Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Good Wifey


__ADS_3

"Apa dia ingin menjadi monyet?"


Kini Jefra Tjong sudah berada tepat di bawah Renata yang sedang berusaha merayap dari jendela menuju ke balkon sebelahnya.


Setelah Arvin menghubunginya dan memberitahu keberadaan Renata, Tuan J langsung beralih ke bagian samping rumah. Pria itu sungguh tidak menyangka jika si calon istri yang membuat seisi kediaman keluarga Tan heboh karena disangka menghilang, ternyata sedang bercosplay menjadi monyet.


Benar-benar berkelakuan bar-bar.


Sebenarnya apa yang sedang gadis itu pikirkan? Tuan J jadi gemas sendiri. Gemas dalam artian ingin menjitak.


"Hei!"


Tuan J mencoba memanggil Renata, tapi sepertinya tidak didengar. Renata memang terlihat begitu fokus dalam aktivitas yang cukup membangkitkan adrenalin itu.


Renata nekat keluar lewat jendela karena tidak mau terus-menerus terkunci, dia juga tidak mau jika berakhir ketahuan telah menyelinap masuk ke ruang kerja Zayn. Renata juga telah meletakan kembali kotak hadiah pemberian Sanaya setelah mengambil isinya, sebisa mungkin Renata tidak mau meninggalkan jejak.


Renata mencoba melangkah pada pijakan yang hanya selebar sepuluh centimeter dan berpegangan pada sisi dinding, melangkah pelan-pelan meski merasa takut terjatuh.


"Hei!" seru Tuan J lebih keras.


Sampai-sampai mengagetkan Renata dan membuatnya kehilangan keseimbangan.


"Kyaaaaa!"


Tuan J berada tepat di bawah Renata tidak kalah terkejutnya. Pria itu belum siap saat tubuh Renata terjatuh ke arahnya. Dan pada akhirnya...


Bruk


Renata terjatuh tepat di atas tubuh Jefra Tjong. Bukan hanya itu, bibir keduanya pun bertabrakan dengan kasar.


"Ugh!" rintih Renata tatkala merasakan bibirnya begitu sakit. Lalu membuka kedua matanya.


Mata setajam elang lah yang pertama kali dilihat Renata.


Jefra?


Deg


Jantung Renata terpompa cepat. Hanya dengan sekali lihat, dia langsung tahu siapa pemilik bola mata kelam yang begitu menghanyutkan itu. Dijauhkannya wajahnya, tapi tidak dengan tubuhnya yang masih berada di atas Tuan J yang terbaring di rerumputan.


"OMG! Bibirmu berdarah," Renata panik ketika melihat bibir bawah milik Tuan J mengeluarkan darah, segera diusapnya dengan ibu jari.


Sedangkan Tuan J yang tadinya ingin melayangkan kemarahan pada Renata, langsung membeku karena merasa usapan lembut di bibir bawahnya.


"Maafkan aku," ucap Renata merasa bersalah, melupakan fakta jika bibirnya juga sakit.


Tuan J memegang tangan Renata yang masih saja mengusap bibir bawahnya.


"Turun dari tubuhku," ujar Tuan J dengan suara rendah.


Renata yang baru menyadari posisinya seketika merona. Namun, pergelangan kakinya terasa sakit saat ingin bergerak.


"Kenapa?" tanya Tuan J yang melihat ekspresi kesakitan dari wajah cantik Renata.


"Pergelangan kakiku sepertinya keseleo."

__ADS_1


"Ck," hanya suara decakan dari Tuan J.


"Kyaaaa!" pekik Renata.


Tanpa aba-aba, Tuan J bangkit dengan Renata yang masih berada di atas tubuhnya, yang membuat Renata refleks mengalungkan tangan pada lehernya. Sedetik kemudian pria itu sudah menggendong Renata seperti bayi koala dengan wajah keduanya yang berhadapan.


"Tu-turunkan aku!" seru Renata dengan wajah yang sudah semerah tomat.


Oh, ayolah. Jantung Renata bisa meledak jika terus dalam posisi seperti ini.


"Diam, atau aku akan membuang kamu ke kolam ikan," ancam Tuan J ketika Renata meronta dalam gendongannya.


Pria itu sengaja mendekat ke kolam ikan yang tidak jauh dari sana.


Renata semakin erat memeluk leher Tuan J, "Ba-baiklah aku akan diam."


"Good wifey."


Wifey?


Bolehkan Renata pingsan sekarang?


Kemudian Tuan J langsung melangkah tanpa perduli pada ekspresi Renata yang malu sekaligus berbinar senang. Langkah Tuan J berhenti saat sampai di gazebo berdesain segi enam, diturunkannya Renata di sana


Tuan J mengeluarkan sapu tangan dari balik jas yang dikenakannya. Lalu berlutut di depan Renata.


