Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Mengurus Ketegangan


__ADS_3

"Baiklah, aku akan mengantar Nyonya ke ruang rapat."


Pada akhirnya, Arvin mengizinkan Renata.


Padahal pria itu hanya ditugaskan untuk menjemput sang istri CEO yang ingin membawakan makan siang untuk suaminya, akhir-akhir ini Renata memang kerap membawa makan siang untuk Jefra.


Sang CEO dan istrinya memang begitu romantis di banyak kesempatan, Arvin sampai iri dibuatnya. Sepertinya dia memang harus mencari istri sesegera mungkin, meninggalkan kehidupannya yang berganti-ganti wanita.


Kenyataannya, Arvin tidak tahu tujuan asli Renata datang menemui Tuan J.


Sedangkan Renata, yang tengah mengikuti Arvin menuju ruang rapat memperhatikan sekelilingnya. Bukan hanya di lobi saja, tapi di setiap sudut kantor para Karyawan berbicara buruk tentang suaminya.


Memang ada yang aneh, hal itu karena beberapa karyawan yang berada di pihak Alvaro semakin menjelekkan Jefra Tjong secara langsung.


Bahkan, mereka mengungkit jika kerugian proyek perusahaan yang sebelumnya karena kelalaian sang CEO, serta tindakan Tuan J yang memecat banyak Karyawan berpengaruh──mereka tidak tahu jika Karyawan yang dipecat sangat merugikan perusahaan, hingga ketidakhadiran sang CEO yang lebih mementingkan menunggu istrinya yang koma pun diungkit.


Mereka semua mencari-cari keburukan Jefra Tjong, supaya reputasinya semakin buruk. Dengan begitu semua Karyawan berbalik membenci Tuan J, dan berakhir membuat sebuah petisi supaya posisi CEO ditempati Alvaro.


Namun, Renata tidak mungkin membiarkan rencana Alvaro terlaksana. Beruntung karena dia sudah mengetahui alur novelnya.


"Asisten Arvin," panggil Renata pada Arvin.


"Ada apa, Nyonya?"


"Kudengar kamu terkenal di kalangan wanita cantik."


Mendengar perkataan Renata membuat Arvin salah tingkah, "Apa benar seperti itu?"


"Ya, aku kan juga mantan karyawan TJ Crop, banyak wanita yang mengidolakanmu, bahkan kamu dinobatkan menjadi pria tertampan nomor tiga setelah Jefra Tjong dan Alvaro Tjong," beber Renata sedikit melebih-lebihkan.


Memang banyak wanita yang menyukai Arvin, tapi tidak ada penobatan pria tampan seperti yang Renata katakan.


Arvin tertawa bangga, "Tidak menyangka jika aku sangat populer dari kelihatannya."


Renata mengangguk untuk mengiyakan, "Bisakah Asisten Arvin yang populer bisa membantu Tuan J?"


"Bisa!" jawab Arvin tanpa berpikir terlebih dahulu, sudah terlalu bangga pada dirinya sendiri, "Apa yang harus aku lakukan?"


Renata memberi isyarat pada Arvin untuk mendatangi para Karyawan yang membicarakannya Tuan J, kebanyakan dari mereka adalah wanita. Pada wanita memang lebih suka bergosip daripada pria.


"Serahkan saja padaku."


Setelah mengatakan itu, Arvin melangkah ke arah kerumunan Karyawan itu. Seketika para Karyawan langsung terdiam saat menyadari kehadiran sang Asisten CEO.


Siapa yang tidak kenal Arvin? Pria itu hampir sama dinginnya seperti Tuan J, para wanita yang ingin mendekatinya pun tidak berani.


"A-ada yang bisa dibantu, Asisten Arvin?" tanya wanita berambut blonde yang sejak tadi menabur keburukan Tuan J, dia adalah orang yang berada di pihak Alvaro.

__ADS_1


"Nona Cantik, bukankah yang tadi kamu katakan hanyalah kebohongan?" Arvin mendekati wanita itu.


"A-apa? Tid──"


Arvin menarik pinggang si wanita, hingga tubuh keduanya kian merapat, "Yang kamu katakan bohong, bukan?"


Wajah wanita blonde itu memerah matang, jantungnya berdegup sangat kencang. Dia tersihir oleh bola mata Arvin yang berwarna biru turquoise, dan tanpa sadar mengangguk.


"Y-ya, Tuan J adalah CEO terbaik sepanjang masa," jawab si wanita gugup.


Arvin memberikan kecupan di pipi wanita blonde itu, kemudian melepas rengkuhannya. Sedangkan si wanita hampir pingsan dibuatnya.


"Para Nona cantik sekalian, kalian tidak boleh berkata buruk tentang Tuan-ku lagi, ya," ucap Arvin sambil mengedipkan salah satu matanya.


