Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Benar-benar Sudah Mencair


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu yang cukup panjang bersama sang Kakak. Kini, Renata sedang berada di dalam mobil, tepatnya di kursi belakang serta ada dua Bodyguard di kursi depan. Tuan J memang benar-benar memerintahkan dua Bodyguard untuk menjaga Renata.


Renata termenung seraya menatap ke luar jendela mobil. Kembali memikirkan tentang apa yang dibicarakannya dengan Zayn.


Acara anniversary Rendra dan Santy akan diadakan lusa. Dan di saat itu juga, kebusukan Santy akan terbongkar. Entah bagaimana ekspresi Santy dan perasaan kecewa Rendra nanti. Jika kebenaran akan membunuh mereka, biarkan mereka mati.


"Semoga saja rencana Kak Zayn berjalan dengan lancar," gumam Renata.


Kemudian Renata teringat dengan dirinya yang akan menunggu sang suami pulang.


"Apa aku harus memasak untuknya?"


**


Sorenya. Di kediaman keluarga Tjong.


Terlihat Renata yang sedang berada di dapur. Para pelayang yang berada di belakang sempat melarangnya, tapi dia menolak dan ingin tetap masak.


"Tapi, Nyonya──"


"Aku hanya ingin memasak saja."


"Nyonya, biar kami yang mengerjakan semuanya."


"Tidak perlu. Biar aku saja yang masak makan malam."


"Tapi, Nyonya Besar. Tuan akan marah jika tahu Nyonya masak."


"Marah? Kenapa harus marah?" Renata masih terlihat cuek, lalu bergerak untuk mulai memasak, "Daripada ribut terus, lebih baik kalian membantuku menyiapkan green tea hangat."


"Baik, Nyonya Besar."


Setelah sedikit berdebat dengan para pelayan. Kini Renata telah sibuk dengan acara masaknya.


Mendadak Renata terkekeh kecil, saat mengingat hari-harinya menjadi Asisten CEO waktu itu. Dia pernah begitu kesal dengan Jefra Tjong, karena bertindak seenaknya dengan memerintahkan datang pagi-pagi buta, hanya untuk membangunkan pria itu dan memasak sarapan. Dan pada akhirnya Renata membuat sup yang sangat pedas.


"Sialnya, aku juga disuruh memakan sup itu," gumam Renata menggeleng dengan masih terkekeh.


Saat itu dia memang belum tahu jika Tuan J adalah Jefra-nya. Jika tahu, dia tidak mungkin bersikap memberontak seperti itu. Terlebih mencoba mengerjai Tuan J di setiap kesempatan, walau pada akhirnya gagal.


Renata terlalu hanyut dengan apa yang dilakukannya. Hingga tiba-tiba sepasang tangan melingkar erat di perutnya.


"Akh!" Renata panik dan refleks memekik kencang, benar-benar terkejut karena ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


Spontan Renata meraih spatula, lalu dengan gerakan kilat berbalik dan memukulkan benda itu ke kepala pria yang memeluknya.

__ADS_1


Pak


"Kurang ajar!"


"Aduh!" pria yang dipukulnya menjerit tertahan, dan ternyata itu adalah Jefra Tjong. Tautan tangan yang tadi memeluk Renata terlepas.


"Astaga!" Renata bertambah panik saat menyadari siapa yang telah dipukulnya.


"Hei! Apa yang kamu lakukan!" sentak Tuan J, sambil mengusap kepalanya yang dipukul spatula.


"Kamu baik-baik saja?" Renata merasa sangat bersalah.


"Ck!" Tuan J berdecak kesal. Dia sengaja pulang cepat karena merindukan sang istri, tapi justru mendapat hadiah pukulan. Lalu berbalik pergi meninggalkan dapur karena terlanjur kesal.


Menyadari hal itu Renata langsung melepas celemek yang dikenakannya, lalu langsung mengikuti sang suami. Dia bahkan sampai meninggalkan masakannya begitu saja.


Kini keduanya sudah berada di dalam kamar. Renata menghampiri Tuan J yang sedang melepas jas dan mengendurkan dasi.


"Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kamu yang memelukku, aku pikir orang lain," Renata mencoba menjelaskan. Berharap Tuan J mendengarkannya.


