Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Speak Up


__ADS_3

"Anak kamu bilang? Kamu bahkan tidak sedang mengandung, sialan!"


Sanaya membeku seketika. Alvaro telah tahu jika dia tidak sedang mengandung.


"Da-ri mana kamu tahu?" Sanaya bertanya dengan nada yang berguncang seolah seperti penjahat yang tertangkap basah.


"Dokter yang merawat kamu yang mengatakannya."


Sanaya menelan saliva berat, dia benar-benar sudah ketahuan. Sudah dipastikan, Alvaro pasti akan menceraikannya saat ini juga, lihat saja ekpresi Alvaro yang ingin memakannya hidup-hidup.


"Hiks," Sanaya terisak dengan begitu pilu, "Maaf, Alvaro... Hiks. Aku bisa menjelaskan ini."


"Apa kamu pikir air mata dan kata maaf bisa memperbaiki semua yang telah kamu perbuat? Apalagi yang ingin kamu jelaskan? Kamu telah menjebak dan membodohi aku selama ini, Sanaya!.."


"...Sudah banyak sekali kebohongan yang kamu lakukan! Bahkan tidak dapat terhitung! Gara-gara kamu lah hubunganku dan Renata hancur, kamu telah membuatku membenci orang yang kucintai, kamu telah banyak berupaya mencelakai Renata, bahkan kamu berpura-pura mengandung hanya untuk mengikatku!"


Alvaro merasa marah, kecewa, dan bodoh karena telah berhasil dibohongi oleh seseorang yang berstatus istrinya itu. Tentu saja tidak ada manusia yang mau dan suka dibohongi.


Ada kalanya Alvaro pernah berpikir kalau Sanaya adalah gadis baik dan polos, namun fakta tidak seperti kelihatannya. Yang paling berbahaya adalah mereka yang mendatangi kita dalam wujud malaikat. Dan kita terlambat menyadari bahwa mereka sebenarnya setan yang sedang menyamar.


Sanaya menunduk mendengar kemarahan Alvaro, "Renata, Renata, Renata terus! Meskipun kamu berada di sampingku, hatimu pada Renata. Bisakah kamu melupakannya? Atau..."


Tatapan Sanaya kembali pada wajah Alvaro yang merah padam.


"...Haruskah aku mengatakan yang sesungguhnya supaya kamu bisa melupakannya?"


Kedua tangan Alvaro terkepal, kini amarah Alvaro sudah di ubun-ubun. Jika Sanaya bukan perempuan mungkin sudah dia pukul habis-habisan. Namun, dia menahannya, "Sanaya! Kebohongan apa lagi yang ingin kamu bilang, ha?"


Sanaya mulai berderai air mata, "Sebenarnya, sejak awal aku sudah mencintaimu. Aku mengaku jika perbuatanku salah karena sudah berbohong tentang Kak Renata yang selingkuh di belakangmu. Tapi itu semua aku lakukan karena Kak Renata tidak benar-benar mencintaimu. Dia hanya memanfaatkan kamu agar bisa mendekati Jefra Tjong."


"Jangan omong kosong!" sentak Alvaro.


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Kak Renata lah yang menyuruhku berpura-pura hamil agar bisa terus mengikatmu terus dan dia bisa bersama dengan Kakakmu. Dia mengatakan jika itu adalah solusi terbaik bagi kami berdua."


Kedua bola mata Alvaro melebar. Apa itu benar? Selama ini Renata tidak benar-benar mencintainya? Apa hubungan empat tahun yang mereka jalani hanya pura-pura?

__ADS_1


"Aku melakukan ini semua karena dorongan dari Kak Renata. Alasan aku mencoba mencelakainya adalah karena dia wanita yang jahat... Hiks. Aku sangat menderita. Tidak seharusnya kamu membenci aku."


Alvaro terhenyak, alisnya naik ke atas. Jika perkataan Sanaya benar, berarti Renata telah mempermainkannya selama ini. Akal dan pikiran Alvaro mulai terpengaruh dengan perkataan Sanaya. Memang dasarnya pria itu memilikinya sifat yang labil dan mudah sekali terpengaruh dengan orang lain.


Air mata Sanaya terus mengalir, tapi muncul kelegaan dalam hatinya saat melihat perubahan ekspresi Alvaro, dia hanya perlu lebih memprovokasi lagi, "Percayalah kata-kataku, Alvaro. Maaf... Aku melakukannya karena sangat mencintaimu, aku──"


Krett


Suara pintu terbuka memotong perkataan Sanaya. Pintu ruang rawat Sanaya memang tidak tertutup sepenuhnya. Terlihat Renata muncul dari balik pintu.


