Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Gadis Ingusan


__ADS_3

Mata Sienna melotot melihat keberadaan Renata di depan pintu rawat suaminya.


"Selamat siang, Tante Sienna."


Renata mencoba berbasa-basi sejenak. Dia tampak tidak acuh dengan tatapan kebencian dari Sienna. Selama menempati tubuh Angel, dia sudah kebal dengan tatapan seperti itu.


Sienna tidak menjawab sapaan Renata.


"Siapa yang mengizinkanmu berkeliaran di sini?" tanya Sienna yang lebih mirip dengan gertakan.


"Izin? Memang aku harus izin ke siapa?" Renata masih terlihat santai menanggapi Sienna.


"Tentu saja denganku! Ketahuilah, perkataan aku adalah hukum di kediaman keluarga Tjong! Kamu tidak boleh berkeliaran seenaknya, apalagi memasuki kamar rawat suamiku!" desis Sienna masih melebarkan matanya. Mencoba membuat nyali Renata menciut.


Bagi Sienna, Renata hanya gadis ingusan yang tidak mungkin berani padanya. Dia tidak berani marah pada Tuan J, tapi dia bisa marah pada Renata. Sienna ingin menjadikan Renata pelampiasan kemarahannya.


Dia hanya ingin marah, itu saja.


Namun, ekspetasi Sienna salah.


"Oh, baiklah. Sebagai Nyonya Besar yang baru, mulai sekarang aku akan menjadikan 'perkataanmu tidak lagi menjadi hukum di kediaman keluarga Tjong', jadi aku tidak usah memerlukan izin padamu lagi."


Renata berkata dengan mengedipkan mata pada Sienna, sengaja melakukannya dengan ekspresi sangat sombong dan menyebalkan, supaya wanita paruh baya itu semakin marah.


Lihat saja, wajah Sienna kian meradang mendengar perkataan Renata. Dia seperti ditampar menggunakan sandal oleh banyak orang.


"Nyonya Besar yang baru kamu bilang?" desis Sienna, lalu tatapannya beralih pada Sir. Matthew yang berdiri di belakang Renata, "Apa-apa ini, Sir. Matthew? Gadis ingusan ini menjadi Nyonya Besar yang baru? Bagaimana denganku?"


"Maaf, Nyonya Sienna. Sejak awal, anda memang bukan Nyonya Besar keluarga Tjong," sahut Sir. Matthew.


Renata tersenyum miring, "Tante Sienna dengar sendiri, bukan?"


Rasanya, dada Sienna ingin meledak karena sudah tidak sanggup menampung amarahnya.


"Bagaimana bisa gadis ingusan sepertimu menjadi Nyonya Besar?" Sienna menunjuk-nunjuk Renata dengan jari telunjuk, dia benar-benar tidak terima.


"Turunkan jarimu itu, Tante Sienna," Renata berkata dengan tatapan tajam, dan terlihat merendahkan di mata Sienna.


"Berani-beraninya kamu menatapku seperti itu, hah! Sepertinya, kamu perlu belajar bagaimana cara menghormati aku!"


Detik itu juga tangan Sienna terangkat ingin menampar pipi Ranata.


"Jangan, Ibu!"


Set


Plak


"Al-Alvaro?" bola mata Sienna melebar, tatkala telapak tangannya justru mendarat pada pipi putranya.

__ADS_1


Alvaro tiba-tiba datang melindungi Renata.


Renata sendiri juga terkejut dibuatnya. Padahal tanpa kedatangan Alvaro, Renata sudah bersiap untuk menghindar.


Kenapa juga ada Alvaro di sini?


"Kenapa kamu melindunginya, Alvaro? Menyingkir!" bentak Sienna setelah sadar dengan keterkejutannya.


"Ibu tidak boleh menyakitinya!" seru Alvaro yang menolak untuk menyingkir.


"Dia sudah merendahkan Ibu! Menyingkir!" teriak Sienna lagi, menyuruh Alvaro menyingkir untuk yang kedua kalinya.


Padahal Sienna meminta Alvaro datang, bukan untuk melindungi Renata.


Ya, Sienna lah yang meminta Alvaro datang ke sini. Dia mengadu pada putranya, jika telah diperlakukan tidak adil oleh Tuan J. Sienna berharap, Alvaro bisa melawan Tuan J dan dirinya tidak jadi diusir.


"Cukup, Ibu! Melakukan kekerasan adalah hal yang salah!" ingat Alvaro.


"Alvaro!" murka Sienna.


Bersama dengan teriakan Sienna, langkah lebar dari kaki yang terbalut celana cino hitam mendekat.


"Apa yang kalian lakukan?"


Renata melebarkan bola mata, saat melihat si pemilik suara itu adalah Tuan J.


