
Ya, tidak seharusnya dia diam saja.
"Aku akan membuktikan jika aku bukan wanita murahan."
"Membuktikan dengan apa? Bahkan Alvaro melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Kak Renata pergi ke hotel bersama seorang pria," celetuk Sanaya.
"Sungguh keterlaluan! Sepertinya aku kurang keras mendidik kamu untuk menjadi seorang wanita yang bermartabat!" Rendra bangkit berdiri, mulai membuat ancang-ancang untuk menampar Renata seperti yang semalam dilakukannya.
Zayn ikut bangkit untuk menghentikan Rendra.
Namun.
Grep
Renata terlebih dahulu mencengkram tangan Rendra. Tentu saja dia tidak akan kecolongan mendapat tamparan lagi.
"Anak ini," desis Rendra, tidak menyangka jika Renata bisa dengan mudahnya menahan tangannya.
"Apakah Tuan Rendra pikir bisa menamparku lagi?" Renata semakin mencengkram kuat tangan Rendra, "Cukup. Aku tidak memerlukan didikan keras yang akan kamu dedikasikan padaku. Peranmu sebagai orang tua sudah tidak aku butuhkan lagi."
Seketika jantung Rendra terasa tercubit karena bentuk kekecewaan Renata yang sudah tidak membutuhkannya sebagai orang tua.
"Dasar anak durhaka! Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu pada Ayahmu!" sentak Santy seolah tidak terima dengan perkataan Renata pada sang suami.
Renata melepas cengramannya, "Jika aku anak durhaka, lantas bagaimana dengan hukum orang tua menyakiti hati anak ditambah dengan menelantarkan anaknya tersebut, melakukan kekerasan mental hingga fisik. Bukankah jika orang tua semacam itu sudah berbuat dosa pada anaknya?"
Rendra lemas dibuatnya, lidahnya mendadak keluh. Apa sebegitu jahatnya dirinya selama ini?
Di sisi lain. Tuan J menatap Renata dengan perasaan yang rumit. Dari kata-kata yang didengarnya, dapat disimpulkan jika gadis itu mirip seperti dirinya, telah mendapat perlakukan tidak baik dari orang tua sendiri.
Namun, mengapa gadis itu terlihat tegar selama ini? Benar-benar gadis yang hidup dengan kuat, baik lembut dan ganas. Gadis dengan tekad yang kuat.
Entah sadar atau tidak, Jefra Tjong telah terpesona dengan sosok Renata yang menurutnya begitu keren.
"Maaf jika menyela, kami datang ke sini bukan untuk menonton pertengkaran keluarga kalian. Bisakah kamu menahan dirimu untuk tidak menyakiti putrimu sendiri, Tuan Rendra? Apa kamu tidak malu dengan kami yang melihat betapa buruknya kamu mendidik putrimu?"
Kakek Ashton membuka suara karena tidak menyukai sikap Rendra. Hal itu cukup menjawab dari mana luka yang membekas di pipi si gadis yang sejak tadi membuatnya penasaran.
"Kenapa kamu tidak memberikan kesempatan putrimu untuk membuktikan jika dia bukan wanita murahan?" sambung Ashton.
Rendra merasa malu sekarang, memang salahnya yang tidak bisa menahan emosi.
"Didikan Ayah tidak buruk. Kak Renata saja yang selalu membangkang sehingga membuat Ayah marah," celetuk Sanaya.
"Sanaya, cukup! Jika kamu berani menjelekkan Renata lagi, aku tidak akan membiarkanmu dan Alvaro tinggal di kediaman keluarga Tan!"
Sanaya menunjuk ekspresi ketakutan tatkala Zayn membentaknya.
__ADS_1
"Gara-gara kamu, aku menjadi kena getahnya, sudah kubilang diam saja," geram Alvaro pada Sanaya.
"Ma-maaf," cicit Sanaya.
"Kenapa menyalahkan putriku yang berhati baik ini? Sanaya hanya mencoba membela sesuatu yang benar," protes Santy.
"Hahaha," tiba-tiba suara tawa Renata terdengar yang membuat semuanya terheran-heran.
"Renata, kenapa kamu tertawa?" tanya Zayn.
"Aku hanya merasa lucu dengan perkataan Tante Santy," jawab Renata setelah berhenti tertawa.
"Apa yang lucu?" Santy mendelik tidak suka.
"Lucu karena penuh dengan kemunafikan."
"Jangan bicara sembarangan!" hardik Santy.
"Aku tidak bicara sembarang."
Renata tersenyum miring. Lalu mengambil ponsel yang berada di kantung skirt floral yang dikenakannya. Mengotak-atik benda persegi panjang itu untuk mencari sesuatu.
"Dengar ini."
Bersama dengan perkataannya, Renata menekan tombol play setelah mengatur volume menjadi maksimal.
[ Ternyata kamu sudah tahu? Aku kira kamu terlalu bodoh untuk tidak mengetahui jika selama ini aku telah menjadikanmu bonekaku. ]
Seketika Sanaya membeku, matanya terbelalak lebar. Sedangkan yang lainnya mulai mendengarkan isi rekaman yang sedang diputar itu.
