
Pada akhirnya Sanaya sudah membuat Rendra begitu kecewa sehingga Santy tidak bisa membujuknya lagi. Itu karena nama baik keluarga Tan sudah begitu tercoreng dengan kelakukan Sanaya. Terlebih juga ada video syur yang beredar. Ya, video percintaan Sanaya dan si pria paruh baya juga sudah tersebar luas.
Sanaya sudah benar-benar tidak bisa mengelak.
Renata tidak menyangka kejutan yang dimaksud Jefra Tjong adalah kehancuran hidup Sanaya. Hidup Sanaya sudah dihancurkan dalam sehari.
Itu cukup membuat Renata merinding karena tahu betapa mengerikannya calon suaminya itu. Sangat tidak tanggung-tanggung dalam mengurus masalahnya. Renata pun jadi teringat dengan Anya yang tiba-tiba menghilang kerena Tuan J.
"Tidak heran, sih. Dulu saja dia suka bermain dengan tembakan dan tidak segan untuk membunuh orang. Apalagi sekarang dia memiliki kekuasaan yang membuatnya dapat melakukan apa saja," lirih Renata menerawang sisi lain dari Jefra Tjong.
Renata melihat Sanaya yang sedang menangis tersedu-sedu di pelukan Santy.
Merasa kasian? Oh, tentu saja tidak. Katakan saja jika dia jahat karena merasa senang melihat kehancuran Sanaya.
Sesungguhnya, jika seseorang siap menyakitkan orang lain, makan orang itu juga harus siap jika ada yang menyakitinya. Ingatlah bahwa karma itu ada, karena karma berasal dari perbuatan buruk yang pernah dilakukan. Maka dari itulah, kata karma bisa menjadi pelajaran berharga bagi mereka yang berbuat jahat untuk menyadari kesalahannya.
Namun, apakah Sanaya sudah menyadari kesalahannya? Apa justru semakin membenci Renata?
Semoga saja Sanaya masih memiliki pikiran yang waras untuk tobat. Ya, semoga saja.
"Sanaya!" seru Santy tatkala Sanaya tiba-tiba pingsan.
**
Di tempat lain.
Beda halnya dengan Renata yang sedang menonton siaran live dari kehancuran Sanaya. Terlihat Jefra Tjong yang sedang berada di ruang meeting untuk membahas sebuah proyek bernilai milyaran dolar bersama para petinggi perusahaan Tj Corp.
"Bagaimana, Tuan?" tanya Arvin.
Tuan J yang sejak tadi tidak fokus seketika tersadar. Pikirannya memang tidak berada di ruang meeting ini.
"Buatkan aku rangkumannya."
"Baik, Tuan."
Kemudian Tun J bangkit dari kursinya, meletakan kedua tangannya di atas meja dan menatap satu persatu orang yang berada di ruang meeting dengan tajam.
Seketika suasana menjadi tegang. Merasa was-was jika mereka telah melakukan kesalahan.
"Sebelum kita mengakhiri meeting ini, aku akan membahas sesuatu yang mengganggu pikiranku selama meeting berlangsung."
Suasana tegang yang tercipta menjadi semakin tegang.
__ADS_1
Arvin sendiri sudah bersiap-siap mencatat sesuatu yang akan terucap dari mulut Tuan-nya itu.
"Hmm," Tuan J berdeham sesaat, "Jika seorang wanita sedang bosan apa yang harus aku lakukan?"
Seketika semua speechless di tempat. Bahkan Arvin sampai menjatuhkan bolpoin yang dipegangnya.
Tak
Hanya ada keheningan setelah suara bolpoin yang menyentuh lantai.
"Kenapa diam?" tanya Tuan J sedikit meninggikan nada suaranya.
"A-ah, ti-tidak kenapa-kenapa, Tuan," jawab salah satu petinggi perusahaan dengan kikuk.
"Memangnya siapa wanita yang merasa bosan itu, Tuan?" tanya yang lainnya.
"Calon istriku," jawab Tuan J semakin membuat tercengang-cengang.
Tidak ada yang menyangka, jika hal yang mengganggu pikiran sang CEO selama meeting berlangsung adalah si calon istri yang merasa bosan. Tentunya semua orang yang berada di ruangan ini tahu siapa wanita yang dimaksud Jefra Tjong. Pernikahan sang CEO dengan putri dari keluarga Tan memang sudah menjadi rahasia umum.