"Ya, kami tidak akan berbicara buruk tentang CEO lagi."


"Kyaaaa, Asisten Arvin!"


"Dia tampan sekali!"


"Asisten Arvin, apa kamu mau menjadikan aku wanitamu?"


"Enak saja, aku yang akan menjadi wanitanya!"


"Wanita jelek sepertimu mana pantas!"


"Dasar kamu sialan!"


Dirasa tugasnya terselesaikan dengan baik, Arvin berbalik menuju ke tempat Renata yang terdiam melihat aksinya.


Renata tidak menyangka jika Arvin adalah seorang Casanova. Sungguh handal dalam merayu wanita.


"Hebat sekali, Asisten Arvin," puji Renata mengacungkan kedua jempol pada Arvin.


Langkah pertama sudah beres.


Kini, Renata tinggal mengurus ketegangan yang terjadi di ruang rapat.


**


Di ruang rapat.


"Apa Tuan J memiliki penjelasan tentang ini? Kenapa Tuan J tidak memperdulikan Tuan Theo?" tanya salah satu Direktur mulai kembali memojokkan Jefra Tjong.


"Bukankah ini pertanyaan yang bersifat pribadi? Apakah kau akan menjawab jika aku bertanya, kenapa kau jarang pulang ke rumah?"


Direktur yang bertanya itu seketika bungkam. Keringat dingin mulai menetes di pelipis, dia mulai merasa tidak enak dengan arah perkataan Tuan J.

__ADS_1


"Oh, tidak perlu dijawab, karena aku sudah tahu jawabannya. Kau setiap malam selalu pergi ke tempat wanitamu yang lain, sedangkan istrimu sedang menunggumu di rumah," sambung Tuan J tersenyum menghina.


"Tuan J, ke-kenapa jadi membahas masalah ke-keluargaku?" si Direktur gelagapan seketika, tidak menyangka jika sang CEO tahu tentang perselingkuhannya.


"Kalian sendiri kenapa membahas masalah keluargaku?" tukas Tuan J menatap tajam satu-satu wajah orang yang berniat menjatuhkannya.


"Cukup, J! Saat ini kita sedang membicarakan dirimu yang tidak pantas menduduki posisi CEO!" seru Alvaro yang mulai geram. Dia merasa jika Kakak tirinya sedang mempermainkannya.


Bukankah sekarang Jefra sedang terpojok? Tapi, kenapa masih terlihat tenang? Apa dia tidak takut jika posisinya sebagai CEO digeser?


"Lantas siapa yang pantas? Dirimu?"


Alvaro mengepalkan kedua tangan saat mendengar pertanyaan Jefra.


Apa saat ini Tuan J sedang mengujinya? Menguji seberapa percaya dirinya Alvaro untuk menggeser sang Kakak dari tahta.


"Ini bukan masalah pantas dan tidak pantasnya, ini masalah dirimu yang menelantarkan Ayah selama ini."


Alvaro kembali membawa nama sang Ayah untuk melawan Tuan J. Dia menggunakan Theo sebagai kartu As.


Knock... Knock...


Suara ketukan pintu ruang rapat menginterupsi.


"Tuan J, ada Nyonya Renata," lapor Arvin dari balik pintu.


"Biarkan dia masuk," ucap Tuan J.


Daun pintu terbuka, menampakan Arvin dan Renata yang masuk ke dalam ruang rapat.


"Apa kabar para Dewan?" sapa Renata dengan sopan.


Kemudian Renata menghampiri sang suami, dan membisikkan sesuatu.


"Kamu harus berterima kasih padaku, Sayang. Aku sudah membereskan masalah di luar."


Jefra menarik Renata untuk duduk di pangkuannya, lalu membalas bisikkan sang istri, "Terima kasih, Dear."


Renata tersenyum lebar dibuatnya.


Seketika semua orang yang di ruang rapat merasa menjadi tidak kasat mata, bisa-bisanya sang CEO dan istrinya menabur kemesraan di suasana menegangkan ini.


"Ehmm," salah satu Direktur berdeham, berusaha mengalihkan atensi pasutri itu, "Tuan J, kita sedang mengadakan rapat. Kurang pantas untuk membawa istrimu."


Tuan J memicing tajam, "Apa masalahmu? Dia istriku, yang tidak pantas adalah membawa wanita lain yang bukan istrimu."


Si Direktur yang menegur Tuan J langsung bungkam, karena mendapat sindiran tentang perselingkuhannya. Sekarang dia harus berhati-hati dalam berbicara.

__ADS_1


"Maaf, jika kedatanganku menganggu rapat kalian. Aku hanya ingin memberitahu sebuah kebenaran," Renata kembali membuka suara.


_To Be Continued_


__ADS_2