Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Kejutan Yang Dimaksud


__ADS_3

Drett... Drett...


Renata tersenyum tatkala pesannya mendapatkan balasan, tapi tidak lama kemudian cemberut. Lalu jari-jemarinya mulai menari pada layar ponsel untuk mengetik balasnya. Setelahnya, terkekeh dengan wajah yang merona.


Jika ditanya siapa yang tengah bertukar pesan dengannya, tentu saja jawabnya adalah Jefra Tjong. Sudah menjadi rutinitas Renata untuk mengganggu sang calon suami di kala bosan. Semenjak Zayn melarangnya untuk bekerja lagi kegiatan Renata hanya rebahan dan bermain ponsel saja, terlebih sudah tidak banyak yang harus dilakukannya untuk persiapan pernikahan. Sungguh bosan sekali.


Renata mulai mengetik lagi meski pesannya yang barusan belum dibalas. Memang kalau tidak di chat berkali-kali Tuan J tidak mungkin membalas. Mengesalkan memang, padahal pria itu sudah menandatangani kesepakatan agar tidak mengabaikannya.


Drett... Drett...


Bukannya mendapatkan balasan pesan, tapi justru mendapat telepon dari Tuan J. Renata langsung memutar tubuhnya yang awalnya tengkurap di ranjang menjadi terlentang, dan memencet tombol hijau untuk menerima telepon itu.


"Halo," sapa Renata dengan kedua bola mata yang berbinar senang. Oh, ayolah, saat ini dia sudah seperti ABG yang mendapat telepon dari gebetan.


Ingat, Renata. Kenyataannya umurmu sudah sangat tua!


Renata hanya tertawa dalam hati karena pemikirannya sendiri.


[ Apa layar ponselmu tidak jebol karena terus-terusan mengirimkan pesan tanpa henti? ]


Renata terkekeh meski terdengar jelas jika Tuan J sedang kesal, "Habis kamu lama sekali membalas pesanku, padahal aku sedang gabut."


[ Apa itu gabut? ]


"Bosan... Aku tidak tahu harus berbuat apa, sejak tadi hanya tidur, makan, tidur."


[ Jadi kamu menggangguku hanya untuk menghilangkan rasa bosan? ]


"Ya."


Tuan J terdiam setelahnya. Renata tidak mengerti kenapa pria itu tiba-tiba diam saja.


Dan pada akhirnya...


Tut... Tut... Tut...


Panggilan dimatikan sepihak oleh Tuan J.


"Kok dimatikan, sih?" gerutu Renata.


Namun, ketika Renata ingin menelepon Tuan J lagi suara teriakan seseorang mengagetkannya.


"Sanaya!"


Itu suara Rendra, Renata tahu betul karena Ayahnya itu sangat gemar berteriak. Meski sudah tua tapi masih memiliki suara yang begitu menggelegar.


"Sanaya! Cepat ke sini!"


Terdengar teriakan Rendra yang lebih keras dari sebelumnya. Renata refleks memegang kedua telinganya.


"Lama-lama aku akan tuli," gerutu Renata.

__ADS_1


Karena merasa penasaran Renata bangkit dan melangkah ke luar kamar.


Plak!


Baru saja Renata menginjakan kaki di anak tangga, dirinya sudah dikejutkan dengan suara tamparan yang dilayangkan Rendra pada pipi Sanaya.


Sebenarnya ada apa ini? Apa ini kejutan yang Jefra katakan semalam?


Renata hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati.


Kini Renata sudah berada di ruang tamu. Ternyata semua sudah berkumpul. Ada Santy dan Alvaro yang berekspresi terkejut, Zayn yang datar, Rendra terlihat murka, dan Sanaya yang sudah menangis karena ditampar.


"Ke-kenapa Ayah menamparku?" Sanaya bertanya dengan terbata-bata, dipegangnya pipinya yang berkedut sakit.


Wajah Rendra merah padam, matanya melotot seakan ingin keluar, gigi bergemeretak. Dia tidak menjawab pertanyaan Sanaya, tapi justru melempar sesuatu ke arah wajah putri tirinya itu.


Srak


Sanaya memejamkan mata tatkala wajahnya terkena lemparan sesuatu seperti kertas.


Hening sesaat.


Kemudian Sanaya membuka mata dan melihat sesuatu yang sudah berserakan di lantai. Seketika mata terbelalak lebar. Sesuatu itu adalah foto-foto dirinya yang sedang bercumbu dengan seorang pria paruh baya.


Renata menutup mulut dengan satu tangan, tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.


"Foto-foto apa itu, Sanaya!" kini Alvaro lah yang berteriak.


