Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Masa Lalu Jefra


__ADS_3

"Cincin ini..." tiba-tiba saja Tuan J meraih tangan Renata, "Kenapa sangat familiar? Kamu mendapatkannya dari mana?"


Apa dia mengingatnya?


Renata terkesiap dengan pertanyaan Tuan J.


"Aku mendapatkannya dari seseorang yang paling penting dalam hidupku," jawab Renata.


Tuan J termangu, bola mata hitamnya menatap intens batu safir yang berkilau indah.


"Ada apa?" tanya Renata agak ragu. Merasa harap-harap cemas dengan Tuan J yang terdiam seolah-olah tersihir oleh cincin miliknya.


Apakah Renata boleh berharap kalau Jefra mulai mengingat masa lalunya?


Tuan J seketika tersadar. Lalu dia memegang pelipisnya yang tiba-tiba pening.


"Kamu sakit kepala lagi?" tanya Renata khawatir.


"Ya," jawab Tuan J, "Entah kenapa kepalaku sering tiba-tiba sakit."


"Biar aku bantu," ujar Renata.


Tuan J memejamkan mata saat saat merasakan jemari lentik milik Renata memijat pelipisnya dengan lembut.


Apa sakit kepala Tuan J karena stress atau kelelahan? Tidak heran karena perusahan yang ditangani pria itu sangatlah besar. Saat Renata menjabat menjadi Asisten CEO, ia tahu betul seberapa banyak pekerjaan pria itu.


Dan juga Aset Tuan J sangatlah banyak, Renata tidak bisa mendefinisikan seberapa kaya Jefra Tjong. Sudah dipastikan jika menjadi istri dari Tuan J akan menjadikannya wanita paling beruntung. Pasti para wanita di luar sana iri padanya.


Aku harus menjaga Jefra supaya tidak direbut wanita lain, Renata membuat tekad dalam hatinya.


"Siapa orang yang paling penting di hidupmu itu? Apa itu Alvaro?" tanya Tuan J dengan mata yang masih tertutup.


Lagi-lagi Alvaro. Renata memutar bola mata.


"Bukan Alvaro."


Seketika Tuan J membuka mata, "Jadi kamu memiliki mantan kekasih selain Alvaro?"


Bodoh. Jefra benar-benar Bodoh. Kamu lah yang memberiku cincin ini. Ini adalah cincin pernikahan kita di masa lalu!


Renata menggerutu dalam hati.


"Anggap saja seperti itu," jawab Renata seraya mencebikkan bibir.


Sedangkan Jefra Tjong sendiri menatap Renata rumit. Sejujurnya, dia tidak suka dengan jawaban Renata. Kenapa cincin pemberian pria lain masih Renata pakai? Terlebih tersemat di jari manis tangan kanan gadis itu, tempat di mana seharusnya sebuah cincin pernikahan melingkar.

__ADS_1


"Kamu harus melepasnya nanti."


"Kenapa?" Renata menunjukan raut wajah keberatan.


"Bukankah nanti kamu harus memakai cincin pernikahan kita? Tidak mungkin kamu memakai dua cincin secara bersamaan."


Renata mengangguk paham.


**


Saat ini waktu menunjukkan pukul lima sore.


Tampak sinar jingga cerah bersinar membuat langit berwarna merah jingga. Burung-burung terlihat kontras dan tampak jelas berterbangan ke sana ke mari dan angin yang terasa sangat sejuk dan berhembus lumayan cepat. Bentukan siluet yang dihasilkan dari bayangan rumah dan pepohonan semakin mendukung syahdunya suasana.


Brak


Ditutupnya pintu mobil Lamborghini Hitam yang mengantarnya sampai di depan kediaman keluarga Tan. Jefra Tjong mengatakan jika mobil milik Renata yang masih terparkir di parkiran cafe akan dibawa oleh orang suruhan pria itu.


Renata menatap nanar mobil Tuan J yang berlalu.


"Aku tidak akan pernah menyerah untuk membuatmu mengingatku lagi, Jef."


Di sisi lain, Jefra Tjong tengah menatap Renata dari spion mobil.


"Kenapa tatapannya terlihat sedih? Apa dia tidak senang aku antar pulang?" tanya Tuan J tanpa sadar.


Tuan J berpikir sejenak, "Apa seorang wanita mudah sekali merasa bosan? Padahal baru kemarin aku mengajaknya kencan. Aku terlalu sibuk jika harus mengajaknya kencan setiap hari."


