
Jam menunjukan pukul delapan malam. Jefra sangat merasa lelah karena hari ini benar-benar menguras emosi dan energi.
Entah kenapa pekerjaannya menjadi terasa berat, karena ada saja yang membuatnya marah.
Jefra mendengus kesal mengingat kejadian tadi siang, saat dia dan Renata bertengkar. Bahkan, semua pesan dan teleponnya diabaikan istrinya itu.
Dia memandangi wallpaper ponselnya, ada foto sang istri di sana. Renata tega sekali karena membuatnya rindu hingga kesal seperti ini.
Di kursi kemudi, Arvin menatap Tuan-nya yang sedang duduk di kursi belakang dari kaca sepion tengah.
Jefra yang tidak sadar sedang ditatap sang Asisten, memutuskan untuk menelepon Renata lagi, ingin memberitahu jika dia sedang dalam perjalanan pulang, mungkin istrinya ingin dibelikan sesuatu.
Sekali. Dua kali. Tiga kali, tetap tidak ada jawaban. Yang lebih parah, hanya suara operator yang menjawab, menandakan si empunya sedang tidak mengaktifkan ponsel.
Hal itu membuat Jefra merengut kesal. Lalu disimpan kembali ponselnya di saku celana.
"Arvin, bangunkan aku jika kita sudah sampai."
Jefra menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil sambil memejamkan mata.
"Baik."
Arvin melihat jika Tuan J sudah tidur dalam posisi duduk. Sepertinya, hari ini sang CEO benar-benar lelah. Lalu Arvin menjalankan mobilnya menuju ke suatu tempat, dan yang pastinya bukan ke kediaman keluarga Tjong.
**
"Tuan J, bangun," Arvin membangunkan Jefra dengan sedikit meninggikan suara.
"Hmm," Jefra berusaha mengumpulkan nyawanya sehabis tidur.
Setelah kesadarannya pulih, Jefra merasa heran sekaligus bingung.
"Di mana ini?" tanya Jefra karena tempat di mana dirinya berada bukanlah kediaman keluarga Tjong.
Padahal dia ingin segera pulang supaya bisa memeluk Renata, dan kembali berusaha menjinakkan istrinya yang sedang ngambek.
"Tuan akan segera tahu, sebaiknya kita masuk."
Karena pikirannya sudah terlalu lelah, Jefra menurut saja untuk masuk ke dalam gedung restauran yang terlihat sepi dan gelap. Lagi pula Arvin tidak mungkin berbuat macam-macam padanya, dia cukup percaya dengan Asistennya itu.
Sesampainya di dalam, Jefra tidak bisa melihat apa-apa karena semua lampu di matikan.
"Arvin, kenapa gelap sekali?"
__ADS_1
Namun, tidak ada jawaban dari Arvin. Jefra juga tidak merasakan keberadaan Arvin di sekitarnya.
"Arvin? Kau jangan bercanda!" seru Jefra sedikit emosi, bisa-bisanya sang Asisten jahil di saat dirinya sedang lelah.
Kaki Jefra melangkah ke depan dengan perlahan-lahan, berusaha menggapai sesuatu.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Lampu menyala, dan alangkah terkejutnya Jefra melihat kondisi restauran yang penuh dengan hiasan dan balon-balon berwarna hitam putih melekat di tembok. Meja dihias sedemikian rupa. Dan juga terdapat sebuah tulisan HAPPY BIRTHDAY MY HUSBAND.
Wajah Jefra tertegun, membeku melihat ini semua. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung sebenarnya ada apa ini. Apa ini untuknya?
Dari arah belakang Renata datang membawa kue ulang tahun, dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
"Happy birthday to you... happy birthday to you... happy birthday to you... happy birthday to you... happy birthday to you..." para karyawan dan juga Arvin ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan, Kakek Ashton pun ada di tengah-tengah mereka.
Oh, ini benar-benar untuknya!
Seketika perasaan Jefra campur aduk antara terkejut, terharu, dan bahagia. Semua menjadi satu, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Happy birthday, Sayang," ucap Renata mengecup pipi Jefra.
"Ka-kamu yang merencanakan ini?"
"Ya, aku dibantu oleh mereka untuk membuat kejutan untuk Tuan J kita."
"Aku kira kamu tidak tahu hari ulang tahunku."