"Aku hanya tidak ingin dia terus-menerus menganggu ku karena merasa bosan."
Sepertinya Tuan J memang sudah terlalu jengah dengan Renata yang terus mengirimnya pesan, apalagi alasan gadis itu adalah hanya karena bosan.
Tuan J mulai memikirkan nasihat itu.
"Jalan-jalan? Apa yang kamu maksud adalah mengajaknya ikut dalam perjalanan bisnis?"
Oh My, sepertinya memang cuman pekerjaan yang ada di otak Jefra Tjong. Baginya jalan-jalan itu adalah perjalanan bisnis.
Kemudian semua petinggi perusahaan saling menatap satu sama lain dan tersenyum misterius. Sepertinya memang sang CEO perlu diberi paham tentang bagaimana menyenangkan seorang wanita.
"Tuan, mengajak Nona dalam perjalanan bisnis tidak buruk juga, kalian bisa menginap bersama di sebuah hotel."
"Tidak, itu terlalu ekstrim jika langsung mengajak Nona menginap bersama, akan lebih baik jika mengajaknya jalan-jalan ke mall untuk belanja barang-barang mewah. Bukankah semua wanita menyukai barang-barang mewah?"
"Kamu ini korban wanita matre, ya? Nona pasti bukalah wanita seperti itu. Nona adalah wanita terhormat dari keluarga Tan, itulah mengapa Tuan ingin menikahinya. Sebaiknya ajak Nona untuk menonton layar tancap, memberikannya bunga atau cokelat akan jauh lebih baik daripada barang-barang mewah."
"Bukankah itu terlalu kuno? Saat ini sudah bukan era di mana menonton layar tancap."
"Ah, maksudku menonton bioskop."
"Mengajak Nona makan malam romantis tidak buruk juga."
__ADS_1
"Berkuda di pinggir pantai lebih romantis."
Seketika ruang rapat menjadi ramai oleh parah petinggi perusahaan yang memberi saran untuk sang CEO.
"Catat semua yang mereka katakan, Arvin," titah Tuan J pada Arvin.
"Baik, Tuan."
**
"Hatchuuu!"
Renata refleks menutup mulut ketika tiba-tiba bersin, lalu mengusap hidungnya yang terasa gatal.
"Sepertinya ada yang sedang membicarakan aku," gumam Renata yang sedang melangkah menaiki anak tangga.
Keributan di ruang tamu sudah berakhir karena Sanaya pingsan. Renata pun berniat kembali ke kamar, tidak terlalu perduli dengan Sanaya yang benar-benar pingsan atau hanya pura-pura.
Grep
Renata merasa tangannya dicekal seseorang dan seketika mendelik saat mengetahui siapa pelakunya.
"Lepas, Alvaro!" seru Renata.
Ya, Alvaro lah yang dengan kurang ajarnya mencekal tangan Renata.
Alvaro tidak menggubris rontaan Renata yang ingin dilepaskan, dia justru menarik Renata ke arah balkon yang berada di lantai satu.
"Aku hanya ingin bicara denganmu, Renata," ucap Alvaro setelah melepaskan tangan Renata.
Kini mereka berdua tengah berdiri berhadap-hadapan.
Renata menatap wajah pria bermata hijau itu dengan sengit, "Bicara apa?"
"Aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu selama ini."
Alvaro menunjukan raut wajah penuh penyesalan. Kemudian diraihnya kedua tangan Renata untuk dia genggam.
"Tidak seharusnya aku mempercayai Sanaya yang mengatakan kamu selingkuh di belakangku. Seharusnya saat itu aku percaya denganmu, tapi aku justru bertindak bodoh dengan meninggalkanmu begitu saja. Aku benar-benar menyesal. Apa kamu memaafkan aku?"
Renata menundukkan wajah, tidak menjawab permintaan maaf Alvaro.
"Aku masih mencintaimu, Renata. Bahkan aku tidak pernah bisa menghilangkan perasaan ini meski terus mencoba melupakanmu. Kamu juga masih mencintaiku, bukan? Kita telah bersama selama empat tahun, itu tidak mudah untuk melupakan satu sama lain. Aku akan segera menceraikan Sanaya dan kembali kepadamu. Ayo kita mulai kembali hubungan kita."
__ADS_1
_To Be Continued_