
Sekitar sepuluh menit, selesai sudah pidato dari Alex. Dikira Renata, pria itu akan segera meninggalkan lokasi. Ternyata... Alex justru berjalan di antara kerumunan. Mendekati Renata.
Kenapa juga Alex datang mendekatinya. Apapun alasannya, Renata harus segera kabur. Sebisa mungkin, dia harus menjauhi pria itu. Karena di alur novel tidak ada interaksi apapun di antara dirinya dan Alex.
"Aku harus pergi! Sampai jumpa, semua!" pamit Renata pada teman-temannya.
Dengan memegangi perutnya, Renata berlari secepat yang dia bisa untuk menghindari Alex. Dirinya harus menghindari sejauh mungkin. Dia takut jika alur novel akan berubah.
Renata menuju parkir mobil yang lengang. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari mobilnya. Terlalu panik hingga kebingungan.
"Hei, kenapa lari?" Alex menarik tangan Renata dan langsung menarik badan sang wanita hingga menubruknya.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" Renata meronta ketika dengan kurang ajarnya Alex tiba-tiba memeluknya, ketika tubuh Renata menubruk barusan.
"Tidak akan aku lepaskan jika kamu tidak menjawab, kenapa lari dariku?"
Renata mendelik geram, kaki yang terbalut high heels tiga centimeter langsung menginjak kaki Alex.
"Akh!" Alex memekik dan spontan melepaskan Renata.
Bisa dibayangkan, betapa sakitnya kakinya. Bahkan, kini Alex tengah melompat-lompat bagai kangguru dibuatnya.
Sedangkan Renata tersebut sinis melihatnya, tidak ada rasa bersalah sama sekali.
"Bangsat! Sialan!" maki Alex sejadi-jadinya.
"Rasakan, itulah akibat sembarangan menyentuhku," Renata berkata dengan begitu sinis.
Jangan dikira, Renata akan diam saja dan pasrah saat dipeluk seenaknya. Ayolah, dia itu wanita yang sudah bersuami. Tidak sepantasnya Alex kurang ajar seperti itu.
"Kau──"
"Nyonya!"
Perkataan dan pergerakan Alex terhenti tatkala beberapa bodyguard datang melindungi Renata. Mereka yang ditugaskan menjaga Renata dari jauh menodong Alex dengan pistol.
"Wow, aku sedang tidak berbuat jahat pada Nyonya kalian," kilah Alex sambil mengangkat kedua tangan ke atas, gestur menyerah. Tapi, mimik wajahnya tidak menunjukkan ketakutan sama sekali.
Benar-benar keberanian yang begitu tebal. Pantas menjadi seorang CEO yang merangkap ketua mafia.
Di sisi Renata, dia merasa terkejut dengan kedatangan para bawahan Jefra yang tiba-tiba datang, tidak tahu jika mereka menjaganya dari jarak jauh.
"Turunkan senjata kalian!" perintah Renata setelah menarik napas sesaat.
"Tapi, Nyonya──"
"Turunkan!" tegas Renata.
Tidak mau jika terjadi keributan yang berakhir saling menembak. Sebab, akan mengingatkan Renata tentang tubuh Jefra yang dihujam belasan peluru. Itu cukup menakutkan baginya.
Para bodyguard pun patuh, menurunkan senjata api mereka. Alex tersenyum kecil dibuatnya.
"Tidak usah tersenyum-senyum seperti itu! Aku sedang tidak membelamu! Ini adalah sebuah peringatan supaya kamu tidak menggangguku lagi, Tuan!" kecam Renata.
Namun, senyum Alex justru semakin melebar. Renata berpikir jika pria itu tidak mengerti bahasa manusia.
Senyuman Alex lama kelamaan menjadi tawa, sampai-sampai bahu lebarnya bergetar. Entah apa yang membuatnya terlihat begitu senang.
__ADS_1
Sebenarnya ada apa dengan pria itu?
"Sinting," Renata bergumam kecil, sambil menatap aneh Alex.
"Benar-benar manarik," ucap Alex tanpa menghentikan tawa.
Dahi Renata mengerut karena tidak paham. Namun, hanya diam tidak menyahut.
"Sayangnya, kamu adalah istri Jefra Tjong," desis Alex yang sudah berhenti tertawa.
"Apa masalahmu jika aku istri Jefra Tjong?" tanya Renata menyelidik.
Kedua bahu Alex terangkat, yang berarti tidak ingin menjawab. Kemudian, berbalik pergi tanpa mengatakan apapun.
**
Kini, Alex sudah berada di mobil mewahnya, bersama Gery──orang yang menjadi tangan kanannya.
Terlihat Alex yang sedang berbicara dengan Alvaro melalui telepon genggamnya.
"Ini tidak seperti rencana awal."
[ Maksudmu? ]
"Istri Jefra Tjong tidak mudah untuk diculik."
Itulah asalan Alex mendekati Renata. Dia ingin menculik istri dari musuhnya itu. Namun, siapa yang menyangka, wanita itu memiliki keberanian untuk melawan.
