
"Kita ulang sekali lagi," Pak Penghulu mengintruksi.
Suasana yang tadinya ribut kini kembali hening. Semua mata tertuju pada Jefra Tjong yang ingin memulai ijab kabul yang ketiga kalinya.
Ketegangan tidak hanya membekap Tuan J. Renata juga merasa hal yang perasaan serupa, merasa gugup, harap-harap cemas apakah sang Tuan J bisa mengucapkan ijab dengan lancar atau tidak.
Tuan J menghembuskan napas panjang. Ya, dia pasti bisa. Hanya sebuah kalimat singkat masa ia tidak bisa mengucapkannya. Akan terdengar lucu jika tersebar kabar seorang pemimpi perusahaan nomor satu tidak bisa mengucapkan ijab kabul.
Kemudian Rendra selaku Ayah dari Renata mulai mengucapkan ijab, dengan kembali berjabat tangan dengan Tuan J.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Jefra Tjong bin Theo Tjong dengan anak saya yang bernama Angelica Renata Tan dengan mas kawin berupa uang tunai 20.000 dolar dan emas 75 gram, dibayar tunai."
Tuan J segera menarik napas untuk mengucapkan kabul.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Angelica Renata Tan binti Rendra Viandra Tan dengan mas kawin tersebut, tunai."
Pria itu berhasil mengucapkannya dengan lantang dan tegas. Bahkan dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana, Saksi? Sah?" Setelah itu Penghulu bertanya pada para Saksi.
"Sah!"
Suasana yang tadinya tegang menjadi kebahagiaan yang tiada tara tatkala sebuah kata 'Sah' terucapkan.
"Alhamdulillah."
Ijab kabul telah berhasil terlaksana, kini Jefra Tjong sudah menjadi suami sah dari Angelica Renata Tan, yang kini sudah berganti marga menjadi Angelica Renata Tjong.
Kemudian Renata mencium punggung tangan Tuan J. Ada rasa bahagia dan lega di hatinya. Dia dan Jefra telah kembali menjadi sepasang suami-istri yang kedua kalinya. Setelah itu, Renata merasa sentuhan lembut pada keningnya tatkala Tuan J memberikan ciuman di sana.
Semua bertepuk tangan dan bersorak haru. Zayn dan Kakek Ashton sampai meneteskan air mata bahagia, begitu pula dengan Rendra yang juga merasa euforia sama.
Lily, kini putri kita telah menikah. Meski aku belum bisa menghilangkan rasa benciku padanya, tapi aku merasa senang karena melihatnya terlihat bahagia, batin Rendra seolah-olah berbicara pada Lily──mendiang istrinya, dengan menatap iras Renata yang sangat mirip dengan Lily.
Namun, ada tatapan ketidaksukaan juga, yakni tatapan dari Santy, Sienna, dan Aslan. Sedangkan Alvaro sudah pergi karena tidak sanggup menahan rasa sakit pada hatinya. Jika ditanya dimana Sanaya, gadis itu memang tidak diizinkan untuk datang karena Rendra dan Zayn sudah tidak mau melihat wajah putri dari Santy itu.
Kemudian prosesi dilanjutkan dengan menandatangani buku nikah. Selanjutnya, saling menyematkan cincin pernikahan di jari manis pada tangan masing-masing. Lalu semuanya kembali bertepuk tangan.
Acara pun berlanjut ke sesi foto-foto.
Kening seorang Fotografer dengan sebuah kamera ditangan berkerut. Pasalnya, Renata dan Tuan J yang ingin melakukan sesi foto pengantin justru berdiri berdampingan dengan menciptakan jarak satu meter, benar-benar terlihat canggung dan kaku.
"Maaf, apa kalian bisa berdekatan?" ujar si Fotografer yang geregetan dengan tingkah pasangan pengantin baru itu.
Renata dan Tuan J saling menatap namun tidak ada yang berucap. Lalu keduanya mengikis jarak.
__ADS_1
"Lebih dekat lagi," ujar si Fotografer seraya memasang kuda-kuda untuk bersiap memotret.
Keduanya pun mengikis jarak lagi, hinggap pundak Renata dan Tuan J bersentuhan.
"Hitungan ke tiga katakan 'money'. Satu, dua, tiga..."
"Money."
Renata yang menuruti instruksi Fotografer itu, hingga menunjukan senyum yang terlihat alami. Sedangkan Tuan J hanya diam dan berekspresi datar.
Ckrek!
