
Badan Renata menggeliat tatkala Tuan J menyingkap kemejanya, dan menciumi perutnya. Dia mencoba mendorong kepala yang ditumbuhi rambut hitam itu, tapi sang suami hanya bergeming. Masih tetap melancarkan aksinya.
Benar-benar nakal!
[ Ada yang ingin Kakak bicarakan. ]
Suara Zayn terdengar serius. Sepertinya, pria itu akan membicarakan hal yang penting.
Oleh karena itu, Renata harus fokus pada teleponnya, dan berusaha mengabaikan sang suami.
"Bicara apa, ka?"
[ Tentang Ibu tiri. ]
"Kenapa dengan Tante Santy?"
Renata mulai menerka-nerka. Ada apa dengan Santy? Apa sang Ibu tiri membuat ulah?
Namun, pikiran Renata langsung buyar. Terganti dengan perasaan gelisah, karena Tuan J tidak hanya menciumi perutnya, tapi memberi gigitan dan jilatan. Dia bahkan menahan mati-matian untuk tidak mende sah.
Astaga! Apa suaminya itu tidak bisa menunggu sampai dia selesai bertelepon?
Lagi pula ini masih sore, belum saatnya serigala lepas kandang!
[ Saat kamu mengatakan jika Nikolas dan Santy sedang merencanakan sesuatu, aku memerintahkan seseorang untuk mengawasi mereka berdua. ]
"Benarkah?"
Benar-benar tidak terduga. Renata tidak menyangka jika Zayn akan langsung bertindak.
[ Ya. besok datanglah ke kantor Kakak. Ada yang ingin Kakak tunjukkan. ]
"A-ah... Ya, Kak."
Renata mengeluh tertahan, tatkala Tuan J menciumi pinggangnya. Serta tangan nakal itu mulai merayap ke atas. Memberi remasan dengan tanpa permisi.
"Dear," panggil Tuan J lirih.
Renata ingin beringsut menjauh, tapi pergerakannya tertahan.
[ Kamu kenapa, Renata? ]
"Ti-tidak kenapa-kenapa," jawab Renata dengan susah payah, tubuhnya bergerak tidak menentu karena perlakuan nakal sang suami.
Tubuh sintal semakin tidak bisa dikontrol oleh pemilik. Apapun yang sedang Tuan J lakukan di sana, menimbulkan sengatan listrik dengan voltase tinggi bagi Renata.
[ Tapi kenapa napas kamu terputus-putus? ]
Itu karena si mesum ini!
Renata menjerit dalam hati, seraya menatap Tuan J yang sedang menyeringai tipis.
"Kak Zayn, sudah du-dulu, ya."
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan Zayn, Renata berniat mengakhiri penggilan itu. Padahal mereka sedang mengobrol penting. Namun, akan lebih baik jika diteruskan besok saja.
[ Tapi── ]
"Sampai ketemu besok, Kak."
Setelah mengatakan itu, Renata langsung menekan tombol merah.
Sruk
Bersama dengan itu, Tuan J mendorong tubuh Renata hingga tidur di atas ranjang.
Renata terkejut dibuatnya. Terlebih kancing kemejanya entah sejak kapan sudah terlepas semua.
"Aku ingin main bola karet," Tuan J berkata dengan suara berat magnetiknya.
"Bola karet milikmu masih berada di dalam koper!"
Tuan J mendengus, dengan tatapan datar, "Aku tidak suka bola karet yang itu. Itu tidak selembut ini..."
Renata tercengang sendiri, tapi dia tidak bisa menolak saat jari-jari solid milik sang suami mulai bergerak sensual di atas tubuhnya.
"Tapi ini masih sore," lirih Renata.
"Memangnya kenapa kalau masih sore?"
"Karena..." Renata mencoba memutar otak untuk memberi alasan, "Kita harus mandi sore!"
Sialnya, Renata salah memberi alasan.
Karena hal selanjutnya yang dicetuskan Tuan J, "Kalau begitu ayo kita mandi."
"E-eh!"
Tiba-tiba Tuan J mengangkat tubuh Renata, menggendong ala bridal style hug. Dan spontan Renata melingkarkan tangannya di leher suaminya itu.
"Aku mau mandi sendiri!" proses Renata yang benar-benar terkejut.
Tuan J menggeleng kepala, "Mandi bersama lebih efisien."
Renata menelan saliva dengan berat. Dia semakin panik. Terlebih Tuan J menatapnya seolah mengatakan jika menginginkannya.