Sanaya menggeleng dengan wajah yang pucat, "Ti-tidak, itu bukan aku."


Alvaro mengepalkan tinjunya, tentu saja dia tidak percaya dengan bantahan itu.


"Jelas-jelas itu kamu, Sanaya!" bentak Rendra.


"I-itu hanya editan! Ya, hanya editan!" Sanaya mencoba berkelit lagi, "Ibu, percayalah padaku. Itu bukan aku!" tatapannya beralih pada Santy.


Santy hanya diam, sepertinya wanita paruh baya itu sangat terguncang. Tidak tahu harus membela Sanaya atau tidak. Padahal dia sudah mewanti-wanti Sanaya untuk tidak macam-macam lagi. Tapi putrinya itu justru telah bertindak diluar batas.


Melihat Ibunya yang diam saja membuat Sanaya semakin terpojok.


"Kak Renata!" seru Sanaya sembari mendekat pada Renata, "Kamu yang sudah mengirim foto-foto editan itu, bukan? Kenapa Kak Renata jahat sekali padaku.... Hiks," ucapnya dengan berderai air mata.


Renata tersenyum miring, "Apa kamu sedang melempar bom waktu padaku?"


"Mengaku saja!" seru Sanaya mengabaikan pertanyaan Renata.


"Apa untungnya bagiku mengirim foto-foto itu?" Renata bertanya seolah-olah tuduhan Sanaya lelucon.


"Tentu saja karena kamu tidak menyukaiku! Kamu sangat membenciku, bukan? Dengan mengirim foto-foto editan itu kamu bisa membuat semua orang berbalik membenciku!"


Sanaya mencoba menempatkan dirinya menjadi korban. Sifat playing victim memang sudah melekat pada dirinya.

__ADS_1


"Cukup, Sanaya!" Zayn menginterupsi karena tidak terima jika Renata dituduh, "Foto itu memang bukan Renata yang mengirimnya! Tapi pria botak yang tidur bersamamu lah yang memberikannya!"


"A-apa?" Sanaya tercekat.


Plak


Pada akhirnya Alvaro menampar Sanaya Karena tidak bisa menahan amarahnya lagi.


Kini kedua pipi Sanaya sudah memerah karena masing-masing mendapatkan tamparan, "Al-Alvaro..."


"Bisa-bisanya kamu selingkuh di belakangku!"


Sanaya menggeleng, "Aku tidak selingkuh, aku hanya dijebak!"


Namun sayang, meski Sanaya terus menyangkal Alvaro sudah tidak percaya apapun yang dikatakannya.


"Aku akan menceraikan kamu."


Bagai tersambar petir di siang bolong, kata-kata Alvaro seakan mengoyak pertahanan Sanaya. Dia jatuh terduduk.


"Tapi... Bayi kita?"


Sanaya masih saja menggunakan bayi yang tidak pernah dikandungnya itu untuk terus mengikat Alvaro.


"Aku bahkan tidak yakin jika bayi itu adalah milikku. Bisa saja bayi itu milik pria paruh baya selingkuhan kamu itu."


Akan tetapi, Sanaya sudah tidak bisa menggunakan alasan itu. Alvaro akan benar-benar menceraikannya.


"Hentikan!" pada akhirnya Santy mengeluarkan suara.


Santy menghampiri Sanaya untuk membantunya berdiri, lalu memeluk putrinya itu.


"Ibu... Hiks," Sanaya menangis di pelukan Santy.


"Kalian tidak sepantasnya menghakimi putriku seperti ini!" hardik Santy.


"Putrimu itu sudah melakukan sesuatu yang begitu fatal, Santy!" seru Rendra.


"Tapi aku yakin jika Sanaya hanya dijebak saja!" Santy mulai membela Sanaya.


"Dijebak bagaimana? Mau dilihat dari manapun foto-foto itu asli, terlebih mereka melakukannya tanpa paksaan," tukas Zayn.


Kenyataannya foto-foto itu adalah sebuah bukti nyata yang tidak bisa dibantah dengan sebuah alasan klise 'Dijebak'. Terlebih alasan itu tidak disertai bukti apapun.


"Sebaiknya kamu bawa pergi putrimu itu. Aku tidak ingin melihatnya lagi. Sudah cukup baginya mencoreng nama baik keluarga Tan," ujar Rendra.


"Rendra! Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu!" Santy tidak terima dengan keputusan suaminya itu.


Rendra menghela napas berat, "Kamu boleh memilih tetap tinggal di sini atau pergi bersama Sanaya. Aku tidak memaksamu."


Santy menatap tidak percaya Rendra.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2