Kemudian si Fotografer mulai mengarahkan agar tangan Renata memeluk bagian leher Tuan J. Dan Tuan J pun membalas pelukan Renata dengan menaruh tangannya di pinggang istrinya itu. Yang membuat jarak keduanya begitu dekat.
Ckrek!
"Apa kepalamu masih sakit?" Renata bertanya dengan suara pelan.
"Sudah tidak," jawab Tuan J, tatapannya berkeliaran menatap wajah ayu Renata. Ada rasa menggelitik pada hatinya. Entah sadar atau tidak, Tuan J semakin erat memeluk Renata.
Lalu Renata menatap kamera dengan setengah tersenyum. Sementara wajah Tuan J menoleh ke arah sebaliknya.
Ckrek!
Si Fotografer tersenyum karena mendapatkan potret yang bagus daripada sebelumnya.
Renata mencoba mengungkit sesuatu yang membuatnya penasaran itu. Sejak tadi mulutnya memang terasa gatal untuk menanyakan itu. Namun, tanggapan yang diberikan Tuan J justru membuatnya kecewa.
"Renata Carissa? Memangnya siapa?" Tuan J bertanya balik dengan ekspresi bingung.
"Kamu tidak ingat? padahal itu adalah nama yang kamu sebut saat ijab kabul."
"Oh.." Bola mata hitam itu bergerak ke kanan tengah, menandakan bahwa Tuan J sedang mencoba mengingat sesuatu, "Aku tidak ingat."
Renata diam setelahnya, hanya menatap wajah tampan itu. Saat ini perasaannya begitu rumit untuk dijelaskan.
Kini keduanya berpose saling melilitkan lengan dengan wajah tetap saling pandang.
Ckrek!
"Mungkin aku hanya kurang konsentrasi sehingga bisa salah menyebut nama lengkapmu. Kamu salah jika menganggap itu adalah nama wanita lain, karena aku tidak pernah dekat dengan seorang wanita sebelumnya."
Renata mengulum senyum mendengar penjelasan dari Tuan J.
"Kamu menjelaskan itu karena tidak ingin jika aku salah paham dan menganggap kamu yang tidak-tidak, ya?"
__ADS_1
"Bukan seperti itu, aku menjelaskannya karena melihat ekspresi kamu yang berubah seperti kodok."
Renata mendelik seketika, "Ko-kodok?"
"Ya, aku tidak ingin berfoto dengan dirimu yang mirip kodok."
"Menyebalkan!" gerutu Renata.
"Apa kalian bisa berpose lebih intim lagi?" si Fotografer menginterupsi.
Kemudian Renata mencoba mengenyahkan perasaan sebalnya.
"Aku tidak keberatan, lagi pula sekarang dia suamiku," jawab Renata.
Tuan J yang mendengar kata 'suamiku' merasakan getar aneh di relung jiwanya. Seolah-oleh itu adalah sesuatu yang terasa ia rindukan.
"Aku menyukai panggilan itu," Tuan J menyuarakan isi hatinya.
"Apa?" Renata mengernyit dibuatnya, "Kamu menyukai dipanggil apa?" tanyanya lagi.
"Panggilan 'suamiku' yang tadi kamu bilang."
Renata ternganga. Apa dia tidak salah dengar?
"Baiklah, kalau begitu kalian jangan malu-malu untuk melakukan pose selanjutnya, ya," ujar si Fotografer.
Tuan J menyeringai samar. Tangannya bergerak untuk memeluk pinggang Renata dan menariknya hingga tubuh mereka semakin merapat. Lalu wajahnya mendekat sampai hidung miliknya menempel pada hidung milik Renata.
Deg
Seketika jantung Renata terpompa cepat, wajah kian memerah tatkala merasa hembusan napas yang menggelitik kulitnya. Ini benar-benar terlalu dekat dan intim!
Ckrek!
"Wow, luar biasa!" seru si Fotografer tatkala melihat hasil bidikannya, "Bisa lebih dekat lagi?"
Eh? Lebih dekat lagi? Memang apa lagi yang kurang dekat?
Batin Renata bertanya-tanya dengan agak frustasi, karena jantungnya semakin terpompa cepat.
"Karena aku adalah suamimu aku tidak akan sungkan lagi," bisik Tuan J tepat di depan wajah Renata.
Detik berikutnya Renata merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Jefra Tjong menciumnya. Terlebih disaksikan para tamu yang kini bersorak karena melihat momen bersejarah itu.
Ckrek!
__ADS_1
Oh, bolehkah Renata pingsan saat ini juga?
_To Be Continued_