Sungguh tipenya.
Alex menyeringai samar tatkala memikirkan wajah cantik Renata.
"Kenapa kau marah? Jangan-jangan..." Alex tidak melanjutkan perkataannya, dia merasa curiga pada Alvaro yang selalu menghalanginya berbuat jahat terhadap Renata.
Apa mungkin Alvaro memiliki perasaan spesial terhadap Renata?
Jika benar, Alex tidak akan melepaskan pria itu karena telah mempermainkan perasaan adiknya.
[ Hanya karena dia sedang mengandung. ]
"Apa benar hanya karena itu?" Alex memastikan. Dikeluarkannya belati dari balik jas, belati kesayangan yang pegangannya berbentuk naga berwarna emas.
[ Ya! Tidak usah berpikir macam-macam, Alex! ]
"Aku tidak berpikir macam-macam. Hanya saja... kau pasti tahu apa konsekuensinya jika menyakiti Daisy."
Alex memainkan belatinya dengan tatapan menghunus pada ujungnya yang runcing. Membayangkan betapa nikmatnya menancapkan benda tajam ke dada seseorang, dan menyiksanya hingga mati karena kehabisan darah.
[ Ya, aku tahu. ]
Panggilan telepon itu pun terputus.
Dengan masih memainkan belatinya, tatapan Alex beralih ke jendela mobil. Menerawang jauh.
"Gery."
"Ya, Tuan Alex."
__ADS_1
"Akhir-akhir ini aku bermimpi aneh."
Gery diam, menunggu kelanjutan perkataan bos-nya itu.
"Mimpi sebuah kehidupan yang pernah aku alami sebelumnya. Dan itu semakin membuatku membenci Jefra Tjong."
**
Alvaro menggenggam erat ponselnya. Wajahnya mengeras. Dia mulai kembali berfikir jika keputusannya untuk berkerjasama dengan Alex akan menguntungkan atau tidak. Terbesit rasa menyesal di hati.
Bagaimana jika Renata celaka? Bukankah Alex sangat nekat?
Bukan itu yang Alvaro inginkan. Dia tidak ingin Renata terluka. Dia hanya ingin balas dendam pada kakak tirinya.
"Paman..."
Ekspresi Alvaro langsung berubah, tatkala mendengar suara Daisy yang memanggilnya dari arah belakang.
Alvaro berbalik, dan melihat Daisy yang sedang mengintip dari cela pintu yang terbuka sedikit. Alvaro memang sengaja keluar dari ruang rawat Daisy untuk mengangkat telepon dari Alex.
"Sudah teleponnya, Paman?" tanya Daisy sedikit mencicit.
Alvaro tersenyum dan mengusap pucuk kepala Daisy lembut, "Sudah, kok. Kamu sendiri sudah bersiap-siap?"
"Sudah," Daisy mengangguk, kedua pipinya merona, "Ayo pulang, Paman."
Hari ini Daisy sudah diperbolehkan pulang. Wanita itu sudah tidak sabar keluar dari ruang sakit, karena sudah sangat bosan. Meski ada rasa senang juga, karena Alvaro selalu menemaninya.
"Aku akan mengantarmu pulang, tapi ada syaratnya," tukas Alvaro.
"Syarat apa?" tanya Daisy bingung. Dia berpikir jika Alvaro akan meminta kembali cek kosong yang telah dikembalikan.
"Berhenti memanggilku paman."
Dan lagi-lagi, pemikiran Daisy salah. Dia jadi malu sendiri, karena salah menilai Alvaro terus.
"Jadi aku harus memanggil apa?" tanya Daisy ragu-ragu.
"Alvaro."
"A-apa tidak apa-apa?" Daisy mendadak gugup. Lalu menyatukan kedua jari telunjuk, memainkannya.
Tanpa sadar, Alvaro mengigit pipi bagian dalamnya. Tingkah Daisy terlihat imut di matanya.
Bagaimana bisa pria sekejam Alex Rudiart memiliki adik seperti Daisy?
"Tidak apa-apa. Lagi pula aku belum setua itu untuk menjadi pamanmu," kekeh Alvaro.
"Bukankah kita akan menikah? Tentu saja kamu bukan pamanku. Baiklah, aku akan memanggilmu Alvaro. Ya, hanya Alvaro!"
Daisy menggeleng, matanya yang belo mengerjap, sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan yang begitu manis, lesung pipi di kedua pipi menambah kesempurnaannya.
Alvaro tertegun dalam diam.
Mawar tidak pernah bisa menjadi bunga matahari, dan bunga matahari tidak akan pernah bisa menjadi bunga mawar. Begitu pula dengan bunga Daisy yang mempesona dengan caranya sendiri.
Namun, Alvaro berusaha sekuat tenaga untuk menarik dirinya dari pesona sang bunga. Karena tujuannya bukalah untuk jatuh cinta pada wanita itu.
__ADS_1
_To Be Continued_