"A-ah, J... Kamu di sini?" Sienna masih terlihat takut pada putra tirinya itu.


"Kemari!" seru Tuan J, yang lebih terdengar seperti perintah pada Renata.


Renata patuh dan melangkah mendekat pada sang suami.


Setelahnya, Tuan J langsung merengkuh pundaknya. Renata berkedip beberapa kali, karena merasa sebuah keposesifan di rengkuhan itu.


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Tuan J.


"Aku hanya... Sedikit berselisih dengan istrimu," jawab Sienna, wajahnya mendadak pucat. Kejadian di ruang kerja kembali terngiang.


Tuan J menatap tajam Sienna, "Kenapa kamu masih di sini? Bukankah aku menyuruhmu pergi?"


Bukannya menjawab, Sienna justru beringsut mendekat pada Alvaro, seolah-olah mencari perlindungan.


Seketika napas Alvaro memburu emosi, karena Ibunya terlihat sangat ketakutan. Dia teringat aduan Sienna yang berkata telah diancam oleh Tuan J. Terlebih, Alvaro dapat melihat jika leher Sienna lebam kemerahan, seperti bekas cekikan.


"Apa-apa kau, J? Jadi benar kau mengusir Ibuku? Kau telah menyakiti Ibuku!"


Tuan J melepas rengkuhannya pada Renata, menggeser tubuh istinya ke belakang.


"Kalau 'ya' kenapa?" senyum sinis terbit di bibir tipis Tuan J.

__ADS_1


"Kau keterlaluan! Memangnya apa salahnya Ibuku padamu? Ibuku bahkan telah mengurus Ayah dengan baik!" memerah sudah wajah Alvaro, karena dibakar oleh api amarah.


"Kau bertanya apa salah Ibumu?" wajah Tuan J mengeras.


Tuan J melangkah tegap dan cepat menuju Alvaro. Darahnya mendidih, mendengar sang Adik tiri yang seolah-olah tidak melihat ke belakang, ke masa lalu.


Apa Alvaro lupa? Kalau begitu, dengan senang hati dia akan memukul kepala Alvaro, agar Adik tirinya itu mengingat betapa busuknya Sienna.


Tuan J menubruk Alvaro dan mencengkram kerah kemejanya.


Diserang mendadak seperti ini membuat Alvaro kaget dan gelagapan. Dia balas mencengkram tangan Tuan J, berusaha melepaskan diri.


"J! Apa yang kamu lakukan?" Sienna memekik.


Renata juga terkejut dengan pergerakan sang suami yang tiba-tiba menyerang Alvaro. Namun, dia hanya terdiam.


Kemudian Tuan J membanting tubuh Alvaro hingga ke lantai, hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras.


Brukk


"Sialan! Apa-apaan kau!" raung Alvaro ketika tubuhnya terasa sangat nyeri.


Tidak sampai di situ, Tuan J menubruk Alvaro dan memberi pukulan pada kepala Alvaro, "Dasar anak haram! Anak gundik! Kamu masih saja bertanya apa salah Ibumu? Gara-gara Ibumu, semua hidupku kacau!"


Bugh


Tuan J masih terus memukuli kepala Alvaro.


"Karena telah hidup enak, kalian lupa dengan apa kejahatan yang telah kalian lakukan, hah! Masih untung aku hanya mengusir Ibumu! Apa kau pikir aku akan diam saja, saat Ibumu berusaha menghancurkan pernikahanku? Jangan harap!"


"Kamu bisa membunuh Alvaro, J!"


Sienna berteriak seraya menarik tangan Tuan J supaya kesulitan memukuli Alvaro. Meski ngeri, tapi dia tidak mau jika putranya tewas karena dipukuli.


Kesempatan itu justru digunakan Alvaro untuk melawan. Dia mendorong Tuan J hingga terjengkang ke belakang.


"Dasar gila! Kau bilang Ibuku gundik! Paling tidak, Ibuku masih bersedia merawat Ayah yang sedang stroke dengan baik! Aku tidak menjamin jika Ibumu masih hidup, dia bersedia merawat Ayah seperti apa yang Ibuku lakukan!" jerit Alvaro menerkam Tuan J, dan segera melancarkan pukulan. Amarahnya telah meledak-ledak.


Bugh


Tuan J menutupi wajahnya karena Alvaro terus meninju. Wajah Alvaro telah dipenuhi lebam, dan setelah ini Tuan J mungkin akan mengalami hal yang sama.


Dua putra keluarga Tjong tengah menggila, saling memukul dan berguling.


Mau sampai kapan?


"Hentikan kalian!"


Dor! Dor!

__ADS_1


Suara tembakan yang begitu nyaring tiba-tiba terdengar.


_To Be Continued_


__ADS_2