Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Aku Akan Menantimu Pulang


__ADS_3

Esoknya.


Sepertinya kehidupan Renata dan Tuan J sebagi pasangan pengantin baru, sedang dalam fase tumbuhnya benih-benih cinta.


Lihat saja, kini Tuan J sedang berpamitan untuk pergi ke kantor pada Renata.


"Kamu yakin ingin ke kantor?" tanya Renata, ketika mendapati Tuan J sedang merapikan kemeja di depan cermin.


"Hmm," Tuan J hanya bergumam untuk merespon, dengan masih menatap pantulan dirinya di depan cermin.


Renata menarik napas sejenak, mendekati sang suami dan terus memperhatikannya. Bukan tidak ingin jauh dari sang suami lantaran pergi berkerja, hanya saja keadaan Tuan J belum pulih.


"Tapi luka-lukamu masih belum sembuh. Apa tidak apa-apa?"


Tuan J berbalik, ditatapnya Renata yang berekspresi khawatir, "Banyak orang yang tergantung pada Tj Corp. Sebagai seorang CEO aku tidak ada waktu untuk istirahat."


Kemudian tatapan Renata teralih pada dasi sang suami yang belum terikat. Dia teringat pada film yang pernah ditontonnya, jika memasangkan dasi adalah sesuatu yang romantis. Renata menjadi ingin mencobanya.


"Aku pasangkan dasi, ya?"


Tanpa menunggu sebuah jawaban, Renata langsung berjinjit untuk memasangkan dasi.


Sedangkan Tuan J langsung sedikit menunduk supaya Renata tidak kesulitan. Ditatapnya wajah sehabis bangun tidur Renata, yang terlihat polos dan cantik. Detik itu juga, timbul getaran pada jantungnya. Perasaan yang selalu dia rasa saat berada di dekat sang istri. Renata memang selalu membawanya ke dunia baru saat mereka bersama.


Renata yang sadar akan tatapan intens dari Tuan J, mencoba untuk fokus dengan dasi. Beberapa kali juga dia menatap balik suaminya itu.


"Aku akan pergi ke kantor Kak Zayn," Renata mengatakan rencananya hari ini.


"Jam berapa?" tanya Tuan J.


"Tidak tahu tepatnya. Mungkin nanti siang," jawab Renata.


"Aku akan memerintahkan dua Bodyguard untuk menjagamu," ujar Tuan J sambil menatap Renata.


Renata menggeleng, tanpa melihat Tuan J. Tangannya masih bergerak memasang dasi, "Aku bisa menjadi diriku sendiri."


"Jangan membantah suamimu."


"Ya," patuh Renata.


Setelah dasi berhasil disimpulkan dengan rapi, Renata mengangkat kepala untuk menatap Tuan J.


"Sudah selesai, Sayang."


Renata tersenyum melihat hasil kerjanya. Lalu menepuk bahu tegap itu dengan pelan.


Tuan J tidak memberi respon apapun. Ditatapnya Renata dengan kaku. Meski di dalam hati, perasaannya sedang berbunga-bunga. Dia memang bukan tipe pria ekspresif.

__ADS_1


Tiba-tiba Tuan J menyodorkan sesuatu yang membuat Renata bingung, "Ambillah."


Setelah menerimanya, Renata tatap dengan seksama benda itu. Sebuah kartu kredit eksekutif yang hanya dimiliki pengusaha kelas atas.


"Ini untuk apa?" tanya Renata, sambil menatap Tuan J yang sudah kembali berdiri dengan tegak.


"Mulai sekarang, itu milikmu, gunakan semaumu!"


Renata terbengong-bengong seketika. Tuan J memberikannya black card! Astaga! Bayangan dirinya mandi uang setiap hari benar-benar terwujud!


"Apa tidak berlebihan?" gumam Renata yang masih bisa didengar Tuan J.


"Sekarang kamu adalah istriku, sudah menjadi kewajiban bagiku memberimu nafkah."


"Tapi pernikahan kita hanya sebuah perjanjian."


Entah apa yang mendorong Renata untuk mengatakan itu.


Sesungguhnya, Renata tidak pernah tahu isi kepala seorang Jefra Tjong. Beberapa hari menjadi istri dari pria itu membuatnya lupa diri. Tidak diragukan lagi, Renata sudah sangat bahagia dengan perhatian dan kebaikan dari suaminya itu.


Namun, ada rasa sesak di hati. Jika mengingat adanya sebuah perjanjian tertulis yang melatar belakangi sikap Tuan J. Di perjanjian itu memang tertulis jika Tuan J harus bersikap menjadi suami yang baik.


Lain halnya dengan Tuan J. Mendengar Renata mengungkit perjanjian itu membuat suasana hatinya buruk. Percayalah, dia merasa tidak suka.