Renata tertawa pelan, "Mana mungkin aku tidak tahu hari ulang tahun suamiku sendiri."
"Rencana kita berhasil, Nyonya!" ucap mereka semua.
"Rencana apa?" tanya Jefra heran.
"Kami saling bekerjasama untuk membuat Tuan J kesal dan emosi hari ini, dan ternyata kami berhasil membuat Tuan J marah," Arvin menjelaskan rencana apa yang telah mereka buat.
"Meski kami sangat takut dengan kemarahan Tuan J yang sangat menakutkan," timpal salah satu karyawan.
"Jadi kalian sengaja membuatku marah-marah seharian ini?"
__ADS_1
"Betul banget!" mereka menjawab dengan berteriak serempak.
"Wah, kalian benar-benar berhasil mengerjaiku, bahkan aku bertanya-tanya mengapa sedari pagi tadi aku selalu mendapatkan masalah. Tapi, ternyata itu semua ulah kalian."
Mereka hanya menertawakan keterkejutan Tuan J, yang tidak menyangka jika sehari ini dia dikerjai habis-habisan.
"Dan sebenarnya, istrimu lah yang mengusulkan ide ini dan akhirnya kami semua setuju," ucap Kakek Ashton sambil menepuk pundak Jefra.
"Apa Renata kamu..." Jefra tercekat dalam kata-katanya. Menatap larut pada mata cokelat cerah. Bening sekali mata Renata. Dari sana memancarkan kasih sayang yang tulus.
"Maaf, Sayang. Karena ideku, kamu menjadi lelah," sesal Renata.
"Tidak apa, aku justru senang karena kalian tidak lupa dengan ulang tahunku. Terima kasih untuk hari ini. Kalian berhasil membuat kejutan yang berharga," ucap Jefra.
"Tiup lilinnya! Ayo, kita menyanyikan lagu happy birthday sekali lagi!" seru Kakek Ashton bertepuk tangan, dia senang karena sang Cucu terlihat bahagia di hari ulang tahunnya. Kini, sudah tidak ada lagi Jefra Tjong yang terpuruk karena kenangan masa kecil yang buruk.
"Make a wish!" seru salah satu karyawan, mengingatkan Tuan J untuk meminta sebuah permohonan sebelum meniup lilin.
Jefra mengangguk. Kemudian menutup mata, mulai berdoa di dalam hati. Bersyukur kerena telah diberikan kehidupan kedua yang baik, bisa kembali menjadikan Renata sebagai istinya dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Berharap jika keluarganya selalu bahagia meski nanti banyak rintangan, dia dan Renata akan melewatinya bersama-sama.
Jefra kembali membuka mata, dan langsung meniup lilin. Dalam sekali tiup, mati sudah api mungil itu. Semua bertepuk tangan dan mengucapkan selamat ulang tahun.
Setalah acara tiup lilin dan memberikan selamat untuk sang CEO, mereka menikmati hidangan yang disajikan sambil bercanda, bercerita, bahkan ada juga yang bernyanyi.
Restauran itu memang sudah dipesan secara khusus untuk acara ulang tahun Tuan J, yang membuat pihak restauran tidak menerima pelanggan untuk malam ini.
"Terima kasih sudah mengingatnya, Dear," ucap Jefra memeluk Renata dari belakang, sambil sesekali mengelus perut buncit sang istri.
"Sama-sama, Sayang. Aku tidak mungkin melupakan hari sepenting ini. Seperti dulu, kita selalu merayakan ulang tahun satu sama lain bersama-sama."
"Aku berharap tahun-tahun berikutnya kita bisa terus bersama seperti ini. Kita selalu bahagia dan anak kita tumbuh dengan baik."
"Ya, aku juga mengharapkan itu."
Pasangan suami istri itu saling menghangat tubuh sambil ditemani pemandangan malam yang sangat cantik. Dapat terlihat dari jendela kaca berukuran besar, bulan sabit yang menggantung cantik dan taburan bintang berkelap-kelip.
"Mau hadiah apa dariku?" bisik Renata mende sah pelan. Bahagia jika Jefra-nya terhibur dengan pesta kejutan ini.
"Aku mau dirimu."
"Untuk yang berulang tahun, maka akan aku berikan semua apa yang kamu inginkan!"
Keduanya tertawa di antara kebahagiaan semua yang hadir.
__ADS_1
_To Be Continued_