Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Misteri


__ADS_3

"Ngomong-ngomong, apa ada hal baik yang terjadi?" tanya Tuan J.


Renata melepas pelukannya, lalu mengangguk semangat, "Ya, aku habis mengobrol banyak dengan Kakek. Sekarang kami sudah menjadi lebih dekat."


"Hanya itu? Aku kira kenapa."


Memang sungguh di luar dugaan. Tuan J kira, ada hal yang lebih baik dari pada itu. Memenangkan lotre contohnya?


Lalu Renata meraih tangan Tuan J dan menciumnya. Meskipun dia tidak dapat menemani Jefra-nya melewati masa kecil yang buruk, dia bertekad akan selalu mendampingi Jefra dan menghilangkan rasa kesepiannya.


"Mau makan atau mandi dulu?" tanya Renata setelahnya.


Seketika bola mata Tuan J berkilat, sengaja menyalah artikan maksud pertanyaan Renata, "Apa maksudmu, makan dirimu di kamar mandi?"


Renata mendelik seketika.


**


Renata menghampiri Tuan J yang sedang terduduk di atas ranjang, sambil meremas bola karet dengan wajah yang aneh seperti biasa. Meskipun dia lebih menyukai bola karet yang 'itu'.


"Lihat apa yang aku dapatkan dari Kakek!" seloroh Renata sambil menyodorkan ponselnya pada Tuan J, dia memotret foto-foto Tuan J yang masih bayi dengan kamera ponselnya dan menyimpannya.


Tadi siang Kakek Ashton menunjukkan album foto semasa kecil suaminya itu.


Tuan J berusaha merebut ponsel itu. Namun, Renata langsung menariknya.


"Berikan padaku!" perintah Tuan J.


Renata menggeleng kepala, "Tidak akan! Pasti kamu akan menghapusnya nanti. Ini semua sangat imut, aku akan menyimpannya."


"Renata, berikan padaku sekarang juga."


"Sudah kubilang tidak!"


Tuan J mengeram dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.


"Kakek banyak menceritakan kisah masa kecilmu," ucap Renata sambil berdiri tiga langkah dari tempat Tuan J berada, dia tersenyum lebar.


Terlepas dari perlakukan buruk sang Ayah. Ternyata masih ada kisah lucu semasa kecil Tuan J.


Alis Tuan J berkedut.


"Ternyata sewaktu kecil kamu juga sangat menggemas──"


"Stop!"


Renata mengatupkan bibirnya, berhenti bicara.


"Aku tidak ingin mendengar kisah masa laluku itu."


"Mengapa? Apa kamu malu? Kakek bercerita jika kamu mengompol di taman kanak-kanak dan menangis histeris lalu memukul gurumu, atau saat kamu berkelahi dengan teman sekelas dan berakhir dijewer guru dan diberi hukuman."


Melihat wajah Tuan J yang kesal membuat Renata tertawa.


"Aku masih punya banyak kisah yang lain. Apa kamu ingin mendengarnya?"


"Tidak."

__ADS_1


"Sayang," Renata membujuk dengan sengaja memanggil dengan manja.


Namun, tidak mempan, "Berhenti bicara."


"Akan lebih baik jika kamu mengingat kisah lucu itu."


"Hentikan, Renata."


Renata mengerucutkan bibir, "Tidak asyik."


Kemudian Tuan J menarik napas sejenak, "Kemari," ujarnya menepuk sisi ranjang kosong.


"Tapi jangan ambil ponselku," ucap Renata, digenggamnya erat-erat ponselnya.


"Hmm," hanya gumaman yang didapatkan Renata.


"Hmm itu ya atau tidak?" desak Renata.


"Ya, aku tidak akan mengambil ponselmu. Puas kamu?" ucap Tuan J memutar bola mata hitamnya.


Setelah mendengar itu, Renata langsung naik ke atas ranjang. Ikut duduk bersandar di sebelah suaminya.


"Hei, Jef..." bisik Renata memecah kesunyian yang tiba-tiba melanda.


"Hmm."


"Apa kamu mempercayai adanya dunia lain di luar dunia yang kita tempati?" tanya Renata sambil membandingkan antara dunia aslinya dan dunia novel.


Tuan J menatap heran Renata yang sedang menatap langit-langit kamar, seolah menerawang jauh, "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Tuan terdiam sejenak, memikirkan hal lain yang mendorong pertanyaan istrinya itu.


