Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Turbulensi Pesawat


__ADS_3

"Hentikan. Jangan pukul kepalamu, Sayang."


Renata berkata lembut seraya memegang kedua tangan Tuan J.


Tuan J terhenyak dengan panggilan 'sayang' dan suara lembut yang ia dengar. Begitu menenangkan hingga membuat sakit di kepalanya tidak terasa lagi. Lalu dia merasakan sentuhan halus telapak tangan Renata pada salah satu pipinya.


"Jangan sakiti dirimu lagi, Sayang."


Lagi, Renata berkata dengan lembut lagi.


Sebuah kalimat sederhana yang mampu membuat hati pria tampan itu menghangat.


Kemudian Tuan J menurunkan kepalanya untuk bertumpu pada pundak Renata.


"Ya, kamu bisa menggunakan aku untuk mengalihkan rasa sakit itu. Jangan sekali-kalinya kamu menyakiti dirimu lagi, ya."


Suara lembut Renata kembali mengalun, tangannya bergerak untuk mengelus lembut punggung Tuan J. Mencoba memberikan kenyamanan dari sentuhannya itu.


Tuan J menghirup dalam-dalam aroma feminim dan lembut yang menyeruak dari leher Renata, dia sangat menyukainya karena begitu menenangkan. Terlebih dengan usapan lembut pada punggungnya, yang mampu membuat getaran aneh pada dirinya.


Jika seperti ini...


Bagaimana bisa dia menolak jatuh cinta pada gadis yang sudah menjadi istrinya itu?


Seketika pergerakan tangan Renata yang mengelus punggung Tuan J berhenti tatkala merasakan gesekan hidung mancung pada perpotongan lehernya.


Tidak hanya itu, Tuan J memberikan kecupan-kecupan pada leher jenjang Renata.


Tiba-tiba Tuan J mendorong punggung Renata, hingga semakin merapat pada tubuhnya. Renata tercengang sendiri, tadi dia pun tidak kuasa untuk menolak.


Tanpa sadar Renata mend esah karena merasa geli saat Tuan J memberikan ciuman dan hisapan bertubi-tubi pada tengkuk lehernya.


"A-ah, a-aku memang menyuruhmu menggunakan aku, tapi tidak seperti ini juga," Renata mencoba berbicara dengan susah payah.


Kemudian Renata bernapas lega karena Tuan J melepaskan dirinya, tubuh suaminya tegak kembali. Jari telunjuknya menyentuh dagu Renata, menghadapkan wajah sang istri pada dirinya.


"Lantas seperti apa?" tanya Tuan J dengan suara berat magnetiknya.


"Anu... Itu..." bola mata mata Renata melihat ke kiri bawah karena merasa gugup.

__ADS_1


Kini jarak antara bibir Renata dan Tuan J hanya sekitar sepuluh centimeter saja.


"Berbicaralah dengan jelas, Sayang," ujar Tuan J seraya semakin mendekatkan wajahnya.


"A-apa sa-yang? Kamu memanggilku saya──hmtp!"


Renata tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena bibirnya telah dibungkam. Tuan J mencium bibir Renata dengan begitu tiba-tiba. Terasa pelan, hangat, dan mesra.


Jantung Renata melompat kesana-kemari tidak karuan. Sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan sebuah ciuman begitu hangat dari suami kakunya. Mata Renata pun otomatis terpejam erat. Dia dapat mendengar napas Tuan J menderu dan terasa jelas mendesir di pipinya.


Bibir Tuan J mengait bibir bawah Renata. Mengigit pelan dan menarik ke atas, dengan begitu perlahan. Pergerakan itu ia ulangi sampai beberapa kali karena merasa gemas. Lalu kembali menciumi keseluruhan bibir Renata.


Telapak tangan Tuan J masuk ke balik tengkuk Renata, menahan agar wajah wanita itu tidak mundur saat ia menekan bibirnya lebih kuat, dengan ciuman yang lebih intens dan tanpa jeda.


Renata merasakan hentakan pada jantungnya yang mulai menikmati ini semua. Ya, gadis itu menikmatinya. Apalagi yang menciumnya adalah suami tercintanya. Renata benar-benar terbuai dengan suasana syahdu ini.


Renata mulai mengalungkan tangan pada leher Tuan J, serta membalas ciuman itu. Dia sudah tidak perduli jika mereka sedang berada di atas pesawat. Yang Renata inginkan, adalah menyalurkan rasa rindu pada Jefra-nya.


