
Angin malam berhembus dengan kencang. Langit sudah benar-benar gelap ketika mereka sampai.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Membutuhkan waktu satu setengah jam menaiki jet pribadi untuk mereka kembali pulang.
"Dear?" tanya Tuan J ketika melihat Renata yang tampak tidak sehat.
Renata berpegang erat pada Tuan J karena kepalanya berputar-putar. Dia sedikit mengalami jet lag. Tuan J segera membawa Renata masuk ke dalam mobil agar beristirahat.
Bersama itu juga para Bodyguard memasukan koper-koper ke dalam bagasi.
Renata semakin tidak bisa menahan rasa pusingnya, dia memilih untuk tidur bersandar pada sang suami.
Tuan J merangkul Renata dan mengusap kepala berambut hitam itu dengan lembut. Membiarkan istrinya terlelap dengan nyaman. Dia cukup khawatir dengan kondisi Renata yang nampak kelelahan.
Terbesit rasa bersalah karena dia sendiri yang membuat sang istri kelelahan, karena percintaan mereka sebelumnya. Ditambah dengan perjalanan pulang yang tidak bisa dibilang singkat.
"Salahmu sendiri yang terlalu manis, Dear. Aku jadi tidak bisa menahan diri untuk memakanmu," bisik Tuan J.
Setelah hampir satu jam, akhirnya mobil mereka memasuki gerbang kediaman keluarga Tjong.
Tuan J segera menggendong istrinya memasuki rumah, dan membiarkan Bodyguard menuruni barang.
Sesampainya di kamar yang bernuansa monokrom. Tuan J meletakkan Renata di atas ranjang dengan perlahan, supaya tidak menggangu tidurnya. Mengusap sebentar wajah istrinya. Kemudian tatapannya beralih pada para Bodyguard yang sedang membawa masuk barang mereka.
"Kalian boleh pergi," titah Tuan J setelahnya.
"Baik, Tuan."
Para Bodyguard segera pergi dan tidak lupa menutup pintu kamar. Meninggalkan sepasang pengantin baru itu.
Tuan J kembali beralih pada Renata yang masih tidur dengan lelap. Karena merasa jika istinya perlu mengganti pakaian, dia pun berinisiatif membuka pakaian Renata dan menggantinya dengan baju tidur yang sebelumnya diambil dari koper. Dia akan menyuruh para pelayan untuk membereskan koper mereka besok.
"Tahan, dia sedang kelelahan," gumam Tuan J mencoba mengendalikan diri saat melihat kulit mulus sang istri.
Mati-matian pria tampan itu menahan hasrat yang ingin meledak.
Tuan J menghembuskan napas panjang tatkala sudah berhasil mengganti pakaian istrinya dengan baju tidur.
Selanjutnya, kakinya melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan dirinya, Tuan J pun menyusul Renata untuk tidur. Menarik selimut untuk menutup tubuh keduanya.
Renata sedikit tersadar saat Tuan J memeluknya, "Kita sudah pulang?" tanyanya dengan suara serak.
Tuan J mengangguk dengan tanpa ekspresi.
__ADS_1
Renata mengusap wajah suaminya pelan, "Maaf, aku ketiduran, apa kamu yang menggendongku?"
Tuan J menarik Renata untuk lebih dekat padanya, "Hmm, tidak apa. Aku tahu kamu lelah," ucapnya mengucap lengan Renata.
Renata menyamankan posisinya dalam pelukan Tuan J. Benar-benar hangat dan begitu nyaman.
"Terima kasih, Sayang," gumam Renata dengan mata yang kembali tertutup.
Seketika itu terbitlah senyum tipis pada bibir Tuan J. Lalu dia menutup matanya.
Satu menit kemudian, keduanya terlelap dengan cepat karena sama-sama merasa lelah.
Oh, bukankah menikah itu menyenangkan? Jefra Tjong tidak harus merasa kesepian lagi sekarang, karena sudah ada Renata yang selalu tidur bersamanya.
**
Sinar matahari yang sudah tinggi di atas langit menyeruak masuk menyinari seluruh ruangan.
Terdengar lenguhan kecil dari balik selimut. Kelopak mata Renata perlahan terbuka dan menunjukan manik cokelat yang jernih. Lalu merenggangkan tubuhnya sebelum terduduk. Dia terdiam sebentar untuk menghilangkan kantuk. Kemudian tatapannya beralih ke samping bagian lain ranjang yang sudah kosong.
Renata mengambil ponsel yang tergeletak di meja samping ranjang, dan melihat jam.
Pantas saja, ini sudah pukul sepuluh pagi. Mungkin Tuan J sudah bangun sejak tadi.
Kemudian Renata segera bangkit ke kamar mandi untuk memulai ritual paginya. Tubuh terasa begitu lengket karena semalam tidak sempat membersihkan diri.