[ Seharusnya kamu memang mati saja. Kenapa kamu masih saja hidup? ]
[ Jadi benar selama ini kamu mencoba membunuhku? ]
Terdengar suara tawa Sanaya yang seperti orang gila.
[ Ya! Seseorang yang menghalangi jalanku memang harus mati, karena aku adalah tokoh utama yang ditakdirkan bahagia. ]
[ Sebaiknya kamu obati otakmu itu. ]
[ Sialan! Sejak kecelakaan otakmu lah yang bermasalah, kalau saja kamu tidak merubah sikap jal*ngmu itu, Alvaro tidak mungkin kembali tertarik padamu. Seharusnya kamu tetap menjadi pelakor dan mengganggu hubunganku dan Alvaro. Tapi, kenapa kamu berubah? Kamu sungguh membuatku kesal! Padahal aku sudah bersusah payah untuk menghancurkan cinta kalian dengan menjebak kamu di Club malam bersama seorang pria. ]
Alvaro mengeraskan rahang mendengar pengakuan Sanaya yang begitu mengejutkan itu. Kedua tinjunya juga terkepal hingga menyebabkan jari-jari memutih.
[ Memangnya apa yang kamu dapatkan setelah melakukan itu? ]
[ Karena itulah Alvaro menganggap kamu murahan dan pada akhirnya memilih menik── ]
__ADS_1
"Tidak! Hentikan rekaman itu! Itu bukan suaraku!" sangkal Sanaya sedang berteriak keras, terlihat wajahnya yang pucat dan berkeringat dingin.
Renata menghentikan rekaman yang sudah memperdengarkan perbincangannya dengan Sanaya. Karena tidak ada pilihan lain, Renata menggunakan rekaman itu. Padahal dia ingin menyimpannya sampai berhasil mengumpulkan bukti kejahatan Sanaya yang lainnya.
Namun, Sanaya tidak bisa diberi ampun saat ini.
"Jelas-jelas itu suaramu, Sanaya," Alvaro berkata dengan menggertakkan gigi geraham.
"Bukan, Alvaro! Percayalah padaku!" Sanaya masih mencoba menyangkal rekaman itu.
Alvaro diam. Namun, tidak berarti percaya dengan Sanaya, dia hanya sedang menahan diri untuk tidak berbuat kasar pada sang istri. Dari perbuatan istrinya selama ini, ditambah rekaman itu, sudah sangat jelas jika Sanaya benar-benar berhati busuk.
Sanaya mendekat pada Rendra karena tidak mendapat respon dari Alvaro, "Ayah, percayalah padaku, aku tidak mungkin berbuat jahat pada Kak Renata."
Berbeda dengan Alvaro, sepertinya Rendra masih ragu jika putri tirinya bisa melakukan hal seburuk itu.
Santy mencoba membela Sanaya, "Bukankah rekaman suara sangat mudah dimanipulasi? Pada era milenial ini sangat mudah mendapatkan alat atau perangkat lunak untuk manipulasi data terutama pada kasus manipulasi rekaman suara!"
Inilah yang ditakutkan Renata, sebuah rekaman suara memang tidak cukup untuk membongkar kebusukan Sanaya.
"Ternyata Tante Santy cukup cerdik dalam memutar balikkan fakta, ya?" Renata tersenyum sinis.
"Kamulah yang memutar balikkan fakta! Selama ini Sanaya sangat menyayangimu, bagaimana bisa kamu memfitnahnya dengan rekaman palsu itu!" hardik Santy.
"Heh, siapa yang memfitnah siapa? Itu bukan rekaman palsu!"
Ingin sekali Renata menyumpal mulut Santy.
"Aku percaya jika itu adalah rekaman palsu," tukas Rendra.
"Ayah, kamu terlalu bodoh karena telah percaya dengan kedua wanita itu," sarkas Zayn yang sejak tadi menahan amarah pada Sanaya.
"Aku tahu mana yang harus dipercaya dan tidak. Terlebih memang sebuah rekaman tidak bisa dijadikan bukti yang bisa dipercaya begitu saja," pungkas Rendra.
Renata benar-benar geram dengan Rendra yang sudah dibutakan oleh rasa sayang pada kedua wanita rubah itu. Sedangkan Sanaya dan Santy menjadi bernapas lega dibuatnya.
Prokk... Prokk...
Suara tepuk tangan yang berasal dari seorang pria bermata kelam menginterupsi.
Tuan J berdiri dari kursinya, "Cukup menarik."
"Apanya yang menarik, J?" tanya Ashton yang heran dengan sang Cucu yang tiba-tiba bertepuk tangan.
"Karena aku sudah tidak memiliki banyak waktu lagi, maka aku yang akan membuktikan keaslian dari rekaman itu."
Sanaya dan Santy langsung pucat pasi.
__ADS_1
Kenapa Jefra Tjong jadi ikut-ikutan?
_To Be Continued_