Deg


Seketika Sanaya menatap horor kedatangan Kakak tirinya yang tiba-tiba itu, jantungnya pun berpacu cepat. Kenapa Renata datang di saat situasi krusial ini?


"Renata," ucap Alvaro seraya menatap Renata rumit.


Langkah Renata sampai di samping brankar yang ditiduri Sanaya, tatapannya menyorot dingin dan bibirnya menyunggingkan senyum miring.


"Hebat sekali kamu menyalahkan aku."


Renata yang awalnya hanya sekedar melihat keadaan Sanaya, justru mendengar perkataan Sanaya yang menyalahkan dirinya. Tentu saja Renata tidak mungkin tinggal diam. Sudah cukup bagi Sanaya untuk menjadikan dirinya kambing hitam. Renata harus speak up untuk membantah perkataan Sanaya.


"Kamu melemparkan kesalahanmu padaku, padahal kesalahan tersebut adalah perbuatanmu sendiri. Bisa-bisanya memposisikan dirimu sebagai korban karena ingin menghindari tanggung jawab. Benar-benar tidak tahu malu," sambung Renata.


Sanaya menggeleng dengan kuat, seakan melupakan fakta jika kepalanya sedang terluka. Lalu menatap Alvaro, "Itu tidak benar, Alvaro. Aku mengatakan yang sebenarnya."


"Heh, masih saja bersilat lidah," seloroh Renata dengan sinis.


"Kamulah yang bersilat lidah!" Sanaya melempar kata-kata Renata kembali.


Renata masih terlihat tenang, tidak tersulut emosi. Padahal dia ingin sekali mencakar dan menjambak Sanaya, dia tidak perduli dengan keadaan Sanaya yang penuh luka paska tabrakan.


"Kamu yang bohong, eh kamu yang justru menyalahkan orang lain, mencoba memfitnahku dengan sesuatu yang tidak pernah aku lakukan. Kamu yang jahat, benar nyata jahatnya, eh kamu yang justru merasa orang lain jahat padamu. Apa kamu waras? Ops, kamu kan memang wanita gila."


Sanaya melotot tajam. Ingin membalas perkataan Renata, tapi kata-kata seakan tertahan di tenggorokan.

__ADS_1


Prang


Sanaya dan Renata terperanjat tatkala Alvaro membanting vas bunga yang diambilnya dari meja dekat brankar.


"Al-Alvaro," Sanaya menatap takut Alvaro.


"Cukup, Sanaya! Jadi perkataan kamu tadi hanya sebuah kebohongan? Kamu pikir aku bisa kamu bohongi terus-menerus, hah!" seru Alvaro dengan napas yang memburu, pada akhirnya Alvaro tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sanaya.


Wajah Sanaya memucat dan berkeringat dingin. Habislah sudah dia.


Seketika beberapa perawat datang karena mendengar keributan dari kamar rawat Sanaya.


"Ada apa ini?" tanya salah satu perawatan.


Namun, ketiga orang yang terlibat dalam keributan itu diam, tidak menjawab, bahkan ketegangan di dalam ruangan itu tidak memudar.


"Hiks... Alvaro. Aku... Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud untuk membohongimu," Sanaya terisak pilu.


Air mata yang selalu mempan untuk membujuk Alvaro kini sudah tidak berarti apapun.


"Persiapkan dirimu. Aku akan segera menceraikan kamu, Sanaya."


Karena sudah terlalu marah dan kecewa Alvaro berlalu, tidak memperdulikan teriakan Sanaya yang memanggil-manggil namanya.


"Tidak, Alvaro! Hiks... Jangan ceraikan aku! Alvaro!" teriak Sanaya sudah seperti orang kesetanan.


Renata menatap Sanaya yang terlihat sangat menyedihkan itu, "Kamu mendapatkan apa yang pantas kamu dapatkan."


Sanaya mencengkram seprai dengan kuat, air mata dari sebuah kehancuran menetes dari pelupuk matanya.


"Sanaya! Ada apa ini?" Santy datang dan bingung melihat kamar rawat putrinya ramai. Lalu beralih menatap Renata, "Kenapa kamu di sini?"


"Tentu saja mengunjungi Adikku yang sedang sakit, dan... " Renata menatap Nikolas yang mengekor Santy, "Kenapa Sekertaris Kak Zayn ada di sini?"


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2