Astaga! Apanya yang efisien? Yang adalah mereka berdua pasti akan berakhir berlama-lama di dalam kamar mandi.
Tuan J membawa Renata menuju shower room. Untuk yang kedua kalinya mereka mandi bersama. Dan tentunya bukan hanya sekedar mandi biasa.
**
Setelah berkemas di dalam kamar, Renata keluar bersama Tuan J. Mereka berjalan menuju ruang makan, berniat makan malam bersama dengan Kakek Ashton.
Meski datar. Namun, wajah Tuan J nampak berseri-seri. Yang pasti itu karena Renata.
Acara makan malam keluarga Tjong baru saja dimulai. Terlihat tiga orang yang duduk di kursi makan yang ditata mengelilingi meja panjang, dengan jumlah kursi yang tidak seimbang dengan banyaknya anggota keluarga.
__ADS_1
Mereka makan dengan nikmat, dan sesekali berbicara dengan santai.
Di sela-sela obrolan itu, Kakek Ashton bertanya pada Renata, "Apa kamu nyaman tinggal di sini?"
"Dia baru sehari tinggal," Tuan J lah yang menjawab.
Itu benar, Renata memang baru sehari tinggal di kediaman keluarga Tjong, sebuah kenyamanan tidak mungkin datang dalam sekejap. Setidaknya Renata harus menyesuaikan diri beberapa hari dulu.
"Ck, Kakek tidak bertanya padamu, J," Ashton menatap sinis sang Cucu.
Tuan tidak memperdulikan tatapan sinis Kakeknya. Lalu kembali makan dengan tenang.
"Jadi, Cucu Menantuku?" tanya Ashton, masih menunggu jawaban dari Renata.
Renata mengulum senyum, "Meski baru sehari, aku senang tinggal di sini. Aku senang karena bisa tinggal bersama para pelayan yang ramah, Kakek Ashton yang baik padaku, dan Suamiku yang luar biasa."
Seketika itu juga, orang-orang yang disebut Renata tersentuh dibuatnya.
Ya, Renata memang benar-benar senang tinggal di sini, dia merasa jika semua menyayanginya. Berbeda ketika Renata tinggal di kediaman keluarga Tan, di mana dirinya mendapatkan perlakuan tidak adil dari Rendra.
Setidaknya Sienna sudah pergi, jadi aku tidak perlu merasa terancam di rumah ini, batin Renata merasa lega.
Kakek Ashton tertawa namun masih terlihat begitu berwibawa, "Oh, Cucu Menantuku sepertinya akan menjadi kesayangan keluarga Tjong."
"Kesayangan keluarga Tjong?" bola mata cokelat milik Renata berbinar seketika.
Menjadi kesayangan bukankah itu menyenangkan? Apalagi di keluarga konglomerat seperti keluarga Tjong.
Renata bisa membeli apapun yang dia suka, dia akan memiliki banyak uang meski hanya uncang-uncang kaki, mandi uang setiap hari bisa dia lakukan, dan──
Detik kemudian, pikiran Renata buyar seketika, karena dagunya dipegang oleh Tuan J dan ditarik ke bawah, supaya Renata fokus pada makanan yang di depannya.
"Jangan banyak berpikir macam-macam, habiskan makananmu!" ujar Tuan J dengan dingin.
"Ya," jawab Renata dengan kikuk, karena terlalu senang, dia jadi berpikir konyol.
"J, jangan galak-galak pada istrimu," tukas Kakek Ashton.
"Dia memang galak, Kek," cibir Renata, lalu menengok ke samping untuk menjulurkan lidahnya pada Tuan J.
"What the..." Tuan J bergumam setengah tercekat.
Berani sekali istinya menjulurkan lidah begitu padanya. Kepada Jefra Tjong si pemimpin perusahaan nomor satu di dunia?
Kemudian ditatapnya Renata dengan tajam, begitu menusuk. Lalu mendekatkan dirinya pada sang istri yang duduk di sebelahnya.
"Sekali lagi kamu menjulurkan lidah begitu, aku akan memberimu hukuman untuk menjilat seluruh tubuhku seperti kucing. Dari atas sampai bawah, dan depan sampai belakang," Tuan J berbisik dengan penuh penekanan di setiap kata.
Mata Renata mengerjap, lalu mengangguk kaku. Bisa-bisanya sang suami mengancam dengan hal yang begitu mesum.
Benar-benar tidak berprikesuamian!
"Good wifey," Tuan J tersenyum puas.
__ADS_1
_To Be Continued_