"Pasti kamu habis nonton film tentang alien."


Dari perkataan itu, Renata yakin jika sang suami tidak percaya dengan keberadaan dunia lain. Ya, mau bagaimana lagi. Hal itu memang sulit dipercaya.


"Jadi kamu tidak percaya, ya?"


Tuan J mengangkat pundaknya, "Mengapa tidak? Dunia ini sangat luas, banyak misteri di dalamnya."


Sungguh diluar dugaan.


"Ah, ya," Renata menganggukkan kepala, jawaban Tuan J terdengar masuk akal.


Misteri.


Tuhan adalah misteri alam semesta, begitu pula kehidupan kedua mereka.


Tidak masalah jika belum menemukan jawaban pasti, tentang alasan mereka berada di dunia novel. Masalah yang belum terselesaikan? Apa mungkin karena keinginan Renata yang ingin diberi kesempatan untuk bertanya pada Jefra?


Entahlah.


Setiap misteri memang tidak harus bisa dipecahkan.


Renata melirik Tuan J yang duduk di sampingnya. Kedua mata mereka saling beradu.


Tidak masalah jika hidup dipenuhi misteri. Karena misteri itulah yang membuatnya dan Jefra kembali bersama.

__ADS_1


Kemudian Renata meraih tangan Tuan J, dan menyatukan jari-jari mereka dalam satu genggaman.


Renata bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk menggenggam tangan Jefra-nya lagi. Tangan pria yang selalu melindunginya.


"Lain kali jangan menonton film yang aneh-aneh lagi. Nanti kamu bisa bertambah bodoh," ujar Tuan J.


"Enak saja, aku tidak bodoh!"


**


Malam telah berlalu, begitu pula dengan waktu.


Tepat pukul lima sore, Renata sedang bersiap untuk pergi ke acara pesta Ayahnya.


Rasanya tidak sabar, untuk memberi sebuah kejutan istimewa pada sang Ayah dan sang Ibu tiri. Sepertinya, pesta akan berjalan semakin meriah.


Zayn tadi juga sempat menghubungi Renata, memberitahu jika rencana mereka sudah dipersiapkan.


Renata melangkah keluar dari kamar mandi. Baru saja menginjakan kaki jenjangnya di kamar, pandangan Renata langsung tertuju pada kotak dan setangkai bunga tulip putih yang berada di atas meja rias.


Tulip putih? Apa itu pemberian Tuan J?


Suaminya itu memang sudah bersiap terlebih dahulu, dan mungkin kini sedang menunggunya di ruang tamu.


Renata mengambil setangkai bunga tulip putih itu dan menciumnya sesaat. Detik kemudian, senyum terlukis di wajah.


Lalu Renata langsung membuka kotak itu. Karena jujur saja, dia juga dihantui oleh rasa penasaran.


Ditatapnya takjub sebuah dress yang ada di depannya sekarang, berwarna merah muda, dengan panjang selutut, dengan dihiasi permata swarovski. Benar-benar cantik.


Secarik kertas tiba-tiba jatuh dari dalam kotak tersebut, Renata mengambil sekaligus membacanya.


Pakailah jika suka, buang kalau tidak suka──dari, J.


Itulah yang tertulis di sana.


"Tentu saja dress cantik ini tidak mungkin aku buang! Aku sangat menyukainya!" Renata berseru senang.


Dengan perasaan yang berbunga-bunga, Renata mulai bersiap. Dia tidak mau membuat suami tercintanya menunggu lama.


Waktu berlalu begitu saja, ketika Renata mempercantik dirinya sendiri. Dan kini dia telah siap.


Knock... Knock...


Tepat pada saat itu juga, suara pintu diketuk terdengar.


"Dear, sudah siap?" tanya Tuan J dari balik daun pintu.


Renata bergegas untuk membukakan pintu, padahal suaminya itu tidak perlu repot-repot ketuk pintu.


Cklek


Suara pintu terbuka menyadarkan Tuan J, jika sang istri telah siap. Dia yang awalnya menghadap ke belakang, langsung berbalik dan seketika tercengang. Karena melihat penampilan menakjubkan Renata.


Tubuh Tuan J membeku di tempat, bahkan tidak bergerak sedikitpun. Dan saat yang sama, dia menyentuh dada bagian kiri. Mencoba menghalau jika jantungnya keluar karena sedang berdisko ria.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2