Tuan J hanya diam, lalu tangannya beralih membuka kancing kemeja, dan menanggalkannya. Hingga dia hanya memakai kaos putih.


Astaga! Apakah sang suami sedang ngambek sekarang?


Namun, seketika ekspresi Renata berubah senang, karena menyadari sesuatu.


"Tentu saja sakit. Kamu memukulku seperti memukul maling," jawab Tuan J sengit.


Renata meraih tangan Tuan J, dan menggenggamnya erat, "Bukankah itu bagus?"


"Maksudmu?" Tuan J sungguh tidak habis pikir dengan istrinya itu.


Kenapa merasa sakit justru dibilang bagus?


Eh, tunggu.


Dia merasa sakit?


Terakhir kali dia bisa merasa sakit ada ketika kematian sang Ibu, saat itu adalah puncak di mana Theo memukulinya habis-habisan. Setelah itu, Tuan J seakan merasa mati rasa, dia tidak merasa sakit meski beberapa kali mencoba menyakiti diri sendiri.


Perilaku zombi semacam ini adalah akibat kekerasan fisik yang diterimanya semasa kecil. Hal itulah yang membuat Tuan J tampak dingin, dan susah mengekspresikan apa yang dia rasakan.


"Pukul aku lagi," pinta Tuan J pada Renata. Mencoba memastikan apakah benar dia dapat merasakan sakit.


"Tapi nanti kamu marah."

__ADS_1


Tuan J mendengus, dengan tatapan datar, "Ayo pukul aku! Aku tidak akan marah!" ucapnya dengan cepat dan tidak sabaran.


Kemudian tanpa aba-aba Renata langsung memukul perut Tuan J. Bahkan dia tidak tanggung-tanggung untuk memukul dengan sangat kencang.


Bugh


"Argh! ...Sakit," rintih Tuan J seraya memegangi perutnya yang berdenyut nyeri. Tidak menyangka jika tangan kurus Renata memiliki tenaga yang luar biasa kuat.


Renata langsung menyentuh pundak Tuan J, lalu membawa suaminya itu untuk duduk di sofa.


"Apa sangat sakit? Maaf, seharusnya aku menahan pukulanku," Renata berkata dengan rasa sesal.


"Ya, sakit sekali..." lirih Tuan J.


Di dalam hati, Tuan J sudah sangat senang. Bahkan, tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya sekarang.


Apa hatinya yang sudah lama membeku benar-benar sudah mencair? Setelah selama ini, tidak tersentuh oleh siapapun.


Lalu Tuan J menoleh ke samping, menatap wajah panik Renata yang baginya justru terlihat lucu.


Ya, berkat kehadiran Renata lah yang membuat perubahan dalam hidupnya. Wanita itu sungguh mampu memperbaiki kelamnya hidup Tuan J.


Apa Renata orang yang tepat untuknya?


Tuan J terdiam di tempat, dia tetap memperhatikan wajah Renata.


"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu marah? Tapi kamu sudah bilang tidak akan marah, kamu tidak boleh mengingkari perkataanmu sendiri," cicit Renata menahan napas sesaat, karena tatapan Tuan J yang tidak terbaca.


Namun, detik kemudian pria itu tiba-tiba mendekat.


"Eh!" Renata memekik bingung, karena Tuan J menarik pinggulnya dengan tiba-tiba dan memeluknya.


"Terima kasih, sudah hadir di hidupku," ucap Tuan J yang kini mendekap erat Renata dalam pelukannya.


Renata terdiam di tempat, membeku layaknya sebuah patung. Wajahnya menghadap ke dada Tuan J, bahkan kini dia dapat mendengar detak jantung suaminya yang berdegup dengan cepat.


Kemudian Renata tersenyum, kedua tangannya bergerak untuk memeluk pinggul Tuan J. Dia senang karena mendengar ucapan suaminya itu.


Menit kemudian, Renata menarik wajahnya keluar dari dekapan Tuan J, lalu pandangan mereka bertemu. Menatap satu sama lain.


Dan hal yang terjadi selanjutnya, mampu membuat kedua mata Renata melebar dengan sempurna.


Jefra Tjong kini sedang tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit, mulutnya terbuka dan seluruh wajah yang nampak ceria.


'OMG Jefra-ku tersenyum!' batin Renata memekik histeris.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2