Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Dirimu Adalah Milikku


__ADS_3

"Terima kasih sudah mau bersulang denganku, Nyonya."


Tiba-tiba Alex menarik tangan Renata dan mencium punggung tangannya.


Renata tersentak detik itu juga. Dia langsung menepis tangan Alex.


"Apa yang kamu lakukan?" tegur Renata melotot, kemudian mundur tiga langkah ke belakang.


Sial, dia kecolongan.


Alex tersenyum puas, benar-benar tidak merasa jika apa yang dilakukannya itu salah, "Hanya mencium tangan saja, kamu juga tidak perlu begitu panik?"


Benar-benar lelaki yang tidak memiliki budi luhur yang baik!


Renata hendak memaki Alex. Namun, terhenti tatkala merasakan tarikan pada tangannya.


Set


"Eh?"


Melihat jika Jefra yang menarik tangannya, dia mengerjakan mata pada tubuh tegap suaminya.


Namun, begitu melihat wajah Jefra seperti melihat musuh. Sadis dan kejam. Itu yang terlukis di sana. Renata terkejut karena baru kali melihat Jefra seperti itu.


Apa ini sisi lain Jefra yang baru diketahuinya?


"Well, karena suamimu sudah mau mengamuk padaku, marilah kita sudahi kedekatan ini," Alex tertawa dengan ekspresi mengejek, dia berbicara pada Renata namun menatap Jefra.


Renata memandang Jefra dan Alex bergantian, kedua pria itu saling menatap tajam.


"Malam ini kau ingin mati di tanganku? Lancang sekali kau menganggu istriku!" hardik Jefra dengan napas yang memburu.


Alex terkekeh, dia menjawab santai, "Hmm? Atau justru kau yang mati kuinjak-injak? Lalu aku bisa menggantikan posisimu untuk menjadi suaminya."


"Sialan! Mati kau, Alex Rudiart!" umpat Jefri menahan amarah, pria di depannya itu benar-benar sedang menargetkan Renata.


Gigi Jefra gemeretak. Rahangnya mengeras dan telapak tangannya mengepal. Dia ingin sekali menghancurkan wajah Alex sampai jadi tidak berbentuk lagi.


Jefra melangkah mendekati Alex, ingin menghajar pria itu tanpa perduli. Namun, langkahnya didahului Renata.


Plak

__ADS_1


Renata menampar wajah Alex, hingga menimbulkan suara yang begitu keras. Suasana pesta menjadi hening seketika.


Mata Alex memerah saat merasakan panas pada pipinya. Wajahnya pun merah padam, antara marah dan malu kerena ditampar seorang wanita di tengah-tengah pesta.


"Jal*ng ini..." desis Alex dengan deru emosi. Ingin sekali dia membalas dengan mencekik leher kecil wanita yang menampar itu.


Tentunya Alex tidak bisa melakukannya, karena ada Jefra Tjong yang melindungi Renata.


Setelah menampar Alex, Renata melihat sekeliling. Seluruh mata sedang memandang mereka bertiga. Kemudian ditariknya tangan Jefra, pergi menjauh dari Alex.


"Berkelahi dengan pria brengsek itu bukan kamu, Jef. Biar dia saja yang menanggung malu karena menganggu istri orang. Tinggalkan saja dia," ucap Renata lugas menahan tubuh Jefra dan menariknya pergi.


"Tapi dia sudah mencium tanganmu," ucap Jefra dengan suara pelan penuh amarah, "Aku tidak suka jika pria lain menyentuhmu."


Kini, keduanya berdiri berhadapan di balkon. Jefra meraih tangan Renata. Dia menundukkan kepala dan melihat, memastikan tidak ada jejak Alex yang tertinggal di punggung tangan istrinya.


"Sayang, masalah ini kamu sudah salah paham denganku," Renata mencoba menjelaskan, "Gerakannya sangat cepat, aku tidak sempat untuk menariknya. Aku juga tidak tahu kenapa dia mendadak mencium tanganku. Aku juga tidak bersedia."


"Faktor yang tidak bisa dikendalikan harus segera diselesaikan. Akan lebih baik jika Alex dimusnahkan," sahut Jefra dengan ekspresi kaku, suaranya dingin dan mampu menciptakan ketegangan.


Renata menelan saliva berat, dia tahu jika suaminya sedang teramat marah. Lebih tepatnya cemburu. Dia harus berusaha menenangkan hati Jefra.


Tiba-tiba Renata menarik jas bagian depan Jefra, lalu mendaratkan ciuman tepat di bibir. Membuat Jefra terbelalak karena sangat terkejut.


Diam, Jefra kehilangan kata-kata. Entah senang karena Renata menciumnya atau bagaimana. Namun, dia berusaha tidak termakan rayuan.


