
Tidak beberapa lama, sebuah lampu menyorot ke atas panggung di mana ada Renata berada.
Renata menarik napas dengan pelan, sebelum membuka mulut, "Maaf tentang lampunya, aku yakin kalian semua bisa melihat ke sini."
Para tamu yang sempat terkejut, langsung tertawa mendengar perkataan Renata. Ya, tentu saja mereka bisa melihat wanita cantik itu. Renata benar-benar menjadi pusat perhatian.
"Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk Tuan Rendra Viandra Tan. So, it's surprise. Aku akan menyanyikan sebuah lagu untuknya, ini memang tidak seberapa tapi aku harap bisa tersimpan dalam memori," ucap Renata, yang membuat orang-orang langsung kembali bersorak dan bertepuk tangan.
"Dia bisa bernyanyi?" tanya Tuan J pada Zayn.
"Ck, suami payah. Itu saja tidak tahu," jawab Zayn.
Seketika Tuan J bungkam karena dirinya dipanggil 'suami payah'. Apa benar dia suami payah?
"Tuan Rendra, kamu pasti belum pernah mendengar putrimu ini bernyanyi. Sekarang aku akan mempersembahkan satu lagu ini untuk Tuan Rendra yang terhormat."
Rendra terenyuh. Mengapa Renata masih saja memanggilnya Tuan Rendra? Punggungnya terasa berat ketika panggilan 'Ayah' sudah tidak lagi pernah terdengar dari mulut sang putri.
Berbeda dengan Rendra, para tamu semakin bersorak kencang.
Alunan instrumen musik mulai terdengar, diiringi lampu-lampu kecil yang mengeluarkan cahaya temaram di sekeliling. Mendengar instrumen lagu itu, semua orang semakin terlihat antusias dibuatnya.
Renata mulai menyanyikan lagu Celine Dion, yang berjudul Dance With My Father. Meskipun semua tidak familiar dengan lagu itu, akan tetapi langsung dibuat terkejut dengan suara Renata sang sangat...
"Wow!"
Hanya satu kata yang keluar dari semua yang mendengarnya.
"Ternyata Adikku memiliki bakat terpendam," bahkan Zayn sendiri tidak menyangka.
Sedangkan Tuan J, terlihat sekali dari bola mata hitamnya yang tidak berkedip sedikitpun, dia sangat terpesona dengan istrinya itu. Tuan J mulai bertanya-tanya, apa Renata tidak lelah untuk terus membuatnya jatuh hati?
Dan di sisi lain, terdapat Sanaya yang terbakar api cemburu. Dia kira, Renata akan mempermalukan dirinya sendiri. Tapi apa sekarang?
Sialan! Ingin sekali aku mencakar wajahnya yang sok cantik itu! batin Sanaya.
Renata langsung berjalan, turun dari panggung sambil bernyanyi, lampu juga terus menyoroti dirinya. Renata mendekati Rendra.
Lagu yang dia nyanyikan memiliki makna yang berarti kedekatan seorang anak kepada Ayahnya yang telah pergi. Rasa rindu terhadap Ayahnya yang kerapkali berdansa dengannya sewaktu kecil, selalu memimpikan masa-masa itu kembali.
Sama halnya dengan Angel yang selalu merindukan kasih sayang Ayahnya. Kasih sayang yang dulu sempat dirasakannya sebelum sang Ibu meninggal.
Melalui lagu ini, Renata mencurahkan isi hati Angel pada Rendra.
__ADS_1
"But dear Lord, shes dying to dance with my father again. ( Tapi Tuhan, dia amat ingin berdansa dengan ayahku lagi. )"
Sambil menyanyikan bait lagu itu, Renata menatap Rendra sendu.
"Every night I fall asleep, and this is all I ever dream. ( Setiap malam aku tertidur dan inilah yang kuimpikan. )"
Rendra hanya bisa membeku di tempat, ingin sekali dia memeluk putrinya itu. Tapi, sekali lagi kedua kakinya seakan tertancap pada tanah.
"Know you don't do it usually. ( Aku tahu kamu tidak pernah mengabulkan doa seperti itu. )"
Para tamu undangan bahkan sampai meneteskan air mata, mendengar bait tiap bait yang dinyanyikan Renata.
Setelah itu, Renata kembali berjalan ke atas panggung. Kemudian suara tepuk tangan kembali riuh ketika dia selesai bernyanyi.
