudah mengira-ngira sikap terburuk yang akan istrinya itu berikan.


Helaan napas terdengar dari pria itu, lalu meraih handuk yang terlempar ke bantal saat Renata menubruknya tadi. Setelah itu, kedua tangannya bergerak untuk menggosok handuk pada rambut Renata, berniat mengeringkan rambut basah itu.

__ADS_1


Yang membuat Renata tersipu.


"Rambutmu basah, seharusnya kamu mengeringkannya dengan benar."


"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Renata mendadak gugup.


"Mengeringkan rambutmu. Bukankah sudah jelas," jawab Tuan J dengan datar. Diraihnya ujung rambut Renata dan menggosokkan dengan lembut.


Renata yang duduk di pangkuan Tuan J, dapat melihat ekspresi keseriusan sang suami yang sedang mengeringkan rambutnya.


Bisa-bisanya Sanaya mengatai suaminya yang hangat dan manis ini sakit jiwa, Renata tidak terima itu.


Kemudian Renata membenamkan kepalanya di perpotongan leher Tuan J, dan memeluk pinggangnya yang kokoh dengan erat.


"Jangan dengarkan apa yang dikatakan Sanaya," ujar Renata.


Tuan J menghentikan aktivitas menggosok rambut Renata, karena sang istri mulai menyinggung sesuatu yang dikhawatirkannya sejak tadi, "Maksudmu?"


"Suamiku tidak sakit jiwa. Kamu justru sangat keren."


"Keren?" beo Tuan J, "Jadi kamu menganggap apa yang telah kulakukan keren? Kamu tidak takut padaku yang benar-benar melempar Santy ke kandang buaya?"


Renata menjauhkan kepalanya untuk bisa menatap wajah tampan suaminya, "Takut? Tentu saja tidak. Aku justru berterima kasih padamu karena telah membalas kematian Ibuku."


Bola mata Renata mengerjap beberapa kali, lalu melebar.


"Maaf, aku tidak bermaksud berteriak padamu," ucap Renata yang baru sadar akan kesalahannya.


Tuan J mengangguk dengan agak kikuk. Ternyata Renata tidak sengaja berteriak padanya.


"Aku menghentikan kamu karena menyayangkan jika Sanaya mendapatkan pembalasan seinstan itu. Menjadi santapan buaya dan mati, itu terlalu mudah baginya. Harusnya dia mengalami penderitaan yang lebih menyakitkan lagi," sambung Renata menggebu, yang ternyata memiliki pemikiran yang lebih sadis dari pada suaminya.


Tuan J hampir tergelak karena apa yang dikhawatirkannya ternyata melenceng. Lalu dipeluknya tubuh mungil Renata dengan lembut.


"Aku kira kamu akan menjauh dariku saat tahu apa yang telah kulakukan."


Kegalauan yang dirasakan pria itu sejak tadi, seketika terkoyak tidak tersisa.


"Mana mungkin aku menjauh. Suamiku sangatlah manis, aku mana bisa menjauh," Renata terkekeh manja.


"Ck, aku tidak manis. Kamu pikir aku seorang gadis?"


"Pria yang manis maksudnya."

__ADS_1


"Berhentilah memanggilku manis."


Renata tergelak dibuatnya, Jefra-nya sedang malu-malu meong, "Bilang saja kalau kamu suka dipanggil manis, aku bisa melihat telingamu yang memerah."


"Ehmm," Tuan J hanya berdeham untuk menanggapi Renata, yang memang selalu suka menggodanya.


"Lantas bagaimana dengan Sanaya?" tanya Renata memastikan keadaan Sanaya, "Kamu tidak jadi melemparnya ke kandang buaya, kan?"


"Tidak jadi, tapi sebagai gantinya aku melemparnya ke kandang kosong sebelah macan putih," jawab Tuan J dengan santai.


Renata tercengang, "Ma-macan putih?" ada nada kengerian dari pertanyaan itu.


"Ya, ada singa dan ular berbisa juga."


Renata meneguk saliva dengan susah payah, tidak menyangka jika sang suami memiliki hewan-hewan buas itu, "A-apa itu hewan peliharaan kamu?"


"Peliharaan Theo," jawab Tuan J lugas.


"Untuk apa Ayahmu memelihara hewan-hewan buas itu? Bukankah itu sangat berbahaya?" tanya Renata tidak habis pikir, padahal masih ada kelinci dan kucing yang lebih pantas untuk dipelihara.


"Hewan-hewan itu memang sengaja dipelihara untuk mengeksekusi musuh yang menganggu keluarga Tjong. Semenjak Theo sakit, akulah yang bertanggung jawab atas hewan-hewan itu."


Mulut Renata terkunci. Benar-benar mengerikan!


"Oh, ya. Aku melewatkan untuk memberitahumu. Temanmu yang bernama Anya juga sudah menjadi makanan macan putih," beber Tuan J, tentang keberadaan Anya yang seakan menghilang ditelan bumi.


Renata sudah menduga sebelumnya, Tuan J pasti telah melenyapkan Anya. Tapi tetap saja ada rasa terkejut. Seketika itu juga, dia teringat hal yang bisa membahayakan suaminya.


"Bagaimana jika hewan-hewan itu memakan kamu? Aku tidak mau itu terjadi," ucap Renata merasa khawatir pada sang suami, yang kini bertanggung jawab untuk mengurus hewan-hewan buas kepunyaan Theo.


Tuan J terenyuh sambil menatap dalam mata cokelat Renata. Apa artinya Renata tidak mau dia pergi? Apa Renata juga memiliki perasaan yang sama sepertinya?


"Renata, aku menc──"


"Akan menyedihkan jika menjanda karena suamiku dilahap hewan buas."


Ekspresi Tuan J langsung berubah, setelah mendengar perkataan Renata yang memotong ucapannya.


Padahal hampir saja dia mengungkapkan perasaannya.


"Eh, apa yang ingin kamu katakan tadi?" Renata bertanya tanpa dosa.


"Ck, lupakan."

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2