Sedangan Renata terpaku dalam diam. Tidak menyangka kalau pria itu akan membersihkan kakinya yang kotor dengan sapu tangan.


"Aku bisa dituduh macam-macam kalau membawamu masuk dalam kondisi seperti ini," ucap Tuan J.


Tuan J mendongak untuk melihat wajah Renata, "Kamu ingin menjadikan aku kambing hitam yang telah menculikmu hingga membuat heboh seisi kediaman keluarga Tan?"


Renata meringis mendengarnya, saat ini dia memang dikira menghilang. Ponsel miliknya pun tertinggal di kamar, jadi tidak bisa menghubungi Zayn untuk memberitahu jika dia tidak benar-benar hilang atau diculik.


"Tentu saja tidak," bantah Renata.


"Sebenarnya otakmu ada di mana? Bisa-bisanya keluar dari jendela. Kamu pikir kamu monyet yang bisa merayap di tembok?" sarkas Tuan J.


Kening Renata berkedut karena kesal, "Otakku masih berada di tempatnya kok, dan lagi yang merayap di tembok itu bukan monyet tapi cicak!"


"Kamu lebih cocok disandingkan dengan monyet."


Ingin rasanya Renata menarik bibir pria itu supaya tidak berbicara lagi. Tuan J sungguh bisa menjungkirbalikkan perasaannya yang tadinya senang menjadi kesal.


"Kalau aku monyet, berarti kamu calon suami dari monyet," cibir Renata.


"Makannya aku begitu sial karena akan menikah dengan monyet."


"Dasar kurang ajar!"


Kemudian Tuan J bangkit dari posisinya, kedua tangannya bersedekap sembari menatap Renata tajam, "Apa kamu sadar sudah membuat semua orang khawatir?"


"Apa kamu juga khawatir padaku?" Renata justru bertanya balik.


"Tidak," jawab Tuan J cepat.

__ADS_1


Renata tersenyum menggoda, "Kalau menjawab dengan cepat itu berarti bohong."


"Pemikiran bodoh macam apa itu?" ketus Tuan J.


"Ish, tidak asyik," gerutu Renata sembari mengerucutkan bibir lucu.


"Apa kamu ingin kabur?" tanya Tuan J agak ragu.


"Hah, kabur?" beo Renata.


"Hmm, kalau kamu berubah pikiran sebaiknya katakan saja tidak usah kabur seperti ini. Aku tidak pernah memaksamu untuk menikah denganku, dan untuk perjan──"


"Stop!" Renata menyela kesalahpahaman pria itu, "Aku tidak kabur, kok. Aku tidak berubah pikiran. Tadi aku hanya mencoba keluar karena terkunci di ruang kerja Kakakku."


Mau tidak mau Renata harus berkata jujur.


Tuan J seketika terdiam. Lalu tangan kanannya bergerak untuk menutup sebagian wajahnya yang bersemu tipis. Sebuah ciri khas yang baru Renata tahu jika pria itu sedang malu. Malu karena telah over thinking.


Oh, Renata jadi gatal ingin peluk.


"Sebaiknya kamu masuk ke rumah," ujar Tuan J mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tapi kakiku masih sakit," ucap Renata lebih terdengar merengek.


"Kamu ingin ke rumah sakit?"


Renata menggeleng, "Tidak."


"Terus?"


"Sudahlah, aku akan berjalan sendiri," ketus Renata.


Ya, berjalan dengan pergelangan kaki keseleo dan tanpa alas kaki. Jefra Tjong benar-benar tidak peka!


Sett


Namun, Renata merasa tubuhnya melayang sebelum kakinya menyentuh tanah. Tuan J menggendongnya ala bridal. Kemudian tanpa mengatakan apapun melangkah memasuki rumah.


Renata menggunakan kesempatan itu untuk memeluk pria yang dicintainya itu. Ternyata keseleo membawa keberuntungan bagi Renata. Senyum manis terukir di bibir mungilnya.


"Karena aku akan selalu ada di manapun kamu membutuhkan aku."


Renata teringat dengan kata-kata Jefra di masa lalu. Pria itu memang sangat konsisten dengan kata-katanya. Dari dulu hingga sekarang Jefra selalu datang menyelamatkannya.


"Jefra aku mencintaimu," bisik Renata sangat pelan.


"Apa?" tanya Tuan J yang tidak mendengar dengan jelas bisikan itu.


"Aku hanya mengatakan terima kasih," kilah Renata.


"Ya, memang sudah seharusnya kamu berterima kasih. Kamu sudah bikin repot."


_To Be Continued_


Note : Untuk skenario kata-kata Jefra di masa lalu kalian bisa liat bab 97 'Bodyguard Tuan Muda'.

__ADS_1


__ADS_2