"Ayah tidak apa-apa?" tanya Sanaya yang mulai khawatir jika Rendra akan luluh pada Renata.
Sanaya tidak bisa membiarkan Renata mendapatkan perhatian Rendra. Dia ingin Renata selama-lamanya dibenci Ayahnya.
"Tidak apa," jawab Rendra seraya menghembuskan napas berat, rasa sesak di hati tiba-tiba menyerangnya.
Renata masih berada di atas panggung, dia kembali berbicara dengan mikrofon yang masih dipegangnya.
"Tidak adil rasanya jika aku hanya memberikan surprise pada Tuan Rendra. Jadi aku juga ingin memberikan sesuatu pada Nyonya Santy."
Sanaya tertawa sinis dibuatnya, "Untuk apa dia menyanyikan itu untuk Ibu?"
"Entahlah," ucap Santy tidak mau ambil pusing.
"Nyanyi! Nyanyi! Nyanyi!" sorak para tamu yang ingin mendengarkan Renata menyanyi lagi.
Renata tertawa kecil menanggapinya, "Maaf, sepertinya lain kali saja," tolaknya secara halus.
Para tamu mende sah kecewa dibuatnya. Padahal mereka ingin mendengar suara 'wow' Renata lagi.
"Sebagai gantinya aku akan memutarkan sebuah video. Ini adalah sesuatu yang ingin aku persembahkan untuk Nyonya Santy."
Kemudian Renata melirik Zayn, lalu menganggukkan kepala untuk memberi isyarat.
Awalnya, layar yang ada di atas panggung memperlihatkan video balon berbentuk hati, serta kata-kata selamat dan puisi-puisi cinta.
"Aku kira apa," Santy menatap tidak minat, lalu wanita paruh baya itu menyentuh wajahnya, "Sanaya, apa riasan Ibu masih cantik?" tanyanya beralih menatap putrinya.
Sanaya menoleh untuk menatap balik Ibunya, meneliti wajah bermakeup tebal itu, "Lem bulu mata palsu Ibu sedikit terlepas."
__ADS_1
"OMG!" pekik Santy tertahan.
"Biar aku betulkan."
Setelah mengatakan itu, Sanaya mengulurkan tangannya untuk membetulkan bulu mata palsu Santy. Keduanya terlalu sibuk dengan sesuatu yang tidak penting itu.
Hingga tidak menyadari, jika video yang tengah diputar berubah, memperlihatkan adegan perselingkuhan Santy dengan Nikolas.
Bukti perselingkuhan tersebut disaksikan oleh semua orang yang hadir saat ini.
Termasuk Rendra.
"Astaga! Video apa itu!"
"Apakah itu kelakuan Nyonya Santy di belakang suaminya?"
"Menjijikkan, bahkan dia berselingkuh dengan pria yang lebih muda."
"Kasian sekali Tuan Rendra."
Mendengar cibiran-cibiran para tamu yang mengarah padanya, Santy langsung menoleh kembali ke layar yang ada di atas panggung.
Dan detik itu juga, mata Santy langsung terbelalak lebar, ketika melihat video dirinya yang sedang bermesraan dengan Nikolas di tempat tidur.
Santy langsung linglung dan wajahnya memucat.
Bagaimana pemandangan itu bisa muncul? Melihat tanggal di videonya, bukankah itu hari di mana dia menginap di hotel? Santy sengaja menginap di hotel, karena tidak ingin Sanaya menganggu percintaan panasnya dengan Nikolas.
Sedangkan Rendra? Darah langsung naik ke puncak kepala. Tangannya mengepal dengan kuat. Napasnya berat memburu. Tidak ada alat yang bisa mengukur betapa dia sangat marah saat ini.
"Santy!" bentak Rendra menggelegar.
Santy meneguk saliva sebelum menatap berani mata cokelat Rendra, yang menatapnya murka.
"Su-suamiku, aku bisa jelaskan."
"Apa yang bisa dijelaskan, ha? Sialan kamu, Santy! Bisa-bisanya kamu mengkhianati aku!" maki Rendra dengan napas terengah karena emosi.
"Aku minta maaf. Aku khilaf. Semua yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan, tidak sama sekali. Aku mencintaimu, aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku menyayangimu, Rendra," Santy memohon dengan memasang wajah memelas, yang selalu membuat Rendra luluh.
Santy berpikir, jika Rendra pasti akan memaafkannya. Bukankah pria paruh baya itu sangat mencintainya?
_To Be Continued_
__ADS_1