"Ehmm, hmm," Jefra berdeham sebanyak dua kali, terlihat kedua telinganya memerah, "Dear kamu tidak boleh menggunakan cara seperti ini untuk menyelesaikan masalah. Bagaimanapun aku harus memberi pelajaran pada pria itu."


"Benarkah harus ribut di tengah-tengah pesta?" lengan Renata melingkar di pinggang Jefra, memeluk manja, menikmati setiap kehangatan yang selalu membuatnya nyaman.


"Aku tidak perduli tentang itu," jawab Jefra, nada suaranya mulai melunak.


"Jefra Sayangku, ini juga bukan keinginanku. Lain kali aku akan memperhatikannya. Jika berjumpa dengan dia langsung kabur. Aku pasti bisa menjaga kepercayaan yang telah kamu berikan."


"Sudahlah..." bibir Jefra lama kelamaan tersenyum. Jika sang istri sudah bermanja-manja, dia tidak bisa menolaknya. Dia mempererat pelukan dan mencium kening Renata, "Ini terakhir kalinya. Jangan sampai terjadi lagi."


"Suamiku paling balik! Kamu tidak marah lagi, kan?"


"Dear, jika kamu tidak ingin aku marah. Maka jauhilah pria lain, dilarang melihat pria lain," lirih Jefra melepaskan rasa tegang yang membuatnya tidak karuan selama beberapa menit terakhir.


Dia menghirup aroma sang istri yang mampu mengalahkan ekstasi di dunia. Seperti puncak kenikmatan bagi hidupnya.

__ADS_1


Lengan Renata melingkar semakin erat di pinggang Jefra.


"Kali ini hanya sebuah hal yang tidak terduga," tegas Renata bersungguh-sungguh, "Lagi pula mataku tidak buta, Alex tidak setampan Tuan J. Suamiku yang paling tampan. Setiap hari sudah melihat ketampanan kamu, mana mungkin bisa melihat pria lain lagi."


Seketika Jefra menepis tangan Renata yang melingkar di pinggangnya, melerai pelukan secara paksa. Raut wajah kembali tidak enak, "Renata, kamu menyebut namanya?"


Oh, sepertinya Renata salah berucap.


"E-eh, tidak... aku menyebut namanya karena je... jelek. Ya, namanya sangat pasaran dan tidak enak didengar, berbeda denganmu."


Renata mulai menyusun kata-kata. Tersenyum kikuk, suaranya lirih menahan getar. Bisa-bisanya dia membuat Jefra-nya yang posesif akut kembali marah.


"Jefra Tjong, sekali dengar sangat luar biasa dan tidak ada duanya di dunia ini," sambung Renata memuji sang suami.


Jefra tersenyum tipis. Lalu merengkuh lagi telapak tangan Renata, mengusapnya lembut, "Tidak ada yang kedua kalinya. Ingatlah setiap bagian pada dirimu adalah milikku, dan hanya aku yang boleh meninggalkan bekas."


Renata tersenyum lebar, "Tentu."


Di sisi lain.


Tanpa disadari, sepasang mata biru sedang mengawasi.


Awalnya, Alex mengikuti Jefra untuk melanjutkan perkelahian. Dia ingin membuktikan pada Renata jika suaminya hanyalah seorang pecundang.


Namun, Alex justru mendapatkan pemandangan yang membuatnya menahan murka.


Wajah Alex begitu datar, tapi terlihat tegang. Menatapnya menatap tidak suka ke arah balkon di mana Jefra dan Renata berada. Lalu meneguk minuman beralkohol miliknya hingga kandas.


"Tuan Alex."


Tatapan Alex beralih pada seorang wanita yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya.


"Ck, pel*cur mana lagi? Jangan ganggu aku!" usir Alex, saat ini moodnya sangat buruk.


Wanita itu tersenyum paksa, meski kesal dipanggil pel*cur, "Maaf menganggu, Tuan Alex. Namaku Salvina."


Ya, wanita itu adalah Salvina. Dia berhasil hadir di pesta ini karena mendapatkan koneksi dari pria hidung belang. Benar-benar melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan kesempatan bertemu dengan Jefra Tjong.


"Sudah kubilang jangan menggangguku! Apa kau tuli! Brengsek!" bentak Alex dengan dada kembang kempis, justru melampiaskan kemarahannya pada Salvina.


Jujur, Salvina sangat takut dibuatnya. Namun, sekuat tenaga dia mengenyampingkan rasa takutnya. Demi melakukan penawaran dengan Alex.

__ADS_1


"Tuan Alex, aku hanya ingin mengajakmu kerjasama. Kamu akan mendapatkan wanita incaran kamu itu, dan aku akan mendapatkan Tuan J."


_To Be Continued_


__ADS_2