"Tidak perlu kencan setiap hari juga."


Oh, beginilah jika seorang pria dewasa yang tidak pernah berpacaran sebelumnya. Benar-benar tidak tahu tentang wanita.


Kemudian tatapan Jefra Tjong menerawang ke depan. Mengingat kembali perkataan si calon istri tentang prinsip kesetiaan. Apa dia bisa mempercayai gadis itu?


**


Tujuh belas tahun yang lalu.


Jefra Tjong adalah putra dari pasangan Theo Tjong dan Aruna Tjong. Sejak kecil Jefra sudah dididik untuk menjadi sempurna, tidak heran karena dia adalah seorang pewaris keluarga Tjong yang menaungi perusahaan terbesar. Ayahnya sering kali mendidiknya dengan tegas dan keras, serta tidak segan-segan menghukum dan memukulnya jika melakukan kesalahan. Namun, hal itu bukanlah beban berat baginya karena sang Ibunda selalu memberikan kasih sayang berlimpah.


Jefra sudah merasa cukup bahagia karena ada sang Ibu di sisinya.


Namun kebahagiaan itu seketika hancur tatkala Ayahnya membawa seorang wanita dan anak laki-laki bermata hijau──Sienna dan Alvaro.


"Dia istri keduaku dan anakku."

__ADS_1


Satu kalimat yang membuat hati Aruna hancur berkeping-keping. Selama ini suami yang sangat ia cintai telah berselingkuh di belakangnya. Terlebih sudah bertahun-tahun lamanya. Walaupun mereka menikah karena sebuah perjodohan, tapi tidak sepantasnya Theo berselingkuh hingga memiliki anak yang hampir sepantaran dengan Jefra.


Waktu bergulir, Aruna jatuh sakit karena terlalu terpuruk. Akan tetapi Theo tidak perduli dengan keadaan Aruna dan justru semakin menunjukan betapa dia sangat mencintai istri keduanya. Jefra yang masih berumur sepuluh tahun lah yang merawat Ibunya. Berkali-kali Jefra memohon pada Ayahnya agar mengunjungi sang Ibu yang sedang sakit namun yang didapat hanya penolakan dan pukulan.


"Jefra, jangan membenci Ayah, ya..." ujar Aruna dengan suara lemah.


Jefra kecil dengan wajah yang dipenuhi luka menatap sosok sang Ibu yang sedang terbaring di atas ranjang. Kenapa Ibunya masih saja mencintai Ayahnya yang kejam itu? Bahkan disaat terakhir seperti ini Ibunya masih mengatakan agar dia tidak boleh membenci Ayahnya.


"Ibu mau pergi dulu, ya. Jangan mencari Ibu."


"Ibu..." mata hitam milik Jefra berlinang-linang.


"Ibu pergi."


Terlihat kelopak mata Aruna yang perlahan-lahan tertutup.


"Ibu! Jangan pergi! Bawa aku juga!"


"Ibu!"


Jefra menangis dengan menggoyang-goyangkan tubuh kaku itu. Air matanya menetes deras.


"J, kenapa masih di sini? Ayo pulang bersama, Ayah."


Tubuh Jefra gemetar seketika, merasa sangat takut pada sosok pria yang menghampirinya.


"Ayah..."


Theo tidak menunjukkan raut kesedihan sama sekali saat Aruna sudah menghembuskan napas terakhir. Bahkan setelah kepergian Aruna, kekerasan yang dilakukan Theo pada Jefra semakin parah.


"Hentikan, Theo!"


Kedatangan Kakek Ashton yang awalnya menetap di luar negri menghentikan pergerakan Theo yang sedang memukuli Jefra dengan balok kayu.


"Jadi ini kelakuanmu pada cucuku selama ini?"


"Anak ini memang harus dipukuli dulu supaya bisa menurut, Ayah!"


Bugh


Ashton langsung meninju wajah putranya itu. Sungguh dia tidak pernah mengajari Theo untuk memperlakukan anaknya sendiri layaknya seekor binatang.


"Mulai sekarang aku yang akan mengurus J!"


Keputusan dari Kakek Ashton membuat Theo tidak lagi memukuli Jefra. Namun, tetap saja apa yang telah dilakukan Theo telah berdampak pada kondisi psikologis Jefra kecil.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2