Sruk


Semenit kemudian Renata mendorong Tuan J hingga tertidur di ranjang. Lalu duduk di atas tubuh suaminya itu. Ciuman mereka terlepas namun wajah mereka masih begitu dekat.


Ayolah, Renata sudah sangat berpengalaman tentang ini. Biarkan dia yang mengajari Jefra untuk mengingat kenangan mereka dulu.


Renata mengakui jika ia sangat merindukan Jefra, kisah mereka dulu memang benar-benar tidak bisa terlupakan. Masa lalu terikat pada punggung mereka berdua. Renata tidak akan memaksa Jefra untuk mencintainya lagi, tapi dia akan menuntun Jefra untuk kembali mencintainya seperti dulu.


"Memangnya kamu bisa apa?" desis Tuan J setengah berbisik, ia menunggu apa yang akan istrinya itu lakukan.


Jari-jari Renata mengusap pundak Tuan J, lalu merambat untuk memainkan kancing pertama kemeja yang dikenakan suaminya itu.


"Banyak yang bisa aku lakukan."


Perlahan namun pasti, Renata mulai melepas satu persatu kancing kemeja itu. Kemudian menyusupkan kedua telapak tangannya untuk menekan bagian dada di lekuk otot suaminya itu, membelai, dan menyentuh ujungnya yang mengeras.


"Aku bisa membuatmu tenang dengan cara seperti ini," sambung Renata dengan berbisik seduktif.


Tuan J merinding dibuatnya. Ternyata gadis yang dinikahinya itu begitu agresif.


Selanjutnya, jari lentik Renata menjalar menelusuri perut kotak-kotak yang begitu menggoda iman.

__ADS_1


Bahkan tubuhnya tidak ada perubahan sama sekali, batin Renata tanpa mengalihkan tatapannya pada roti sobek yang telah terpampang nyata.


Tangan Tuan J bergerak menyentuh pipi Renata untuk membawa wajah istrinya itu untuk kembali berciuman. Lalu diselipkannya helaian rambut Renata ke belakang telinga.


Namun, tiba-tiba terjadi guncangan keras dan pesawat mendadak oleng ke kanan-kiri.


Suara pilot langsung terdengar.


[ Penumpang yang terhormat, kembalilah ke kursi dan kencangkan sabuk pengaman. Saat ini pesawat bergetar hebat karena turbulensi yang tidak terduga. ]


Renata langsung bangkit dari posisinya yang duduk di atas tubuh Tuan J, dia panik seketika. Wajah yang tadi merona berubah pucat, "Bagaimana ini? Apa pesawatnya akan jatuh?"


Sedangkan Tuan J mengusap wajah kasar, sungguh kesal dengan keadaan yang mengganggu. Padahal sebentar lagi mereka akan...


Memang apa yang akan kami lakukan? batin Tuan J mencoba mempertahankan kewarasan.


Kemudian keduanya beranjak ke kursi.


Tangan yang gemetar membuat Renata sulit mengaitkan sabuk pengaman. Berkali-kali dia lakukan, tapi tetap gagal.


Tuan J mendengus, "Bodoh, pasang sabuk pengaman saja tidak bisa!"


Lalu Tuan J menepis tangan Renata dan mengaitkan sabuk pengaman. Setelah itu, memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri dan juga mengancingkan kemejanya.


Giliran membuka kancing kemeja begitu cekatan, sambung Tuan J dalam hati dengan daun telinga yang memerah, bisa-bisanya ia membiarkan Renata membuka kancing kemejanya dan menyentuh apa yang berada di baliknya.


Renata melihat jendela pesawat, petir dan awan hitam bergemuruh. Begitu menyeramkan.


Suara pilot kembali terdengar.


[ Turbulensi pesawat karena cuaca buruk, diharapkan penumpang tenang. Badai akan segera dilewati. ]


Tangan Renata masih terus bergetar. Bayangan kematian yang pernah dialaminya muncul begitu saja. Mati bersama dengan Jefra akan menjadi akhir yang tragis.


Apakah ini hukuman karena sudah berbuat mesum di atas pesawat? Bukankah mereka baru saja menikah? Bahkan Jefra belum ingat padanya.


Bukan kisah seperti ini yang Renata harapkan. Napasnya mulai tersengal dan air mata turun melewati pipinya.


"Kenapa kamu menangis? Kita tidak akan mati, ini hanya turbulensi biasa," Tuan J mencoba menenangkan Renata. Dia tidak suka melihat air mata istrinya itu.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2