Ternyata sang suami tidak hanya menggendongnya saja, tapi juga mengganti pakaiannya.
Renata sungguh malu. Tanpa sadar, dirinya sudah terlalu merepotkan sang suami. Namun, terlepas dari itu, Jefra-nya sangatlah manis dengan segala apa yang dilakukannya.
"Jefra-ku memang manis!" pekik Renata tertahan, menjadi senyum-senyum sendiri.
Setengah jam kemudian, Renata sudah terlihat segar karena sudah mandi. Tidak butuh waktu lama untuk bersiap-siap. Dia tidak mau dibilang menantu pemalas karena belum keluar hingga jam segini.
Ingat, saat ini dirinya sudah tinggal di kediaman keluarga Tjong. Entah hal apa yang akan Renata hadapi kali ini.
Renata menarik napa panjang sesaat, lalu berjalan keluar kamar.
Oh, ayolah, kenapa dia seperti ingin memasuki medan perang saja?
Renata terkekeh pelan atas pikirannya yang berlebihan.
Terlihat Renata yang kebingungan akan posisi ruangan di rumah besar ini. Dia yang sudah cukup terbiasa dengan kemewahan keluarga Tan saja, merasa kagum dengan semua isi kediaman keluarga Tjong. Di rumah ini ada puluhan pelayan, tidak heran karena rumah sebesar ini pasti butuh banyak orang untuk membersihkannya.
Para pelayan membungkukkan tubuh tatkala Renata melangkah melewati mereka. Terlihat jika mereka tidak merasa heran dengan keberadaan Renata di rumah ini.
__ADS_1
Sebenarnya, Renata kurang nyaman dengan perlakukan itu. Namun, dia hanya diam karena baru sekali ini berkeliaran di rumah ini. Mungkin lain waktu dia akan menegur para pelayan supaya bersikap biasa saja.
"Selamat pagi, Nyonya Besar," sapa Sir. Matthew dengan kepala yang menunduk.
Langkah Renata langsung berhenti, tersenyum kikuk karena mendapat panggilan 'Nyonya Besar.'
Apa tidak salah dia dipanggil seperti itu? Kenapa dia langsung menempati posisi 'Nyonya Besar'? Bukankah masih ada Sienna yang menjadi 'Nyonya Besar'?
Kenyataannya, Sienna memang tidak pernah dianggap sebagai 'Nyonya Besar' di keluarga Tjong. Sejatinya, Sienna bukanlah siapa-siapa di rumah ini. Namun, wanita itu sering kali mengaku-ngaku sebagai Nyonya Besar keluarga Tjong di luar sana.
"Selamat pagi, umm..." perkataan Renata terhenti, karena tidak tahu siapa pria berambut putih nan rapi itu.
"Saya Matthew Alexander, Kepala Pengurus Rumah yang sudah melayani Keluarga Tjong selama tiga generasi berturut-turut," Sir. Matthew memperkenalkan diri.
Renata mengangguk untuk memberi respon.
"Tuan Besar J mengatakan jika Nyonya Besar harus makan setelah bangun."
Kening Renata mengerut mendengar perkataan Sir. Matthew, "Memang sekarang dia sedang berada di mana? Apa ke kantor?"
"Tuan Besar J sedang berbicara dengan Nyonya Sienna di ruang kerja," jawab Sir. Matthew.
Renata terdiam. Berpikir tentang apa yang sedang Tuan J dan Sienna bicarakan. Jujur, dia penasaran.
Apa mungkin, menyangkut Elsa?
Renata menduga-duga.
"Nyonya Besar," panggilan Sir. Matthew membuyarkan pikiran Renata.
"Ah, ya?"
Renata jadi malu sendiri karena melamun, padahal dia sedang berbicara dengan si Kepala Pelayan. Semoga saja Sir. Matthew tidak menganggapnya aneh.
"Nyonya Besar bisa ikut saya untuk ke ruang makan. Para pelayan sudah menyiapkan makanan untuk anda. Tuan Besar J akan memarahi saya jika Nyonya Besar tidak makan."
Mendengar ucapan Sir. Matthew, Renata tercengang. Tidak menyangka, bila makan dan tidaknya dia akan membuat si Kepala Pelayan mendapat kemarahan dari Tuan J.
Haduh, padahal tanpa disuruh pun aku juga akan makan, batin Renata dengan kepala yang menggeleng.
"Jadi Nyonya Besar tidak mau makan?" Sir. Matthew salah mengartikan gelengan kepala Renata.
"Bukan seperti itu, aku akan makan," jawab Renata tersenyum kikuk.
Kemudian Renata bersama dengan Sir. Matthew melangkah pergi ke ruang makan.
__ADS_1
Renata berharap jika dia bisa cepat beradaptasi di lingkungan baru ini.
_To Be Continued_