"Tidak usah cerewet!" Tuan J berkata dengan ketus.


Kemudian Tuan J berbalik untuk meraih tas kerjanya, "Aku pergi."


Melihat punggung sang suami yang menjauh, Renata mengejarnya.


"Tunggu!" Renata mencegat Tuan J.


Tuan J menghentikan langkahnya, lalu menatap Renata. Tatapan yang memiliki arti bertanya 'kenapa?'.


Ya, kenapa Renata memanggil? Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia memeluk Tuan J? Atau dia harus menciumnya?


Peluk? Cium? Peluk? Cium? Peluk? Cium? batin Renata bimbang.


Pada akhirnya, dia lebih memilih memeluk Tuan J. Tangan Renata melingkari tubuh Tuan J dan membenamkan wajahnya pada leher suaminya itu. Lalu menutup matanya sambil berusaha menikmati momen ini.


Detak jantung mereka beradu. Dua hati yang terlihat dekat tapi terasa jauh karena sebuah alasan.


Kemudian Renata menghirup napas dalam-dalam, menyimpan aroma tubuh Tuan J dalam memorinya.


"Hei, Jefra..." bisik Renata perlahan, mencoba memanggil nama suami tercintanya. Lalu mendongak dan bertemu tatap dengan bola mata kelamnya malam, "Aku akan menantimu pulang."


Ketika Renata ingin melepaskan pelukannya, Tuan J justru memeluk punggungnya dengan erat.

__ADS_1


"Hmm, tunggu aku pulang."


**


Pukul sebelas siang.


Di tingkat paling atas gedung Tan Group, dan merupakan ruangan terbesar tempat sang CEO berada.


Di sinilah Renata berada, duduk bersebelahan dengan Zayn di sofa yang berada di tengah-tengah ruangan.


"Kak, ada apa?" tanya Renata dengan begitu penasaran. Dia ingin segera tahu tentang apa yang ingin Kakaknya itu tunjukkan.


"Apa kamu sudah tahu?"


Mendengar pertanyaan Zayn, Renata mengerutkan kening. Sudah tahu apa yang dimaksud?


"Soal Santy yang berselingkuh dengan Nikolas," sambung Zayn.


Mata Renata mengerjap, lalu mengangguk pelan, "Kak Zayn juga sudah tahu?"


"Ya, wanita itu benar-benar tidak tahu diri," desis Zayn.


Setelah Renata mengatakan, jika Nikolas dan Santy sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkannya. Zayn langsung bergerak untuk mengawasi pergerakan kedua orang itu. Dan betapa terkejutnya, ketika dia mengetahui jika Sekertaris dan Ibu tirinya melakukan affair.


Renata menghela napas panjang, pada akhirnya Zayn sudah mengetahuinya. Kini, tinggal Rendra yang belum mengetahui kebusukan dari Santy.


"Itulah mengapa aku memberitahu Kakak supaya hati-hati pada Nikolas. Selama ini Tante Santy merencanakan hal yang buruk pada keluarga Tan," jelas Renata.


"Kenapa kamu tidak memberitahu Kakak sejak awal?" tanya Zayn meminta penjelasan.


"Aku..." Renata berhenti sejenak, "Aku takut jika Kak Zayn tidak percaya padaku. Lagi pula aku belum mempunyai bukti jika Tante Santy berselingkuh," jawab Renata melirik sendu.


"Kan, sudah pernah kubilang, Kakak tidak pernah tidak mempercayaimu."


"Ya, Kak. Maafkan aku, karena sudah tidak bilang sejak awal."


Zayn sudah terlanjur tahu. Padahal Renata ingin mencari bukti-bukti terlebih dahulu. Baru setelah itu, dia bisa membongkar perselingkuhan Santy pada Zayn dan juga Rendra. Namun, karena terlalu sibuk dengan acara pernikahan, Renata jadi sulit untuk mencari bukti.


"Baiklah, tidak apa-apa."


Zayn menghela napas berat, mencoba paham dengan posisi Adiknya yang serba salah.


"Hal yang terpenting sekarang, kita harus memberi tahu Ayah tentang kebusukan Shanty. Kakak tidak habis pikir dengan kebodohan Ayah yang sudah mendarah daging, bisa-bisanya terjebak oleh wanita rubah seperti Santy dan juga putrinya."


"Tapi bagaimana jika Ayah tidak percaya?" tanya Renata mengenai kemungkinan yang akan terjadi. Lagi pula Rendra sangat mencintai Santy, tentu saja tidak mungkin percaya begitu saja.


"Tenang saja. Kakak sudah memiliki bukti. Ini akan menjadi sebuah hadiah di acara anniversary Ayah dan istrinya tercintanya itu," ucap Zayn tersenyum sinis.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2